Pagi itu Eddie menaiki penerbangan bisnis kembali ke Jakarta. Wajah Gatot yang menyeramkan menantinya dengan kesabaran seorang perawan yang berharap menemui pujaannya ketika dia akan transit.
Tak tertahankan. Eddie mencoba tersenyum melihat si kumis yang celingak-celinguk mencarinya. Saat Gatot menangkap sosoknya, seolah memuntahkan seonggok daging yang menyumbat di d**a, menghela napas dan memuntir ujung kumisnya secara bersemangat.
Senyum Eddie membuatnya meringis.
Eddie memang merasa senyumnya terasa palsu dan seharusnya dia mencoba belajar untuk tersenyum lebih baik. Tawanya juga terasa tidak alami, terakhir saat menelpon Hendro, dia mengira akan mendapat sedikit penghiburan, namun semua tidak akan ada yang terasa sama, dan Eddie hampir melupakan dirinya.
“Kau terlihat baik, Ed.”
“Begitukah.”
“Kau membawanya dengan aman?”
“Tidak akan pernah seaman ini.”
Gatot menggiring Eddie berjalan menuju keluar bandara. “Kita akan langsung menuju tempat Aima.”
“Oh, aku lupa menyampaikan, kau mendapat salam dari Roland si ceroboh.”
“Bagaimana dia?”
“Hampir menggagalkan rencana kita.” Keduanya telah sampai di parkiran bandara dengan chevy mencolok Gatot yang menunggunya.
“Itu sudah resikonya, kita tidak bisa memberitahunya secara langsung.”
“Bagaimana Ulva.” tanya Eddie, meletakkan bokongnya pada jok mobil tua milik pria tua di sampingnya. Well, mereka sebenarnya hanya terpaut usia setahun, dan tanpa sadar eddie juga mengatakan dirinya tua.
“Masih murung,” dua kata itu menular pada Eddie yang kali ini tak menampakkan wajah baik-baik saja. “Tenang saja, Ulva hanya butuh waktu sebentar lagi.”
Walaupun Gatot mengatakannya, tetapi rautnya menunjukkan hal berbeda. Mereka pendusta yang pandai menyembunyikan mimik muka. Eddie mempelajarinya dulu sekali, tetapi dia tak pernah tahu Gatot mempelajarinya juga.
*
Pukul dua belas mereka tiba di kediaman Aima, seorang ahli IT yang dipercayai Gatot. Bukannya Gatot tidak ingin menggunakan kekhususannya sebagai penyidik, namun jika pencariannya kemudian diketahui kepolisian, maka ambyar angan-angan mereka untuk membersihkan nama Fitra. Alih-alih membersihkan yang ada pengusutan lebih lanjut justru menjadi bumerang bagi mereka.
Aima, seorang laki-laki pendek yang duduk di kursi roda, dia masih menatap layar yang dipenuhi angka dan kode-kode rumit, saat pintu otomatis terbuka, membawa keduanya ke area bawah tanah.
Begitu membalik badan, Eddie terkejut memeperhatikan wajah bayi, bisa dibilang orang ini hanyalah anak-anak berwajah lucu yang tengah merengut.
“Jangan meragukan kepiawaiannya dalam mengolah data,” ujar Gatot seolah membaca ekspresi Eddie. “Dia adalah yang terbaik di kelasnya.”
Walaupun Indonesia mendapat peringkat tinggi kedua negara dengan kasus malware tertinggi di Asia Pasifik, namun Indonesia juga memiliki beberapa ahli IT atau yang dikenal dengan sebutan hacker yang bahkan dapat membajak satelit di angkasa.
Eddie tidak meragukan perkataan Gatot. Mungkin memang benar, di Indonesia banyak talenta-talenta tersembunyi yang belum terjamah keberadaannya, atau bahkan tidak mendapat perhatian khusus dan diberdayakan secara benar.
Tak perlu waktu lama, Gatot memberikan USB dalam genggamannya. Setengah jam kemudian Aima mengabarkan, benar bahwa USB itu telah dipasangi virus yang otomatis akan menghapus file setelah dibuka. Keduanya bernapas lega, karena antisipasi Eddie yang brilian usaha mereka tak akan sia-sia. Aima telah memisahkan dan mempertahankan isinya sehingga kemudian Eddie dan Gatot bisa menontonnya beberapa kali.
Kali ini tanpa ragu-ragu diputarnya isi di dalam USB setelah berterima kasih pada pria berwajah bayi tersebut. Wajah Fitra memenuhi layar, duduk di kursi berkaki tiga dengan background rak buku dengan buku-buku yang tak lengkap.
“Saat aku pertama kali mengetahui kenyataan itu sudah sangat terlambat. Dani adalah salah satu temanku di perkumpulan sepeda, tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Aku lalu menemuinya, dia tampak gemetar dan sangat ketakutan akan sesuatu, dia hanya terus bersembbunyi di rumahnya. Dia menceritakan mengenai temannya sekaligus tetangganya yang meninggal secara misterius. Sialnya orang itu masih terhubung dengan pembunuhan Puppet Killer. Temannya rupanya berniat berkhianat dari kelompok tersebut secara diam-diam, namun entah bagaimana dia ditemukan tergantung di kamarnya. Dani beberapa kali melihat orang-orang misterius mengirim sesuatu ke rumah temannya. Dani diam-diam mengambilnya karena penasaran, toh orang yang menghuni rumah temannya hanya ayahnya yang selalu bepergian. Dia kemudian mengalami terror mengerikan setelah sempat melihat tentang sesuatu yang berhubungan dengan okultisme dalam paket tersebut.
“Saat pertama kali mengetahui hal itu, aku mengejar petunjuk kecil, dimulai dari teman Dani. Aku tidak pernah bermaksud melangkahi polisi dengan tidak melaporkan hal tersebut, namun saat itu aku tidak memiliki cukup keberanian dan seseorang yang dapat kupercayai selain Papa. Aku memiliki keyakinan dan kepercayaan diri untuk menegakkan keadilan, sampai aku tahu bahwa peristiwa ini begitu kontroversial dan sangat berbahaya. Dani tak sengaja memiliki rahasia temannya mengenai kegiatan barunya, dia tergabung di sebuah situs rahasia deepweb, mereka menyebut diri mereka sebagai Penghakiman Tuhan. Aku masuk sebagai teman Dani, setelah mengorek-orek isi rumahnya untuk mencari petunjuk. Situs tersebut sangat mengerikan. Mereka memiliki pengadilan yang merupakan bagian dari salah satu ritus sakral dalam sekte baru itu.
“Papa sudah tahu, bukan, bahwa aku pernah bergabung dengan kelompok pecinta detektif muda. Aku mengumpulkan beberapa orang yang tampak profesional dan bergerak serius menekuni kegiatan itu. Dengan penyamaran sebagai teman Dani aku mendapat beberapa informasi seputar tempat dan orang-orang yang akan dieksekusi dan mencoba menyelamatkan mereka. Itu adalah saat Papa menangkapku.”
Raut, ekspresi Fitra berubah-ubah, dan pada akhir kalimat dia memberikan senyuman paling putih yang pernah Gatot lihat seumur hidupnya. “Aku menyayangi kalian.”
Dan layar pun berubah menjadi titik-titik buram yang tak beraturan.
Kini semua terasa masuk akal. Keterlibatan Fitra, mengapa Gatot menemukannya di tempat-tempat tak biasa. Gatot menangis haru, padahal dia orang yang dianggap paling berhati dingin di antara koleganya. Dia ingin masuk ke dalam sana, memeluk figur Fitra dan membawanya kembali ke hadapannya. Semua tiba-tiba saja berakhir. Apakah semua ini sepadan? Siapa menyangka bahwa pria kecil yang sedang tumbuh itu akan menjadi kunci dari kasus yang sebenarnya.
Hati Gatot dipenuhi bara yang semakin besar. Aku akan menangkapnya, dan membuat perjuangan Fitra tidaklah sia-sia. Kau pasti akan melihat pembalasanku, b******n gila!
Eddie di sampingnya tersenyum lega. Oh, Apakah dia baru saja tersenyum?
Selama ini dia salah mengartikan senyuman. Dipikirnya semua perlu dipelajari, bahkan untuk menampakkan mimik muka saja dia butuh belajar. Nyatanya, lengkungan kurva di bibir itu merupakan perwujudan dari perasaannya yang tulus.
“Aku sangat bangga padanya.”
“Kita semua bangga padanya,” Eddie membenahi perkataan Gatot.
“Benar. Aku sudah tidak sabar hendak mencincang b******n itu.”
Menyambungkan pemikiran, keduanya bertukar pandang untuk sesaat.