BAB 7c-(First Diary)-My Happiness

1322 Kata
Rencana untuk mengunjunginya saja sudah membuat kupu-kupu terbang berputar-putar di perutku. Gelisah karena berniat datang, tanpa pemberitahuan, di rumah cowok asing. Aku tahu ini tidak bijak. Bodoh, malah. Namun, aku harus menemuinya, sebagian untuk berterima kasih, sebagian lainnya untuk bertanya bagaimana dia berdamai dengan kondisinya. Apa yang dilakukannya sepanjang hari? Apakah dia punya teman? Dia bilang pria-pria bertindik yang anrakis itu bukan temannya. Aku membayangkan seperti apa teman-temannya. Bagaimana dengan keluarganya? Apakah dia punya saudara? Setiap langkah yang kuambil berdasar pada keingintahuan juga kenekatan. Alamatnya dekat dengan parkiran sepeda di belakang gedung, ada penjual es yang berhenti dan tengah menangani pembeli, karena sedikit haus, aku menunggu dia menanganiku. Semabri menunggu, aku mengamati sekitar. Tanahnya dikotori puntung rokok dan ada genangan air kotor berjentik-jentik di pojok pagar seberang. Sebagian sepeda ditinggalkan berkarat dan bocor. Aku menyingkir di sudut terjauh, saat menyadari tempat itu menjadi lokasi dari banyak aktivitas m***m remaja di semak-semak. Apakah anak itu benar-benar tinggal di daerah semacam ini? Aku mengambil pesananku, buru-buru pergi dari tempat itu setelah membayar. Seseorang menubrukku dan aku menjatuhkan kertas yang memuat alamatnya, minuman dan tasku juga terjatuh menghamburkan isinya. Aku bergegas memungutnya, Walaupun banyak orang berlalu lalang, tak seorang pun berhenti untuk membantuku memungutinya, mereka melewatiku bahkan tak sengaja menginjak barangku seolah aku tak berada di sana. Aku menegecek kembali alamat yang tertera di kertas. Selepas berjalan lumayan jauh dari halaman parkir, kudapati rumah bernomor 56. Semua lampunya mati, dan rumput-rumput merayapi celah dinding rumah, pasti rumah itu telah lama tak terurus. Ubin-ubin pecah berderak di bawah kakiku saat aku berjalan menuju pintu. Seekor anjing menyalak saat aku mengetuknya beberapa kali, suaranya berasal dari rumah tetangga. Sebuah lampu berkedip menyala dan aku mendengar suara batuk dari balik pintu. Bunyi kunci yang diputar sempat membuatku ragu dan mulai mempertanyakan alasan aku menemuinya. Apakah aku harus melakukan ini? “Siapa?” kata wanita paruh baya yang mengenakan sweater dan syal melilit lehernya. “Apakah benar ini rumah Berandal?” “Berandal? Uhuk uhuk, siapa yang kamu maksud gadis kecil?” “Maksudku, cowok yang rambutnya botak di bagian pinggir.” “Oh, maksudmu anak sialan itu. Pergi saja, aku tidak mengenalnya, dia hanya pencuri.” “Maaf, tapi apakah Ibu ini keluarganya?” “Keluarga, huh? Dia itu cuma anjing peliharaan Pak Guntom.” Astaga! Aku tersentak karena wanita itu menutup pintu tepat di depan wajahku. Anjing? Apa-apaan ini. Jadi, di mana sebenarnya rumahnya? Aku menyeret langkah tanpa tenaga. Pencarianku sias-sia. Terasa butuh waktu lama untuk sampai ke rumah, padahal jaraknya tidak lebih dari lima belas menit berjalan dari sekolahku. Dengan kesal aku merobek kertas catatan kecilku, aku ingin mengata-ngatainya, bodoh, berengsek, tetapi tanganku begitu frustasi, dan bahkan tak mengenal kalimat itu di jari jemari. Aku melangkah cepat-cepat, menuju tempat dia biasa muncul. Untungnya, tak ada orang di sana. Kutempelkan note itu pada tembok grafiti Love Make You Strong. Hei, Berandal. Kuharap hari itu bukan terakhir kali dan kita bisa bertemu lagi suatu saat nanti. Laura *** Sepasang mata itu membeliak terkejut saat menyadari itu aku. Sempurna, pikirku. Aku sudah mencarinya kemana-mana selama berrminggu-minggu dan sekarang dia muncul tepat ketika aku akan mengakhiri semuanya. “Kau melakukannya lagi,” decak cowok itu. Aku mengamati ujung rambutnya yang mencuat ke atas, panjang di belakang, bagian botak yang dipotong tidak sama, mulai tumbuh. Rambutnya semakin aneh dari hari ke hari. “Apanya?” tanyaku, mengabaikan pertanyaan tidak penting tentang gaya rambut. “Kamu akan melompat seolah ini akhir dunia.” “Aku... kalau iya kenapa, kalau tidak kenapa? Itu bukan urusanmu.” Dia memandangku tak suka, dahinya mengernyit dan bibirnya mengatup. Matanya menengok ke arah bawah jembatan. “Kalau begitu lompatlah.” Giliranku yang menatapnya tajam. “Aku benar-benar akan melompat sekarang,” teriakku cukup keras. “Melompatlah, tidak perlu memberitahuku.” Kurang ajar! Dia tidak terpengaruh. Baiklah, aku sudah membulatkan tekad. Aku benar-benar menaiki pagar jembatan, merentangkan tangan, berjalan di pinggir dnegan perlahan, menatap ke langit, bukan ke bawah sana. Ini sedikit menyeramkan. Menekan keraguan dan kewarasanku hanya karena rasa marah padanya. Kulakukan, tetapi saat aku melompat, aku tidak merasakan basah maupun air yang memenuhi paru-paruku, tanganku seolah tersangkut, jadi aku membuka mata, hanya untuk mendapati, dia memegangiku dan tersenyum. “Kamu punya senyum yang indah,” katanya. Tanpa kusadari bibirku melengkungkan kurva konyol yang membuat pipiku semerah kepiting rebus. *** “Kenapa kau mencariku?” “Aku tidak tahu!” Aku teramat jujur saat menjawab begitu. “Huh? Baiklah, terserah saja. Kau mau ikut?” “Kemana?” “Ikut saja.” Setelah mencoba mencari alamat seorang pria asing, kegilaan apalagi ini, aku mengikutinya ke tempat yang dirahasiakan dan belum pernah kudatangi. Bagaimana jika dia berniat jahat dan membunuhku? Dia bisa membuangku tanpa tertangkap. Tanpa kesusahan cowok itu sudah berada di atap, mengulurkan tangan untuk kugapai. Ia menyentakku ke atas, itu sedikit sakit, dan menangkap pinggangku tanpa usaha lebih melewati tembok berbata kasar hingga naik dengan sempurna. Sampailah kami di celah antar atap, aku merasa seperti berlatih menjadi pencuri, kenapa kami harus naik melalui atap? Dia melewatinya semulus melompati genangan air dan menyemangatiku bahwa aku bisa. Aku mengambil ancang-ancang, berlari, dan mendarat hampir terjerembab tepat di mukaku. Kami memasuki jendela dan mulai menuruni anak tangga. Aku berusaha menenangkan napas dan jantungku karena pacuan adrenalin tadi. Kakiku memijak anak tangga yang tak ada dan hampir terjatuh dari sesuatu yang rata, dia menahan sikutku dan menjagaku tetap tegak berdiri. “Kau tidak apa-apa?” “Terima kasih. Tapi di mana kita?” Cowok itu menarik pintu berjaring yang mirip kerangkeng binatang, pintu kedua mengingatkanku lift jaman dulu atau lift konstruksi bangunan, cahaya membanjiri ruang tangga. “Selamat datang di markas rahasiaku.” Berandal berjalan mendahului, aku baru akan melewati ambang pintu ke dalam sebuah kantor besar tanpa penyekat ruang, atau kantor kuno yang tak lagi digunakan, dengan banyak meja-meja yang ditumpuk satu sama lain. “Dulunya mereka membuat film di sini.” Dia mmeungut tabung hitam berpenutup putih dan melemparkannya padaku. Aku berusaha menangkapnya tapi gagal, benda itu teerpelanting ke lantai. Aku memberi tatapan datar padanya yang dibalas cengiran. “Ups.” “Film? Seperti di bioskop?” “Bukan, itu kertas film yang biasanya ditaruh di kamera.” “Oh,” kataku tak terlalu tertarik. “Aku suka pemandangan di sini.” Dia mendekati jendela-jendela tinggi yang sebagian grendelnya telah berkarat. Aku mengikuti arah pandangnya. Gunung Putri Tidur terlihat utuh dari tempat ini. Menakjubkan. “Akan lebih menakjubkan saat malam.” Entah dia memintaku untuk tetap di sana bersamanya, atau hanya pikiranku bahwa dia ingin ditemani, aku sedang tak ingin pulang ke rumah yang sepi. Ibu kini tengah menjual barang-barang illegalnya, juga untuk menghindari penagih hutang yang datang. “Aku tidak ingin pulang. Boleh kan?” Cowok itu hanya diam, tak menjawab, namun tak mengusirku juga. *** Ruangan kantor itu memang tampak berbeda di waktu malam. Bayang-bayang yang dibiaskan keluar sana terlihat kaku dan tajam. Lemari-lemari arsip menjelma bebatuan, dan meja-meja berubah menjadi monolit menjulang. Pemandangan di bawah sana jadi mirip layar yang diproyeksikan ke sebuah layar. Aku duduk di sebuah kursi tua dan berputar pelan. Kegelapan membawa perasaan nyaman. Aku merasa bisa hidup hanya dengan bersembunyi di sini. Ini tahun baru dan semua orang keluar untuk melihat kembang api atau setidaknya merayakannya. Berandal duduk membisu, memandangi bulan yang hampir menyerupai garis tipis dan langit yang berbintang, pemandangan yang tak bisa kau dapatkan di kota. “He, apa yang kau tunggu?” “Itu.” Dia menunjuk ke arah ledakan warna pertama mewarnai langit kelam, suaranya menyusul sepersekian detik kemudian. Aku terkejut, tidak tahu jika bunga langit itu dapt terlihat penuh dan indah dari sini. “Indahnya....” “Benar. Tapi tidak seindah senyummu.” “Eh?” pujian itu menciptakan rona di pipiku. Aku belum pernah dipuji seorang pria, jangankan begitu, mendekati mereka atau pun mereka mendekati pun tak pernah. Mata yang mengilatkan cahaya warna-warni itu menatapku. Bukan sebuah tatapan b*******h, tatapan kagum yang lugu. “Apa kau menyukaiku?” Kadang aku lupa untuk menutup mulut. “Iya,” jawabnya spontan, tanpa perlu berpikir dua kali. “Kalau begitu, aku akan menganggapmu teman yang berharga, dan kau bisa menganggapku siapa saja.” “K-kalau kekasih?” Rasanya, aku ingin mencubitnya saat itu, dia sangat menggemaskan ketika gugup. Oh, tak kusangka dia akan menggunakan kalimat “kekasih”, alih-alih pacar. “Tentu.” Dia tersenyum seperti anak kecil. Kecepatan dan banyaknya kembang api terbangun dan terbangun, lapisan-lapisan partikel berkilauan luruh dari langit. Kami masih sibuk mengobrol sesekali berheni untuk memandangi. Ini adalah hari terbaikku. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN