Tamu Tak Diundang

1085 Kata
Setelah Carel pulang, Anna berpikir keras tentang ibunya. Walaupun dia sangat benci kepada ibunya. Akan tetapi, aliran darah kasih sayangnya tetap terhubung. Tak ada yang bisa memutuskan hal itu. Anna berpikir apakah harus memaafkan ibunya? Bagaimana kalau sifat ibunya masih seperti dulu? Kenapa ibunya bisa menyedihkan? Anna benci sekali berpikir itu semua. Sebab, sudah susah payah dia menghapus semua memori tentang Bu Rania. Kini malah muncul lagi. Benci sekali. Anna frustrasi. Dia tak bisa memejamkan mata. Sebagai pelampiasan, wanita itu menuju dapur. Perempuan itu tak mendapati Bik Inah lagi. Anna menyalakan sebatang rokok. Wanita itu menghabiskan satu bungkus rokok. “Dasar! Wanita menyusahkan!” Anna membanting bungkus rokok yang sudah habis. Lantas pergi menuju kamarnya. Untung saja kasurnya empuk. Jadi, bisa meredakan rasa kesalnya terhadap ibu yang telah melahirkannya ke dunia ini. Anna melirik jam dinding, ternyata jarum jam yang pendek menuju angka dua. Sementara indra penglihatannya masih terbuka lebar. Terbelalak. Hal ini tak bisa dibiarkan terus, karena esok wanita itu harus berubah status menjadi CEO kembali di kantornya. Tak mungkin gara-gara kesiangan dia harus menunda setumpuk pekerjaan yang sudah melambai kepadanya. Akhirnya, wanita tanggung itu mengambil masker instan untuk wajah di lacinya. Kemudian, Anna menuju kamar mandi untuk memasang masker itu setelah sebelumnya mencuci muka terlebih dahulu. Situasi seperti ini sering dia lakukan saat mata tak bisa diajak kerja sama. Setelah itu, Anna memejamkan matanya dan efektif. Wanita itu bisa tidur pulas dengan memakai masker wajah itu. *** [Anna, ibumu ingin bertemu] Pesan dari Carel menjadi sarapan Anna pagi ini. Dua lembar roti yang sudah diberi selai sari kaya di atasnya dibiarkan begitu saja. Pun segelas s**u hangat. Rasanya kini perutnya tiba-tiba saja kenyang setelah membaca pesan itu. Perempuan yang mengenakan kemeja merah muda itu berdecit. “Ada apa, Non?” tanya Bik Inah yang sedang memotong kangkung. “Ibu kembali, Bik.” “Apa? Maksud, Non Anna Bu Rania?” Anna hanya mengangguk pelan. Dia berpikir apa yang harus dilakukan kepada ibunya. Dia memilih untuk membalas pesan dari guru tinjunya itu. [Baik. Di mana aku harus menemuinya?] Jemari Anna menari-nari di meja tempat sarapannya berada. Dia menunggu balasan dari Carel. Dia berpikir akan menemui ibunya sejenak, setelah itu baru ke kantor dengan rasa lega. Detik demi detik dihitungnya untuk mengisi keheningan. Setelah lima menit lebih sepuluh detik, balasan yang dinantikan muncul. [Ke sokolah tinju saja, beliau di sini] Tanpa membalas lagi Anna dengan menyambar tas tangan berwarna hitam miliknya. Dia membiarkan hidangannya tetap seperti semula. “Non! Sarapan dulu!” teriakan Bik Inah tak direspons Anna. Bik Inah hanya bisa memandang Anna yang mulai menghilang. Bik Inah sudah mengganggap majikannya itu sebagai anaknya sendiri. Terutama setelah Bu Rania tak tinggal di sana. Segala sesuatu yang diperlukan Anna semuanya Bik Inah yang menyiapkan. Wanita paruh baya itu sudah mengenal Anna luar dalam. Tampak Anna sedang mencari kunci mobilnya. Akan tetapi, tak mendapatkan di dalam tasnya. Terpaksa dia harus kembali lagi ke dalam rumah. Perempuan itu menuju tempat dia duduk tadi. “Bik, tadi lihat kunci mobil enggak di sini?” tanyanya setelah menangkap sosok Bik Inah masih di sana membereskan hidangan ya g belum sempat dijamahnya. “Oh, apa yang itu, Non?” Bik Inah menunjuk kursi tempat Anna duduk tadi. “Yes, terima kasih, Bik. Aku berangkat dulu.” Bik Inah tak menjawab. Dia tahu majikannya itu langsung balik arah lagi. Jadi, percuma saja kalau dijawab Anna pasti tak akan mendengarnya. Wanita setengah senja itu melanjutkan kembali aktivitasnya. *** Rasa bercampur aduk di dalam hati Anna. Benci sekaligus senang. Semua itu karena Bu Rania. Wanita berbulu mata lentik itu dengan memantapkan hati memasuki sekolah tinju milik Carel. Jam masih menuju angka tujuh pagi. Sekolah tinju masih sepi, seperti biasanya kelas akan mulai pada siang sampai malam. Sebelum membuka pintu, Anna meraup angin di sekitarnya, lantas mengeluarkannya perlahan-lahan. Benar saja dia langsung disuguhi oleh seulas senyum wanita yang telah mengandungnya sembilan bulan. “Anna,” lirih Bu Rania. Melihat Anna sudah datang, Carel minta diri. Lelaki itu menyediakan waktu untuk mereka berdua. “Kenapa Ibu bisa di sini?” tanya Anna. “Ibu diajak oleh Carel ke sini dari panti jompo. Aku dimasukkan ke sana oleh suami dan anakku. Hingga tak bisa lagi bertemu mereka. Mereka pindah ke luar negeri semua dan sampai sekarang Ibu tak tahu kabarnya. Ibu sangat berharap Tuhan akan membalas mereka. Maafin Ibu, Sayang. Mau, ‘kan?” Bu Rania panjang lebar menjelaskan runtutan kisah hidupnya. Dia berharap kasih dari Anna. Putri semata wayangnya dengan Pak Adam. Tak terasa butiran bening mendesak keluar melalui ujung mata. Basah. Pipi halusnya kini dibasahi oleh air mata. Tubuh Bu Rania tampak kurus kerontang. Kedua tangan kasarnya menyentuh tangan Anna. Mata sayunya menatap lekat putrinya. Tersirat di sana kata maaf tak terhingga kepada Anna. Sedangkan, Anna hanya bergeming. Dalam otaknya berputar. Apa yang harus dia lakukan dengan wanita yang telah melukai hatinya itu? Tak sedikit pun air mata keluar dari mata sipitnya. Sebab, air mata itu sudah mengering sejak lama. Meski begitu, tetap saja wanita yang mengenakan baju hangat itu adalah orang yang pernah mengandungnya. “Sekali lagi maafkan Ibu, Sayang,” pinta Bu Rania sembari mendekat kepada Anna. “Baik. Aku sudah memafkan Ibu. Jadi, mau Ibu sekarang apa?” tanya Anna. “Kamulah satu-satunya keluarga Ibu. Ibu ingin sekali menikmati sisa hidup Ibu dengan kamu. Boleh?” “Bawalah ibumu ke rumah, Anna. Kata dokter kanker rahimnya sudah parah,” sela Carel tiba-tiba. Dia mendekat dengan membawa dua cangkir kopi untuk kedua tamunya. “Tapi ....” Carel mengangguk pelan, melihat ekspresi Anna. Dia berusaha meyakinkan supaya anak dan ibu itu bersatu kembali. “Hemmm ... baiklah kalau begitu. Dengan satu syarat.” Mendengar perkataan Carel barusan bahwa ibunya mengidap kanker rahim yang sudah parah, akhirnya Anna membolehkan wanita yang sudah mulai senja itu hidup satu atap dengannya. Dia memberi persyaratan seraya mengacungkan jari telunjuknya. “Apa itu?” tanya Bu Rania. “Jangan pernah mengganggu kehidupanku. Selama ini aku bebas tanpa Ibu. Aku tak mau diurus dan dicampuri urusan pribadiku. Mengerti?” Mata Anna menatap tajam ibunya. “Anna! Sopan sedikit dengan ibumu. Dia itu ibu yang telah mengandungmu selama sembilan bulan!” Spontan Carel meneriaki Anna yang sedikit membentak Bu Rania. “Baik. Tolong urus perempuan ini. Bawa dia ke rumah. Aku mau segera ke kantor.” Anna berlalu menyisakan Carel dan Bu Rania. Carel tak tahan lagi. Dia hendak berteriak kembali kepada wanita yang keluar itu. Namun, Bu Rania mencegahnya. “Sudahlah. Ibu pantas mendapatkan perlakuan itu darinya. Terima kasih, anakku sudah mau menerima kembali Ibu,” lirihnya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN