Deon meringis kesakitan setelah menerima pukulan dari Anna. Kedua tangannya memegang perutnya. Sampai-sampai dia terduduk dan tak sanggup berdiri. Hal itu membuat Anna ketakutan sendiri. “Waduh. Maaf, bagaimana ini? Aku telepon ambulans, ya?” Air muka Anna tampak kebingungan. “Udah enggak usah. Aduh.” Deon mencoba sedikit menggeser tubuhnya, memperbaiki posisi duduknya. Punggungnya bersandar pada sofa yang didudukinya. “Kamu, sih. Aku minta turun enggak diturunin. Malu tahu sama anak-anak.” Mulut wanita itu mengerucut. Melihat ekspresi bosnya, pria tinggi itu menahan tawanya. Akan tetapi, tidak bisa. Tetap saja Deon menampakkan gigi-giginya yang rapi. Tak kuat perutnya kembali lara dan mengaduh. “Tuh, kan sakit lagi. Makanya jangan meledek orang lain. Dasar. Pria dingin, tapi bisa

