Anna mengendarai mobil putih miliknya dengan santai. Sembari menikmati pemandangan kota di sore hari. Sedikit macet. Tak masalah, yang penting bisa terbebas dari Deon dan segala pekerjaan yang menguras tenaga itu. Huh, melelahkan sekali bagi seorang Anna. Proses adaptasinya dari seorang gadis yang tomboi menjadi pebisnis seperti ayahnya bisa dibilang berhasil. Meski agak terlalu sulit. Sedikit demi sedikit bisa dilaluinya. Tak terasa perjalanannya, kini bos muda itu telah memasuki halaman rumahnya. Tampak Bik Inah lari dari dalam rumah menyambut Anna. “Ada apa, Bik?” tanya Anna setelah keluar dari mobil. “Nyonya pingsan lagi, Non.” “Haduh. Wanita itu kenapa selalu merepotkan orang, sih,” keluhnya pelan seraya berjalan setengah lari menuju kamar Bu Rania. Sesampai di kamar ibu kandung

