Gedung itu tingginya sekitar 168 meter. Kita dapat memandang seluruh bangunan kota di sana. Kerlap-kerlip cahaya lampu kota, terlihat bak titik-titik kunagn-kunang yang berpindah-pindah.
Seandainya hidup tidak seburuk yang kualami, mungkin aku akan berdiri menantang angin di tempat itu bersama orang yang berharga.
Aku duduk termenung di sana. Jika aku terjatuh sekarang, waktu dan alibi anak-anak itu akan hancur, dan pastinya tubuhku juga akan hancur mencium aspal di bawah sana.
Dari atas sana aku mendapat penglihatan, seorang pria dikeroyok tiga orang lainnya. Tampaknya hari ini nasib buruk mnegutuk kami. Siapa pria itu, dia terlihat hampir mati akibat ditonjoki. Apa yang harus kulakukan? Aku seolah-olah melihat siluet diriku di sana.
Aku turun dengan lift supaya lebih cepat sampai, sebelum terlambat.
Dari arah jembatan, aku menemukannya. Aku benar-benar marah pada mereka. Mengapa mereka menindas kami? Apa itu menyenangkan? Apa itu membuat hidup mereka semakin bertambah?
Aku menekan sambungan telepon menggunakan ponsel dan terus berjalan hendak menghindari mereka. “Hallo Pak polisi, terjadi pengroyokan di Gang Gamelan No.11. Cepat datang kema—”
Aku tak menyangka mereka lebih cepat mengepungku. Sekarang aku menyesalinya. Salah satunya datang dari arah belakang dan membuang HP-ku.
“Wow wow wow, tahan dulu, Cewek. Lo siapa? Pacarnya dia?”
Cowok di hadapanku mencengkeram pundakku, lalu mendorongku mendekati anak itu. Kau memandang wajahnya yang penuh luka.
“Udah berani pacar-pacaran lo, Jing!” Ludah pria itu tersembur saat mengatakannya. Aku mengendik jijik, walaupun keadaanku sama kacaunya.
Aku berusaha meraih HP-ku yang hampir terjatuh ke dalam genangan lumpur, mereka tak segan-segan mempermainkanku, menendangnya ke sana kemari. Aku marah, tetapi kata-kata tercekat di tenggorokan.
“Jangan ganggu dia, gue enggak kenal dia.”
“Woh, dia belain!”
“Udah berapa kali lo ng**** bareng dia, huh!”
Mereka menertawai hal yang tidak pantas. Aku sengaja bangkit dan menendang selangkangannya. Seperti langkah revolusioner, cowok itu langsung berubah menggila dan bisa lepas dari belitan pria di belakangnya, memukuli mereka membabi buta, meskipun tetap kalah. Seseorang mendorongku sampai terjatuh menindih tubuh cowok itu. Dia berbisik meminta maaf padaku. Mengejutkan.
“Sialan, udah berani sama gue lo, Jing!”
Satu pukulan keras akan mendarat di wajahnya yang sudah tak berbentuk, entah sudah berapa banyak pukulan yang dia terima, aku yakin kali ini dia tidak akan sanggup menanggungnya. Tubuhku bergerak melindungi cowok asing yang bahkan tak kutahu namanya.
Tak lama kemudian polisi datang, tiga orang itu berlari kocar-kacir. Sedangkan kepalaku mendadak berbintang dan semua menggelap.
***
Saat aku mendongak, mereka semua menatapku. Mereka tak berwajah. Tiga senyum mati tengkorak tak berdaging yang berlumur darah menyeringai padaku. Mereka merangkak di atas lantai putih yang langsung berubah warna, dengan gigi bergemeletuk, tangan-tangan kerangka itu terjulur hendak menangkapku. Aku berlari ke arah pintu, tapi terkunci. Kugedor-gedor, memohon pada siapapun di luar untuk membebaskanku. Suara gigi mereka yang mengerat dan menggigit-gigit semakin dekat dan aku tidak bisa kabur.
Aku memejamkan mata, menunggu ajal yang mungkin tengah berjarak sejengkal di depan wajahku, ketika tiba-tiba suara gemeletuk gigi lenyap, berganti derai hujan lembut di luar jendela, cahaya merembes masuk melalui celah mataku yang terpejam. Saat aku membuka mata, imaji-imaji mengerikan itu memudar, berganti sebuah ruangan kecil. Pikiran awalku mengiranya sebagai penjara segera tersingkir. Ruangan itu serba putih : dinding-dinding dan langitnya berwarna putih, bahkan kaca jendela yang menampilkan hujan di luar sana juga bening. Satu-satunya warna di ruangan itu datang dari bunga-bunga kuning di dalam vas transparant di meja putih kecil.
Aku baru menyadari tengah terduduk di sebuah ranjang berseprai putih. Saat aku mencoba fokus pada warna kelopak-kelopak bunganya, pintu yang sebelumnya tak tampak, terbuka. Tampaklah seorang pria jangkung dalam cahaya yang meruah dari luar sana. Dia maju selangkah dan aku mengenali jaket hoodie hitam bulukan itu, tangannya terjulur hendak menggapaiku, aku menanggapi, kucoba untuk meraihnya. Tangan itu menyeretku masuk ke dalam cahaya, lalu tiba-tiba semua berubah nyata. Di atas langit masih gelap, dan aku masih hidup.
“Hei, kamu baik-baik saja?”
Oh ya, apa yang terjadi padaku? Dan siapa cowok ini?
“A-aku....”
“Kamu terkena pukulan di kepala. Kuharap kamu enggak cedera parah.”
Anak berpenampilan semacam ini dapat berbicara dengan sopan. Sekilas aku mengira dia bahkan mungkin belum pernah mengenyam pendidikan.
“Terima kasih omong-omong.”
Oh, apa itu tadi, apa aku menyelamatkannya atau apa? Sinkron di kepalaku tiba-tiba menyala, dan aku malu sekali mengingat ketololanku
“Jangan salah paham!” sentakku padanya yang terkejut, aku juga sama terkejut mendengar suaraku. “I-ini bukan seperti yang kamu pikirkan, aku hanya... hanya....”
Dia menunggu. Mata sehitam kue brownies itu menatapku. Aku menelan ludah susah payah. Tidak, ini terlalu dekat, aku jadi tak bisa bicara. Spontan aku mendorongnya dan berlari.
Setelah merasa cukup jauh, aku memilih berhenti untuk mengambil napas. Kutolehkan kepala ke arah belakang, memastikan dia tak bisa mengejar. Bagus. Tidak ada tanda-tanda.
Dia pasti tak bisa mengejar. Begini-begini, aku adalah atlet renang di SMP. Aku berjalan ke rumah dengan perasaan lega, tidak berharap akan bertemu dengannya lagi.
Seminggu kemudian, urusan skorsing bahkan Aurelia tiba-tiba membaik. Mereka yang biasanya akan menungguku sepulang sekolah, tidak lagi terlihat. Ini suatu berkah. Mungkinkah, karena aku telah menyelamatkan seseorang.
Setibanya jam makan siang kususuri koridor sambil membaca papan pengumuman yang sebenarnya jarang kuperhatikan. Aku seolah-olah terlahir kembali. Lebih percaya diri, tidak hanya terus menundukkan kepala di depan mereka dan merasakan kebebasan. Dua bulan lagi, wajib belajar intensif ujian akan dilaksanakan, aku hanya perlu bersabar sedikit lagi.
Membawa makananku ke atap dan menyantapnya dengan tenang sembari melihat-lihat anak-anak lain berkumpul di halaman rumput sekolah. Udara begitu cerah. Mayoritas memilih makan di rerumputan dibandingkan ke kantin, membentuk kelompok-kelompok besar untuk bergunjing atau memamerkan barang terbaru mereka.
Aku ingat saat pertama kali masuk, semua orang menerimaku sebagai anak yang pandai, baru kemudian aku menginjak jejak yang salah dengan mengikutu Aurelia, dia memerasku dengan kenyataan mengenai keluargaku, semenjak saat itu aku menjauh dan trauma untuk berteman. Mengamati sekeliling, aku melihat Pak Nurdin, satpam sekolah tengah berbincang akrab dengan seseorang dari luar. Aku mengenyahkan pemikiran bahwa anak itu mirip cowok yang kutolong.
Beberapa waktu ini aku merasa diikuti. Kau mencoba hal yag biasa dilakukan. Aku akan menggunakan ponsel untuk merekamnya. Baru kuingat, ponselku rusak dan menghilang entah ke mana. Satu-satunya opsi adalah menggunakan kaca bedak, aku selalu menggunakannya tatkala bekerja.
Citra cowok itu tertangkap pada kaca.
Ya Tuhan, itu benar-benar dia! Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana dia bisa mengetahui sekolahku? Sudah berapa lama dia mengikutiku?
Semua seperti jalinan benang yang terhubungan. Perubahan geng pengganggu itu berasal dari ini.
***
Keesokannya, dia menunggu di depan gang.
“Hai,” sapanya begitu ramah.
Luka-luka mulai mengering, bebrapa plester dan bebat obat masih tertempel di bagian-bagian tertentu, hal itu membuatku lega.
“Bagaimana kamu tahu rumahku?”
“Mmm, itu... cukup gampang.”
“Kamu mengikutiku?”
“Ya, malam itu, hanya memastikan kau selamat sampai di rumah.”
Anehnya, aku merasa tak keberatan, saat dia berkata ingin memastikanku selamat sampai di rumah, aku tidak mengenalnya, tetapi aku percaya padanya. Ada sesuatu dalam dirinya yang menumbuhkan semacam perasaan aman dan menenangkan.
“Lalu, kamu masih mengikutiku.”
“Oh, itu karena ponselmu, sudah kuperbaiki. Aku harus menabung bebrapa hari untuk membeli LCD baru.”
Dia sangat jujur dan polos. Berapa usianya? Entah mengapa aku jadi ingin tahu.
Aku menerima Handphone itu. “Terima kasih, aku akan mengembalikan uangnya segera.”
“Tidak, tidak perlu. Aku yang harus berterima kasih.”
“Kalau begitu, urusan kita sudah selesai, bukan.’
Aku menangkap pendar kecewa dari matanya. Huh! Kau ketahuan, Berandal!
Aku tersenyum miring, merasa di atas angin. “Jangan mengikutiku, pergilah!”
Aku hendak berbalik, sesaat suara lirih membuatku berhenti. “Benar. Tidak mungkin kamu mau berteman denganku. Kamu tidak seharusnya membantu orang sepertiku. Jangan gegabah seperti sebelumnya. Jaga diri kamu.”
Dia terdengar amat sedih. Aku memutar ke belakang, menatapi punggungnya. Tanganku terangkat, dan bibirku kupaksakan mengeluarkan suara. Lagi-lagi kelu.
“Aku... tidak bermaksud begitu.” Perkataan itu terucap sangat terlambat.
Aku telah mematahkan hatinya. Bagaimana aku tidak belajar dari pengalaman. Untuk orang-orang sepertinya, dibantu oleh seseorang adalah pengalaman berharga dan merupakan hubungan yang harus dijaga. Aku harusnya tahu, bahwa aku juga menginginkan sebuah pertemanan. Adakah seorang yang lebih memahami, dibandingkan seorang yang memiliki pengalaman yang serupa.
***