Bab 50-Penelusuran

1042 Kata
Sekujur tubuhnya menegang dengan tidak menyenangkan, tubuhnya sakit tak tertahankan. Tugasnya telah selesai, dan hanya tinggal merampungkan apa yang diperoleh dari perjalanan gila ini.   Roland tidak tahu tujuan pencarian nama-nama ini, dan pria tua itu bahkan tidak mengetahui maksud tersembunyi.   Delapan kali dia nyaris keceplosan menuturkan misi, polisi itu benar-benar tidak kompeten, entah hidupnya dia habiskan untuk menunggui sang istri, Eddie sempat marah karena justru Roland yang membuat tangkapannya kabur. Dia tidak mendapatkan apa-apa kecuali USB kecil yang rupanya lebih berharga dari nyawanya sendiri.   Eddie memasuki bngunan besar yang mejadi tempat menginapnya selama berhari-hari. Besok dia akan kembali, Eddie menghitung waktu. Sudah berap lama dia di luar zona nyamanya di rumah.  Perlukah menghubungi Gatot saat ini?   Melihat urgensi yang dia miliki, Edie memang seharusnya tidak menunda. Tidak mungkin juga Gtot berinisiatif terlebih dulu, karena Eddie telah mengatakan padanya untuk tidak mengganggu.   Eddie mengeluarkan benda pipi 6,3 cm dari kantung jasnya, berguling malas menatap ke arah tembok dekat ranjang. Benad pipih itu bercahaya, saat Eddie menekan tombol nyala. Layar it seketika berkelap-kelip menampilkan banyak notifikasi masuk. Paling banyak dari Ulva yang mencoba menelponnya lewat aplikasi. Dia menyingkirkan semua hal yang tidak perlu dan kemudian menggulir dan menekan gambar telepon. Nama Gatot S terpampang dengan detail, nama, alamat email dan sebagainya. Tangannya berhenti sesaat hendak menekan, Ulva terasa lebih urgent melihat jumlah notifikasi panggilan tak terjawab di ponselnya. Eddie memutuskan paggilan cepat, masih sama, nama Ulva di nomer satu.   Eddie sengaja mematikan ponselnya agar tidak dapat dilacak atau mengganggu misinya, namun rupanya malah membuat wanita itu khawatir.   Eddie menekan sambungan. Tidak diangkat. Tiga kali Eddie melakukan hal yang sama, hasilnya sama, tidak diangkat. Mungkin dia harus menanyakan pada Gatot. Tangannya menggulir nama Gatot dan sambungan langsung diangkat hanya dalam beberapa detik.   “Ya, Ed, apa misimu sudah berakhira?”   “Aku kira, ya. Aku sudah mendapatkan USBnya.”   “Ku belum melihatnya, bukan?”   “Ku bercanda, Tidak mungkin kubuka dengan ceroboh, ini barang penting yang lebih berharga dari nyawaku sendiri, jika semisalkan ada virus yang membuatnya segera hangus setelah dibuka, aku pasti akan gila sepertimu, Bung.”   “Aku tidak salah dengan mengandalkanmu. Kutunggu kedatanganmu, Kawan.”   “Baiklah. Sampai jumpa.”   Belum sempat Eddie menekan sambungan, Gatot kembali menyela. “Tunggu! Apa hanya itu yang kau temukan? Tidak adakah petunjuk lain?”   “Tidak benar juga. Aku mendapat sekilas informasi dari pria bernama Lim itu.”   “Apa dia pembunuhnya?”   “Kukira kau masih ingat denga yang kukatakan tempo hari. Pria berudung yang tingginya hampir sama dengn tiang lampu jalan, Lim terlalu pendek untuk menjadi tersangka.”   “Bukan dia. Apa kau yakin, Ed?”   “Aku sangat yakin dengan ini. Kau juga tahu, aku adalah orang yang  sangat ingin melenyapkan pelakunya.”   Gatot menghela napas panjang di seberang. Wajahnya pasti sangat keruh, sama seperti saat dia tidak menemukan bukti yang memberatkan tersangka di depan mata.       “Hanya dia yang tahu. Apa dia mengataka sesuatu soal... Fitra?”   “Hmm, bisa dibilang dia mengatakan kau adala ayah yang beruntung.”   Gatot terdiam, dan keheningan melingkupi kedanya untuk sesaat. “Aku selalu beruntung memilikinya.” Gatot mungkin kali ini tengah mengepalkan tangan akibat menahan perasaan bersalah. “Apa Lim adalah anak yang baik? Apa dia sepenuhnya tidak terlibat?”   “Aku tidak bisa mengatakan apa-apa saat ini. Maafkan aku, Gatot. Dia hanya memebritahu soal sesuatu yang dikejar Fitra mungkin ada sangkut pautnya dengan sebuah sekte yang mengumpulkan orang-orang secara online.”   “Aku akan menghubungi Hendro perihal ini. Terima kasih, Ed. Aku berhutang banyak padamu.”   “Kau memang selalu berhutang padaku, kau tahu.” “Maaf selalu menyusahkanmu.”   “Kau memang menyusahkan. Tapi… aku melakukan semua ini bukan untukmu, ini semua demi Ulvaku tercinta. Apa dia baik-baik saja?”   “Dia sedang di rumah. Menghibur dirinya dan Tanya. Kau bisa menelponnya nanti.”   “Sudah kucoba. Tidak tersambung.”   “Apa maksudmu?”   “Mungkinkah… Berapa hari kau tidak  pulang ke rumah.”   “Tiga hari.”   “Bagaimana Ulva, apa dia mengatakan sesuatu.”   Gatot terdiam, dan segera dia mendengar sambungan ditutup. Eddie merasa ada yang tidak beres. Apa Ulva mengatakan sesuatu yang mengerikan. Gelagat Gatot justru membuat Eddie gelisah. Satu-satunya orang yang paling tidak ingin Eddie libatkan adalah Ulva.   “Gatot sialan! Jika tidak becus menjaga istrinya, sebaiknya dia pesiun saja jadi pria!”   Seharian ini Eddie pasti akan dihantui asumsi-asumsi ngawur yang terus berkelindan di kepala. Telepon Hendro yang ditunggunya menjawab kegundahan Eddie, seharusnya ini bisa mengurangi tensinya menunggu kabar.   “Halo.” Suara datar menyambutnya.   Eddie tergelitik untuk sedikit mencandai Hendro. “Apa benar ini dengan agen penjual mayat.”   “Benar, silakan datang kemari dan Andalah yang akan menjadi mayat.”     Eddie terpingkal di tempatnya selama Hendro menggerutu lelucon Eddie tidak kreatif.   “Jadi, kau sudah punya pacar sekarang.”   “Kau mengatakannya sekarang. Bisa kita langsung ke intinya. Sayang-sayangku sedang menunggu. Dan oh ya mungkin aku berniat akan menjadi bujang lapuk seumur hidupku, sepertimu.”   “Aku bukan bujang lapuk, aku bohemian yang tidak antikomitmen.”   “Itu hanya permainan kata.”   “Kau tahu, kata-kata selalu memiliki makna yang berbeda.”   “Persetan dengan bohemian, segera selesaikan urusanmu padaku.”   “Seperti biasa, kau sangat sabar, Hen.”   “Ya, aku hampir saja menghabiskan sepatuku.”   Eddie sempat-sempatnya tertawa. “Tugas untukmu, mencari tahu tentang kasus-kasus yang melibatkan sebuah sekte baru tahun lalu. Aku percayakan padamu, Hen. Karena kau tidak pernah mengecewakan.”   “Kau akan menyesal sudah mempercayaiku, sialan.”   “Semoga kepalamu tidak meledak sebelum sempat berkhianat.” Yang Eddie maksud adalah kejahatan beruntun yang dilakukan Puppet Killer. Hendro sama tidak senangnya dengan perlakuan maniak psikopat, Teh Puppet Killer yang mengacak-ngacak jasad-jasad itu sebelum dirinya.   “Oh God, kepalaku sudah tak berbentuk saat ini. Ini mengerikan. Aku tidak tahan dengan bau sampah di dalam tubuh-tubuh yang cantik itu.”   “Menjijikan,” gumam Eddie, tidak didengar Hendro yang masih mengoceh.   “Apa, katamu?!”   “Aku putus dulu. Sampai jumpa.”  Eddie menekan tombol merah di ponselnya, tidak berniat mendengar amarah Hendro yang tidak berguna.   “Dasar aneh! Pantes saja dia tidak punya pacar.”     Eddie mendapat balasan pesan dari Gatot. Ulva baik-baik saja, dia hanya lupa membawa ponsel karena keasyikan berenang bersama Tanya. Eddie akhirnya bisa bernapas lega.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN