Manis, Lalu Hambar
“...And if a double-decker bus
Crashes into us
To die by your side
Is such a heavenly way to die
And if a ten ton truck
Kills the both of us
To die by your side
Well, the pleasure, the privilege is mine...”
Alunan lagu The Smiths yang bersumber dari speaker laptop memenuhi ruangan kamar Rangga, sementara si pemilik kamar fokus menatap ke arah layar laptop. Jari-jemarinya dengan lincah menari diatas keyboard, ia sedang sibuk menulis sesuatu.
Ini adalah suatu malam di bulan Desember, pukul 22.15. Di luar sedang hujan dan angin berhembus cukup kencang. Selepas makan malam bersama keluarga, Rangga buru-buru menuju ke kamarnya untuk mengerjakan sebuah naskah novel yang sudah mulai ia kerjakan sejak beberapa minggu yang lalu. Di temani secangkir kopi dan beberapa cemilan manis di meja, Rangga mengetik naskahnya dengan seksama.
Remaja 16 tahun itu kiini sedang berusaha mengejar mimpinya untuk menjadi seorang penulis. Walaupun masih duduk di kelas 2 SMA, ia sudah berfikir tentang apa yang akan dia lakukan di masa depan. Ia ingin menjadi penulis novel yang karyanya nangkring di banyak toko buku.
Sudah beberapa kali Rangga mengirim naskah ke beberapa penerbit yang berbeda, namun belum membuahkan hasil. Berbagai macam bentuk penolakan sudah ia terima, mulai dari bentuk surat maupun telepon. Namun, Rangga masih belum mau menyerah dan terus menulis kisah-kisahnya.
Dua jam berlalu sejak Rangga mulai menulis, ia menghentikan gerakan jari-jarinya di atas keyboard, kehabisan ide. Kali ini dia mencoba menulis genre komedi, setelah sebelumnya ia lebih banyak menulis tentang percintaan.
Rangga menatap kosong kearah tirai jendela kamar sambil berharap menemukan sesuatu di dalam kepalanya, namun tak satupun ide muncul. Ia menghela nafas dan berhenti menulis. Rangga kemudian mematikan laptopnya, lalu merenggangkan badan yang tak melakukan gerakan lain selain duduk membungkuk selama 2 jam itu.
Di luar masih hujan, namun tak se deras sebelumnya. Usai menyeruput kopi, Rangga menjatuhkan dirinya ke atas kasur. Ia berbaring terlentang menatap langit-langit kamarnya, lalu menoleh ke dinding kamar yang di tempeli banyak gambar hasil karya dari seseorang, ia memikirkan kegitan apa yang akan ia lakukan di hari selanjutnya. Besok adalah hari selasa, salah satu teman perempuan Rangga yang bernama Grace mengajaknya pergi ke toko musik untuk membeli sebuah gitar akustik sepulang sekolah dan Rangga menyetujuinya jika ia tak punya kesibukan.
Beberapa saat kemudian, HP Rangga yang terletak di meja belajar berbunyi nyaring, seseorang sedang menelpon.
Mendengar nada dering dari HP nya, Rangga bergegas beranjak dari tempat tidur, ia kemudian berjalan mendekati meja belajarnya dan memeriksa HP, ternyata itu telpon dari Grace, kebetulan sekali. Rangga segera mengangkatnya.
“Halloo... kenapa?” Ucap Rangga.
“Gimana, besok jadi enggak?” Jawab Grace dari seberang sana.
“Insya Allah jadi kok, emang lo mau ngajak ke toko musik yang sebelah mana?” Tanya Rangga. Terdengar samar-samar alunan musik natal dari sambungan telepon, seakan itu menjadi background music bagi Grace. Maklum, ini sudah bulan Desember dan sebentar lagi natal tiba. Sepertinya Grace cukup religius.
“Hmm... enggak tau, mungkin kita coba datengin dulu satu per satu. Gue tau beberapa tempat sih ngga soalnya.”
“Emang lo nyari gitar yang kayak gimana sih?” Tanya Rangga.
“Kalo gue jelasin, lo enggak bakal ngerti, lo kan enggak paham musik.”
“Hehe.. iya juga sih.” Rangga menggaruk rambutnya saat mengatakan itu.
“Yaudah, besok sepulang sekolah, gue tunggu di gerbang sekolah ya! Awas lo kalo langsung pulang.” Grace sedikit memberi ancaman.
“Ok deh.” Jawab Rangga singkat.
“Eh, ngomong-ngomong, besok siapin kuping lo ya, gue mau curhat!” Pungkas Grace sebelum akhirnya menutup telepon.
Rangga mengangkat alis, mengerenyitkan dahi. Ia sedikit bingung.
Keesokan harinya sepulang sekolah, Rangga berdiri di dekat gerbang keluar-masuk sambil menyaksikan gerombolan siswa-siswi lain yang melewati gerbang, berharap salah satunya adalah Grace, gadis itu benar-benar telat.
Rangga beberapa kali memeriksa jam tangannya sambil menggerutu “Lama amat sih Grace, padahal dia yang nyuruh nungguin di sini, sialan.” Ujarnya pada dirinya sendiri.
Setelah hampir satu jam menunggu dan suasana sekolah hampir sepi, Grace datang menghampirinya. Rangga hanya menatap teman baiknya itu dengan tatapan datar. Sebenarnya, ia cukup kesal namun dia tak bisa marah pada Grace.
“Hehehe... sorry ya gue telat,” Grace cengengesan sembari meminta maaf.
Rangga hanya menghela nafas, memaklumi
“Kemana aja sih lama banget?!”
“Rangga, gue itu anak band, enggak usah nanya dari mana, ya pasti ngumpul sama anak band yang lain lah, di ruang musik. Lo tau kan, temen gue kebanyakan cowok semua. Pulangnya lama semua.” Kata Grace dengan cara yang halus, seakan di buat-buat.
Grace adalah sosok gadis yang tomboy, wajahnya oriental, matanya cukup sipit, tipikal orang cina-indo. Ia cukup piawai memainkan alat musik gitar, hal itu membuatnya di rekrut menjadi anggota band di sekolah.
Rangga dan Grace sudah berteman sejak duduk di kelas 1, sekarang saat mereka menginjak tahun ke dua di SMA, pertemanan mereka masih sama seperti dulu, atau bahkan mungkin semakin erat.
Rangga menatap Grace dari ujung rambut sampai ujung kaki. Rambut Grace yang cukup panjang terurai lurus sampai pertengahan punggung, seragam OSIS nya tampak berantakan, tanda tak pernah di setrika, serta anting berbentuk salib kecil yang menempel di daun telinganya membuat Grace tampak sedikit anggun.
Namun, Rangga merasa janggal pada cara Grace mengenakan seragam SMA nya. Bukannya mengenakan rok abu-abu ia malah memakai celana panjang abu-abu yang harusnya itu untuk siswa laki-laki. Lebih parahnya lagi, Grace tidak bersepatu dan hanya memakai sandal jepit.
“Pake celana panjang lagi Grace?” Tanya Rangga, ia sudah terbiasa melihat Grace seperti ini.
“Hehe.. iya, lebih nyaman gini gue, enggak ribet.” Jawab Grace sembari menggaruk hidungnya yang tiba-tiba gatal.
Keduanya lantas berjalan beriringan menuju ke parkiran sekolah.
“Emang enggak capek apa maen kejar-kejaran sama guru BK?” Sambil berjalan Rangga melanjutkan obrolan.
“Capek sih, tapi seru aja gitu lari-larian hehe...”
“Udah kelas 2 kelakuan masih gitu aja lo, gue yakin sepatu lo pasti di sita sama guru BK karena lo ketahuan enggak pake kaos kaki. Ya kan?” Rangga mencoba menebak..
Sambil terus melangkah, Grace menatap kedua kakinya yang memakai sandal. Lalu mengarahkan pandangannya ke Rangga dan berkata “Enggak, sepatu gue kebakar.”
“Bohong banget!” Jelas Rangga tak percaya, bagaimana mungkin sepasang sepatu yang selalu menempel di kaki bisa terbakar. Jelas itu hanya candaan Grace saja, pikir Rangga.
. “Di bilangin enggak percaya. Pas masuk ruang musik, gue lepas sepatu. Sialnya, temen-temen tadi pada iseng nyembunyiin sepatu gue di tempat pembuangan sampah yang ada di belakang sekolah. Sepatu gue di kubur diantara sampah, eh enggak taunya hari iini waktunya pak somad bakar sampah, akhirnya sepatu gue jadi ikut kebakar...” Grace sama sekali tidak terlihat sedih saat menceritakan hal itu, hanya saja wajahnya tampak kesal.
“k*****t banget itu tukang kebun, bakar sampah enggak bilang-bilang.” Lanjutnya.
“Lo enggak kesel sama temen-temen lo itu Grace?” Tanya Rangga yang sedikit merasa kasihan.
“Enggak lah, mereka juga niatnya becanda, enggak berniat beneran ngebakar sepatu gue. Lagian, mereka udah minta maaf dan berniat mo ngeganti sepatu gue tapi gue enggak mau.” Grace tampak biasa saja, seakan terbakarnya sepatu bukanlah hal yang perlu di khawatirkan.
“Kenapa?” Rangga bingung.
“Enggak papa ngga, bisa aja kalo mereka ketemu gue nanti malah enggak enakan kalau mereka inget-inget hal itu terus. Gue sih pengennya biasa aja.” Grace tersenyum.
“Lo emang aneh sih Grace...” Rangga terdiam menatap Grace sambil berjalan. “Lo terlalu baik” Lanjutnya dalam hati.
Sampai lah mereka di parkiran sekolah. Setelah keduanya memakai helm dan menaiki motor, Rangga menyalakan mesin motor Supra X milik ayahnya itu. “Pegangan yang kenceng!” Rangga memperingati Grace yang membonceng di belakang, kemudian melingkarkan kedua lengannya ke pinggang Rangga. Keduanya mulai berangkat ke toko musik.
Sekitar pukul 3 sore, Grace dan Rangga menyusuri jalan raya untuk menuju ke toko musik. Jalanan sore itu cukup ramai, cahaya senja menerpa wajah Rangga dan Grace. Motor yang mereka tunggangi melaju perlahan menyalip beberapa kendaran yang lain.
Mereka sudah cukup lama berteman, meskipun berboncengan dan saling menempel, keduanya tampak tak saling canggung satu sama lain, seakan mereka adalah kakak dan adik.
Jika banyak orang berpendapat kalau pertemanan antara cewek dan cowok pasti akan menimbulkan rasa cinta diantara mereka, maka Rangga dan Grace adalah contoh nyata adanya pertemanan murni antara cewek dan cowok.
Ya, tak ada sama sekali benih cinta yang siap tumbuh di hati masing-masing dan tak ada alasan khusus mengenai hal itu, keduanya memang benar-benar tak saling jatuh cinta. Disamping itu, Grace juga sudah memiliki pacar.
“Lo kenapa ngajak gue sih? Enggak takut pacar lo cemburu?” Sambil menaiki motor, Rangga bertanya demikian, mungkin ia merasa sedikit tak enak hati.
“Yaelah... kalo sama lo dia enggak mungkin cemburu kali ngga, santai aja. Dia tahu kok kalo lo agak b*****g!”
“Sialan, gue enggak b*****g woy!” Rangga mencoba membela diri.
Grace tertawa di belakang “Becanda kali ngga, lagian lo tuh culun jadi cowok, pendiem juga. Jelas bukan tipe gue, mana mungkin dia cemburu sama lo.” Katanya.
“Bagus deh kalau gitu.” Kata Rangga.
Setelah melewati beberapa belokan, terlihat sebuah toko musik di sebelah kiri jalan. Grace menyarankan Rangga untuk mengurangi kecepatan motor, mereka pun menepi perlahan dan berhenti tepat di depan toko musik tersebut.
“Ini Grace tempatnya?” Tanya Rangga sembari melepas helm.
“Yep. Coba tempat ini dulu, kalo enggak nemu barangnya, kita pindah ke tempat lain.” Jawab Grace.
Grace melepas helm kemudian memberikannya ke Rangga. Ia kemudian melangkah mendekati pintu toko musik yang bernama “Peace, Love & Music” itu, atau orang-orang biasa menyebutnya toko musik PLM. Setelah Rangga memarkirkan motornya, keduanya lantas masuk ke dalam toko tersebut.
Sesaat setelah membuka pintu dan masuk beberapa langkah ke dalam toko, mereka di sambut dengan lagu dari band Guns N Roses yang berjudul “Sweet Child O Mine” yang mengalun di dalam sana. Deretan Gitar berjejer rapi di ujung ruangan dan 3 set drum di dekat situ membuat mata Grace berbinar-binar saat melihatnya. “Keren~” Ucap Grace, kagum.
Setelah menyapa pemilik toko, mereka kemudian mulai menjelajahi tempat itu, mencari gitar akustik yang di maksud Grace atau sekedar melihat-lihat terlebih dahulu.
“Gue benci sama Agung.” Tiba-tiba Grace berkata seperti itu saat berjalan di samping Rangga. Mereka melangkah perlahan menuju ke sebuah rak kaset.
Rangga menatap kearah Grace, ia mulai berfikir kalau ini adalah sesi curhat yang di maksud Grace semalam.
“Agung pacar lo itu?” Tanya Rangga, untuk sekedar memastikan.
“Bukan, tapi Agung pelawak kekar itu... ya iya lah, ngga pacar gue, siapa lagi...”
“Iya, kenapa lo bisa benci sama dia?”
“Udah hampir dua minggu lebih dia sama sekali enggak bales WA gue, cuman di read aja. Padahal online, tapi enggak di bales. Terus, akhir-akhir ini dia juga sering ngilang, tiap ketemu di sekolah, cuman ngobrol sebentar terus pergi. Alesannya sih sibuk ngerjain tugas. Parahnya lagi, dua hari belakangan ini gue sama sekali enggak liat dia di sekolah, gue chat juga enggak di bales, padahal online dia tu...” Grace tak melanjutkan kalimatnya.
“Terus? Dia tu kenapa?” Rangga penasaran.
“Kesannya ngilang gitu aja, kesel banget gue. Padahal f*******:-nya semalem aktif, gue telpon enggak di angkat juga.”
Rangga menggaruk kepala, dia juga ikut heran. “Jaman sekarang, sesibuk apapun seseorang, dia pasti tetep deket sama HP nya. Dia tentu sadar kalo lo nelpon dia dan dengan kesadaran penuh dia memilih untuk enggak menjawab telpon.”
“Ya kan!!”
“Lo enggak nyoba nanya ke orang-orang terdekatnya? Temen sekelasnya mungkin, dia kan udah kelas 3, siapa tau emang beneran sibuk banget.”
Keduanya tiba di sebuah rak kumpulan CD musik original di sudut kanan ruangan dan berhenti untuk melihat-lihat, barang kali ada yang menarik untuk di beli.
“Mungkin enggak perlu sejauh itu kali, ngga...” Grace berhenti bicara, tangannya meraba jajaran kaset di rak. “Mungkin aja beneran sangat sibuk, kita enggak tau urusan anak kelas 3 kan?” Lanjutnya.
“Nah... iya, bener.” Rangga sedikit merasa lega, ia merasa kekhawatiran Grace terhadap pacarnya sudah berkurang.
“Tapi, gimana kalau dia udah bosen sama gue, atau tiba-tiba ketemu yang lebih cantik dari gue?” Kata Grace yang kini malah terlihat khawatir. “Kenapa sih dia berubah gini? Padahal awal-awal dulu enggak kayak gini.” Lanjutnya.
“Cinta emang kayak tebu ya...”
“Habis manis, sepah dibuang? Manisnya cuman di awal?” Sahut Grace yang paham maksud Rangga.
Rangga tak menjawab perkataan Grace dan mengalihan topik “Langsung nyari gitar aja yuk, keburu sore.”
Keduanya kini berjalan menuju ke sudut ruangan tempat dimana gitar-gitar tertata dengan rapi. Segala macam jenis gitar ada di situ. Grace melihat-lihat gitar-gitar itu dengan kagum, sesekali ia menyentuhnya. Ingin rasanya Gadis tomboy itu membeli semua gitar di situ, namun tentu saja ia tak punya cukup uang untuk melakukan itu. Lagipula, kamarnya yang sempit tak mampu menampung puluhan gitar di toko tersebut.
“Gimana? Udah nemu yang lo mau?” Tanya Rangga.
“Belum, entar ya, gue masih pengen liat-liat nih.” Jawab Grace sambil melihat ke arah gitar berwarna hitam.
Rangga dan Grace berjalan pelan melihat-lihat gitar. Meskipun pandangan Grace selalu mengarah ke gitar-gitar yang berjajar rapi di sebelah kanan mereka, namun Rangga paham pikiran sahabatnya itu ngawang kemana-mana. Hampir setiap beberapa langkah, Grace selalu berkata “Ih bagus.” Sembari menyentuh gitar yang ia maksud.
“Mantan lo yang pindah itu gimana, ngga? Sama sekali enggak ada kabar kah?” Grace tiba-tiba bertanya seperti itu pada Rangga.
“Kenapa lo tiba-tiba nanya gitu? Gue hampir enggak pernah menghubungi dia lagi sih. Terakhir komunikasi sama dia sekitar dua bulan yang lalu, itu pun cuman lewat inbox di f*******:”
Rangga pernah memiliki seorang pacar bernama Nadia, hubungan mereka baik-baik saja, tak pernah ada pertengakran selama menjalani hubungan. Keduanya juga memiliki banyak kesamaan, terutama dalam hal tempat favorit, mereka sama-sama menyukai danau. Rangga dan Nadia kerap kali berkunjung ke danau di kala senja.
Di mata Rangga, Nadia adalah gadis yang baik. Nadia mendukung keinginan Rangga untuk menjadi seorang penulis, dia sering di mintai tolong oleh Rangga untuk memberikan komentar serta penilaian pada karyanya dan Nadia selalu membaca karya-karya Rangga dengan senang hati, tanpa ada unsur keterpaksaan. Bisa dibilang mereka adalah pasangan yang serasi.
Namun sayangnya, hubungan mereka terpaksa berakhir. Nadia harus pindah keluar kota karena ada suatu masalah di keluarganya sehingga keadaan menuntut demikian.
Sempat ada perdebatan diantara mereka, Nadia berdalih kalau hubungan mereka bisa di pertahankan dengan cara pacaran jarak jauh, tapi Rangga tak yakin akan hal itu, ia juga enggan menyiksa Nadia dalam kerinduan.
Pada akhinya mereka sepakat untuk move on satu sama lain agar tak ada sesuatu yang memberatkan hati.
“Pasti pas putus hati lo berasa sakit banget ya, ngga?”
Rangga menjawab, “Ya, lumayan.”
Rangga kemudian meletakan salah satu telapak tangannya di d**a sebelah kiri. “Mungkin disini masih ada bekas luka.” Katanya.
“Lebay lo hehe...” Kata Grace sambil mendorong pelan pundak Rangga.
Sekitar 20 menit di dalam toko, akhirnya Grace menemukan apa yang dia cari. Pilihannya jatuh pada gitar akustik Yamaha berwarna putih dengan harga Rp.600.000,00. Ia kemudian menggotong gitar itu ke tempat pembayaran. Usaha Grace menabung uang jajan selama hampir 3 bulan akhirnya tak sia-sia, ia berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan.
Pemilik toko memberikan sebuah tas gitar kepada Grace. Usai memasukan gitarnya ke dalam tas tersebut dan hendak meninggalkan toko, tiba-tiba si pemilik toko berkata “Enggak sama sound system-nya sekalian mbak?”
“Oh, Enggak mas, udah punya di rumah.” Jawab Grace dengan sopan.
“Gimana kalau di coba dulu mbak gitarnya?” Penjual toko kembali menawarkan.
“Tadi udah aku coba petik dikit-dikit kok mas, suaranya bagus, sesuai dengan yang aku cari.” Jawab Grace lagi.
“Maksudnya, dicoba pake sound system. Mbaknya bisa main gitar, kan?”
Rangga tersenyum dan ikut masuk kedalam obrolan, “Wah... dia jago banget maen gitar mas, lagu apa aja bisa.” Rangga membanggakan Grace.
“Apaan sih lo” Grace yang malu-malu menepuk pundak Rangga.
“Manusia.” Ucap Rangga, bercanda.
Si pemilik toko tersenyum pada Rangga dan Grace. “Kalau mau test sound enggak papa kok mbak.” Lagi-lagi pemilik toko menawarkan, mungkin ia berharap Grace akan sekaligus membeli sound system setelah mencobanya.
Grace melihat sekeliling, suasana toko musik itu cukup ramai, kebanyakan dari pengunjung adalah remaja, beberapa juga ada yang berseragam SMA seperti dirinya dan Rangga. Barangkali diantara para pengunjung itu ada yang satu sekolah dengan mereka. Beberapa detik melihat sekeliling, Grace kemudian menatap tegas pemilik toko, lalu berkata “Enggak mas, makasih.” Kemudian bergegas keluar toko sambil membawa gitar yang ia beli, Rangga menyusul di belakangnya.
Keluar dari toko tersebut, Grace menghela nafas lega, ia senang bisa membeli gitar yang ia idamkan, sementara Rangga tersenyum sambil menatap Grace, ia juga ikut merasakan kebahagiaan sahabatnya itu.
Melihat ke arah jam tangan, Grace berkata. “Masih jam segini, santai-santai dulu gimana?”
“Kemana?” Rangga bingung.
“Enggak tau, beli es krim dulu kali ya?” Grace ikutan bingung.
Rangga mengangguk menyetujui. Mereka kemudian berjalan kaki diatas trotoar di tepi jalan raya yang ramai, meninggalkan motor Rangga terparkir di depan toko musik PLM sambil berharap menemukan penjual es krim di dekat-dekat situ.
“Lo kenapa tadi enggak mau nyoba nge-tes gitar sih? Biasanya lo bakal semangat kalo ditawarin main gitar di depan umum gitu, lo kan suka tampil.” Kata Rangga sambil berjalan di samping Grace.
“Gue lagi enggak mood ngapa-ngapain hari ini, tadi aja pas di ruang musik gue cuman diem aja.” Grace menundukan pandangan saat mengatakan itu.
“Mikirin Agung ya?”
“iya...” Grace sepertinya masih memikirkan pacarnya yang mulai berubah, hatinya di penuhi kekhawatiran.
“Kenapa sih dia berubah? Kenapa sih segampang itu?”
“Lo dari tadi udah bilang gitu, kecemasan lo terhadap Agung belum tentu bener-bener terjadi, di bawa santai aja.” Lama-lama Rangga merasa sedikit kesal karena Grace selalu mengeluhkan hal yang sama.
“Agung adalah pacar pertama gue ngga, dan ini juga pertama kali dia ngilang-ngilangan kayak gini, selama setaun pacaran baru kali ini dia enggak ada kabar kayak gini, gimana enggak khawatir coba?”
Rangga hanya terdiam, tak tahu harus berkata apa lagi.
“Rasanya putus, gimana sih” Grace tiba-tiba bertanya seperti itu.
Sampailah mereka di depan gerobak penjual es krim di tepi jalan. Grace memesan rasa stroberi, sementara Rangga memilih rasa coklat. Setelah mendapatkan es krim masing-masing, mereka kemudian duduk di sebuah bangku panjang di dekat situ. Melihat orang-orang yang melewati jalan raya, mereka menikmati es krim masing-masing sambil melanjutkan obrolan.
“Rasanya putus ya?” Rangga berfikir sejenak kemudian melanjutkan. “Enggak enak banget, seakan separuh dari kehidupan gue di rampas. Apapun yang gue lakukan, jika hal itu berkaitan dengan dia, pasti gue langsung galau. Misal ketika gue dengerin lagu peterpan yang judulnya ‘Kukatakan Dengan Indah’ gue jadi terlalu menghayati lagu itu karena mewakili persaan gue, hal itu membuat hati gue berat, padahal cuma dengerin lagu. Kalau gue pergi ke danau bareng temen-temen, gue jadi inget dia karena kita pas pacaran dulu sering banget ke tempat itu. Dunia yang gue lihat jadi berbeda, hal-hal yang dulu gue lakuin bareng dia atau sesuatu yang dia sukai akan jadi hal yang nyesek saat gue lakukan dan lalui tanpa dia di samping gue. Kayak kehilangan oksigen gitu.”
Grace hanya terdiam mendengarkan penjelasan dari Rangga mengenai kehidupannya setelah patah hati.
“Mungkin kedepannya gue harus bisa terbiasa dengan semua itu deh.” Kata Grace.
“Emang lo mau mutusin Agung hanya karena ngilang dua mingguan” Rangga terlihat bingung.
“Ya enggak lah, cuman gue khawatir aja kalau tiba-tiba dia yang mutusin gue.” Grace menyendok es krimnya beberapa kali dan memasukannya kedalam mulut.
Rangga hanya terdiam mendengar hal itu, lalu ikut menyendok es krimnya sendiri.
Tak lama kemudian terdengar suara seseorang yang memanggil Grace.
“Grace!”
Rangga kenal suara itu. Grace dengan cepat menolah ke arah datangnya suara. Mereka berdua melihat kearah Agung yang berjalan dari seberang jalan di depan mereka. Dia mengenakan kaos berwarna hitam, celana jins dan sepatu khas anak muda yang terlihat mahal.
Grace berdiri, ia terlihat sumeringah, “Agung, kok kamu ada di sini?”
Agung yang mendekati Grace tanpa berkata apa-apa langsung mengelus-elus kepala pacarnya itu, Grace terlihat malu-malu.
“Aku tadi sempet nyariin kamu di ruang musik tapi malah enggak ada, kata anak-anak yang tadi masih di situ kamu pergi ke PLM, yaudah aku kesini deh. Ngapain ke PLM?”
“Ini... aku beli gitar baru.” Kata Grace sambil menunjukan gitar baru yang ia bawa di punggungnya pada Agung.
Agung melihat ke arah Rangga. “Hei, ngga.”
“Ya, bro.” Jawab Rangga, sok akrab. Rangga dan Agung bersalaman.
“Sorry ya, lo jadi repot nemenin Grace gini.” Lanjut Agung.
“Santai, udah biasa kok.”
Agung menatap Grace dalam-dalam, kemudian berkata. “Aku mau ngomong sesuatu sama kamu.”
Mendengar hal itu, wajah Grace yang yang semula tersenyum bahagia perlahan berubah ekspresi menjadi murung, ia merasa kekhawatirannya tentang Agung yang akan mengakhiri hubungan mereka sepertinya akan benar-benar terjadi. Rangga yang masih duduk di bangku panjang sambil makan es krim merasa kikuk berada di antara Grace dan Agung yang saat ini sedang bicara hal serius.
“Maaf ya, aku enggak ada kabar beberpa hari....” Belum sempat Agung menyelesaikan kalimanya, Grace memotong.
“Udah hampir dua minggu lebih!! Kalo mo ngajak putus bilang aja, enggak usah basa-basi, aku siap kok” Grace terlihat kesal.
“Iya, maaf. Kamu pasti kesel, aku enggak mau mutusin kamu kok...” Agung terdiam sejenak sebelum melanjutkan.
“Aku sibuk persiapan lomba sains nasional, jadi aku harus belajar serius biar kelompok ku bisa menang. Selama masa belajar persiapan lomba, aku harus ngurang-ngurangin main HP atau main-main sama kamu dan fokus belajar. Kalau kalah pas lomba kan enggak enak sama Bu Dian selaku pembimbing kelompok.” Agung menjelaskan alasan mengapa dia menghindar dari Grace, ternyata memang dia sibuk persiapan lomba. Sepertinya Agung salah satu siswa pintar di sekolah.
Rangga menggangguk mendengar penjelasan Agung yang terdengar masuk akal baginya.
“Beneran kan?” Grace tampak tak yakin.
“Beneran.” Agung mengeluarkan tanda peserta lomba sains nasional bertuliskan namanya dari kantong celana jins nya.
“Trus, kapan kita maen-maen lagi?”
“Minggu depan semuanya selesai kok, doain aja bisa menang.” Agung tersenyum, Grace juga tersenyum. Sementera Rangga bersiul, mengejek keduanya.
“Apaan sih lo, siulan lo kayak tikus kelindes ban trek.” Kata Grace setelah mendengar siulan Rangga.
Grace menggenggam tangan Agung, mereka tampak mesra sekarang, seakan semua keluhan Grace terhadap Agung yang ia curahkan ke Rangga hilang begitu saja.
Rangga memandangi itu semua dengan perasaan canggung. Bingung harus merespon dengan cara apa. Jelas sekali kalau Rangga seharusnya tak ada di antara dua sejoli yang sedang bermesraan.
Hari semakin sore, kendaraan yang lewat di jalan raya dekat situ tampak semakin ramai, tanda para pekerja sudah waktunya pulang. Udara di sekitar yang semula hangat perlahan menjadi dingin.
Grace berpamitan pada Rangga. “Makasih buat hari ini, gue pulang bareng Agung aja ngga.”
Rangga tersenyum “Sama-sama, Grace.”
Grace memberikan cup es krim yang sejak tadi ia pegang di tangan kirinya pada Rangga.
Kemudian Grace dan Agung bergandengan tangan, lalu menjauh dari Rangga. Di tempat itu kini Rangga berdiri sambil memegang dua cup es krim yang mulai mencair, yang satu milik Grace yang sudah di berikan kepadanya, yang satunya lagi miliknya sendiri.
Sebelum Grace benar-benar menjauh dari pandangannya, Rangga memanggil.
“Grace!”
“Apa?” Kata Grace setelah berhenti dan menoleh.
“Gue boleh masukin apa yang kita lakukan hari ini ke dalam tulisan gue nggak?” Tanya Rangga.
“Lo masih nyoba nulis-nulis gitu?” Grace merasa heran.
“Iya, itu mimpi gue soalnya. Jadi penulis.”
“Boleh, tulis aja. Yang bagus ya nulisnya.” Grace kemudian lanjut berjalan sambil menggandeng pacarnya.
“Oke deh.”
Rangga berjalan menuju ke tempat dimana motornya terparkir. Matahari mulai turun perlahan-lahan. Cahaya senja perlahan berubah menjadi gelap. Rangga mencoba menikmati es krimnya yang sudah mencair sambil berjalan. Es krim itu mulai terasa hambar, padahal di awal terasa sangat manis.