TOLONG YANG ENGGAK KUAT HARD VIOLENT UNTUK MENYINGKIR (21+) diharapkan untuk memilih bacaan yang sesuai. Intinya sudah saya peringatkan, dan jangan memaksa.
Topeng yang biasa dikenakan algojo adalah sekumpulan topeng khas dengan karakter nusantara berupa topeng Bapang yang melambangkan jahat dan pemarah berwrna merah dan Topeng Ruwana atau kelana dikuasai hawa nafsu dan kemurkaan
Topeng kelana yg menunjukkan wajah angkuh dan kejam mata membelalak mulut menyeringai kumis lmelingkar berjambang berjanggut , hidung panjang, mata melotot, mulut monyong menganga, dan rambut godekan tampak semakin menyeramkan dibandingkan topeng clown yang biasa dia ketahui
Lebih dari kematian. Rasa sakit ini membuatnya tak mampu melihat wajahnya di cermin. Mereka adalah sekumpulan orang sakit jiwa!
Kepalanya terantuk-antuk, beberapa kali mencium tanah karena rasa lemah akibat tadi kehilangan banyak darah. Namun, mereka tidak surut selangkah pun untuk memberikannya pengampunan atau jeda untuk mengambil napas.
Dia dibaringkan seperti sembelihan domba. Ratusan suara serentak bergemuruh dalam amarah, tinju-tinju teracung. Makian, hinaan, memenuhi jurang cekung yang dikelilingi bebatuan setinggi beberapa ratus meter.
Pedro tak salah mendengar dengungan yang mirip lebah-lebah dalam toples raksasa. Entah seberapa besar jumlah massa yang hadir. Pedro merasakan denyar di punggungnya yang melepuh akibat rasa takut yang besar.
Tidak ada yang lebih diinginkannya selain berbaring dan menutup mata, sesaat terbangun mendapati semua hanya mimpi dan dia akan kembali ke rutinitasnya. Tidak disangka, bahwa pertemuan singkat dan menyebalkan dengan anak berbau sampah itu malah menjungkir balikkan hidupnya.
Penutup matanya dibuka, butuh beberapa saat baginya untuk menyesuaikan dengan cahaya. Pupil matanya melebar tatkala menyaksikan pemandangan tudung-tudung yang membayang di atas kepalanya seperti rahib-rahib tak berkepala. Mayoritas mengenakkan topeng-topeng bertema sama, dengan warna merah mendominasi.
Mereka menganggap penghukuman Pedro sebagai tontonan yang mulia, karena bagi mereka mengantarkan iblis penjahat ke dalam neraka adalah sebuah pahala.
“Demi keadilan!” gaung seru-seruan membahana.
Andri hanya berdiam di dekatnya. Apa yang dia inginkan? Apa yang akan dia lakukan padanya? Tidak ada gambaran yang terbesit dalam benakknya, dia seolah melihat sosok berbeda dari seorang anak kecil lemah kemarin sore yang mencoba membunuhnya dengan belati seukuran jempolnya.
Jika ingin Andri mau pasti saat ini dia telah menguliti kuku jari tangan miliknya. Kebutaan Pedro akan apa yang terjadi membuatnya khawatir. Dia memang pasti tak akan selamat dari tempat ini. Tidak ada orang bodoh yang akan membiarkannya pergi setelah mengetahui tempat rahasia dan kesesatan ajaran sekte mereka.
Pedro tak salah mendengar, sayup-sayup suara istri dan anaknya terdengar dari pelantang. Merintih, memohon ampun, bunyi petasan jambuk, pekikan anaknya. “Mengapa… mereka… Apa yang kalian lakukan, b******k! Lepaskan mereka! Yang kalian inginkan adalah aku!”
“Yang kami inginkan adalah hukuman untukmu. Kami akan membebaskan mereka dari orang menjijikkan sepertimu.”
Layar itu menampilkan dua orang terikat di kursi. Istri dan anaknya yang berusia sepuluh tahun. Pedro menyaksikan istrinya yang menangis tersedu sedan. Di belakangnya, seorang algojo mengenakan karung belluci dengan dua lubang mata yang memegang pedang samurai tajam.
Pedro memekik, saat algojo mengayunkan pedang, menebas kepala istrinya dan muncratan darah menghambur menutupi layar. Kepala istrinya berdebam ke lantai dengan darah yang masih muncrat dari daging lehernya yang terputus. Anak laki-lakinya menjerit-jerit dan pingsan karena kejutan hebat yang dia terima melihat kematian ibunya. Algojo menyuntikkan sesuatu pada anak itu.
Tetapi Pedro yang paling terguncang melihat kematian menyakitkan orang-orang yang merupakan keluarganya.
“Kalian sampah! Pembunuh!”
“Masih memiliki taring, huh?”
“Bunuh saja aku sialan! Kenapa mengganggu seorang yang tak bersalah!”
“Tak bersalah?”
Pedro dipaksanya mengingat perlakuan buruk istrinya kepada para buruh pekerjanya, tidak jarang istrinya menjebak para pekerja untuk memuaskannya, memeras bahkan menjadikan mereka budaknya. Anaknya malah tidak segan menyakiti anak-anak miskin yang tak berdaya. Mereka tertular sikap buruknya yang sewenang-wenang terhadap orang lain.
“Dendammu itu ditujukan kepadaku! Bukan mereka!”
G mengorek telinganya dengan malas, bersiap di posisi demi menjalankan tugasnya. “Tenang saja, tidak lama lagi, aku akan membuatmu bertemu mereka segera.”
Pedro direntangkan di atas papan kayu salib, tangan dan kakinya dipaku. “Baiklah Andri sebagai penuntut apa yang kau inginkan darinya.”
“Buat dia impoten selamanya! Penjahat nista itu yang telah membuat anak-anak perempuan merenggang nyawa! Habisi dia!”
Andri berteriak-teriak kesetanan, mengambil pisau yang disodorkan G. Dia menarik alat vital Pedro, menympah-nyumpah. “Sangat menyenangkan bukan, menghancurkan hidup seseorang gadis tidak berdaya!”
Slash! Dengan satu hentakan, pekikan Pedro bergaung keseluruh penjuru. Andri membuang daging kenyal berdarah dalam genggamannya, menginjak-nginjak seperti menginjak tahi.
Pedro meraung-raung, sebelum sabetan pisau mengiris dari d**a hingga perutnya. Napasnya putus-putus, rintihan ngilu Pedro justru mengobarkan keramaian yang sempat terhenti. Pedro sekarat, dan kemudian mati dalam kenistaan.
Kali ini tugas G untuk mempreteli bagian vital tubuh dalam Pedro. Mereka harus melakukan pengiriman untuk mendapatkan pundi-pundi keuntungan. Sesi penghukuman adalah yang paling menyenangkan baginya. Dia tidak rep[ot-repot menyembunyikan aksi mutilasi tersebut.
Andri begitu gembira dan tergelak-gelak seperti orang gila. Mereka memang orang-orang gila yang tergabung dalam sekte aneh, dan orang yang paling aneh adalah Madox yang menciptakannya.
Di antara ratusan orang bertudung, salah seorang memilih diam-diam kembali. Tangannya bergetar hebat, dia seolah terhipnotis menyaksikan aksi keji dan brutal yang dipertontonkan secara tidak manusiawi.
Dia awalnya hanya datang karena rasa penasaran. Setengah tahun lalu dia bergabung dengan sebuah perkumpulan rahasia berbasis online di deepweb, itu karena seseorang yang mengajaknya. Dia hanyalah seorang anak biasa yang terlampau sering dibully dan mendapat kekerasan fisik, orang itu menawarkan padanya untuk membalas perbuatan mereka. Dia mereka semua hanya lelucon, sampai akhirnya hari ini dia menyetujui undangan setidaknya sekali untuk menyaksikan hari hukuman, sebuah ritus sekte PENGHAKIMAN TUHAN.
Betapa mengerikan pemandangan yang dilihatnya. Mereka orang-orang berbahaya.
*
Seminggu kemudian dia mendapati orangtua Skizo yang menukar anak gadisnya untuk tidur dengan p*****r cantik.
“Dia bukan hanya cantik, dia bidadari. Kau tidak akan menemukan kecantikan yang lebih mewah dari menatapnya. Dia adalah perwujudan Aphrodite yang turun ke bumi.”
Orangtua itu mendesah-desah menjijikkan dan bergumam ini adalah hari keberuntungannya.
Anak itu adalah dirinya. Sesuatu bergejolak di benaknya, perasaan yang carut-marut, berubah tenang menyelubunginya seketika. Dia menyeringai saat mengingat akhir yang diinginkannya pasti terwujud.
Dua bulan kemudian, orangtua itu terbunuh dengan setengah bagian tubuh atasnya.