Seminggu sudah Bu Rania dirawat di rumah sakit. Akan tetapi, wajahnya justru semakin kurus dan layu. Dia berusaha menekan semua lara yang dirasa, menyembunyikan dari putrinya. Tak mau putrinya cemas dan resah karenanya. Setiap kali anaknya itu bertanya tentang kesehatannya, dia selalu berusaha membungkam mulutnya dari mengeluh kesakitan. “Bu, aku ke kantor dulu sebentar, ya. Ibu ditemani dulu sama Carel.” Anna pamit kepada Bu Rania seraya menoleh kepada lelaki yang telah duduk di sofa. Meski umur Anna lebih muda dari Carel, dia sudah terbiasa memanggilnya ‘Carel’ tanpa embel-embel yang lain. Kali ini bos muda itu pamit dengan mencium punggung tangan Bu Rania dengan waktu yang lama. Seperti ada ikatan, biasanya hanya sekilas. Akan tetapi, kini ciuman itu dilakukan dengan penuh cinta dan k

