Bab 53b-Kursi Listrik

1021 Kata
Penemuan itu menggelitik nuraninya. Dia memotret keadaan di dalam yang terlihat berantakan seolah habis terhantam badai Katrina.   Jika kau ingin tahu mengapa orang-orang menamakan badai dengan nama-nama indah dan feminim. Karena wanita memang seperti badai ketika kau mencoba membuatnya marah. Yang jelas, kemarin Gatot mendapat amarah Ulva karena terlampau lama tidak pulang ke rumah.  Dan kali ini dia tidak bermaksud menghilang seperti sebelumnya.   Enam bulan sejak kehilangan Fitra, petunjuknya membuat Gatot lebih dekat kepada kebenaran. JIka boleh mengaitkannya dengan penemuan mereka, dia akan berasumsi bahwa tempat ini merupakan salah satu tempat pengorbanan dalam sebuah ritus keagamaan. Dan dalam hal ini, milik Penghakiman Tuhan.   Pengorbanan macam apa yang mengharuskan anak-anak duduk di kursi listrik? Apa motifnya? Berbeda dari ritual penyaliban di Filipina, ritual melempar bayi di India, atau ritual pembangkitan arwah, exorcism, atau Haitin Voodo yang membutuhkan wadah atau obyek kerasukan. Tempat ini lebih terdengar seperti hukuman atau penyiksaan.   Setelah mengetahui tentang sekte biadab yang diduga terlibat bersama b******n Puppet Killer, Gatot sempat mencari tahu beberapa ritual aneh yang diketahui secara publik meski keberadaan kelompk itu tersamarkan. Gatot menduga sekte ini menganut ajaran satanisme yang melegalkan para pengikutnya membunuh atau menyiksa orang-orang yang dibenci.       Gatot mengamati kursi tua berbentuk kayu yang banyak dililit dengan banyak kabel bermuatan. Salah satu kakinya patah dan sengaja diganjal dengan sebuah buku usang, warnanya kecoklatan dan sedikit benyek. Kursi itu jadi terkesan tidak stabil.   Lagi-lagi dia menemukan sebuah buku diary. Buku itu dipenuhi percikan darah bahkan beberapa lembar tampak dicelup seutuhnya dengan darah, sehingga kertasnya berliuk dan mengeras. Jelas-jelas diary, karena ketika dia membacanya di situ tertulis hari-hari mneyeramkan seorang terpidana mati.   Gatot menyangka, tidak hanya terdapat kursi listrik, di tempat ini juga terdapat penjara bawah tanah.   Dholum dikirim ke bawah tanah karena tidak mengikuti peraturan yang ditetapkan, dia juga diduga sering mencuri barang-barang berharga dari para orangtu yang hendak mengangkat anak di sana. Karena telah menyemarkan nama baik panti asuhan dia diberikan hukuman dengan dikurung. Namun tidak sampai di sana, di dalam kurungan dia disiksa oleh penjaga berseragam dan dilecehkan sesukanya.   Trauma yang jelas membayangi Dholum hingga dia diberikan keputusan mati setelah terpergok hamil hasil berzina.   Dia diikatkan ke kursi listrik,  dengan sedikt perlawanan, usaha sia-sia melonggarkan simpul mati tali yang terikat kencang di kursi. Listrik dinyalakan, ajaibnya Dholum masih hidup, sehingga dia sempat berteriak bahwa di akan membalas mereka di akhirat.     Jelang kematian aktivitas otak meningkat secara drastis  selama 30 detik menjelaskan mengapa orang yang pernah nyaris mati merasa sangt hidup menjelang kematiannya. Dan Dholum pun mengembuskan napas terakhirnya,dengan sengatan listrik yang lebih kuat mengaikabtkan matanya yang kecoklatan meloncat keluar, pipinya meleleh, dan rambut indahnya terbakar.  Pernyataan terakhir ditulis oleh penjaga yang menghamilinya.   Itu hukuman paling kejam yang pernah diterima seorang remaja 15 tahun.  Gatot merasakan emosinya menggelegak, membayangkan wajah Dholum, yang harus merasakan ribuan jarum menusuk dan kakinya seolah dipotong-potong dengan brutal, dia hanya berharap ekmatian menjemputnya, namun mereka mengulanginya dua kali karena tidak cukup puas untuk membunuhnya sekali.     Jika ditilik masa, penjatuhan hukuman mati yang terjadi di dunia. Manusia selalu memikirkan cara tak terduga. Pada zaman persia kuno terpidana diikat ditelanjangi dengan tubuh yang dioles s**u dan madu lalu membiarkannya dimakan hidup-hidup oleh binatang buas. Sementara di India pada abad 14, gajah-gajah dilatih untuk menyayat-nyayat tubuh terpidana menggunakan pisau yang diterpasang di gadingnya.   Dimulai pada tahun 1789 guilotin diperkenalkan karena dianggap tidak mneyiksa terpidana yang akan mati. Terdiri dari sebuah pisau besar dan papan kayu untuk kepala tepidana dan keranjang di bawah sebagai tempat jatuhnya kepala. Nyatanya tetap saja terpidana masih merasakan tersiksa.   Hingga pada akhirnya dunia menemukan Nitrogen sebagai cara memberikan hukuman mati yang minim rasa sakit. Nitrogen sangat cepat membunuh ornag akna kehilangan kesadarannya dalam waktu 17-20 detik. Metode ini tidak menyakitkan karena tubuhh tidak dapat mendeteksi kekurtangan oksigen tubuh hanya mengenali keleibhan karbon dioksida yang kadang mengontaminasi darah dan membuat kaki terasa gatal seusai berolahraga. Terpidana tidak akan merasakan tercekik. Namun penelitian membuktikan bahwa cara ini juga memiliki cacat, apabila terpidana berbuat curang. Paling setidaknya terpidana harus dibius terlebih dahulu dan sama saja menyiksanya.   Bagaimana pun bentuknya mereka mencoba-coba mencari hukuman mati yang tidak brutal dan minim penyiksaan. Namun, hukuman mati sendiri tidaklah manusiawi,     Dholum tidak sepenuhnya membenci sang penjaga yang menghamilinya. Ini terlihat jelas dari kalimat sebelum pengeksekusian.   Hubungan kami sangat aneh. Hubungan aneh itu larut dalam percakapan santai kami. Perasaan kami yang sesungguhnya tidak penting karena itu kami tidak menautkan kelingking,  dengan begitu aku bisa berpura-pura tidak menyadari kenyataan.   Walaupun aku mengatakan tak penting, hatiku, walau hanya sebentar momen dimana aku meimikirkan kebahagiaan seandainya ada satu di ruangan ini, aku ingin berada di dalamnya.   Terlalu terserap dengan kejadian ironis di hadapannya menyebabkan Gatot menurunkan penjagaannya, hingga dia baru menyadari suara langkah kaki yang terdengar samar. Gatot tersentak menyadari ada orang yang mendekat. Buru-buru dia menyembunyikan diri setelah mematikan lampu utama. Suara langkah kaki itu terdengar menurun dan hampir sampai di tempatnya.   “Pergi! Pergi! Jangan berada di sini jika tak ingin mati!” Teriakan itu berasal dari atas.   Gatot menggenggam erat revolvernya di saku celana belakang. Apa dia harus menuruti teriakan itu, tetapi mengapa berteriak? Mengapa tidak masuk?   “Cepat! Sebelum dia datang!”   Tidak bisa begitu saja mengabaikan perkataan itu. Lampu belum dinyalakan dan pemilik suara tidak lagi terlihat. Gatot tak yakin harus mengikuti peringatan itu.   Saat dia menyadari lampu telah dinyalakan, dari celah dia mnedapati seorang tunawisma yang berpakaian compang-camping dan terlihat sinting tampak takut dan kebingungan.   “Cepat! Sebelum dia datang! Monster akan datang!”   Dan walaupun penasaran setengah mati dengan monster yang dibicarakan Gatot memilih keluar dari persembunyian setelah yakin pria ini tidak berbahaya, dan seperti yang ditulis Hendro, kawannya dia pastilah orang gila bertahun-tahun lalu.   Bagaiman dia dapat sampai di sini?   “Cepat dia datang!”   Orang gial itu dengan berani mendorong dan menyeretnya keluar. Lampu dimatikan dan Gatot bersamanya telah berhasil melewati jalan pulang ke atas.   “Siapa kau?” tanya Gatot.   Namun, orang gila itu masih panik sebelum mereka bisa keluar dari sana. Sesaat mereka keluar dari bawah tanah, Orang gila itu bernapas lega. Gatot tak yakin akan menganggapnya sebagi orang gila. Pria itu terlihat waras dan mungkin hanya sedikit tidak normal.  Gatot mengambil kameranya dan mengikuti kemana orang itu membawanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN