Anna menghidupkan alarm gawainya pada jam tiga sore, setelah dia tak bisa menghubungi Bu Rania. Dia ingin segera pulang. Sebab, jika pulang sebelum jam tiga kadang dihadang oleh Deon dengan beribu alasan, hingga Anna tak bisa pulang. Nah, menurutnya jam tiga itu sudah pantas sebagai jam pulang kerja untuk CEO seperti dia. Ini kantor dia. Sebenarnya pulang kapan saja bisa. Namun, sekretaris menjengkelkan itu selalu mencegahnya pulang cepat.
“Akhirnya. Alarmku sudah berbunyi. Mari kita pulang,” ujar Anna seraya melakukan peregangan otot-otot tangannya. Seharian digunakan bekerja, rasanya kaku semua jari-jari tangannya.
Dengan pelan dan sedikit mengendap-endap dia keluar dan melewati meja Deon. Tampak sekilas olehnya lelaki itu sedang fokus menatap layar komputer di depannya. Ini kesempatan untuk pulang tanpa diketahui Deon. Lambat-lambat wanita itu meninggalkan ruangannya dan sekretarisnya. Hingga akhirnya sampai juga dia di luar gedung yang berlantai dua itu. Udara di luar sangat menyegarkan, karena taman yang ada di sana penuh dengan tumbuhan yang menghasilkan oksigen.
Anna meraup sebanyak-banyaknya udara di sana. Dia hendak duduk di kursi yang berada di taman itu sembari menikmati rokok. Namun, bayangan Bu Rania kembali mendesak ke dalam pikirannya. Gadis itu memutuskan untuk ke tempat parkir mobilnya dan bergegas pulang.
Di tengah jalan, dia mencoba kembali menghubungi rumah. Mulai dari telepon rumah, sampai nomor ponsel Bu Rania yang kemarin dibelikan Anna. Akan tetapi, tak ada satu pun yang menjawabnya. Anna semakin cemas, mobil yang dikemudinya semakin dipercepat. Tak ingin sesuatu terjadi kepada ibunya. Meski dulu gadis itu sangat benci kepada ibu kandungnya, tetapi kini mulai meleleh. Sedikit ruang di hatinya telah dihuni oleh Bu Rania.
***
Suasana rumah hening, saat Anna mulai memasuki rumahnya. Derap langkah perempuan itu semakin jelas dan keras. Tak butuh waktu lama, dia sampai di kamar ibunya. Lambat-lambat dia membuka knop pintu kamar Bu Rania. Pandangannya menangkap sosok perempuan lemah terbaring dan tidur di kasur dengan berselimut tebal.
Anna mengembuskan napas pelan. Tali yang menyesakkan dadanya terasa putus. Kini rasa khawatirnya menguap oleh keadaan Bu Rania yang tengah istirahat. Lantas gadis itu mencari sosok asisten rumah tangganya. Dia ingin mewawancarai Bik Inah. Kenapa semua panggilannya tak ada yang menjawab? Dia menuju dapur. Sesampai di sana tak ada seorang pun.
“Bik! Bik Inah!” teriak Anna beberapa kali.
Pekikan gadis itu membangunnya Bu Rania. Wanita bangsai itu menemui asal suara. Dia mencari putrinya, karena paham betul kalau pemilik suara itu adalah Anna.
“Ada apa, Nak? Bik Inah tadi pamit ke pasar,” kata Bu Rania setelah menemukan Anna.
“Oh, maaf Ibu terbangun karena suaraku, ya? Tadi aku menelepon terus, kok, enggak ada yang jawab, Bu?”
“Masak? Ponsel Ibu dicas di ruang tengah. Jadi, enggak dengar.”
Anna mencebik. Benci. Tak suka dengan keadaan orang yang dikhawatirkan ternyata santai tak ada apa-apa, sedangkan dia sendiri panik memikirkan keadaan di rumah.
“Lain kali kalau ngecas ponsel di kamar aja. Kan, bisa di sana.”
Gadis itu meninggalkan ibunya menuju kamar tidurnya. Ada rasa lega, tetapi ada juga rasa berang. Dia masuk kamar dengan menutup secara keras pintunya. Dia lupa kalau di luar ibunya bisa kaget karena ulahnya. Anna segera merebahkan badan yang sudah pasai seharian di kantor.
“Kenapa hari ini semua orang membuatku kesal!” keluhnya seraya menaikkan nada bicaranya.
Perempuan yang masih mengenakan baju kantornya itu melirik dinding. Jarum yang pendek sudah menuju angka lima. Tak seharusnya dia tidur. Anna pernah membaca sebuah artikel yang menyebutkan bahwa tidur pada sore hari tak baik bagi kesehatan, dia sangat menjaga itu.
Sudah beberapa hari semenjak ayahnya meninggal, gadis berbulu mata lentik itu belum pernah lagi pergi ke sekolah tinju. Dia terlalu sibuk dengan perusahaan Pak Adam. Sore ini perempuan itu berniat ke sana. Wanita bertubuh sedang itu ingin berlatih tinju lagi. Sebelum itu, Anna mengirim pesan terlebih dahulu kepada Carel.
[Sore ini aku mau ke sana]
Itu pesan yang dikirim Anna kepada guru tinjunya, singkat, padat, dan jelas sekali.
***
“Wah. Selamat datang kembali muridku.”
“Aku masih bisa tinju di sini?”
“Jelas masih bisa, dong. Kamu, kan, murid paling istimewa di sini. Tepatnya istimewa di hatiku,” balas Carel dengan nada semakin rendah.
Keadaan sekolah tinju sudah lengang. Tersisa beberapa orang cleaning servis yang membersihkan semua area sekolah. Gedung sekolah tinju hanya berupa ruko dengan dua lantai. Lantai pertama digunakan sebagai tempat pendaftaran, kantin, dapur, satu kamar tamu. Untuk lantai dua digunakan sepenuhnya untuk kelas tinju. Baik tingkat pemula, menengah, dan lanjutan.
“Semua murid sudah pulang. Kamu enggak pulang?” tanya Anna.
“Enggak. Nanti saja. Lagi kedatangan tamu spesial, hehehe.” Lelaki itu terkekeh kecil.
Carel memang tak tinggal di ruko sekolah tinju miliknya. Dia mempunyai rumah dari hasil jerih payahnya sendiri. Sebab, dia sudah diajarkan oleh neneknya menjadi anak yang mandiri sejak kecil. Kedua orang tua guru tinju itu sudah meninggal saat dia masih kecil. Carel kecil tinggal bersama neneknya sampai neneknya meninggal. Tepat ketika lelaki itu mendirikan sekolah tinju.
“Hemmm ... begitu. Bisa aku mulai tinjunya?” tanya gadis yang sudah siap dengan semua peralatan untuk tinju.
Lelaki berkaus hitam itu mempersilakan Anna menggunakan isyarat tangannya. Dia memperhatikan ayunya Anna yang sedang bermain tinju. Peluhnya mulai membasahi area wajah Anna. Carel memberikan handuk kecil kepada gadisnya.
“Terima kasih.”
Anna meraih handuk biru yang diberikan Carel. Dia mengelap peluh yang mulai meliputinya. Wanita pemilik bibir kecil nan tipis itu menatap lelaki di sampingnya. Tampak guru tinju itu menatapnya dalam sekali. Gadis itu bisa jelas melihat dirinya di dalam manik mata Carel.
“Ada yang salah dengan penampilanku? Kok, menatapku tanpa kedip?”
“Enggak ada. Aku hanya berpikir kenapa lelaki setampan aku enggak bisa memikat hatimu?” tanya Carel sembari semakin mendekat dan menatap lebih dalam lagi pada Anna.
“Enggak usah mengharapkan aku. Wanita yang lebih baik dariku banyak di luar sana.”
Wanita yang tadinya menatap Carel, kini mengalihkan pandangannya ke depan. Anna menegak minumannya yang dari tadi sudah berada di sampingnya. Terdengar jelas kesegaran air yang melewati kerongkongan Anna.
“Jangan terlalu dekat dengan sekretarismu itu,” tiba-tiba Carel membuat Anna kembali memandangnya dan hampir tersedak.
“Emangnya kenapa?” tanya Anna penasaran.
Lelaki berkulit sawo matang itu tak langsung menjawab pertanyaan Anna. Dia membiarkan rasa ingin tahu wanita itu semakin kuat, sehingga posisi duduk Anna kembali mendekat kepadanya.
“Karena ... karena dia penghianat.” Wajah serius Carel terpampang jelas di depan wajah Anna.
***