Matahari telah merangkak naik ke atas cakrawala dan bersembunyi di balik awan hitam pekat. Tepatnya rinai kecil mulai turun perlahan membasahi tanah galian berwarna merah yang menyebar di sekitar pemakaman umum
Seorang pria berkulit pucat dibaringkan di dalam lubang dengan kaki dan tangan terikat, mulutnya diselotip dengan lakban, seluruh badannya basah terkena hujan.
Derak sekop beradu menggempur tanah membuatnya tersadar. Dia melihat sosok berhoodie yang membelakanginya, napasnya terdengar keras di antara derasnya hujan.
Sewaktu pria itu membalikkan badan, mata merah menyorot tajam. Pria d tanah bergerak-gerak, mencoba melepaskan ikatan.
Sosok itu semakin mendekat, mengangkat sekopnya tinggi-tinggi. Kengerian itu tak berlangsung lama, karena setelahnya dia mulai menaburkan tanah, mengubur pria itu hidup-hidup.
Suasana hatinya sedang baik, jadi dia tak berniat membunuh siapapun. Ritme hujan selalu menenangkan hatinya, langit malam jadi terlihat gemerlapan. Ini menyenangkan, pikirnya.
***
Keesokan harinya, masyarakat digegerkan dengan penemuan sebuah tangan yang terlihat menyembul dari gundukan kuburan baru. Pak Mamat yang bekerja sebagai penjaga kubur, menemukannya Subuh hari. Dia tak tahu makam siapa itu. Yang pasti, seminggu yang lalu dia ingat waktu kuburan terakhir dimakamkan di sana.
“Apa Anda melihat seorang yang mencurigakan keluar-masuk area ini?”
“Saya terbiasa bangun pukul tiga dan tidur pukul dua belas malam.”
“Jadi, ada kemungkinan pelaku masih berada di tempat di antara pukul dua belas hingga pukul dua pagi.”
Korban, setelah dilakukan penggalian, ditemukan sudah meninggal akibat kehabisan napas. Identitasnya diketahui bukan berasal dari sana, seorang wisatawan sepertinya. Memang di tempat itu sering terjadi keanehan seperti hilangnya beberapa pengunjung ataupun wisatawan yang datang. Diduga, motif pelaku adalah perampokan, karen barang-barang berharga selalu tidak ditemukan.
Penelusuran jejak Eddie membawanya ke sebuah desa terpencil di Gunung Lawu. Tidak disangkanya akan bertemu sebuah kasus di tempat kecil ini. Dia berhenti untuk melihat kerumunan orang di dekat sebuah pemakaman umum, cukup jauh ke tempat yang akan dia tuju. Hendro mengabarkan padanya tentang teman baru, tempat mereka melakukan pengadilan kali ini terletak di tempat terpencil yang dikenali oleh seseorang saat melakukan wisata ke sini.
“Ada apa?” Eddie menanyai salah seorang warga yang turut berkerumun.”
“Ada orang yang dikubur hidup-hidup. Semoga saja pelakunya segera tertangkap. Sangat meresahkan.”
Eddie hanya mengangguk-angguk, turut prihatin dengan kejadian menghebohkan tersebut.
“Bukannya sejak kepala desa baru terpilih, ada saja kejadian aneh sama wisatawan yang berlibur ke sini. Penjualan jadi berkurang karena banyak rumor menyebar. Bikin takut orang mau datang. Suamiku jadi malas-malasan.”
Eddie yang hendak beranjak untuk melanjutkan perjalanan, tak sengaja mendengar percakapan warga yang lain. Ini baru mencurigakan, pikir Eddie.
“Jangan-jangan mereka dijadikan tumbal.”
“Hush, ngawur. Kalau ada yang dengar bisa bahaya.”
“Cuma gossip gak perlu dibesar-besarkan.” Orang ketiga juga ikut ambil suara.
“Ini bukan gossip, Bu Minah. Anak saya pernah melihat Pak Kades naruh sesajen aneh di depan rumahnya pas malam Jum’at.”
“Halah, saya enggak percaya sama begitu-begituan.”
Percakapan dua orang ibu-ibu itu terhenti begitu saja, semakin ramai dan banyak orang yang berdatangan. Padahal pembahasan jadi semakin menarik.
Eddie mulai mengait-ngaitkan dengan temuan Hendro. Apakah kasus ini ada kaitannya atau tidak, Eddie perlu mencari tahu lebih lanjut.
Dari balik pepohonan, sepasang mata merah mengintip Eddie di antara kerumunan.
*
Tidak disangka akan menemukan tempat sebesar ini. Pelatarannya dipenuhi dedaunan kering pohon gingko yang menumpuk. Eddie memutuskan masuk lebih dalam.
Interior bangunan itu bahkan lebih megah dari yang terlihat. Lantai pualamnya diselimuti permadani, tinggi langit-langit sekitar lima meter, dan ada tangga putar raksasa yang naik menembus beberapa lantai. Noda-noda kehitaman menghiasi karpet merah yang tergelar. Lukisan-lukisan besar bunga atau semacamnya menjajari dinding, mulai menghitam karena jelaga bertahun-tahun lamanya. Di ujung utara, ada sebuah counter memutar, semacam meja resepsionis di lobby gedung.
Tangganya berbentuk putaran ketat hingga nyaris tak ada celah leluasa. Eddie menghela napas lega setelah terbebas dari anak tangga. Lampu lajur berkelap-kelip membentang satu koridor panjang dengan dinding dan ubin putih. Tempat itu tampak seperti sebuah hotel yang tidak terurus, karena banyaknya pintu dengan nomor berurutan. Tidak dihuni, ditinggalkan begitu saja, tanpa memikirkan pemindahan atau menjual property di dalamnya. Mungkin akibat skandal, pikirnya.
Aroma pengelantang membaui seluruh ruang. Semakin pekat terhidu, saat Eddie menemukan pintu perak dengan ganggang karet isolator.
Sejujurnya, dia lebih suka berjalan-jalan di pegunungan dengan lanscape hijau menyegarkan dibandingkan berkeliaran di sekitar bangunan dominan struktur logam.
Saat dibukanya perlahan, tampak berjajar puluhan atau bahkan mungkin ratusan skeleton dan tengkorak di dalamnya.
Eddie tak terkejut, sepenuhnya memahami, cepat atau lambat dia akan menemukan gunungan bukti kejahatan di suatu antah berantah.
Wajahnya selalu datar meski dia orang yang sangat sering bercanda, tidak serius, bahkan disebut kantung tawa. Dia memang miskin ekspresi sedari kecil, orang-orang menamainya Poker Face.
Jangan mudah mempercayai wajah siapapun, sekalipun wajahmu di cermin, bisa saja dia tengah menipu diri sendiri adalah mottonya.
Sejak terakhir seorang wanita yang dikencaninya membuka pakaian kepada orang lain, Eddie tak lagi mempercayai siapapun.
Tengkorak yang terjajar rapi mengingatkannya pada ritual keagamaan suku Naulu di Pulau Seram, saat kepala-kepala tergantung di beuleu, rumah adat milik mereka. Tempat ini tak lebih dari sebuah museum kerangka manusia.
Eddie mendengar langkah mendekat, dia melihat sekitar ruang hanya terdiri dari satu ruang kosong tanpa ornamen lain selain lautan tulang yang bersusun.
Ketika dua orang memasuki ruangan, Eddie melekat di langit-langit seperti cicak yang hampir mati.
Mereka mulai menyebarkan bensin dan menyalakan api. Eddie terjepit keadaan sulit. Saat pintu kembali tertutup, dia tak dapat turun, satu-satunya jalan adalah memindai ke seluruh ruang, mencari lubang udara. Namun, setiap dinding terlihat sama. Dia seperti berada di dalam kaleng tuna yang dibakar
“Oh sial. Ini adalah tempat pembuangan dan kremasi. Aku harus segera pergi.”
Eddie melompat pada dinding terdekat, mengulurkan tali elastisnya yang memiliki ujung magnet yang melekat. Pena laser dia gunakan untuk membuat lubang. Double sial, dinding itu tak tertembus. Kobaran api semakin tinggi, asap mengepul kehitaman.
Badan Eddie memanas, napasnya semskin menipis, setiap hal yang dilihatnya mulai bergerak lamban.
Eddie masih dapat melihat, salah satu perintang besi itu terbuka. Seorang wanita. Wajahnya timbul tenggelam. Kabut asap serasa merasuk ke dalam kepala, membuatnya ingin memejam. Dan hal terakhir yang dilihat Eddie, gigi putih wanita itu melayang-layang di depannya.
***