“Jangan lupa besok bawa KTP. Kita pergi ke rumah sakit,” ucap Anna seraya memberikan selembar kertas kepada ibunya.
Tertulis di sana nama ‘RSUD Tanah Abang’. Surat itu adalah nomor urut pasien untuk mengantre. Anna mendapatkan nomor urut pertama. Jadi, besok harus pagi sekali sampai di sana, hingga Anna bisa bekerja setelah menemani ibunya periksa. Bu Rania tampak semringah. Wajahnya kini berubah.
Anna kembali lagi ke kamarnya. Perempuan itu merebahkan badannya ke kasur. Mendadak sesuatu yang aneh di perutnya. Suara-suara cacing yang berdemo meminta haknya malam ini. Sudah terlanjur malu, jika dia kembali lagi ke dapur, sedangkan ibunya masih berada di sana. Gengsi wanita berbulu mata lentik itu lebih besar. Dia memutuskan untuk menunggu Bu Rania sampai pergi dari area ruang makan dan dapur.
“Perempuan hanya bisa menyusahkan orang lain saja,” lirihnya sambil mengintip Bu Rania.
Setelah memastikan ibunya beranjak dari duduknya dan menuju kamar, Anna segera ke ruang makan. Dia mencari makanan yang tersisa di sana. Bak tikus yang mengendus keju lezat. Penciumannya sangat tajam kala itu.
“Sial. Gara-gara perempuan itu aku makan sisa-sisa,” gerutu Anna.
Wanita itu menikmati makanan sisa yang dihidangkan tadi. Demi cacing-cacing yang sudah mendemo, dia pun rela melakukan itu diam-diam. Tengah makan, tiba-tiba suara derap kaki masuk ke pendengaran Anna.
“Non Anna? Mau saya panaskan kembali makanannya?” tanya Bik Inah setelah menyadari majikannya makan makanan yang sudah sisa dan dingin.
“Eh, Bik Inah. Enggak perlu, Bik. Ini juga aku sudah selesai, kok. Bibi belum tidur?” Anna kikuk.
“Ya sudah kalau begitu. Ini mau ngambil air putih. Bibik haus banget rasanya.” Wanita paruh baya itu mendekati dispenser yang berada di dapur.
Dengan menahan rasa malu Anna melanjutkan makan yang tinggal beberapa suap lagi. Pelan-pelan dia mengunyah nasi yang telah di dalam mulutnya. Setelah Bik Inah pamit, Anna segera menelan habis semuanya.
***
Pagi-pagi sekali terpaksa Anna bersiap untuk mengantarkan ibunya. Dua lembar roti tawar dan selai strawberi ditambah jus jeruk hangat mengawali harinya. Setelan baju resmi kantornya berwarna abu-abu melekat di tubuhnya. Cocok sekali di kulitnya yang berwarna kuning langsat. Tas tangan berwarna cokelat menyempurnakan penampilan CEO baru itu.
“Sudah siap, Bu?” tanyanya setelah menyadari bahwa ibunya sudah duduk sempurna di sampingnya.
“Sudah.”
“Kertas yang kemarin aku kasih jangan lupa dibawa,” terangnya. Anna mewanti-wanti sebelum mobil yang mereka tumpangi mulai bergerak.
“Iya, sudah ada semua di tas Ibu. Yok, berangkat,” ajak Bu Rania.
Mobil putih milik Anna mulai melaju pelan dan seterusnya kencang. Dia tak menghiraukan wanita yang duduk di sampingnya. Menurut Anna semakin kencang dia mengemudi, semakin cepat pula sampai di RSUD Tanah Abang. Setelah itu, dia bisa bekerja dengan rileks.
“Hati-hati saja, Nak,” ujar Bu Rania yang sedikit ketakutan karena guncangan-guncangan mobil itu.
“Hemmm.”
Mobil melaju sedikit pelan. Tak bertahan lama, kembali Anna mengemudi kencang. Hingga akhirnya mereka telah sampai di tempat parkir RSUD Tanah Abang. Bu Rania tampak bernapas panjang, lalu mengeluarkannya perlahan. Rasa gamamnya sudah menguap.
Setelah itu mereka menuju ruangan dokter yang tertera di kertas yang di bawa Bu Rania. Masih sepi. Lengang. Hanya ada beberapa petugas yang tampak. Mereka berdua menunggu dipanggil. Kursi panjang di depan ruangan dokter itu kini mereka duduk.
“Buk Rania.” Petugas memanggil nama ibunya Anna.
“Saya.” Bu Rania masuk ruangan dokter ditemani Anna.
Dokter dengan teliti memeriksa semuanya. Wajah Bu Rania tampak lesu. Pucat pasi.
“Bu Rania ini sudah sedikit parah kanker rahimnya. Setiap minggu harus cek up ke sini untuk perkembangannya. Sementara ini saya kasih obat dulu. Minggu depan jika semakin parah, kita persiapkan untuk tindakan selanjutnya. Tapi, mudah-mudahan dengan meminum obat yang saya resepkan nanti, kita tak perlu tindakan lanjutan. Hanya rutin kontrol saja,” jelas lelaki yang mengenakan jas putih itu.
“Baik. Terima kasih banyak, Dok,” ucap Anna seraya menjabat tangan dokter.
Bu Rania pun turut mengulas senyum. Lantas ibu dan anak itu pamit pulang. Anna hendak pergi ke kantor. Namun, dia harus mengantar Bu Rania pulang ke rumah terlebih dahulu.
“Hati-hati di jalan, Anna.” Di ambang pintu masuk Bu Rania melambaikan tangan kepada putrinya yang hendak ke kantor.
Anna memutar balik mobilnya. Akan tetapi, dari kaca spion wanita itu melihat ibunya pingsan di depan pintu. Dengan cepat Anna memutar lagi mobilnya. Anna lari menuju Bu Rania.
“Bik! Tolong!” teriak gadis itu.
***
“Andai saja dulu Ibu enggak meninggalkan ayah dengan selingkuhannya itu. Pasti nasib Ibu enggak mengenaskan begini,” keluh Anna saat menunggu Bu Rania siuman.
“Jalan hidup setiap orang berbeda, Non. Semoga dengan ini beliau sadar akan semua yang telah dilakukannya dulu.” Bik Inah yang mengetahui semua seluk beluk yang berada di rumah itu unjuk gigi.
Dari kejadian Anna ditinggal oleh Bu Rania itu, sekarang gadis itu tak percaya akan cinta. Menurutnya cinta itu hanya membuat luka dan lara. Seperti yang terjadi pada kedua orang tuanya. Wanita itu harus kuat. Maka dari itu, dia sangat terobsesi dengan sekolah tinju. Untuk melindungi dirinya dari para lelaki jahat b***k cinta.
“Iya, Bik. Sebenarnya kalau begini kasihan Ibu. Tolong selalu jaga dan awasi kesehatan Ibu, ya, Bik,” pinta Anna.
“Siap, Non. Saya tinggal dulu, ya. Mungkin, sebentar lagi Bu Rania siuman.” Bik Inah meninggalkan dua perempuan beda generasi itu.
Beberapa detik setelah Bik Inah menghilang dari pintu, Bu Rania sadar. Matanya mengerjap-ngerjap beberapa kali. Pandangannya menangkap sosok Anna. Dia berusaha menyuguhkan senyum kepada putrinya, walaupun raganya terasa sakit.
“Ibu sudah siuman? Mau minum?”
Wanita paruh baya itu menggeleng. Dia menyentuh tangan anaknya.
“Ibu hanya butuh kamu, Nak. Maafkan Ibu sudah menyusahkan kamu.”
Tangan kasar itu terasa oleh Anna. Tangan yang selama ini dirindu. Dari tangan itu Anna kecil selalu mengharap belaian. Namun, tak didapatkannya. Kini hanya membuat luka hati gadis itu. Luka yang tak berdarah, tetapi mengena sampai ulu hatinya. Tak ada yang mampu mengobatinya.
“Ibu minumlah dulu obatnya. Nanti istirahat yang cukup.”
Anna mengambilkan obat yang berada di nakas. Beberapa butir obat dikeluarkannya. Lantas air putih di sana diberikan kepada ibunya. Gadis itu memandang tubuh kurus milik ibunya yang sedang menegak satu per satu obat yang diberinya barusan.
“Terima kasih, Nak. Pergilah bekerja. Ibu akan istirahat dulu,” titah Bu Rania.
Belum sampai Anna menjawab ibunya, ponselnya berdering. Satu panggilan masuk ke sana. Setelah mendapatkan gawainya dari saku, gadis itu mendapati nomor tak diketahui yang meneleponnya.
“Siapa ini?” lirihnya yang dapat didengar oleh Bu Rania yang berada di sampingnya.
***