Gatot mengikuti jejak yang diinginkan orang gila itu. Instingnya yang mengatakan harus melakukannya tanpa mecurigai apapun. Bukan berarti dirinya tidak waspada, hanya saja mengikuti pria itu adalah satu-satunya cara menjawab pertanyaan-pertanyaan di kepalanya.
Seperti, siapa sebenarnya pria ini? Bagaimana dia tahu Gatot berada di dalam sana? Mengapa di mencegah Gatot berada di sana lebih lama? Karena pria itu tak mencoba melakukan penyerangan, Gatot merasa dapat lebih tenang menganalisa.
Walaupun memiliki rambut gimbal, jambang dan janggut panjang, dia memperkirakan usianya tidak lebih tua dari Gatot, mungkin pertengahan tiga puluhan, tubuhnya menghitam karena jelaga yang menempeli kulitnya, Gatot bisa mmeastikan pria itu tidak pernah menadi selama beberapa waktu, terlihat dari perbedaan tangannya yang tidak sehitam bagian tubuh lainnya. Bajunya terlihat seperti seragam dinas lapangan milik angkatan laut, dipotong menjadi setengah dan robek-robek termakan usia. Proporsi tubuhnya lebih pendek dari dirinya, lekukan jari tangannya yang kaku terbentuk akibat seringnya pria itu mengais tanah, otot kakinya juga terlihat seperti seorang atlet, Gatot memperkirakan seberapa cepat laju larinya kendati tanpa alas kaki.
Gatot tak bisa lengah menghadapi pria ini, walaupun dia melihat ketidaknormalan karena laki-laki di hadapannya terus saja mengoceh ngalur-ngidul, tentu saja yang diajaknya bicara bukanlah dia, ada sosok imajiner yang mengalihkan perhatiannya. Sangat disayangkan, apabila benar latar belakangnya adalah orang kemiliteran, akan butuh usaha lebih dengan hasil yang mungkin tidak akan menguntungkannya jika pria itu berada di pihak lawannya. Dia harus mengambil keputusan secepat mungkin.
“Hei, kemana kau akan membawaku?”
Gatot diabaikan, bahkan telinganya yang ditumbuhi bulu seolah tak menerima getaran suara di sekitarnya. Dia berpikir akan mengorek lubang telinga pria itu lalu berteriak kencang untuk mengecek pendengarannya. Namun, dia tampak tak terganggu dan masih asik dengan dunianya.
“Siapa namamu?”
“Chernobyl.”
“Itu namamu? Terdengar seperti--”
“Sebuah bencana, kecelakaan ledakan reaktor nuklir terbesar dalam sejarah yang terjadi pada tahun 1986, terletak di Uni Soviet, dekat Pripyat di Ukraina.”
Gatot berhenti dan menatap pria bergigi hitam yang mulai mengoceh tentang kerusakan yang diakibatkan oleh meledaknya reaktor nomor empat.
“Siapa kau sebenarnya?”
“Chernobyl.”
Dia mengulangnya sama persis seperti pernyataannya tadi. Dan untuk ketiga kalinya, Gatot menyamakannya seperti robot operator telepon seluler.
Gatot menggertaknya dengan menarik pakaian pria itu, pria itu menggigil di bawah tatapan tajamnya.
“Katakan, kemana kau akan membawaku?!”
Bukannya menjawab, dia justru mencoba melepaskan diri, Gatot kelimpungan dengan gerakan lincahnya. Asumsinya mungkin benar, pria ini bukan orang biasa. Larinya pun sampai membuat Gatot serius mengerahkan kekuatan.
Melewati alang-alang dan rumput liar tinggi, Gatot sempat terkejut dan berhenti karena tak sengaja menginjak ular sawah hijau. Sesaat dia hampir kehilangan sosoknya dari pandangan, mereka menginjak bagian tanah yang lebih lembab dan tergenang air di beberapa bagian. Gatot dapat melihat sebagian tanah yang terhambur dan berlubang-lubang akibat galian serampangan.
Gatot bergidik, jika dilihat lebih dalam, dia menemukan salah satu kerangka di dalam lubang itu. Darimana tulang itu berasal? Apakah dari tanah yang digalinya? Atau pria itu bertingkah seperti anjing yang menyimpan tulang ke dalam lubang?
Gatot hampir kehilangan jejaknya. Dan dia tidak bisa semakin curiga jika pria itu memperlambat laju larinya untuk menunggu Gatot menyusul.
Pria itu mengetahui sesuatu yang menarik. Mega kemerahan mulai tampak di langit dan Gatot tidak tahu mau sampai kapan pria itu berlari.
Sekitar lima belas menit kemudian mereka sampai di pos penjagaan satpam yang tak terpakai, gerbangnya telah ditutup dengan susunan kayu besar yang menghalau pemandangan ke arah luar gerbang galvalum berkarat yang dikunci dengan gembok besar.
Pria itu berbalik menghadapnya, membisikkan sesuatu kepada teman imajinernya. Tatapannya berubah sangat tajam seolah hendak memotong-motong tubuhnya. Apakah Gatot telah terjebak muslihatnya?
Bukan. Pria itu marah karena dia berbuat jahat dengan memarahinya. Itu yang Gatot tangkap dari tatapannya. “Maaf, kawan. Aku sudah berbuat kasar padamu tadi. Jadi, apa yang ingin kau tunjukkan padaku?”
Gatot menganggapnya mengerti dan tatapan tajam tadi telah menghilang dalam sekejap. Dia, Chernobyl menuntun Gatot memasuki pos penjaga. Tidak sesempit yang terlihat dari luar. Di dalamnya hanya terdapat lemari lapuk, counter tempat komputer dan telepon. Dari dalam pencahayaan cukup terang karena setengah bagiannya adalah kaca yang memungkinkan penjaga mengamati sekitar dengan leluasa. Yang berbeda hanya tumpukan tulang yang berantakan.
“Apa ini?”
“Kerangka merupakan sistem penyokong organisme dan bertindak sebagai bingkai tubuh yang tegaruntuk melakukan gerakan-gerakan--”
“Cukup! Yang ingin kudengar adalah, siapa pemilik kerangka ini?”
“Amalia, Monet, Gabil, Rina, Angkasa, Amerta, Indi, Mala….”
Chernobyl mengungkapkan setidaknya selusin nama yang membuat Gatot tercengang. “Siapa mereka?”
“Teman-teman.”
“Teman siapa?”
“Teman-teman.”
“Apa mereka tinggal di sini?”
Dia berbisik pada teman imajinernya kemudian mengangguk.
“Bagaimana mereka mati?”
“Monster memakan otak mereka.”
“Siapa monster?”
“Monster adalah monster.”
“Lalu, bagaiman kau bisa selamat?”
Dia kembali melihat ke arah berbeda, memanggil seseorang, “Annn!” Wajahnya berubah pucat.
“Monster sudah datang.” lalu dia terduduk menggigil ketakutan di sudut, mengambil salah satu rangka tulang kaki panjang dan memeluknya seperti guling.
Gatot tidak begitu mendalami psikologi manusia, yang diaikuti hanya instingnya untuk menenangkan jiwa anak yang terperangkap di dalam tubuh pria baya berketerbelakangan mental yang baru saja memberinya petunjuk. Jika benar yang dikatakannya, maka pria ini adalah seorang saksi yang harus dilindungi. “Hei tenanglah Chernobyl, aku akan menjagamu dari monster.”
Gigil tubuhnya seketika menghilang dan Chernobyl bak melihat sinar harapan. Namun adakah yang dapat mengalahkan monster yang telahh membunuh teman-temannya?
“Jangan ragu, ceritakan semua padaku.”
“Bunga mawar hitam.”
“Ada apa dengan mawar hitam?”
“Monster pakai mawar hitam.” Gatot menyimpulkannya sebagai tanda pengenal
“Banyak teman-teman, di seluruh kota.”
“Seberapa banyak?”
Chernobyl mengangkat tangannya seolah mengingat sesuatu dan mulai mengais dari tumpukan tulang teman-temannya. Sebuah list yang menjelaskan banyak alamat dengan label panti asuhan yang merupakan bagian dari sebuah organisasi.
“Bagaimana kamu bisa memilikinya?”
“Mencuri adalah kegiatan pengambilan properti milik orang lain secara ilegal tanpa persetujuan--”
“Baiklah. Lalu kenapa kau tidak dihukum seperti teman-teman?”
Chernobyl menatap kosong ke arah depan. Melihat tangannya putus asa, lalu memukul dirinya sendiri. “Hentikan! Apa yang kau lakukan!”
Gatot mencekal tangannya agar tak lebih jauh memeukuli diri sendiri. “Darah teman-teman. Chernobyl itu monster.”