Bab31

1174 Kata

“Sudah hari ketiga Naumi tak lagi menghitung matahari yang terbit di balik jendela kaca buram ruang ICU ini. Waktu terasa melambat, hanya berdetak searah dengan bunyi beep monitor jantung yang monoton. Bau antiseptik yang tajam seolah meresap hingga ke pori-pori, menyatu dengan aroma kopi dingin yang kubeli dari mesin otomatis di koridor. Setiap sudut rumah sakit ini terasa dingin dan asing, namun di sini—di kursi tunggu yang keras ini—aku menambatkan harapanku. Menatap wajahnya Bunda yang tenang tertidur di balik selimut putih, terhalang kabel-kabel dan selang yang menjalar, hatiku mencelos. Sosok yang dulu begitu hidup dan ceria, kini tampak begitu rapuh. Berhari-hari kutatap langit-langit, memohon pada keheningan agar dia kembali membuka mata.” Adrian yang melihat kondisi Naumi,hatiny

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN