Bau busuk dari benda yang ditemukan seorang anak berwajah bulat yang kebetulan bermain di sekitar pembuangan, membuat mual tim Penyidik Medis dan AKP Hendro yang saat itu masih menjadi Iptu, yang berada di lokasi kejadian.
“Ya Tuhan, ini mengerikan.”
Benda menjijikkan itu terpampang di depan mereka, di bawah kilatan cahaya kamera milik asisten penyelidik forensik, Tengu Manulang. Apa yang terlihat dari bawah kilasan cahaya adalah sebuah boneka jasad yang berbeda dari yang selama ini ditemukan, bedanya adalah keberadaan belatung menggerogoti bagian kepala yang membusuk
Kerutan di kening semakin dalam, saat tangannya menarik potongan daging yang menyembul dengan lumuran sedikit darah di mulutnya.
“Apa ini?”
“Astaga itu….” Tengu tidak melanjutkan pernyataannya, mulutnya seketika bungkam. Getaran bulu kuduknya mengeriyap cepat. Perutnya serasa terpilin, bagian bawah tubuhnya meremang.
“Pak, kami telah berhasil mengidentifikasi korban.”
“Jelaskan.”
“Baik, Pak.” Asistennya mengambil catatan yang diapitkan di ketiaknya, membolak-balik lembaran demi lembaran. “Korban bernama Pedro Aliark. Seorang pemilik pabrik textile di Gresik. Terakhir terlihat masuk ke hotel bersama seorang aktris pramuria….” Asistennya masih menjelaskan waktu dan perkiraan kematian korban, di saat yang sama Iptu Hendro menemukan sebuah bunga mawar hitam tak jauh dari tempat ditemukannya korban.
“Lihat daging kemaluan itu, pasti kali ini berkaitan dengan wanita.”
“Mungkin iya, mungkin tidak. Kita perlu melacaknya untuk mencari tahu lebih jauh.” Tengu masih berbincang dengan asistennya sewaktu Hendro mengatakan temuannya.
“Tidak mungkin ini berkaitan. Mungkin hanya seseorang yang menjatuhkannya di sana sebelum korban diletakkan.
Hendro tidak yakin sehingga dia menyelidiki lebih jauh. Hendro dikenal sebagai penyidik yang teliti, tidak melewatkan sedikitpun cela untuk menguatkan bukti. Lambat laun karirnya meroket setelah mengungkapkan sebuah skandal yang melibatkan pejabat. Namun, kasus tentang bunga mawar hitam dan mayat penuh belatung masih menjadi misteri.
Hingga dua tahun sebelum kejadian Puppet Killer, Hendro mendapatkan petunjuk baru pada kasus pembakaran seorang perwira di dalam bagasi mobil. Dia menemukan bongkahan besi dengan lambang yang sama.
Dia menyelidiki tempat-tempat perwira itu berkunjung, apa yang tenagh diselidikinya, apa yang melibatkan dirinya hingga berakhir tragis.
Hendro menemukan sebuah pabrik yang terbakar habis, menyisakan beberapa relik reruntuhan tiang dan gedung tak beraturan. Hendro menemukan seorang pria gila yang memakan rerumputan halaman di antara hama yang tumbuh tinggi.
Pria itu berteriak-teriak melihatnya masuk.
“Pergi! Pergi! Jangan dekati tempat ini! Ada monster di sana! Dia akan memakanmu.”
“Monster?” Hendro tak mengacuhkan usiran pria kumal berambut gimbal yang masih mengunyah entah apa di mulutnya yang koto penuh tanah.
“Monster, memangsa anak-anak, teman-teman, Ayah. Monster jahat!”
Ragu-ragu Hendro mencerna perkataan pria itu. Monster. Jelas-jelas pria ini melantur, tetapi kata-kata memangsa anak-anak lebih menarik minatnya.
“Apa yang terjadi dengan anak-anak.”
“Pergi-pergi, ada monster, dia akan memakan otakmu kalau tidak menurut.”
“Siapa yang membakarny?” Hendro belum menyerah karena matanya tidak berpaling dari Hendro.
“Monster.”
“Apa anak-anak berbuat jahat?”
“Bukan. Anak-anak baik. Mari juga baik.” Ekspresi gila pria itu mendadak lenyap, berubah tangis keras. “Banyak yang mati. Terkubur di bawah tanah. Anak-anak baik. Monster yang jahat.”
“Hei, tenanglah.” Cukup sabar bagi Hendro untuk menunggu orang gila itu tenang, dan mengorek lebih banyak informasi, namun wajah yang semula normal menjadi kegilaan kembali, dia terlambat.
Dia mengais-ngais tanah, sembari bersenandung. Hendro tertegun mendengar kata-katanya.
Good morning, Teddies
Time to running, Teddies
Time to catching, Teddies
Run, run, run!
Before they shoot your head
The black rose in your dead
They are smell bad
Don’t be naughty
Don’t be lazy
Don’t let the monster eat your brain.
“Tolong beritahu saya, siapa pemiliki mawar hitam?”
“Monster datang, monster datang! Pergi! Pergi!”
Menyebut nama itu justru membuatnya ketakutan dan berlari. Hendro tak dapat mengejarnya.
Belakangan dia mencari ke berbagai arsip kepolisian tentang kasus-kasus melibatkan mawar hitam. Adakah sebuah organisasi yang memiliki lombong serupa, dia bahkan membutuhkan otoritas untuk menjangkau lebih banyak kasus rahasia. Pengangkatan jabatannya berlangsung cepat, namun suatu ketika atasannya memintanya berhenti menyelidiki suatu kasus yang mungkin akan menjadi kasus abadi. Tinggal sedikit lagi pikir Hendro, nyatanya meski memiliki akses lebih, dia tidak juga dapat menjangkau kesimpulan.
Lalu, dua tahun telah berlalu sejak hari itu, Hendro mendapati kasus serupa. Gelora dalam dirinya bangkit. Kali ini dia akan membuktikannya. Tidak ada satu kasus pun yang tidak bisa diselesaikan.
Penelusuran Hendro mencapai konklusi, sebuah peternakan, dan sebuah panti asuhan dan mawar hitam saling berkaitan,
Tempat yang disangkanya pabrik terbakar, adalah sebuah panti asuhan yang memiliki desas-desus buruk yang dituduh telah mengekang anak-anak seperti hewan ternak, sehingga mereka menyebutnya Black Rose Farm.
Tidak ada keterangan lebih lanjut tentang panti asuhan tersebut karena kemudian kedok dan pencarian Hendro terungkap. Dia mengatakan mereka memiliki mata-mata di kepolisian dan di tingkatan yang lebih tinggi. Dia mungkin akan dibunuh dan seseorang mungkin akan dijadikan kambing hitam. Meski telah sejauh ini, Hendro masih belum mengetahui siapa dalang dibalik disaster yang melanda negeri.
*
Gatot terduduk lemas. Menyesal dia tidak membaca catatan kepolisian Hendro lebih awal. Dia menemukan bagian terpenting secara tak sengaja ketika menumpahkan air dan mencoba mengeringkannya dengan panas lilin. Hendro menyembunyikan fakta terpenting agar apa yang berada di dalamnya tidak terbongkar dengan mudah. Saat Gatot menerimanya pertama kali, buku itu telah terbuka segelnya secara paksa tanpa kode sah, layar pendeteksi dan GPSnya juga rusak.
Buku catatan polisi yang terbaru dilengkapi dengan keamanan cukup baik. Dilengkapi sensor jari dan kode khusus yang disepakati.
Tabir telah terbuka hampir sepenuhnya. Giliran Gatot yang meneruskan amanat sahabatnya itu. Dia menyimpannya di tempat teraman di bawah akar pot pohon bonsai di halaman rumahnya.
“Eddie, aku memiliki tugas lain. Bisakah kau sendiri yang menyelidiki soal situs itu?”
“Apakah misimu lebih penting.”
“Sangat. Dan aku mungkin akan menemukan pecahan lain yang akan memudahkan kita. Percayalah padaku.”
“Aku tidak akan berharap lebih padamu.”
“Terima kasih, Ed.”
Eddie memutus sambungan tanpa huru-hara lebih lanjut. Gatot mengambil jaket dan kunci Chevinya menuju tempat kejadian perkara.