Bab 50c-PENGHAKIMAN TUHAN

1032 Kata
Pemukiman itu berdiri di lahan yang dimiliki seorang tuan tanah kaya raya. Pria berbadan besar, berkulit hitam, serupa orang n***o, hanya matanya yang berwarna keabuan tajam tamapk mempengaruhi penampilannya sehingga terlihat lebih menyeramkan dari seharusnya. Tengah memandang pongah pada pabrik yang berdiri menjulang di antara kekumuhan di sekitarnya. Pabrik itu juga telah mencemari lingkungan, memperparah keadaan menyedihkan di sekitarnya.   Mobil BMW yang membawanya berhenti tepat di depan gerbang, saat seorang anak kumal dan kotor mengetuk-ngetuk pintu mobilnya dengan marah.   “Keluar kau, Setan! Gara-gara kau adikku harus mati mengenaskan! Akan kubunuh kalian!” Anak itu terus meraung dan membuat Pedro Aliark mendecih jijik dan marah.   “b******k, apa kau tidak lihat ada  sampah menjijikan yang berani menyentuh mobil mahalku! Ringkus dia!”   Mobil berjalan bahkan dengan sengaja melindas kaki kecil anak tersebut sehingga menjerit-jerit sambil menyumpah-nyumpah.   Ketika Pedro keluar dari mobilnya, anak itu dengan gesit terlepas dari penjagaan, mengabaikan sakit di kakinya, menerjang dengan sebilah pisau kecil di tangan. Dendam memercik kuat dan dalam dari suara pekikan melengking anak laki-laki bertubuh ceking tersebut.  Satu langkah lagi dia akan menuntaskan dendam melihat saudara-saudaranya yang dilalap kematian akibat kerakusan seseorang yang tidak layak hidup.   Tubuh kecilnya dengan mudah terbanting, dagunya menghantam paving, hingga hgiginya berdarah. Pedro menatapnya seolah dia seonggok sampah paling menjijikan. Penjaga berhsil memiting lengan kecilnya dan menindih tubuh kurusnya, namun matanya masih setajam belati yang dapat mematikan siapa saja.   Pedro dengan santai menginjakkan kakinya ke kepala si anak, membersihkan sedikit noda di sepatunya yang telah disemir mengilat.   Anak itu lalu dilemparkan ke jalan dalam keadaan terhina.   Pedro tidak tahu bagaimana mata membunuh itu nantinya akan membawanya ke neraka,    *   Andri mengetatkan giginya, tangannya mengepal dendam, namun tangisanya ikut meluap, dia berdiri memandang ke arah pria yang tertawa menang bak orang gila itu dengan perasaan karut-marut.   Begitu tenggelam dalam kesedihannya, di atka menyadari seseorang menepuk pundaknya. Pria bertudung dengan masker bergambar tengkorak.   “Siapa?”   Pria, jika dia asumsikan dari lekuk pakaiannya itu menjawab pertanyaannya dengan pertanyaan lain yang membuatnya terkejut   “Siapa orang itu?”   Andri tidak membalas, masih menatap curiga pada pria jangkung yang enggan menjwab pertanyaannya.   Terpincang-pincang Andri berjalan, jari kakinya mungkin remuk, ada sedikit darah yang keluar dari kulit kakinya yang robek. Setidaknya daging di dalamnya juga tidak turut menyembul.   “Apa dia yang melakukannya?”   Lagi, pria itu tak kunjung berhenti mengganggunya.   “Benar-benar tidak termaafkan.”   Andri berhenti, lalu melangkah hati-hati, dia juga tak menegrti apa yang diinginkan orang asing ini, Bulu romanya berdiri seketika, embusan napas pria itu menjalari punggungnya, sedikit bergetar saat pria itu menempelkan kepalanya di pundak Andri, lalu berbisik. “Apa dia orang yang pantas mati? Aku akan membantumu, Adik Kecil.”   Seperti robot kaku, Andri menolehkan kepalanya ke samping. Andri tak begitu yakin. “Kami akan membantumu mencapai keadilan yang kau inginkan. Ikutlah bersamaku”   Iming-iming membalaskan dendam tampak menggiurkan sehingga tak butuh waktu bagi Andri untuk menyetujui.   Dia diajak ke sebuah tempat, setelah matanya ditutup kain hitam dan telinganya disumpal, dia tak tahu akan dibawa ke mana. Setibanya, dia hanya mendapati seorang diri, di depan sebuah tugu batu berbentuk segitiga terbalik. Di dalam tugu yang terbuat dari sejenis berlian hitam terdapt sosok kepala tanpa mata dan mulut menganga.   Andri merasakan kengerian menjalari tubuhnya dengan tidak manusiawi. Tempat macam apa ini?   “Kemarilah!” Panggilan pria tadi membawanya kembali ke kenyataan. Aneh saat dilihatnya sebentuk kepala yang mengerikan itu tak lagi di tempatnya.   Andri digiring masuk ke dalam ruangan gelap, nyala lampu satu-satunya hanya ada pada lilin kecil di sudut, terlalu kecil dan janggal.   “Dia di sini.”   Terdapat jeda panjang, dan Andri merasa tak nyaman, seperti ada yang memeperhatikannya dalam kegelapan, namun tidak menunjukkan wujudnya.  “Dia bagus, punya potensi. Rawat dia.”   Terlalu cepat semua berakhir. Dia hanya perlu menyetor wajah dan orang di kegelapan itu sudah menerimanya bergabung.   *   Segera setelah gipsnya kakinya dilepas, Andri menjalankan perintah dengan cemerlang, dia dipercayai karena cekatan. Bergabung dengan PT justru menaikkan derajatnya. Setengah tahun berkutat sebagai administrator baru dalam kepercayaan barunya, Andri tak lagi merasakan kelemahan. Teman-teman dan keluarga baru, dia juga tak perlu memikirkan harus makan apa untuk hari itu.   Dia hanya perlu menjadi kurir sementara, saat Jum’at tiba, mereka akan melakukan pengundian untuk menentukan siapa yang akan mendapatkan keadilan. Sambil berharap gilirannya akan segera tiba.   G berkata bahwa dia mungkin memiliki kesempatan lebih banyak dikarenakan usianya sebentar lagi menginjak 15 tahun.   Api suci disulut oleh salah satu dari beberapa ketua distrik yang hadir hari itu. Ratusan orang memenuhi lapangan dikelilingin pepohonan rimbun, jika bisa dikatakan dekat hutan kecil atau perkebunan, yang telah disulap menjadi tempat ibadah mereka. Semua yang hadir menggunakan topeng kulit Lamia putih merentangkan tangan ke atas lalu berseru-seru.   “Demi keadilan! Tuhan kami, terimalah dengan senang jiwa-jiwa yang rela mati demi kebenaran dunia! Jatuhkan hukuman bagi mereka yang berani menentangnya!”   Madox adalah nama seorang yang dikultuskan sebagai nabi oleh mereka menuju ke altar tempat tersedia satu singgasana yang biasa digunakan untuk sesi pengadilan. Madox adalah hakim dan semua yang dikatakannya adalah benar, itu adalah aturan yang telah ditetapkan sejak PT berdiri.     Kerumunan itu membentuk lingkaran, memegangi tongkat secara berbarengan. Pemilihan dilakukan setelah satu huruf diputuskan dengan mata tertutup.   Dari sekian banyak nama bernama A dan N, sekitar sepuluh orang yang terpilih. Termasuk Andri yang telah mempersiapkan diri. Ini hari keberuntungannya.   Satu per satu diizinkan mengungkapkan detail kejahatan orang-orang yang pantas dihukum di hadapan Madox, kemudian Madox akan memutuskan beratnya hukuman yang akan diterima calon korbannya. Tentus saja tidak serta-merta segera diputuskan. Guardian yang berperan seperti polisi akan menvalidasi pernyataan terlebih dulu, baru kemudian hukuman akan diputuskan.   Giliran Andri menyampaikan tuntutannya. “Pedro Aliark telah melakukan kejahatan yang tak termaafkan. Dia mencemari lingkungan, memeras masyarakat sekitar, mencabuli anak perempuan, dan memperkosanya hingga mati! Adikku telah menjadi salah satu korban kebiadabannya! Yang Mulia Madox, tolong berilah hukuman seberat-beratnya kepada pria itu!” teriakan Andri mengobarkan seruan-seruan di antara yang hadir.  Matanya mengobarkan api kebencian yang dalam.   Madox masih berada pada posisi yang sama, menopang dagu dengan malas di atas singgasananya. Tak seberapa lama, G mendekat dan membisikkan sesuatu.   “Masukkan sebagai kejahatabn berat. Beri dia hukuman mati!” perintah Madox, memicu gemuruh kemarahan yang berdegung layaknya perompak tengah menjarah sebuah kapal.   “Yaaa!”  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN