“Ada apa Ci Siska?” tanya Anna selepas mengangkat telepon dari seberang sana. “Bisa kita bertemu, Anna?” “Iya, Ci. Rencana hari ini juga aku mau ke kantor. Sekalian cek anak-anak. Kita bertemu di mana, Ci?” “Saya langsung ke kantor kamu saja, ya. Nanti aku kabarin kalau mau ke sana.” “Oke, Ci.” Anna menghela napas panjang. Nafsu makannya masih belum naik. Sarapan yang disiapkan Bik Inah hanya dijamah sedikit. Bagaimana pun dirinya harus kembali lagi, bahkan harus menjadi lebih kuat lagi. Seorang diri. Pandangannya mengedar mencari asisten rumah tangganya, tetapi nihil. Bik Inah sudah seperti orang tuanya sendiri. Saat pergi, bos pemilik “Butik Emas” itu selalu berpamitan kepada Bik Inah saat mau keluar rumah. Sudah seperti rutinitasnya, bahkan sebelum Bu Rania meninggal dunia. “Bik

