Dasar Deon

1080 Kata
“Buk, ada sedikit masalah?” Suara lelaki dari seberang sana terdengar khawatir. “Tunggu. Ini siapa?” Sepersekian detik Anna berpikir. “Oh, ini pasti suara Deon. Ada apa?” tanya Anna dengan nada meninggi. Lama tak ada jawaban dari sekretaris dingin itu. Hal itu membuat Anna sedikit khawatir. Lantas dia memanggil kembali nama Deon. Setelah tiga kali panggilan baru muncul suara bas di telinga bos yang masih berstatus gadis itu. “Sekarang juga tolong cepat ke kantor, Bu.” Belum sempat Anna melanjutnya perkataannya, Deon memutus sepihak jaringan teleponnya. Anna mencebik. Gadis itu semakin murka kepada sekretaris angkuh itu. Wanita itu minta diri, lantas segera meninggalkan area rumahnya. Mobil warna putih melaju kencang membelah jalanan kota. Sopirnya napasnya naik turun tak beraturan. Wajahnya berubah merah padam, karena murka. Banyak dugaan-dugaan tak berguna tentang telepon barusan yang bersarang di otak gadis itu. “Sial. Sekretaris dingin. Kasih kabar, kok, setengah-setengah. Jika, saja bukan ayah yang merekrutmu sudah lama aku pecat. Pecat!” teriak Anna di dalam mobil sendiri. Wanita itu memukul kemudi. Fokusnya hampir saja hilang. Sampai tiba-tiba hampir menabrak pengendara motor di depannya. Untung saja dengan cekatan Anna mampu mengendalikan semuanya. Umpatannya kepada Deon semakin menjadi sepanjang jalan. Sepanjang hidupnya belum ada orang yang sangat menjengkelkannya seperti Deon. Anna mulai sadar jika mengurus perusahaan itu ternyata tak segampang membalikkan telapak tangan. Kini, sosok ayahnya kembali membayanginya. Teringat saat Pak Adam baru pulang dari kantor mendapatinya merokok dengan santai. Saat ditegur dengan tegas, Anna tak menghiraukannya. Malah pergi begitu saja meninggalkan ayahnya. Hal itu membuat Pak Adam murka besar. Anna tak disapa sampai beberapa hari. Level marah tertinggi bagi Pak Adam adalah dengan mendiamkan orang yang dimarahi. Anna baru sekarang menyadari menjadi ayahnya adalah hal yang tak gampang. Selain mencari nafkah, Pak adam juga harus mendidiknya. Seorang putri tomboi penyuka tinju. “Maafkan anakmu ini, Ayah,” lirihnya. *** Derap langkah kaki Anna terdengar keras. Gadis itu menuju ruangannya dengan sangat tergesa. Para karyawan yang melihatnya pun saling bertanya-tanya. Ada yang terjadi hingga bosnya itu bergegas menuju ruangan CEO. Di meja sekretaris dia tak mendapati Deon. “Di mana Deon?” Anna bermonolog. Bos baru itu membuka pintu ruangannya. Matanya membulat saat pandangannya menangkap sosok sekretaris yang dicarinya duduk di sofa. Dahinya berkerut, sehingga kedua alisnya menyatu. “Kamu kenapa?” tanya wanita berbulu mata lentik itu. “Aku diare. Aku ingat waktu itu Pak Adam pernah diare juga dan dia menyimpan obat diare di sini. Jadi, aku mengambil obat itu. Tenang saja sekarang saya sudah mendingan. Bisa melanjutkan kerja lagi.” Senyum tipis terukir di bibir Deon. “Jadi, hanya karena kamu diare menelepon saya?” Deon mengangguk pelan dan berkata, “Lagi pula biar Bu Anna cepat ke kantornya.” Kedua tangan Anna mengepal. Mukanya merah padam. Giginya gemeretak. Bos baru itu tak bisa lagi menahan amarahnya. Lantas melemparkan tas tangannya ke arah Deon. “Dasar!” teriak Anna. Melihat CEO-nya marah, Deon melarikan diri. Dia keluar dari ruangan Anna tanpa berkata apa pun. Dadanya dielus pelan. Anggapannya seorang yang sedang marah susah menerima perkataan orang lain. Maka dari itu, lebih baik dia meninggalkan Anna yang sedang murka. Setelah mereda, baru Deon bisa mendekat kembali. Di kursinya, tampak Anna sedang mengatur napas. Dia berusaha menetralkan kembali keadaannya. Wanita itu sangat marah pada Deon bukan karena masalah dia terlanjur ke kantor karena Deon sakit diare, melainkan karena dia telah meninggalkan ibunya yang baru saja sadar dari pingsan. “Tahu begini aku di rumah saja, menemani ibuku. Ternyata selain dingin dan angkuh, sekretaris itu bisa usil juga, ya. Awas, kapan-kapan akan aku balas perbuatannya itu.” Bos muda bermonolog di ruangannya sembari menggenggam kedua tangannya. Pikirannya melayang, mencari ide untuk membalas Deon. *** “Tolong, Deon!” suara di ujung telwpon itu sedikit menjerit. “Ada apa, Bu?” “Ini toilet saya enggak bisa terbuka. Tolong bawa tukang ke sini buat buka pintunya. Segera!” Anna memutuskan telepon sepihak. Tak berapa lama dia mendengar decit pintu ruangannya terbuka sebentar lalu menutupkembali. Anna yakin itu pasti Deon yang sedang memastikan keberadaannya. Sekarang Deon sedang mencari pak tukang seperti yang diperintahkan Anna barusan. Gadis itu keluar dari toilet dengan santai. Tadi dia sengaja berada di dalam toilet supaya Deon yakin bahwa dia sedang terkunci dari dalam. Anna tergelak-gelak berhasil mengelabuhi sekretarisnya. Dengan santai dia minum teh di mejanya. Dia menunggu Deon dan pak tukang ke ruangannya. Benar saja tak lama Deon masuk bersama dengan dua tukang langganan Pak Adam dulu. “Loh, bukannya Bu Anna terkunci di dalam toilet tadi? Kok, sudah bisa keluar?” tanya Deon penasaran. “Seperti yang kamu lihat. Saya sudah berhasil keluar.” Deon memeriksa pintu toilet Anna. Tak ada yang perlu diperbaiki. Dengan rasa bersalah lelaki itu meminta para tukang untuk kembali. Dia meminta maaf sudah merepotkan tukang-tukang itu. Setelah kedua tukang itumenghilang dari penglihatan, Deon menatap Anna. Sedangkan Anna hanya menaik turunkan bahunya. “Ibu sengaja mengerjain saya?” “Begitu lah rasanya aku tadi pagi saat kamu menelepon. Kita impas ya. Silakan keluar dari sini,” ucap Anna enteng. Dia mengusir sekretarisnya secara halus. Sesaat setelah Deon keluar, bos muda itu tergelak-gelak. Tak sangka dia melihat sendiri ekspresi seorang yang dingin dan angkuh saat dikerjai. Lucu sekali. Hatinya puas sekarang telah membalas perbuatan Deon kepadanya tadi pagi. “Ternyata orang yang dingin begitu, ya, kalau marah. Seperti anak kecil yang kehilangan permennya, hahaha,” ucapnya. Anna berusaha menormalkan keadaan. Dia menghirup napas panjang, lalu mengeluarkan pelan-pelan. Setelah semua reda, skarang Anna mulai fokus kembali pada kerjaannya. Beberapa berkas mulai dibaca dan dipelajarinya. Di tengah sibuknya, tiba-tiba dia teringat pada Bu Rania. Anna mencari ponselnya. Tas tangannya digeledah, tetapi hasilnya nihil. Di laci meja juga dia tak menemukan. Anna sudah mencari di mana pun tak ketemu ponselnya. Akhirnya, gadis itu mengingat saat tadi dia menelepon Deon. Bos berparas tanggung itu menuju toilet yang berada dalam ruangannya. “Nah, untung saja tadi Deon enggak lihat. Mungkin saja kalau lihat ponselku tergeletak di sini dia akan mengambilnya,” lirih Anna. Bos berpakaian serba biru itu kembali duduk di kursinya. Dia menekan tombol telepon ibunya yang kemarin sempat dibelikannya. Tertulis nama ‘Bu Rania’ di layar ponsel itu sedang menghubungi nomor ibunya. Anna belum bisa sepenuhnya menerima Bu Rania. Sebab itu, dia tak menulis di ponselnya dengan kata ‘ibu’, tetapi dengan kata ‘Bu Rania’. Beberapa kali Anna menghubungi ibunya. Akan tetapi, tak ada jawaban. Hal itu membuat wanita itu gelisah. Dia berusaha berpikir positif tentang ibunya. Namun, tak bisa. Pikiran negatif selalu mengganggunya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN