Gatot menekan nomor telepon Denada saat sedang mengendarai mobilnya, tetapi hanya dijawab oleh pesan suara.
Dimana wanita itu sebenarnya? Gatot memiliki firasat buruk semenjak mengupdate informasi temuan Firman.
Tidak ada yang baik dari menyembunyikan bukti penting. Sebaik-baiknya menyembunyikan bangkai pasti akan tercium baunya.
Pada dering kelima, Denada mengangkat.
“Inspektur!”
“Di mana kau sekarang?”
“Menuju lokasi anak Anda, Pak.”
“Apa?!”
“Maafkan saya, Inspektur. Kami berharap Pak Inspektur bisa turut berkerjasama dan tidak mencoba menghambat penyelidikan.”
“Tidak, bukan itu. Apa sebenarnya yang kau dapatkan?”
“Kami akan menjelaskan detailnya setelah sampai di sana. O ya Alfred ingin berbicara serius dengan Anda.”
Denada menutup sambungan meninggalkan penjelasan yang belum lengkap. Semoga saja mereka hanya menemui Fitra sebagai saksi, doa Gatot. Dia sudah tamat sekarang.
Oh, Eddie. Dia hampir melupakan pria itu.
Di dering Ketiga, suara Eddie berlatar mesin mobil yang dimatikan memenuhi panggilan.
“Bukankah sudah kukatakan, aku tidak akan meminta izinmu.”
“Di mana kau sekarang? Apa kau berada di apartemen Fitra.”
“Jika iya, kenapa.”
“Bagus. Tolong kaubawa dia pergi, keadaan semakin gawat di sini.”
“Kau selalu menyusahkan.” Eddie mematikan telepon dengan kesal.
Udara malam itu begitu dingin. Eddie mengetatkan pelukan pada jaketnya dan mulai berjalan sedikit ke arah pekarangan apartemen Fitra. Letaknya berada di blok bangunan-bangunan tinggi. Aura malam yang gelap terasa mencekam, selain karena suasana yang sepi, lampu-lampu jalan di trotoar mengingatkannya pada film klassik fantasy Harry Potter.
Tak jauh dari sana, Eddie yang fokus mengsms seseorang tersentak dengan suara seperti kucing atau benda berat yang jatuh ke semak. Eddie mengeceknya, dan justru menemukan sebuah kayu panjang tergeletak di rumput, panjangnya mungkin sekitar enam meter. Galah itu mengarah pada sebuah semak. Sekilas dia menlihat seorang berjaket bomber tudung hitam berjalan tergesa-gesa. Eddie mengiranya pencuri, sehingga tanpa dia sadari mengejarnya.
“Tunggu! Maling!”
Eddie mengejarnya hingga melewati gerbang, namun yang terakhir dilihatnya hanya punggung pria jangkung dengan tinggi hampir mencapai tiang lampu jalan, mungkin sekitar dua meter, punggungnya agak bungkuk, terlihat dari caranya berlari. Eddie akhirnya mmebangunkan satpam yang tertidur di pos untuk mengejarnya, saat ini dia ada hal yang lebih penting untuk dilakukan.
Sampai ke lantai lima, Eddie dibingungkan dengan letak apartemen tersebut. Dia lalu menelpon Gatot namun tak juga diangkat, lima menit kemudian, Eddie mengetuk tiap pintu dan mmeinta maaf beberapa kali karena salah ruangan. Tak lama Gatot menelpon telah berada di lift menuju ke sana. Cepat sekali, pikirnya. Eddie berjalan ke arah lift, menunggu Gatot naik.
“Apakah di sana aman?”
“Tidak ada polisi di sini.”
“Tidak mungkin. Mereka seharusnya sudah sampai sejak tadi.” Eddie sendiri pun heran sebab tidak melihat polisi di mana pun. “ ngomong-omong, sejak tadi kau hanya berkeliling tanpa tahu lokasinya?”
“Salah siapa kau pikir.”
“Baiklah baiklah, sekarang kita harus mengeluarkan Fitra dari sana secepatnya.”
Ting! Pintu lift terbuka, tepat di depan Gatot, Eddie berdiri meletakkan HP di telinga, wajah bosan dan datar itu menandakan moodnya yang tidak baik.
“Mungkinkah mereka mengikuti petunjuk yang salah?”
“Atau ini adalah jebakan.” Eddie menyeringai.
“Ini bukan waktunya bercanda. Aku sangat gugup.”
“Oh, jadi Inspektur yang perkasa bisa gugup juga.”
“Seriuslah, Ed.”
Gatot mengambil key card dan menggeseknya pada pintu. Eddie menggeser Gatot ke samping dan mendahuluinya memegang ganggang pintu.
“Apa kau menggelapkan uang atau sesuatu. Apartemen mewah ini, bagaimana kau membelinya? ”
“Aku tidak membelinya, aku—”
“Jangan! Jangan buka!” Suara teriakan membuat kedua orang itu tersentak.
“Apa yang terjadi?”
“Fitra, kau di dalam? Apa yang terjadi?”
“Berhenti! Aaah!”
Mendengar teriakan, Gatot tak berpikir dua kali untuk menerjang masuk, meskipun Eddie mencoba menghentikannya. Saat pintu dibuka terdengar bunyi tali yang putus, benda-benda berjatuhan dan suara teriakan.
“Aaah!”
“Fitra! Fitra! Kamu di mana!”
Setiap celah ruang dicarinya. Beberapa detik kemudian terdengar bunyi pintu tertutup dan pecahan kaca yang sangat keras. Suara itu berasal dari perpustakaan. Ruangan itu tampak kacau balau, meja dan kursi yang tepat berada di tengah ruangan, terletak satu meter dari jendela, bergeser ke arah berlawanan. Dinding sisi timur yang semula dihiasi foto-foto dan beragam penghargaan seluruh pakunya lepas dan berjatuhan ke lantai. Tempat itu seolah-olah habis dimasuki rampok atau semacamnya. Heran Gatot tak menemukan Fitra, namun ia menemukan noda darah yang mengarah ke arah jendela. Tak lama Eddie menyusul, yang dilihatnya adalah Gatot yang memandang kaku ke arah bawah jendela.
“Mana Fitra.” Eddie mencoba menyentuh Gatot yang begitu tegang dan terlihat shock. “Hei!”
Telunjuk Gatot terangkat menunjuk ke arah yang dilihatnya kemudian jatuh bersimpuh. Eddie punya firasat sangat buruk ketika melihat pencuri berhoodie, dan mimpi buruk itu menjelma di depan matanya.
Di malam saat bulan terang bulat sempurna menjadi saksi bisu, tubuh seorang remaja enam belas tahun tergeletak di atas paving semen yang tergenang darahnya sendiri.
***
Kepala Gatot terasa pening melihat kilatan blitz kamera petugas koroner dan banyaknya polisi yang bersliweran. Pintu kamar itu telah diberikan garis pembatas kuning kepolisian, begitu pula tempat jasad ditemukan.
“Volume darah lebih sedikit dari yang dibayangkan, ada kemungkinan korban telah mati terlebih dahulu sebelum terjatuh dari ketinggian. Kita akan mengetahuinya setelah petugas forensik selesai. Juga lubang pecahan kaca itu hanya seukuran batu setelapak tangan orang dewasa. Perlu lemparan yang cukup kuat untuk menembus kaca tebal ini.”
Alfred berbicara kepada Eddie yang berada di sisi Gatot, sedikit terlalu keras, mungkin untuk mengurangi rasa bersalah Gatot yang terlihat begitu terpukul, bahkan tak ingin berbicara dengan siapapun.
“Kami turut berduka, Inspektur. Jangan khawatir, Kami akan berusaha semampu kami. Anakmu... pasti akan mendapat keadilan.”
Pikiran Gatot terlampau kalut hingga kalimat belasungkawa tak akan berguna baginya karena tidak akan mengembalikan anaknya ke dunia.
“Terima kasih, Detektif Alfred. Oh, biarkan saja, dia akn lebih baik tak lama lagi.”
Alfred mengangguk sopan sebelum berlalu melanjutkan pencarian. Eddie duduk di samping Gatot yang memejamkan mata, jejak tangis tampak di wajah keduanya.
“Kita harus memeriksa flashdisk itu.”
“Apa? Kau menemukan sesuatu.”
“Ssst, pelankan suaramu.”
Eddie kemudian memanggil satu petugas dan mengatakan sepertinya Inspektur mengalami tekanan darah rendah sehingga dia akan membawanya ke RS. Meskipun bingung, Gatot mengikuti Eddie ke perpustakaan miliknya. Ada ruang khusus untuknya memaintanance AI pengaman buatannya. Ruangan itu berisi piranti-piranti dan monitor-monitor berukuran besar.
Saat Eddie memasukkan perangkat penyimpan itu, wajah Fitra memenuhi monitor. Dia berada di perpustakaan dengan latar rak buku di belakang kursi.
***