Anna terbelalak. Dia menganggap ucapan Carel barusan adalah serius. Rasa penasaran atas yang dikatakan oleh lelaki berkulit sawo matang itu besar sekali. Dahinya berkerut. “Serius? Kamu tahu dari mana? Padahal dia adalah rekrutan ayahku. Aku tak mungkin memecatnya begitu saja.” Melihat respons Anna, Carel tergelak-gelak sampai beberapa detik. Dia tak menyangka Anna akan seperti itu ekspresinya. “Kamu kenapa, kok, malah tertawa?” tanya Anna polos. “Aku hanya bercanda, Anna,” balas Carel sembari sedikit meredakan tawanya. Anna pun kesal. Mulut tipisnya maju beberapa senti. Dia mengalihkan pandangannya dari Carel menuju alat tinju di depannya. Ada sedikit rasa malu merasuk ke jiwa gadis itu. Kenapa segampang itu dia bisa percaya kepada Carel? “Tapi ... kalau aku lihat pertama kali bert

