“Saat kau dewasa, kau ingin menjadi seperti apa?” Aku yang pertama mencetuskan pertanyaan random itu.
“Mungkin menjadi seperti kunang-kunang.”
“Cita-cita yang aneh.”
“Kamu sedang membicarakan cita-cita?”
“Apa pertanyaanku berbeda?”
“Jika kamu bertanya mengapa, aku hanya ingin menjadi seorang yang berguna bagi orang lain. Orang yang bisa membantu orang lain bagaimana pun caranya, meski hanya menerangi sebentar kemudian mati.”
“Itu menyedihkan, kau tahu.”
“Menurutku tidak.”
Kami tak memperpanjang bahasan itu karena sepertinya kami memiliki perbedaan dalam mengartikannya.
“Berapa usiamu?”
“Setahun di atasmu.”
“Bagaimana kau tau usiaku?”
“Itu mudah. Aku juga tahu kebiasaanmu tidak membersihkan rumah, jarang mandi karena selalu bangun siang, dan—“
“Sudah hentikan!” Aku tidak percaya, dia mengatakannya dengan mulus tanpa merasa bersalah. Dia benar-benar tak punya hati, atau i***t. Keidiotan yang terlalu lurus. Dan astaga, dari mana dia tahu? “Dasar penguntit! Dia tak merasa terganggu dengan olokanku. “Omong-omong kenapa kau tak bersekolah?”
“Karena dia tak mengizinkan,” Dia memberiku tatapan sedih. Tanpa memebritahu, aku sudah mengetahui siapa dia. “meskipun aku menginginkan.”
Aku mengerti untuk tidak seharusnya membahas hal sensitif semacam ini. Dia yang mudah sedih, mudah terluka, sangat polos dan pemalu, semua kepribadian menggemaskan yang mudah membuat jatuh cinta sangat tak sesuai tampangnya yang sangar.
Aku hanya tertarik padanya, tidak secara fisik, tetapi kerpribadian dan jalan hidup kami memiliki kesamaan.
“Apa kamu tidak ingin tahu namaku?”
“Apa kita bahkan mempedulikannya? Kau selalu memanggilku Hei, Wanita berambut lurus, mata ikan, pipi bakpao, bibir bihun.”
“Itu memang dirimu.”
“Apa kau tahu namaku?”
“Laura.” Dia ingat.
Aku hendak membuka mulut untuk menanyakan, ketika percakapan kami terinterupsi panggilan telepon, ibuku.
Ibuku pulang ke rumah, dan lagi-lagi dia mengeluhkan hutang yang semakin bertambah. Selepas beberapa hari kemudian pamanku berhasil menemukan kami. Dia orang yang sangat baik dan selalu concern hanya padaku, karena aku merupakan darah daging kakaknya, diam-diam tanpa ketahuan wanita berjambul sombong itu.
Ibuku bilang, dulu dia sempat akan menggugurkanku saat masih dalam kandungan. Aku berpikir, akan sangat berterima kasih padanya dibandingkan dilahirkan. Tetapi, dia punya pemikiran berbeda, bahwa aku bertahan dari obat yang ditelannya karena begitu ingin dilahirkan. Manusia selalu saja membuat asumsi yang merugikan diri.
“Maafkan ibu ya, belum bisa bahagiakan kamu.”
“Aku baik-baik saja, Bu.”
“Nanti kalau kamu sudah dewasa semoga kamu bisa jadi anak yang sukses.”
“Baik, Bu.”
Ibuku mengelus kepalaku dengan sayang, kemudian pergi membawa barang-barangnya, meninggalkanku lagi. Aku toh tidak masalah selama dia kembali. Tetapi, tiba-tiba ibuku kehilangan kaki untuk berjalan.
***
Kami memiliki hubungan yang aneh. Dari ratusan bahasa tak ada yang dapat mendefinisikannya.
Lalu saat kutahu dia akan melakukan misi berbahaya, aku tak rela. Aku hendak mengatakan padanya, “Jangan lakukan! Itu berbahaya!” Namun, itu sia-sia.
Dia tak lagi berada di belakangku, tak lagi mengikutiku, seperti dua minggu sebelumnya, Aurelia kembali menghantui. Kali ini aku pasti mati di tangannya.
Aku baru saja menyadari, begitulah hubungan kami, aku hanya memanfaatkan kelemahannya untuk menjagaku. Hubungan timbal balik sepihak yang diuntungkan lebih banyak adalah aku.
“Seandainya aku bisa bersamamu lebih lama.”
Kalimat itu terdengar seperti perpisahan di telingaku.
“Lupakan saja, itu hanya hubungan sesaat, tidak terlalu bermakna,” kuyakinkan diri.
“Tenang saja. Waktu memang mengikis ingatan kita, tetapi terkadang ada pengecualian. Meskipun waktu mengikis segalanya, ada seseorang yang tetap tak terlupakan.”
Dan aku gagal untuk berdiri.
***
Kami bertengkar hebat hari ini.
Aku tidak pernah melihatnya menegak minuman-minuman itu sebelumnya. Dia teler dan meracau menyedihkan, aku melihat dia menahan dirinya untuk tak memukul makhluk hidup.
“Pergilah!” bentaknya. “Aku tidak ingin menyakitimu.”
Aku bergeming. Terus berusaha menuntunnya meski dia memberontak lepas. Aku tahu apa yang dia lakukan, agar aku tak melihatnya dalam keadaan terpuruk seperti ini.
“Aku akan pastikan kamu selamat hingga rumah.”
Itu pertama kalinya aku akna masuk ke rumahnya, rumah seorang pria asing yang kukenal baik hampir dua bulan ini.
Di depan gubuk yang lebih mirip kandang terdapat sumur yang tertutup dinding kayu. Dia tak memiliki banyak tetangga, karena letaknya di belakang gedung-gedung besar dan hotel.
“Ini rumahmu kan. Maaf aku harus menyirammu untuk mambantu,mu lebih baik.”
Aku mendudukkannya di dekat sumur, menyiraminya bertimba-timba air. Hatiku teriris menyaksikan dia bergelut dengan rasa sakit.
Aku merasa tak sanggup melihat hal itu. Jadi, aku menangis dalam diam, menggantikan pakaiannya dan membantunya tertidur.
“Maafkan aku, Berandal.” Seandainya rasa sakit bisa dibagi, aku ingin menanggungnya untukmu
***
Ibuku lebih sensitif dan pemarah, setelah dokter memvonis kakinya lumpuh sebelah akibat kecelakaan. Hari-harinya dia habiskan lebih banyak di ranjang rumah. Hanya aku yang berada di sisinya. Hanya aku yang dia punya.
Suatu malam, rumah kami digedor dengan keras.
“Yam! Keluar kau! Bayar hutang-hutangmu! Aku tahu kalian di dalam!”
Ketika aku membuka pintu, Pria berbadan gempal mengenakan kaus hitam ketat yang memperlihatkan tubuhnya, mengunjuk giginya yang seolah bersiap mengunyah kami hidup-hidup.
“Ibu tidak ada di rumah!”
“Pembohong! Minggir!”
Pria itu menyingkirkanku dengan sebelah tangan yang langsung kugigit karena dia bermaksud hendak masuk. Kenekatanku menghasilkan noda merah di pipi. Tidak terasa begitu sakit. Apa aku sudah kebal dengan pukulan kepalan tangan sebesar bola kasti karena beberapa kali mendapat pukulan—tidak sengaja—serupa?
Berhasil masuk dengan mudah, dia menyeret ibuku yang terseok-seok berjalan.
“Tunggu! Jangan bawa ibuku! Kumohon dia sedang sakit.”
“Memangnya aku peduli!”
“Tolong, saya akan membayarnya segera.”
Ibuku bersimpuh di tanah, menyembah-nyembah di kaki monster itu.
“Aku sudah muak dengan janjimu. Jika tidak dibayarkan hari ini, aku akan membawa anakmu. Dia cukup cantik dan pasti akan laku dijual.”
“Lebih baik kau bunuh aku saja, tolong jangan sakiti anakku.”
Aku masih mengingat ketika dia menjambak rambutku, tetapi ibuku mementungnya dengan kursi, aku disuruhnya berlari.
Aku berlari dan terus berlari. Hidupku tak pernah lepas dari berlari. Sejak aku dilahirkan, ibuku melarikan diri karenaku.
Aku tak tahu kemana kakiku kan melangkah. Tiba-tiba aku telah sampai di rumahnya, berpayung gelap malam, perlahan-lahan gerimis turun.
Rasanya ingin menangis sejadinya.
Berandal, dimana kau? Aku membutuhkanmu.
Aku duduk menekuk lutut di depan rumahnya, basah kuyup, tanpa alas kaki. Yang kuinginkan hanya bertemu dengannya saat ini.
Setibanya dia di sana, hujan telah berhenti, dia dtatang bersama orang lain. Mereka bahkan tidak menyadari keberadaanku. Aku menguping sedikit pembicaraan keduanya
“Apa jaminannya?”
“Lo benci sama bokap lo, kan? PT akan ngabulin impian lo. Ini kesempatan lo bebas, Bro. Selain itu, kita bisa berjaya, enggak hidup melarat harus pontang-panting cari duit yang enggak seberapa.”
Saat mendengar itu, seketika perasaanku berubah kelabu. PT? Mungkinkah sebuah pabrik? Apakah dia akan bekerja di tempat yang jauh? Berandal hanya bergeming, bingung mungkin hendak membalas apa.
“Lo pikir-pikir dulu deh, gue tunggu tanggapan lo.”
Pria jangkung yang mengenakan masker hitam bergambar tengkorak itu akhirnya berlalu. Berandal meneruskan berjalan ke rumah, dia terus menunduk, mungkin memikirkan tawaran menggiurkan itu, dan baru tersadar ketika berada tepat di depanku.
Aku melompat, memeluknya, tak pernah sesenang ini bertemu dengannya. Pundaknya kujadikan basah dengan air mataku.
“Ada apa? Apa yang terjadi? Kenapa kamu di sini?”
“Jangan pergi, jangan tinggalkan aku sendiri.”
***
Selepas mengganti baju, cowok itu menyiapkan dua mangkuk mie instan rebus, tanpa mengganti pakaian atau melepas jaketnya tadi.
“Makan seadaanya, oke.”
Aku menyantapnya dalam diam, walaupun banyak kalimat tanya yang berputar di kepala, tetapi aku menahannya.
“Kamu sangat diam.”
“Jika aku bicara sekarang, aku tidak akan berhenti, dan mungkin kau harus menjawab semuanya.” Dia merespon tawa.
“Mmm, boleh aku tinggal sementara di sini?” Itu adalah pertanyaan paling memalukan yang pernah terlontar dari bibirku.
“Apa?” Nadanya sedikit berlebihan, namun itu reaksi spontan. “Kamu yakin?” Haruskah dia menanyakan hal itu, itu terpaksa. Terpaksa!
“Aku sudah tidak punya rumah lagi.”
“Serius, kamu tidak mau bercerita?”
Aku memikirkan bagaimana responnya mendnegar ceritaku, karena terlalu mengerikan, aku tidak ingin membaginya.
“Ada sesuatu yang terjadi.”
“Hanya sementara, sampai aku lulus, lalu tinggal di asrama sekolah.”
Kami saling berpandangan dalam. “Tidak masalah, jika kau yakin.”
“Apa yang kamu maksud dengan yakin?”
“Ya, berbagi hidup dengan seorang pria yang bukan siapa-siapa.”
“Tidak bisakah kau melihatnya, aku begitu tertekan, bodoh! Apa aku punya pilihan sekarang?”
“Hei, kamu memanggilku bodoh?”
“Benar.”
“Lupakan saja, dan pergi sana dari rumahku.”
Kami lalu saling memunggungi. Aku memilih duduk menekuk lutut di pojok rumah. Dengan seenaknya dia mengganti pakaian di tempatnya.
“Berhenti di situ! Mana etikamu? Mengganti baju di depan seorang gadis, yang benar saja!”
“Apa masalahmu? Ini kan rumahku. Dan aku sudah menyuruhmu pergi.”
“Kau tidak mungkin serius menyuruhku pergi di tengah malam. Aku gelandangan!”
Dasar aneh! Dia justru tertawa dan memancing tawaku juga.
“Besok aku akan mengambil seragamku di rumah.”
“Aku akan mengantarmu.”
“Terima kasih. Boleh aku tahu, apa itu di bawah kasurmu?”
“Itu buku.”
“Kalau tak salah kau bilang tidak bersekolah.”
“Aku melakukannya diam-diam.”
“Mau lihat?”
Dia memperlihatkan buku-buku pelajaran usang tingkat SLTA dan sejajar. Aku mengajarinya cara mengerjakan beberapa soal. Dia cukup jenius untuk kaliber seorang yang tidak makan bangku sekolah. Hanya sekali aku memberitahunya, dia langsung menguasainya. Hari itu kekagumanku padanya semakin bertambah.
“Aku minta maaf karena tak sengaja mendengarnya tadi. Apa kau akan bekerja jauh?” Aku bertanya hati-hati.
Kerlip kejut dan ragu tertangkap dari rautnya. Butuh beberapa detik untuknya menjawab.
“Tidak. Aku... tidak akan kemana-mana, karena kamu yang memintanya.”
Aku tak bisa menahan diri untuk berucap syukur.
Semua akan baik-baik saja, selama dia bersamaku, selama dia berada di sisiku. Aku yakin akan hal itu.