“Apa Monster yang menyuruhmu melenyapkan teman-teman?”
Chernobyl memberi Gatot tatapan kosong, tidak bergerak seinchi pun dan hanya menatap jauh menembus dirinya. Gatot mencengkeram bahunya dan mengguncang-guncang tubuhnya. Sia-sia, pria itu tetap diam, mulutnya terbuka, dia bak orang yang habis menenggak narkoba.
“Hei, sadarlah!”
Tidak ada jawaban. Gatot semakin bingung dengan keadaan aneh ini. Tiba-tiba saja, saat serbuan cahaya terlihat, perilaku Chernobyl menjadi tak wajar. Saat Gatot hendak memeriksa berasal darimana cahaya tersebut, dia tak menemukan apapun. Datang dan perginya hanaya serupa kilatan petir, namun begitu mengguncang Chernobyl.
Dia masih harus tahu bagaimana cara pria ini terlepas dari hukuman. Apakah kebakaran itu juga disengaja? Siapa yang memberinya makan dan minum selama ini?
Gatot tak pernah menduga bahwa orang gila yang pernah menolak Hendro hari itu adalah saksi penting untuk mengungkap kasus pelik ini.
Dia harus membawa Chernobyl pergi bersamanya. Mungkin bukan gagasan yang bagus, tapi dia tak bisa tetap di sana. Pasti ada cara untuk mengembalikan Chernobyl seperti biasa.
Matahari mulai turun dari peraduan, sebentar lagi akan gelap, dia tidak memiliki waktu banyak.
Gatot menuntun Chernobyl yang linglung, menuju tempat keluar, melewati jalan yang sama, tetapi saat mereka telah sampai di titik checkpoint awal, Chernobyl begitu ketakutan hingga meronta-ronta dilepaskan. Kali ini Gatot ebnar-benar kehilangannya.
Di tengah padang ilalang yang seperti hutan, bahkan manusia setinggi dirinya dapat tersembunyi dengan baik. Gatot berkeliling mencari bagian-bagian tanaman yang baru terinjak. Hari telah berubah petang dan minim penerangan, akan terlalu sulit bagi orang normal untuk mencari di kegelapan. Namun penglihatan Gatot tak kalah dengan kucing maupun teknologi yang berkembang seperti night vision yang memungkinkan mereka melihat di malam yang gelap. Para pelaut bahkan menggunakan Regulus, bintang paling terang dalam konstelasi Leo, saat tersesat dan perlu menavigasi dengan bantuan bintang-bintang.
Dia bukan ahli nujum, sehingga dia hanya menggunakan sedikit kemampuan uniknya. Gatot memastikan dia melihat senterong cahaya lampu mobil yang disasarkan tepat menghadap dua orang. Dia tak salah mengenali Chernobyl, tetapi pria di sampingnya adalah apa yang berada di luar perkiraannya.
“Apa kau menjaga tempat ini dengan baik?”
Chernobyl hanya menunduk takut-takut.
“Kau masih ingat kan, jangan biarkan siapapun mendekati tempat ini. Dan laporkan padaku siapa saja yang pernah datang ke sini.”
“Kau pasti sudah tahu apa resikonya, jika kau menyembunyikan apapun dariku.”
Percakapan yang terkesan monolog itu bahkan tak menggentarkan Chernobyl untuk berbicara. Di hanya berdiri di sana ketakutan. Gatot mengambil langkahnya dengan hati-hati. Jika sampai orang itu melihatnya, maka sesuatu yang buruk akan terjadi pada Chernobyl.
Mungkin dia harus segera pergi sebelum pria itu melakukan inspeksi. Orang bertopi hitam dengan jaket mantel panjang itu menaiki mobilnya, mematikan lampu mobil dan keluar dengan sebuah senter di tangan. Di tangan kirinya, dia membawa sebuah plastik hitam. Apa itu, Gatot pun tak tahu. Gatot tak meengalihkan pandangannya sekejap pun sampai kedua orang itu menghilang dari penglihatannya.
Butuh lima maenit untuk Gatot melompati gerbang tempat masuknya. Derik engsel tuanya tidak berbunyi terlalu keras seperti saat pertma dia datang. Butuh sepuluh menit perjalanan untuk mencapai persembunyian motornya yang tersembunyi.
*
Gatot mencapai rumah, hendak mengumpulkan informasi. Sesaat dia menyadari tidak ada tanda-tanda orang di rumahnya. Hanya secarik kertas note dari Ulva yang mengabarkan keberangkatannya.
(Aku menghubungi sejak pagi, tapi tidak ada yang mengangkat.
Aku dan Tanya akan bermalam di rumah Nuna selama beberapa hari.
Jaga dirimu baik-baik. We love You.
Ulva & Tanya)
Gatot memeriksa gawainya, sengaja dia tinggalkan di kantor agar tak telalu mengganggu penyelidikan. Pasti istrinya menyangka dia tak jera setelah kemarahannya beberapa waktu lalu. Berkunjung ke rumah Nuna bisa diartikan, “bujuk aku jika kau ingin aku kembali”. Namun, kali ini Gatot akan membiarkan Ulva menikmatii hari-harinya, ada beberapa hal yang harus dia selesaikan, meski harus menanggung rindu.
Keesokan pagi, Gatot memeriksa gunungan arsip yang dikumpulkan Firman mengenai pabrik dan letak panti asuhan, paling tidak di wilayah Jabodetabek.
“Kenapa tiba-tiba Anda tertarik dengan panti asuhan, Pak? Apa Anda ingin menjadi donatur atau sesuatu--”
“Bukan urusan kamu.”Firman seketika bungkam. “Tapi terima kasih, kamu memang selalu bisa diandalkan.”
Bibirnya membentuk sunggingan lebar hingga pipi. Pujian Gatot jadi pengharagaan tersendiri baginya. Firman amat senang selama dia bisa berguna.
Dari tumpukan dokumen itu, hanya sepuluh tempat yang menggunakan pabrik sebagai lahan panti asuhan. Arsip-arsip masih menggunakan kertas untuk dokumen penting karena beberapa belum dipindahkan ke komputer dengan keamanan canggih.
Dari sepuluhnya, mengalami kejadian serupa, kebakaran yang mengakibatkan kebinasaan tempat itu.
Dia bermaksud mengabarkan hal ini dan menjemput Chernobyl untuk dibawanya sebagai saksi, meskipun kemarin sempat terjadi kesalahan, kali ini dia tidak boleh gagal.
Gatot menyusuri jalan yang sama seperti kemarin, menghadap ke pondok pos penjaga tempat Chernobyl bernaung. Tinggal sepuluh langkah, Gatot menghitung waktu matahari bersinar tampak lebih panas dari biasanya. Sudah pukul sembilan pagi. Dia tidak akan menyia-nyiakan waktu yang berharga karena itu sejak menemukan informasi dia langsung menggas motornya kemari.
Di dalam pos, Gatot tak menemukan keberadaan Chernobyl. Firasat buruk menyelimutinya bagai kegelapan yang memayungi cerahnya langit secara tiba-tiba. Mungkinkah dia ketahuan? Padahal dia telah sangat berhati-hati agar tidak meninggalkan jejak yang dapat menghambat keberhasilannya.
Dia terus bergerak mencari-cari di sekitar sana, dan matanya menangkap keberadaan janggal sebuah kursi di pinggir pohon spatodhea besar yang menutupi gambaran depan panti. Di balik atas, sesosok tubuh tergantung dengan tali melilit lehernya.
Gatot nanar melihat pemandangan menyakitkan tubuh pucat dan keunguan di kaki dan tangannya. Tidak lain adalah orang yang tengah dicarinya. Chernobyl. Tubuhnya telah kaku, karena kemungkinan telah digantung sejak tujuh sampai dua belas jam yang lalu.
Siapa? Siapa yang melakukannya? Membuatnya teringat pada kejadian kemarin. Perkataan orang itu, pasti ada hubungannya dengan kejadian ini. Mungkinkah, orang itu adalah monster yang dibicarakan oleh Chernobyl?
Gatot terlalu marah sampai-sampai dia berlutut di depan jasad yang berayun akibat angin kencang, memukuli tanah yang tidak bersalah. Rasanya Gatot hendak berteriak sekencang yang dia bisa. Mengapa harus di saat seperti ini dia kehilangan saksi penting. Kejadian ini hanya membuktikan ketidakbecusannya. Entah sebagai seorang ayah amaupun sebagai seorang aparat, dia tidak dapat menyelamatkan siapapun, tidak dapat melindungi yang berharga baginya.
Dengan busuknya kemarahan meracuni penglihatan Gatot yang mulai memburam akibat luapan emosinya yang tak tertahankan.
Alfred Hanamurung, satu lagi suspect yang harus dia awasi.