BAB 7a-(First Diary)-My Life

1136 Kata
Aku duduk di kursi ayunan yang tak begitu rusak dan mulai berayun. Tetesan air mengibas saat aku menaikinya. Rantai-rantai itu lembab oleh hujan pagi tadi, meski tempat duduknya kering, mungkin telah diduduki seseorang sebelumnya. Gadis itu. Aku yakin. Gadis bermata ember dengan wajah kebarat-baratan, di pipinya terdapat banyak bintik-bintik, kulitnya seputih tahu cina. Bagiku, dia sangat cantik, makanya aku masih mengingatnya. Siluet ketika ia berayun maju, mundur, rambut panjangnya yang legam mengibas di belakangnya, lantas menyusulnya lagi saat dia berayun naik. Jika kuingat lagi, dia selalu sendiri, bahkan ketika ada orang lain yang datang mendekat, dia justru lebih memilih pergi. Hingga suatu hari aku taklagi mendengar kabar. Di amungkin lari, mungkin pergi dari kota ini. Mungkin keluarganya pindah ke suatu tempat yang jauh, di mana dia akan lebih percaya diri. Kursi ayunan itu telah terwariskan kepadaku, mereka bilang setiap gadis yang memiliki nasib buruk dan tidak punya teman akan datang ke tempat ini. Karena rumor itulah, hanya sedikit orang yang datang ke taman bermain selain hari Minggu. Mereka bilang, Minggu adalah hari bebas sial, jadi siapapun yang datang ke sana beramai-ramai tidak akan mendapat masalah. Ketika mendengarnya, aku datang juga, namunmereka mengusirku, sehingga nasibku tidak berubah. Aku pernah berpakaian bagus, pernah merasakan es krim, atau makan di restoran berbintang. Itu terjadi sebelum ayahku menjadi serakah dan menggelapkan dana perusahaannya. Usiaku enam tahun, sewaktu tante-tante berusia dua puluh tahun lebih tua dari ibuku mendorongku jatuh dan menunjuk-nunjuk sambil marah-marah. Aku tidak begitu mengerti yang dia katakan, hanya yang kuingat, wanita itu berkata begini, “Kau anak haram! Anak tak diinginkan! Saat dewasa nanti kau tak akan ada bedanya dengan ibumu ini!” Ibuku berusaha menghentikannya dengan menerima tamparan dan pukulan bertubi-tubi tanpa sempat melawan. Dan itu terjadi di depan mataku yang terus menangis. Memar-memar yang diterimanya tak dapat sembuh hanya sehari, tetapi wanita itu lepas dari kantor polisi hanya beberapa jam. Hasil kekerasan itu juga mengakibatkan cacat di matanya, ibuku menjadi rabun dan hampir buta, jika bukan karena dia mendapat bantuan dari seorang paman baik hati, paman itu mengaku sebagai saudara ayah. Tak lama kemudian bermunculan debt collector yang menagih hutangke rumah kami, padahal wanita itu, istrinya, terlihat mengenakan pakaian dan perhiasaan mahal, hutang-hutang itu justru dilimpahkan kepada kami. Tidak sampai di situ, telepon dari penjara membuat hidup kami benar-benar runtuh. Aku tidak terlalu hafal wajah ayahku, karena beliau hanya datang sebulan sekali, berurusan dengan ibu, tanpa repot-repot menoleh atau menyapaku. Hanya sekali aku melihat dengan jelas wajah pria itu, dalam bentuk jasad putih beku dan kaku. Dia tidak terlalu tampan, rambutnya botak di depan, bertumpuk lemak di perutnya yang tambun, dan ada bekas lilitan merah di lehernya. Aku tidak yakin ibuku benar-benar menyukai pria ini, tetapi ada rasa syukur terselip di benakku. Karena kaulah kami mengalami banyak masalah, sekarang pergilah dan bawa semua kesialanmu. Aku mungkin terlalu kejam, sehingga kutukan itu menjadi bumerang dan menyerangku sekarang. Kami dilempar ke jalan, tetapi hutang masih melekat ke mana pun kami bersembunyi. Tinggal di sebuah gubuk kecil, memang dindingnya terbuat dari semen, tetapi di dalam kami tidak memiliki alas untuk tidur di tanah, saat awal-awal, ibu memunguti daun pisang kering dan menjadikannya alas tidur dan selimut. Saat usiaku dua belas tahun, taman itu menemukan kami. Tempat tinggal kami telah jadi lebih baik, dia juga sudah melunasi hutang-hutang ayah. Hidup kami berangsur normal kembali. Ibu mulai bekerja di salon, lalu bertemu pria tampan. Dia sering mengajaknya ke rumah dan menyuruhku pergi keluar. Sebulan kemudian, kami diusir dari kampung dan mulai hidup seperti jamur. Ibuku meminta maaf dan berjanji tak akan mengulanginya. Aku akhirnya bersekolah dengan tenang. Sebagai anak yang hidup sangat sederhana, prestasiku menaikkan derajatku lebih tinggi. Aku bisa bersekolah di tempat bagus hanya dari beasiswa. Kuminta ibuku untuk tidak mengacaukannya, jadi dialah yang berpindah-pindah mencari kerja, lebih sering meninggalkanku sendiri. *** Sejak dulu emosiku memang tak terkendali dengan baik. Tidak lagi, setelah aku ditindas berbulan-bulan sejak lompat kelas, aku belajar untuk tidak beradu mulut yang tidak perlu dan membuang tenaga dan lebih mengerjakan soal-soal Fisika milik mereka. Aku berlari ke luar kelas sambil berpura-pura menangis, meski air mataku kering. hanya untuk membuat mereka puas menuju ke arah toilet untuk meneteskan air agar mataku terlihat memerah dan berair. Melawan? Aku sudah hatam, dan balasannya akan dua kali lipat lebih mengerikan. Ingin rasanya masa sekolah ini berakhir sesegera mungkin. Senyum bahagia karena dapat masuk ke sekolah bergengsi ternyata memiliki konsekuensi. Aku sangat menyukai sekolah ini, namun aku benci anak-anak yang menghuni. Aku benci hidupku. “Hei, kudengar ibumu dicari polisi? Apa untuk membayar uang iuran sekolahmu?” “Berapa pria yang sudah dia tiduri untuk menyekolahkanmu di sini, huh!” Aku tidak lagi bisa menahan diri. Mereka boleh berkata apapun padaku, tetapi tidak pad ibuku. “Lancang!” Aku menerkam gadis itu, namanya Asuna, dia benar-benar a**s yang menjijikan, semua kata yang dikeluarkannya hanya kotoran! Kupatahkan kuku panjang salon mahalnya, rambutnya kujambak hingga rontok. Aku sedikit puas setelah melampiaskannya. Guru memberiku skors selama tiga hari dan meminta paraf orangtua. Aku tahu tak berhak menuntut apapun, bahkan mereka tak merasa perlu mendengar penjelasan anak rendahan sepertiku. Bagaimana denganku saat itu, mereka bahkan tak tahu apa yang dilakukan Aurelia Dkk sebelumnya terhadapku. Perbedaannya hanya karena dia tak bisa diam, dan aku yang tidak bisa mengadu. Aku tak ingin mereka memihakku, hanya dengarkan alasanku sekali saja. Sepulangnya, aku menangis sepanjang jalan. Jika saja aku memilih bertahan dan tidak menyerang. Aku hanya mempersulit diri sendiri. Semua tidak akn terlalu berpengaruh padanya, kecuali jika dia mati saja. Setiap hari, aku bekerja paruh waktu di sebuah kafe sebagai pelayan. Tanpa ibu yang selalu ada, aku perlu sedikit berjuang untuk makan. Sampai di gang depan rumah, bulan telah muncul ke peraduan. Jujur saja, perasaanku tak nyaman sejak kejadian kemarin, aku membayangkan Aurelia datang dan menghajarku. Imajinasi itu menjelma sungguhan. Tiga orang gadis menunggu di ujung gang dengan silet di tangan. “Pe*** kayak lo mending mati aja. Mati sana, manusia enggak guna.” Aurelia yang mengenakan topi, mendorongku ke tembok gang yang sepi. “Jangan di sini, Rel.” Flora, temannya si jangkung mengingatkan. Saat perhatiannya teralih, aku mencoba selip agar terlepas dari kungkungan. Rona, yang paling tomboy, menendang tulang keringku. Aku jatuh bersimpuh kesakitan. Kesempatan bagi mereka mengeroyokku. Tas dan bukuku diaduk-aduk, disilet, lalu dibuang ke tempat sampah, bajuku dikoyaknya juga, aku ditonjok dan ditendang berulang kali. “Woi berisik!” Suara pria mabuk menjadi penyelamat sebelum aku benar-benar babak belur. Ini tidak akan terjadi jika aku berpura-pura menuruti mereka, jika saja aku lebih bersabar. Dadaku serasa panas membara, rasa sakit tak bisa lagi kurasakan. Otakku yang sakit berpikir untuk memfitnah mereka. Silet dan topi Aurelia yang terlepas dan ditinggalkan akan menjadi bukti kematianku. Aku mempercepat langkah, menekan sambungan telepon kantor polisi distrik dengan nada panik. “Tolong, mereka ingin membunuhku. Apa yang harus kulakukan? Mereka menyuruhku ke Hotel Tower, jika aku tak ke sana, aku akan dibunuh di sini.” Kuputus sambungan, tanpa menjawab pertanyaan apapun. Berlari menaiki tangga darurat menuju ke atap. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN