“Terima kasih, Nak Carel. Ibu sangat beruntung bisa bertemu denganmu. Sekarang Ibu bisa kembali ke sini lagi berkatmu. Terima kasih,” ucap Bu Rania sembari menundukkan kepala sedikit.
“Tidak usah berterima kasih begitu kepada saya, Bu. Ibu sudah saya anggap sebagai ibu sendiri.”
Senyum Bu Rania terukir sempurna. Dia memeluk Carel. Halaman rumah Anna sebagai saksi kehangatan dua insan itu.
Carel membawakan tas jinjing milik ibunya Anna. Memapah menuju pintu utama. Beberapa menit setelah lelaki itu mengetuk pintu, Bik Inah muncul dari balik pintu itu. Lelaki berkulit sawo matang itu menjelaskan sedetail mungkin kepada asisten rumah tangga Anna itu.
Tampak Bik Inah yang sangat terkejut melihat mantan majikannya itu. Tak kuasa dia menahan tubuhnya. Wanita paruh baya itu terjatuh. Kakinya melemah begitu saja. Untung dengan sekejap dia bisa menahan diri dan kembali berdiri lagi.
“Haduh. Maaf, Bu. Saya kaget sekali Ibu datang tiba-tiba. Mari saya bawakan tasnya,” tawar Bik Inah.
“Biar aku aja yang bawa, Bik. Bik Inah, kan, masih syok, hehehe. Tolong siapkan saja makanan dan kamar untuk Bu Rania,” balas Carel.
“Baiklah, kalau begitu saya tinggal dulu.” Bik Inah berlalu dengan cepat.
Lelaki berkaus putih itu mempersilakan Bu Rania untuk duduk terlebih dahulu. Lantas Carel membantu wanita kurus itu untuk menjatuhkan beban badan. Carel memastikan bahwa Bu Rania merasa nyaman di sana. Sejak kecil Bu Rania sudah dianggap Carel sebagai ibu sendiri sebagai pengganti ibunya yang telah meninggal dunia setelah melahirkannya. Dia menyuruh Bik Inah untuk memperhatikan kesehatan dan semuanya tentang Bu Rania. Seusai memastikan semuanya, Carel segera undur diri. Masih ada urusan sekolah tinjunya yang perlu diurusnya.
“Terima kasih banyak sekali lagi, Nak Carel.”
“Sudah saya bilang. Enggak usah berterima kasih lagi, Bu. Ya, sudah saya balik dulu, ya. Kalau ada apa-apa minta tolong saja sama Bik Inah.”
“Baik.” Senyum sempurna itu terlukis kembali di bibir wanita pengidap kanker rahim itu.
***
Tampak wanita yang baru saja masuk ruangannya itu menggebrak mejanya. Dengan kekuatan yang biasanya dipakai untuk bertinju. Akan tetapi, meja itu kuat sekali, sehingga tak ada bekas apa pun dari gebrakan itu. Napasnya memburu kasar. Dia melempar tas tangannya begitu saja ke kursi yang biasa didudukinya. Kini kedua tangannya menggenggam erat di meja. Terdengar suara orang membuka pintunya. Segera dia melempar buku yang di dekatnya ke pintu ruangan itu. Beruntungnya orang itu bisa menangkap buku yang dilempar Anna.
“Apa lagi kamu?” tanya Anna dengan bentakan.
“Ada yang perlu diperiksa dan tanda tangani lagi. Ini.” Sekarang giliran sekretaris Anna yang menggebrak meja itu tanpa sopan. Lantas dia meninggalkan bosnya begitu saja.
“Dasar laki-laki dingin!” teriak Anna.
Kekuatan Anna pagi ini sudah terkuras banyak. Makanan sedikit pun belum ada yang melewati kerongkongannya pagi ini. Hanya air putih di mobilnya sedikit yang berhasil sampai ke lambungnya. Tubuhnya melemah, lantas dia memilih untuk duduk di kursinya.
“Baiklah, Anna. Bersabarlah. Sayang sekali tenagamu habis hanya karena sekretaris angkuh itu,” lirihnya. Dia bernapas kasar.
Anna tak bisa berpikir jernih dengan perut yang kosong. Dia memesan sarapan untuk dibawa ke ruangannya. Beberapa menit kemudian, pesanannya datang dengan sempurna. Segera wanita itu menyantap habis semuanya.
“Nah, kalau sudah kenyang begini, kan, enak kerjanya.” Anna bermonolog seraya mulai membuka berkas dari Deon tadi. Satu per satu kertas itu dibaca dengan teliti sekali. Tak ada hal yang tertinggal. Hal itu diwarisi dari sifat ayahnya yang sangat jeli tentang semua pekerjaannya, hingga perusahaannya bisa berkembang pesat seperti sekarang.
Di tengah aktivitasnya, Anna kembali teringat pada Bu Rania. Dia menjeda pekerjaannya sejenak. Bagaimana bisa ibunya ditelantarkan oleh suami dan anaknya begitu saja? Atau memang itu teguran dari Tuhan? Penyakit kanker rahim pun menyerang wanita itu. Sungguh malang nasib Bu Rania. Walau begitu tetap saja Bu Rania adalah ibu kandung yang harus dihormati juga.
“Kasihan juga perempuan malang itu. Besok kuantar ke rumah sakit saja supaya penyakitnya diobati,” bisiknya dalam hati.
Satu jam dia habiskan waktu untuk mengerjakan semua yang disuruh Deon. Kini sudah selesai. Anna melakukan peregangan otot tangan dan seluruh tubuhnya. Tiba-tiba Deon masuk tanpa diketahuinya.
“Haduh. Kamu ini kalau masuk ketok dulu. Ngagetin saja sudah di sini aja. Sejak kapan kamu berdiri di situ?” tanya Anna setelah terkejut melihat Deon sudah berada di dalam ruangan itu.
“Pertama tadi saya sudah mengetok terlebih dahulu pintunya. Kedua, saat Bu Anna melakukan peregangan,” jawab Deon tegas dan padat.
Deon menuju meja Anna. Dia mengecek semua berkas yang diberinya tadi. Kepalanya mengangguk-angguk pelan. Kemudian, pergi begitu saja meninggalkan Anna swndiri di ruangan itu.
“Dasar enggak ada sopan santunnya sama atasan. Kalau bukan karena ayah yang merekrutmu pasti sudah kupecat, kau,” gerutunya setelah Deon menghilang dibalik pintu.
***
“Silakan dinikmati, Non dan Nyonya.” Bik Inah meletakkan hidangan untuk makan malam. Dia memasak banyak kali ini, menyambut Buk Rania di rumah itu. Hal itu sedikit membuat Anna tak suka.
“Terima kasih, Bik. Terima kasih juga sudah menjaga Anna selama ini.”
“ Bisa enggak, kalau yang keluar dari mulut Ibu itu bukan kata ‘terima kasih’. Aku bosan mendengarnya.” Suara Anna sedikit meninggi. Anna pergi begitu saja tanpa menyentuh makanannya.
Hal itu membuat Bik Inah dan Bu Rania kaget. Bu Rania mengelus dadanya, sedangkan asisten rumah tangga itu berniat mengejar Anna. Namun, Bu Rania melarangnya.
“Biarkan saja, Bik. Perlakuan ini pantas untuk kudapatkan. Anna tumbuh tanpa seorang Ibu di sisinya. Dunia begitu kejam baginya. Aku Ibu yang tak berguna.” Bu Rania menangis.
“Sabar, Nyonya. Sebenarnya hati Non Anna itu lembut, walau perangainya begitu. Kita doakan saja. Nyonya yang sabar, ya.” Bik Inah mendekati ibu kandung Anna, lantas memeluknya.
Bu Rania begitu lemah saat ini. Tak ada lagi sandaran, kecuali Bik Inah di sisinya. Anna belum bisa sepenuhnya menerima wanita itu. Maklum. Bu Rania berusaha keras untuk tegar dan memahami sifat putrinya.
“Terima kasih, Bik. Tolong kuatkan aku saat lemah. Hanya Bik Inah kini tempat untuk mencurahkan semuanya,” balas Bu Rania dengan sesekali sesenggukan tangisnya. Kedua wanita itu saling menguatkan dan berpelukan.
Setelah kondisi normal kembali, Bu Rania menyantap hidangan makan malamnya pelan-pelan. Penyakitnya menjadikannya lemah, saat menelan dan mengunyah pun harus dengan hati-hati. Tak bisa seperti dulu lagi. Semuanya kesehatannya menurun saat kanker rahim itu menggerogotinya. Mulai pendengaran, perasa, bahkan terkadang penglihatannya pun kurang berfungsi.
“Baik saya tinggal dulu, ya, Bu,” pamit Bik Inah.
“Iya, Bik.” Belum selesai Bu Rania melahap makan malamnya. Tiba-tiba Anna datang kembali membawa secarik kertas.
***