Bab 53a-TKP

1034 Kata
Secara kronika, benang merah terlah tersambung, Gatot hanya harus mengikutinya. Jika AKP Hendro yang sedemikian cekatan tidak juga dapat menemukan kebenaran, ia meragukan dirinya mampu.   Kepalang basah, sekalian saja dia menyelam.  Memang tampak tak mudah, namun tak ada waktu baginya untuk mundur dan meratap.   Setiap kali mengatasi kasus keji, dia akan merasa bertambah tua sehari. Hidupnya jadi terasa semakin singkat.     “Tolong, anakku baru saja dibunuh di depan mataku sendiri. Tidak bisakah kalian memberi waktu pulih bagi kami?”   Gatot bisa saja meminta cuti, tetapi hidupnya tak pernah menjadi tenang sejak mengetahui kebenaran yang menghebohkan di baliknya.     Pelaku menyetiri polisi, bermain-main hukum dengan otoritas yang dia miliki, menutup bukti, dan mengubur saksi. Dia tak pernah mentolerir seseorang yang mempermainkan nyawa bak angin mempermainkan daun kering, menerbangkannya tak tentu arah hingga jatuh dan hancur di tanah.   Pabrik itu yang diketahui Hendro adalah sebuah pabrik kimia untuk penggunaan dalam rumah tangga. Dimiliki seorang pengusaha bernama Bopo Angusan. Sayangnya, orang itu juga telah mati bersamaan dengan terbakarnya pabrik.     Ratusan pekerja tewas, puluhan rumah sekitar terbakar habis, menyisakan rugi mendalam bagi pihak Bopo, hingga dia menjualnya dengan harga murah kepada seorang filantropi yang telah mengumpulkan donatur untuk membangun sebuah panti asuhan. Setidaknya itulah apa yang Gatot dengar dari informannya yang terpercaya. Informannya mendapat kesaksian dari warga yang selamat dan tinggal di sekitar.   Gatot memandang menembus ke dalam reruntuhan. Dia penasaran, apakah tempat sebesar ini tak memiliki semacam lab bawah tanah. Jadi, dia mencoba menaiki pagar berkarat yang ditumbuhi tanaman rambat.   Halaman yang tak terawat dan rerumputan yang tinggi menggelitiki kaki bersepatu boots miliknya. Dia tidak memakai seragam dinasnya, dan hanya mengenakan pakaian casual jeans dan jaket kulit yang mungkin akan memudahkannya bergerak lincah. Gatot tidak terlalu suka bergaya seperti Eddie. Dia lebih mengutamakan efisiensi dan kepraktisan dalam segala hal yang akan dipakainya berjangka panjang.   Pabrik itu cukup luas, dan hampir dipastikan telah sangat lama ditinggal. Bila dia tidak salah memahami, panti asuhan ditempatkan di bagian kiri pabrik yang lebih bersih. Gatot memperhatikan struktur ruangan panti yang telah hangus, termakan usia, kayu-kayu lapuknya digerogoti binatang kecil.     Terlalu luas, pikirnya, tidak mungkin dia berhasil menyisirnya sendirian. Meminta bantuan koleganya juga tidak memungkinkan.   Gatot tak hilang akal, berniat akan menghubungi teman-teman Fitra yang berjuang bersamanya. Namun, pertimbangan bahwa justru akan melibatkan mereka dalam bahaya, Gatot memilih mundur.   Gatot menyerah dan memikirkan untuk melakukannya sendiri, meski mungkin akan dibutuhkan berhari-hari.   Dia memaksakan otaknya berputar cepat. Pasti akan ada satu kesilapan yang dpaat mengurai benang keberadaan tempat rahasia. Karena memang tempat ini terasa janggal sejak dia menginjak kaki pertama kali. Mengapa Bopo Angusan memberikan separuh tanah miliknya dengan harga murah untuk membangun sebuah panti asuhan. Letak panti asuhan yang berada dekat dengan pabrik pun terasa janggal. Mana ada orang yang ingin membangun sebuah panti, tempat menumbuhkan anak-anak di dekat pabrik, tempat yang bising dan bau.   Kesimpulan akibat ketiadaan biaya pasti menjadi jawaban wajib. Mereka tidak seharusnya membangun panti, setelah kebakaran yang menimpa sebagian pabrik. Kedua kalinya tempat yang sama dilalap api, juga terlalu tidak masuk akal.   Gatot memuntir sungutnya dengan wajah berpikir. Sekitar satu jam dia menghabiskan waktunya sia-sia berkeliling. Tempat itu terlalu abu-abu, terlalu berdebu, penuh dengan suasananya terlalu gelap untuk menciptakan keluarga bahagia.   Gatot menghitung ada delapan pintu yang menghubungkan aula asrama dan beberapa ruangan teramat luas dengan ranjang-ranjang berkarat memenuhi hampir setiap sudut. Bagian depan bangunan tampak cukup parah.  Total ada enam ruang kamar tidur dengan perhitungan luas yang sama. Dua ruangan lainnya, adalah kamar mandi lengkap berjumlah sepuluh toilet dan sepuluh tempat mandi, dapur yang menghubungkan ke dua pintu lain, yakni ke halaman belakang dan tempat mereka melakukan kegiatan binatu.     Semua terlihat normal. Tidak ada yang salah. Lalu mengapa tempat ini terasa salah. Tidak adanya ruang untuk para staff maupun kantor penerima tamu dia kira. Oh, satu lagi, tidak ada ruang kesehatan.    Apa bagian staff digabungkan bersama dengan anak-anak malang itu, atau para staff justru adalah anak-anak itu sendiri?   Gatot sangat teliti memperhatikan setiap jeli ruangan yang dia masuki. Ruang kamar rata-rata hancur, hanya satu ruang yang masih kokoh berdiri, yakni dapur yang terletakdi bagian sayap kanan. Walaupun tidak melihat secara langsung blueprint bagian gedungnya, Gatot dapat memastikan strukturnya membentuk huruf T, dan terbakar habis membentuk huruf L terbalik.   Di dalam dapur, hanya terdapat beberapa counter  dan rak-rak kosong di atasnya, banyak bagiannya berkorosi akibat hujan dan menghitam dan diliputi debu tebal. Berbeda dari ruangan lain yang dibiarkan barang-barangnya, di dapur hanya sedikit yang dapat dia temukan, termasuk sebuah pisau yang terselip di belakang rak counter. Gatot sejujurnya tertarik, namun tidak ada alasan tepat baginya untuk menarik pisau itu, hanya instingnya yang terlalu tajam, hingga dia mengerahkan kekuatan untuk menarik pisau tersebut. Dan dia tidak pernah meragukan hal itu.   Tepat saat dia melepaskan tangannya dari pisau itu, sebagian tembok membuka celah kecil, ada sebuah tombol yang hanya dapat diakses oleh seseorang bertangan mungil.   Gatot menggunakan penggaruk punggungnya untuk menekan tombol itu. Ukurannya sesuai dengan perkiraan Gatot.   Suara dengung terdengar, salah satu ubin lantai bergerak membuka, ada tangga panjang ke bawah. Gatot sebelum memasuki tempat itu, meletakkan kamera pengintai di sudut dapur, untuk dijadikan bukti, jika dia kemudian terjebak di sana. Gatot memikirkan akibat terburuk, tetapi tidak menyurutkan tekadnya.   Gatot menggunakan nyala lanpu di jam tangan serbagunanya untuk menuntun jalan. Tempat itu sangat gelap. Gatot mencari-cari saklar lampu bak orang buta meraba-raba dinding. Lampu seketika menyala saat dia tak sengaja menjatuhkan benda, replika patung Albert Einstein.     Matanya bergilir, mengamati tempat patung terjatuh, hingga ke lantai dengan banyak bercak darah mengering, ruangan itu sangat berantakan. Banyak tabung dan peralatan laboratorium yang berserakan.   Namun, hanya satu hal yang menarik matanya.   Gatot mengenalinya sebagai kursi listrik yang biasa digunakan untuk pengeksekusian pidana mati. Dia mengeluarkan buku catatannya, mengenakan sarung tangan unuk menyelidiki lebih dalam.   Membayangkan benda mengerikan itu pertama kali diujicobakan pada tanggal yang sama dengan pengeboman Hisroshima, tapi di tahun yang sangat lampau, tepatnya 1890, kriminal yang mendapatkan kesempatan pertama merasakan getaran 700 volt listrik dialirkan ke pembuluh darahnya di penjara Auburn, New York, Amerika Serikat.   William Kemler duduk terikat di kursi dengan perasaan carut-marut, Kepala Penjara menempelkan elektroda ke kepalanya, dan hanya dalam 17 detik  kemudian dokter menyatakan dia tewas.   Pertanyaannya adalah, mengapa benda ini berada di sebuah panti asuhan yang dihuni anak-anak manis dan lucu, yang dibesarkan dengan penuh kasih?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN