BAB 6c-Tiga Diari

1012 Kata
Sebelumnya.... Eddie memukul tembok dengan marah dan putus asa. Tanpa dia sadari air matanya mengalir hingga pipi. Dia melihat Gatot yang mendadak lemas, segera bangkit tergopoh-gopoh menuju ke bawah. Eddie berusaha menjernihkan pikirannya agar lebih tenang menghadapi kejadian tak terduga ini. Mereka tak boleh gegabah, jika Gatot tak dapta mengontrol emosinya, maka dia yang harus menggantikan posisi itu. Siapa? Siapa yang telah membunuh anak-anak seperti ini? Apa ini berkaitan dengan kasus pelik yang Gatot tangani, sehingga mengancam nyawanya? Apa hubungannya dengan anak tidak bersalah itu? Eddie berpikir cepat. “Pasti ada petunjuk yang tertinggal.” Dia mengeluarkan sarung tangan dari dompetnya. Dompet itu khusus untuk menemaninya menyelesaikan misi. Dimulai dari jejak darah yang tercecer belum sepenuhnya kering, berarti rentang waktu kejadian tidak terlalu lama. Eddie beralih memeriksa laci-laci meja. Instingnya mengatakan ada yang janggal di bawah laci saat dia membukanya, ada bunyi gesekan kertas. Eddie meraba-raba dan menemukan keertas berisi penomeran sudut koordinat entah di mana. Eddie memecahkannya sebagai nomer ISBN buku Green Wood pada salah satu rak bagian klasik. Ketika dibuka, garis bukunya menunjukkan anagram “DI DALAM LAMPU”. Eddie menaiki meja untuk membuka lampu yang ternyata berisi flashdisk berwarna hitam di dalamnya. Dia memperhatikan dengan saksama, barangkali ada petunjuk selain ini. Eddie menyetel nya menggunakan komputer di sana. Dia melihat Fitra di dalam layar dan hatinya kembali sakit. Dia hendak mematikan video itu sesaat menyadari latar tempat video itu diambil berbeda dari sebelumnya, ada sisi kosong di bagian kiri rak atas, namun sekarang buku-buku itu penuh. Eddie memeriksa bagian yang dicurigainya, terdapat tiga buku usang yang terbungkus tali dan kunci. Buku itu semacam diary yang dimilikinya sewaktu remaja. Ada sebuah kertas yang tertempel selotip di atasnya. “Kau akan menemukanku di sini. Di antara tiga buku milik tiga orang yang belum teridentifikasi.” *** Gatot tercekat dengan perasaan bersalah, air mata kembali menggenang di pelupuk matanya. Tubuhnya bergerak otomatis mendekati layar. Eddie tak sanggup untuk menyaksikan Fitra secara badaniah terproyeksi di dalam layar, sedangkan di dunia nyata dia tak lagi dapat mendengar suaranya. “Aku akan mengabarkan pada Ulva.” Gatot menatap Eddie untuk mengkonfirmasi keraguannya, anggukan kecil menjadi tanda dia meyakinkan ini adalah yang terbaik, jadi dia melepasnya. “Papa sudah melakukan semuanya, aku mendengar di rumah sakit itu, saat Papa berkata mencintai kami. Dan kurasa perkataan Om Eddie ada benarnya,” ujar Fitra, memuntahkan kalimat pertama video itu. Fitra berusaha memberikan senyum dalam perkataannya. Manis sekali. Bukan wajah merengut dan kesal yang selalu ditunjukkannya beberapa tahun ini. Untuk urusan mimik dan ekspresi, Fitra memang kerap mengimitasi Eddie dibandingkan dirinya. “Apa yang kukatakan mungkin akan mengakibatkan aku akan menghilang lagi, tetapi selama ini aku terus mempercayai, bahwa hidupku tak sia-sia setelah ini semua berakhir.” Kalimat kedua membuat Gatot mengernyitkan dahi. Bahaya yang mengancam nyawanya, ternyata Fitra sangat aware sejak awal. Tetapi apa yang dia maksud ini? “Sejak pertama, aku sangat berharap pada Papa, tetapi kepercayaan itu memudar karena aku merasa selangkah lebih di depan. Kukira mereka begitu lambat dan terus terjebak dalam pola yang sama. Tetapi aku kalah, karena aku juga belum menemukan apa-apa. Ditambah, tanpa gelar dan predikat, aku hanya seekor ayam potong yang berlari di kandang macan.” Tawa getir ekpresi yang ditunjukkan Fitra pada potongan narasi panjangnya. “Menyerah saja, mereka terlalu berbahaya. Aku ingin menghentikan Papa, tetapi kau yang selalu fokus adalah pribadi yang selalu kukagumi, baik dulu maupun sekarang.” Mata Gatot berbinar dengan keharuan. Anaknya mengatakan tetap mengaguminya. “Aku tahu diam-diam kau memperhatikan kami. Dari jauh dalam bertugas kau masih meghubungi. Saat malam kau datang membisikkan kata-kata semangat. Kau mencoba selalu ada di saat sesibuk apapun itu.” Gatot mengingatnya sebagai nasihat Eddie. Dia berjanji akan memuliakan pria sialan yang telah banyak membantunya itu. “Semua yang kukatakan selama ini hanya kebohongan karena aku hanya sedikit iri. Kuharap Papa tak marah padaku.” Bagaiaman bisa dirinya marah. Bahkan hingga akhir tidak sedikitpun dia tak mempercayainya. “Kau ingat Pa, saat pertama kali aku menghadapi kematian, kau mengatakan apa? Katamu begini, ‘Seorang pahlawan menghadapi kematian setiap hari, dia merelakan nyawanya untuk orang banyak, tapi dia tak diizinkan mati, maka dari itu dia tak bisa menangis dan cengeng karena terluka. Jadi yang kemudian dia lakukan adalah menikmati hidupnya di atas tali tipis kematian’. Mengerikan, bukan? Kata-katamu justru membuatku semakin kencang menangis. Kau memang payah untuk urusan seperti itu. Namun, perkataanmu itu pula yang membuatku terkesan, sehingga aku mengingatnya sampai saat aku dewasa. Lalu... suatu hari kuputuskan, aku akan menjadi pahlawan yang menikmati hidup pada tali tipis kematian.” Mengejutkan. Dia akhirnya mengerti apa yang selama ini anaknya pikirkan. Semua yang dilakukan Fitra adalah aksi kepahlawanan? “Entah hari ini kau akan menganggapku seorang pahlawan atau justru pecundang. Entah yang kulakukan adalah pengorbanan atau justru bunuh diri, yang pasti aku tak bisa mundur lagi. Hari ini akan kukatakan semua yang kuketahui.” Jantung Gatot berpacu cepat. Dua jam Fitra duduk di sana di depannya, berlinang air mata. Keduanya hanya tersekat kaca tetapi dia merasa sesak menjalar di hatinya. Anaknya sudah tiada. “Ya Tuhan, sesak sekali dadaku, Ed. Mengapa ini terjadi, Ed? Dia tidak bersalah! Bukan dia! Tidak bisakah semua kembali seperti semula? Tidak bisakah mereka menghidupkannya. Ini salahku, aku yang telah membunuh anakku, aku yang bersalah!” “Tenanglah, kau tidak melakukan apapun, kita belum tahu kebenarannya. “Tapi aku yang telah membunuhnya dengan tangan ini, aku pantas mati.” Eddie memukul Gatot tepat di wajah dan mencengkeram kerah jaketnya dengan ketat. “Gatot Subroto, tahan emosimu, apa kau pikir dengan menyalahkan diri sendiri semua akan selesai dan keadilan anakmu akan terwujud! Banyak hal yang harus kita lakukan, Sialan!” Beberapa saat keheningan, Gatot mulai tenang. “Apa yang harus kita lakukan. Aku mungkin tidak akan dilibatkan lagi dalam kasus ini. Kita tidak memiliki pilihan selain menyerahkannya pada mereka.” “Apa kau gila! Itu akan mengkonfirmasi keterlibatan anakmu. Kita tidak bisa memberikan video itu bagaimanapun caranya. Kau tidak akan mencemarkan namanya. Biarkan Orang-orang menganggapnya anak polos yang kurang beruntung karena memilih teman yang buruk. Dengar, kalau kau ingin menjadikannya pahlawan, maka kita harus segera tuntaskan kasus ini.” Eddie benar tentang hal itu. Dalam keadaan begini, yang harus dia pertahankan adalah ketenangan dan kewarasan, meskipun dia tak bisa membayangkan betapa kecewa dan sedihnya ibu dan adiknya. “Kita akan memulainya dengan Diary yang pertama.” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN