Eddie mengembuskan napas panjang, merasa prihatin mendengar penuturan lengkap Gatot perihal “kenakalan di masa puber” anaknya, yang sejujurnya sangat ekstrim.
“Lalu bagaimana keadaannya saat ini? Di mana anak itu berada?”
“Sudah kubilang, dia aman bersamaku.”
“Ini lebih gila dari yang kukira.”
“Aku tak pernah berpikir semua akan sejauh ini.”
“Apa rencanamu selanjutnya?”
Gatot membenahi pakaian dan berdehem, menelan ludah yang seolah tersangkut di tenggorokan. “Yang pasti aku akan menyelidiki lebih jauh.”
“Apa kau bahkan menanyainya?”
“Dia tetap bungkam dan aku sudah kehabisan akal.”
“Aku tahu kau bukan ayah yang baik, tetapi tak bisakaha sekali ini kau melakukan hal yang benar? Kau menyia-nyiakan kesempatan! Kita bahkan tidak tahu ada hubungan apa anak itu dengan mereka. Ini bukan fiksi thriller, Sialan! Kau pikir penyelesaian akan datang dengan sendirinya?”
Gatot terus menunduk seperti anak sekolah yang ketahuan mencuri mangga. Amarah Eddie belum surut, untunglah kafe itu telah mulai sepi, hanya ada tiga meja tak jauh dari mereka yang terisi.
“Tenangkan dirimu, Ed.”
Karena suasana hati Eddie yang semakin tak terkendali, Gatot menyeretnya keluar dan membawanya ke mobil.
“Lalu... apa kau tak menyadari bahwa betapa sangat ketakutan dan tertekannya dia saat ini?! Dia baru saja kehilangan teman-teman dan masa mudanya. Sekarang kau malah mengurungnya sendiri! Apa kau akan membiarkan anakmu menjadi penjahat sungguhan kelak? Kau ini polisi, tapi kau bahkan tak dapat mengurusi anakmu sendiri!”
Gatot yang berwibawa dan sosok yang serius berubah tak ubah sapi potong di hadapan Eddie yang sedang marah. Dia memiliki sangat banyak kekuatan hanya dengan melampiaskannya pada orang lain. Gatot mengakui, dia bersalah dalam hal ini.
“Aku akan melakukannya.”
“Melakukan apa, huh?”
“Seperti yang kau katakan.”
“Apa kau menyadari kesalahanmu sekarang? Jika tidak segera kau lakukan, kau mati di tanganku.”
Bukan maksudnya bersikap keras, hanya saja kadangkala Gatot akan berubah menjadi dungu dan tak tahu diri tanpanya mengarahkan.
Eddie berniat akan mengunjungi Fitra saat keadaan membaik atau jika saja di dungu itu tak menepati perkataannya.
***
Apartemen yang dipinjam Gatot dari kenalannya ternyata lebih luas dari rumahnya sebelum pindah ke ibukota. Semua tertata dengan sangat rapi. Setiap benda masih berada di tempat yang seharusnya, memberi kesan kalau jarang ada yang menempatinya.
Apartemen itu berisi dua kamar tidur dan satu kamar pembantu, ada ruang tamu, ruang makan, kamar mandi dan dapur cukup besar, kabinet-kabinet berwarna gading tertempel di tembok. Apartemen yang terkesan minimalis bernuansa putih salju dan gading dipadukan furniture berwarna gelap menyenangkan untuk dilihat. Mereka juga meletakkan taman kecil di tengah ruang bersekat kaca. Pemiliknya adalah pelukis sekaligus dokterbedah terkenal bernama Fauzi, Gatot bertemu dengannya di rumah sakit puluhan tahun yang lalu, hingga kini mereka masih berteman, dia baru tahu pria itu telah menjadi orang kaya raya.
Lupakan tentang design interiornya, yang dirinya cari adalah keberadaan Fitra itu sendiri. Gatot mencari di setiap sudut ruangan di antara dua kamar yang berseberang arah, di sisi barat ada satu pintu dekat dengan taman mini, pintu itu menuju sebuah perpustakaan, bahannya terbuat dari kaca ribben sehingga memudahkan untuk melihat keluar, sehingga bisa difungsikan untuk menyegarkan kondisi mata setelah membaca bebrapa buku yang melelahkan.
Saat Gatot masuk ke dalam ruangan tersebut memiliki satu jendela tak berteralis yang menghadap ke barat. Jendela itu tepat berada di tengah sisi barat ruangan, sejajar dengan pintu masuk yang ada di sisi timur. Sama halnya dengan pintu geser yang digunakan pada pintu masuk ruangan, jendela ruangan tersebut juga dibuat dengan sistem geser, bedanya jendela tersebut harus digeser vertikal keatas untuk membukanya. Di sisi utara dan selatan ruangan terdapat masing-masing dua rak buku besar yang berisi banyak karya sastra klasik di sisi utara, dan sastra modern di sisi selatan,
Fitra tengah duduk diam di ruangan itu, sebuah buku terbuka lebar di hadapannya, tetapi matanya tak melekat di sana, dia seolah tengah memandang sesuatu yang jauh.
Kondisi Fitra kian membaik setelah sebelumnya sempat pingsan. Dibutuhkan empat kantung darah untuk memulihkannya seperti sedia kala. Gatot ada di sana ketika Fitra membuka mata. Anak itu memalingkan wajah darinya. Dia tak menyangsingkan bahwa dirinya merasa sedikit sesak mendapat perlakuan semacam itu dari anaknya.
“Bagaimana keadaan kamu?”
Fitra tersentak, kembali dari alam lamunan, matanya melengos ke arah lain, tak tertarik untuk menjawabnya.
“Hm, jadi masih tidak ingin bicara. Baiklah, Papa tidak akan memaksa kamu, tapi paling tidak, tolong katakan apa yang kamu rasakan sekarang.”
Fitra menegakkan tubuhnya dan hendak pergi dari hadapannya. Gatot mencegah dengan memgang pundak lalu memeluknya tiba-tiba. “Syukurlah kamu sudah baik-baik saja.”
Tubuh Fitra menegang, setelah beberapa saat terdiam, dia mulai meronta-ronta.
“Bullshit!” teriaknya, setelah berhasil lepas dari kungkungan Gatot. “Papa cuma ayah yang gagal, tidak usah berlagak seperti pahlawan sungguhan!”
“Fitra.”
“Aku benci Papa.”
“Kenapa? Kenapa kamu sebegitu membenci Papa?”
Fitra sedikit tak menyangka reaksi Gatot akan bertanya balik. “Apa masih tidak jelas alasannya?”
“Dan kamu juga sudah tahu dengan jelas jawabannya.”
“Kenapa kau harus jadi ayahku, aku menginginkan ayahku normal seperti ayah lainnya.” Teriris hati Gatot mendengar perkataan Fitra.
“Bagaimanapun kamu membencinya, aku tetap ayah kalian, dan aku mencintai kalian melebihi hidupku sendiri. Papa hanya ingin kamu tahu, bahkan sampai akhir, kepercayaan Papa tidak akan luntur sedikitpun terhadap kamu.”
Balasan Gatot menohok Fitra dengan keras.
***
Gatot merutuki diri, dia telah memutar hal yang sama berulang kali, namun yang keluar tetap saja berbeda. Walaupun tidak begitu sesuai skenarionya, Gatot tidak memiliki penyesalan di dalam hati.
Selepas beberapa hari, Eddie menunggui dirinya, untuk membicarakan lagi-lagi tentang masalahnya.
“Bagaimana. Apa hasilnya.” Belum juga dia meletakkan p****t di kursi, Eddie langsung memberondongnya dengan ganas.
“Ya, begitulah.”
Tak butuh waktu lima menit, Eddie telah bangkit dari duduk, menyambar jaket jasnya dan pergi.
Gatot hanya memejamkan mata di tempatnya. Tak lama Eddie kembali, membuka mulut untuk membentak, tetapi urung dia menutupnya kembali.
“Apa kau tahu berapa kali Ulva menelponku dalam tiga hari ini. Dia bahakan datang ke tempatku. Alasan apa yang lebih baik kukatakan selain, dia pergi bersenang-senang bersama ayahnya yang workaholic.”
“Kau bercanda, Ed?”
“Kalau begitu, lihat handphone-mu.”
Gatot segera mengecek gawainya, sepuluh panggilan tak terjawab terpampang di layar benda pipih tersebut. “Sialan kau, Ed.”
“Rasakan. Mulai saat ini, aku tidak akan meminta izinmu jika ingin mengunjungi Fitra, paham.”
“Aku tidak akan mengizinkannya. Sampai dia mau mengatakan apa yang terjadi, tidak ada yang boleh menemuinya saat ini.”
“Jadi begini caramu bekerja.”
“Terserah.”
“Kalau kau tak ingin memberitahu, maka aku akan mencarinya. Selamat tinggal.”
Kali ini Eddie tidak kembali. Tepat ketika itu, Gatot mendapat telepon dari kantor.
“Pak, kami menemukan petunjuk baru, dan agaknya ini tidak menyenangkan untuk Anda.”
Petunjuk. Tidak menyenangkan. Otrak Gatot langsung mensingkronkannya sebagai kabar buruk.