Satu demi satu serombongan gagak berjubah hitam, membentuk kelompok-kelompok kecil. Menaiki jalan menanjak menuju ke pengadilan tertinggi. Hanya yang berkepentingan yang diperbolehkan datang. Sisanya hanya boleh melihat dari dataran tinggi perbukitan yang mengelilingi jurang itu.
Tempat ini terletak sangat jauh dari perkotaan mau pun desa terdekat. Butuh 30 kilometer jaraknya, tanpa akses yang memungkinkan untuk menaiki kendaraan beroda, kecuali dengan sepeda gunung berspesifikasi tinggi. Pepohonan pinus dan jati yang mendominasi bak suar-suar yang berjajar menutupi cahaya matahari. Biasnya bahkan tak tanpak, seolah tempat itu memiliki awan gelap abadi.
Di tempat paling dalam, pengeksekusian akan ditempatkan.
Andri memiliki terlalu banyak alasan membenci Pedro, lebih banyak lagi untuk memutus film jalan hidupnya yang glamor dan menyenangkan.
Empat orang memanggul sesosok pria bermandi darah yang hampir kering di kepalanya. Kepalanya sempat diselamatkan dan dijahit asal hanya agar manusia itu bertahan untuk sampai ke pengadilan.
Andri menyebut dirinya iblis yang terlahir kembali. Kepuasan yang menjalari benaknya, membuatnya mabuk hingga terbahak-bahak tanpa belas kasih.
Saat itu, dia menangkap Pedro yang tengah menyewa sebuah hotel bersama seorang aktris pramuria.
Andri menunggu dalam kecemasan yang dalam. Mereka telah menemukan kamar yang dipesannya dan sengaja memasang jebakan di dalamnya.
Pedro sedang memecut teman mainnya ketika suara pecah menganggu keasyikan keduanya. Dia memanggil salah satu ajudan, tidak repot-repot memeriksa, dan menyelesaikan tarian yang dimulainya.
Sewaktu ajudan mendekati tempat terdengarnya suara, Andri telah bersembunyi di tempat yang tak terjamah. Dia telah pandai bersembunyi. Pengalaman selama enam bulan terakhir, mengajarinya banyak hal, termasuk kekuatan. Andri menyeringai ke arah ajudan yang tak dapat menemukan apapun.
Pedro menuntaskan kepuasan pribadinya, masih bertelanjang bulat menuju ke kamar mandi. Berpapasan dengan ajudannya yang masih mencari-cari, lalu melaporkan tidak mendapati apapun yang membahayakan.
Pedro berdiri di bawah pancuran kamar mandi, titik-titik air hangat timbul membentuk rinai yang mengucur membasahinya, saat itu Pedro terlonjak dan berteriak-teriak kepanasan, terbakar. Dia berlari terburu-buru mencari handuk dan air untuk membersihkan tubuhnya dari cairan asam nitrat, jebakan Andri. Pintu seketika tertutup. Sosok Andri menatap Pedro yang sebagian kulit bahunya melepuh.
“Masih mengingatku, Pedro?”
Pedro terjengkang akibat shock, mundur-mundur, terpojok, melempar barang-barang yang bisa didapatnya dalam jarak dekat. Sabun, shampo, kotak parfum dan sebagainya meluncur dan terlempar ke sana ke mari. Andri menghindar dengan cekatan, bahkan tak terganggu dengan semua yang dilakukannya. Satu per satu tak ada lagi barang yang didapatnya, Pedro merasakan kengerian di tiap entak sepatu Andri yang berjalan mendekat.
“Doro! Man! Sakur! Cepat kemari kalian sialan! Ada orang gila yang masuk ke kamarku!”
“Percuma saja,” ujar Andri tak gentar. “Mereka sudah dibekukkan. Kau tidak akan bisa lari dariku, Pedro.”
“Berhenti di situ! Kuperingatkan kau, jangan berani mendekat!” Masih dengan berteriak, Pedro mengacungkan tangannya yang besar, ada bekas luka jahitan di sana. Luka bekas jahitan akibat adiknya yang terus memberontak sebelum dibunuh oleh pria jahannam di hadapannya,
Peringatan Pedro malah menyulut emosinya. Mengeluarkan sebatang obeng di tangannya, dia mengayunkan tepat di mana Pedro akan merasakan kesakitan tak tertahan, namun tidak akan mudah pingsan.
Pedro melakukan perlawanan sia-sia dengan menerjang Andri secara langsung. Tubuh Andri yang lebih kecil memiliki keuntungan sehingga dapat bergerak gesit untuk terlepas. Di arena yang licin dan berair, Andri tanpa sengaja terpleset sehingga Pedro mendapatkan kesempatannya melilitkan handuk ke lehernya dan mencekiknya secara brutal.
Andri bukan lagi dirinya yang dulu, dia menendang perut Pedro cukup kerasa untuk melepaskan diri. Berganti dia memukul bagian kepala Pedro dengan keras hingga pria itu terjerembap.
Tidak cukup sekali, Andri melakukannya berulang kali.
Ini menyenangkan. Oh, pembalasan rasanya begitu nikmat. Rasanya dia hampir mencapai puncak. Dulu dirinya begitu tak berdaya hingga hanya mamapu menelan ludah dan angan-angan untuk membuat pria ini menderita.
Bagi Pedro, ulu dia percaya bahwa menyerah artinya kalah, dan hari ini dia percaya bahwa menyerah juga berarti menolak kematian di depan mata.
“Tolong ampuni saya.” Wajah licik Pedro berubah seperti tikus yang menjijikkan, membuat Andri merasa mual dengan semua kejahatan yang diperbuatnya. Bahkan jika dia memberikan ampunan, orang seperti Pedro tidak akan lama bertahan dalam kebaikan. Dia bukan orang suci, namun dia tahu bahwa Pedro sama sekali tak berniat menjadi orang suci.
Coba lihat wajah memohon itu. Andri tertawa jahat. “Tidakkah kau memberikan ampunan pada adikku yang malang? Dia memohon-mohon dengan wajah lugunya dan kau bahkan tak tersentuh? b******n! Kau pantas mati, dan aku yang akan menjatuhkan hukumanmu segera! Nikmatilah neraka duniamu, Pedro!”
Setelah pukulan yang keseratus meski memilki kepala sekeras baja, dia pada akhirnya menyerah. Bermandikan darah dan cahaya yang disenterongkan tepat ke mata, tubunya sekarat, kejang-kejang sebelum pingsan.
*
Tubuhnya diguncang dengan sangat kuat, dia mengangkat wajahnya takut-takut. Seorang pria bertopeng menyeramkan berwarna merah, bermata besar, hidung panjang, juga kumis dan jambang, terdapat titik emas di antara kedua alisnya.
Topeng itu mengingatkannya pada pementasan tari kecak yang dilihatnya di Bali saat vakansi perdananya delapan belas tahun lalu.
Ia dipakaikan topeng lain, meringkuk di tanah tanpa bisa melawan, matanya ditutup perban, sehingga dia tak benar-benar bisa menyaksikan.
Apa yang terjadi? Di mana dirinya? Yang dia ketahui, dia tak dipakaikan pakaian apapun, atau mungkin dia masih bertelanjang seperti sebelumnya?
Sebagaian rambut yang lepek terasa lengket di tengkuknya. Tangannya terikat ke belakang dan dia dijatuhkan ke tanah.
“Terdakwa telah tiba.”
Terdakwa? Pedro tidak lagi memahami apa yang terjadi. Tempat apa ini? Siapa mereka? Bukankah tadi dia hanya bertemu dengan anak sampah yang memukulnya bertubi-tubi?
“Pedro Aliark, atas dosa yang telah kau perbuat selama ini, kau dinyatakan bersalah dan tidak terampuni. Maka dari itu, kami akan memberikan hukuman mati sebagai hukuman yang setimpal demi menegakkan keadilan.”
Tiba-tiba sebuah suara membuat darah surut dari mukanya. Keputusan dijatuhkan, dia diadili, oleh siapa?
Dengan sisa tenaga dan keberanian yang dia punya, Pedro menaikkan suara. “Tunggu sebentar! Apa kalian polisi? Pengadilan? Bagaimana kalian menghukumku atas sesuatu yang tidak jelas kulakukan?”
“Apa kau yakin tidak pernah melakukan kesalahan?
“Aku akan menurut jika kalian adalah lembaga resmi! Tapi apa ini? Kalian siapa berhak mengajukan tuntutan bahkan menghukumku!”
“Diam, kau laki-laki biadab!” Andri mulai memuncak dengan argumen tidak perlu Pedro. G melambaikan tangan untuk menyuruhnya tenang.
“Sayang sekali tuan Pedro, Anda berada di daerah kekuasaan kami. Kami adalah hukum itu sendiri, jadi argumenmu tidak lagi berguna di sini.”
“Ini tidak adil!” Pedro meronta, berteriak-teriak kesetanan.
“Ini adalah keadilan kami. Tuhan telah menjulurkan tangannya, meminta kami mengadili kejahatan-kejahatan yang tidak yang tidak dapat disentuh hukum sekalipun. Terimalah hukumanmu!” suara tegas Madox menghentikan waktu dan napas tertahan Pedro menjadi titik awal dari neraka yang akan dia dapatkan sebelum ajal.