Bab Intermezzo-Email Rusak

1023 Kata
“Fine! Aku udah tahu siapa pelakunya.”   “Serius?”   “Kalau begitu siapa?”   “Hendro.”   “Hah?”   “Hendro menyuruhmu mampir sebentar.”   “Oh. Apa! Jangan bilang kau mengiyakan ajakannya!”   “Kenapa tidak?”   “Kau tidak tahu dia sih. Dia itu kan sangat amat terobsesi dengan jasad dan tubuh manusia.”   “Kurasa kau bisa belajar banyak darinya.”   “Dia selalu mengirimku surel yang nyleneh.”   “Seperti?”   “Ini!”     Dari: Hendro__gobal-gabil@gombal.com   Subjek: Invitation   Untuk: Prince_Eddie_si ikan@gimbal.com     Hei!   Aku berencana menelponmu, tetapi aku baru sadar belum punya nomormu. Lalu, aku berniat mengirim pesan, dan aku baru sadar, kalau juga butuh nomor. Jadi, dengan penuh kebijakan dan pertimbangan aku mengirim surel untuk menyapa.   Sebenarnya ada alasan lain yang… !@#$%^&*())_+ Aku juga ingin bilang betapa aku menikmati kebersamaan kita hari ini dan ingin sekali melakukan melakukan itu denganmu lagi!   ;)   Kau berbeda dari anak lain. Seolah aku bisa menjadi diriku sendiri saat di dekatmu…!@#$%^&*()_+ aku ingin mengundangmu untuk menghadiri pesta gabutku yang pertama bersama teman-teman sejawat.   Kutunggu kehadiranmu di pesta kolam renangku, ya! …!@#$%^&*()_+     By the way, aku selalu menghitung jam sebelum bertemu lagi denganmu. :P  …!@#$%^&*()_+       Regards   Hendro     “Ini mengerikan. Bukankah dia itu anak laki-laki?” Gatot berkomentar karena nada surel yang ditulis Hendro terkesan feminim dan menggoda.   “See. Apa kubilang. Dia memang anak yang aneh bukan.”   “Aku rasa ada yang salah dengan teks ini.”   “Tolong jangan membelanya, karena aku sudah terlanjur kesal.”     “Tapi… apa salahnya kalau kita pergi.”   “Aku tidak punya alasan untuk datang, tapi karena aku kesal, boleh juga kalau kita kerjai dia.”   “Otak usil! Sudahlah, kasihan juga kalau pestanya berantakan karena ulahmu.”   Eddie menyeringai senang seolah mendapat mainan baru. Bahkan tanpa persetujuan Gatot Eddie memilih mengunjungi pesta Hendro. Kejutan-kejutan jahil mengulat di kepalanya.   Sesampai di sana, Eddie tak menemukan tanda-tanda adanya kemeriahan pesta. Eddie hanya melihat Hendro yang tampak lesu bersandar di tempat duduk halaman.   “Woi, gimana pestanya?”   “Eddie! Kau datang.” tatapan Hendro bak seorang yang menemukan berlian di tengah lautan.   “Kemana yang lain?”   “Masuklah dulu, akan kuceritakan perihalnya.”   Buyar sudah keinginan Eddie untuk menjahili Hendro. Kalau begini, apanya yang mau dijahili.   Masuk ke dalam Hendro membawanya ke kolam renang yang telah dihiasi berbagai pernak-pernik, yang membedakan dengan yang lain, pernak-pernik itu terdiri dari replika anatomi tubuh, seperti bola yang berbentuk ginjal dan paru, hiasan gigi palsu, dan kerangka yang diletakkan di dalam kolam.   Eddie menggeleng-geleng tak habis pikir. Pantas saja tidak ada yang datang.   “Hen, sebenarnya kau membuat pesta atau seminar.”   “Tentu saja pesta! Apa kau tidak bisa melihat makanan dan minuman yang mengandung banyak gizi dan vitamin serta dijamin kebersihannya oleh BPOM.”   Eddie menatap ngeri pada sayur-sayuran herbal alias salad yang tersedia di sana. “Aku tidak meragukannya. Tapi siapa saja yang kau undang?”   “Hanya teman-teman biasa. Hanya saja… itulah masalahnya.”   “Masalah?”   “Setelah aku mengirimkan undangan, teman-teman malah membalasku dengan ucapan yang aneh, seperti, ini.”   Dari: Naino_Egepe@gombal.com Subjek: Balasan undangan Untuk: Hendro__gobal-gabil@gombal.com   Ada yang salah dengan otakmu, Hen! Aku tidak menyangka kau seperti ini. Go to hell!     Dari: AngkaraMurka1@gimbal.com Subjek: Balasan undangan Untuk: Hendro__gobal-gabil@gombal.com   Bangke lu, Hen! Emang gue cowok apaan, najis!       Dari: Delimasakti_emangandaberguna@gimbal.com Subjek: Balasan undangan Untuk: Hendro__gobal-gabil@gombal.com   Istighfar, Hen!  Nyebut, nyebut. Udah gak waras lo ya. Mana mau gue datang ke acara begituan. Ieuh enggak elitz!     “Memangnya apa yang salah dengan undanganku?”   “Itu surel Naino, anak peraih medali emas OSN itu?”   “Betul.”   “Kalau dilihat dari kasusnya, kita musti kudu panggil Gatot koco.”   “Gatot koco?”   “Iya, kau tenang aja, semua misteri pasti terpecahkan kalau ada dia.”   Mau tak mau Hendro menyetujui usul Eddie.   Setengah jam kemudian Gatot datang dengan wajah merengut.   “Ini weekend! Beraninya kalian ganggu latihanku.”   Melihat Gatot dalam mode nenek gayung, Hendro pun menciut. “Ampun Mbah, ini usul si Eddie.”   “Dahlah, aku bikin weekendmu kali ini menyenangkan.” Gatot mengangkat alis sebagai isyarat bertanya. “Ada kasus.”   Seketika Gatot si nenek gayung berubah mode menjadi detektif sherlock.   “Jadi, apa kasus yang harus saya tangani?”   “Ini tentang keanehan surel milik Hendro yang menyebabkan teman-temannya tidak mau menghadiri pesta yang dibuatnya.”   “Kapan tepatnya kejadian itu terjadi?”   “Aku mengirim surel kemarin lusa.”   “Apa surelnya semacam broadcast yang dikirim kebanyak teman.”   “Tidak. Aku punya kepentingan lain jadi kukirim satu per satu.”    “Bisa tunjukkan kiriman surelnya.”   “Eh, kenapa teksnya berubah?” Hendro terperanjat, hampir semua teksnya memiliki tambahan aneh   “Coba kulihat.” Gatot memperhatikan dengan saksama. Berbeda dengan Eddie yang terpingkal-pingkal di belakangnya, Gatot begitu fokus menelusuri email itu satu per satu.   “Ada yang mengubah isi teks sebelum dikirim.”   “Dibajak?”   “Kemungkinan seseorang mengendalikan komputermu.”   “Eh? Siapa?”   “Untuk itulah Gatot di sini.”   “Katakan padaku, jam berapa kamu memakai komputer untuk mengirim undangan?”   “Jam empat sore.”   “Siapa saja yang berada di rumah saat itu?”   “Adikku, Ibu, sepupu, dan nenek.”   “Kita bisa menyingkirkan ibumu dan nenek yang kemungkinan besar gaptek. Sekarang hanya tersisa dua orang. Siapa yang sekiranya memiliki dendam padamu.”   “Hmm, dendam ya. Sepertinya tidak ada. Hanya saja aku sempat rebutan komputer dengan sepupuku, juga adikku kesal karena aku mengambil eskrim terakhir yang dijual untuk pesta.”   “Siapa yang mungkin tahu tentang pesta itu?”   “Semuanya tahu.”   Saat asik berbincang-bincang, tiba-tiba saja adik Hendro menyela dan memeberitahunya, kalau pestanya tak jadi, dia ingin makan eskrim yang dibelinya. Hendro pun mengizinkannya mengambil sesukanya.   Gatot dan Eddie seketika saling pandang. Soal motif, maka sang adik adalah tersangka yang paling utama.   “Hen, sepertinya kami sudah menemukan pelakunya.”   “Benarkah? Siapa pelakunya?”   “Dia baru saja memakan eskrim.”   “Apa?! Hendri kemari kau!”   Gatot dan Eddie pun terpaksa menghadiri pesta tak terduga Hendro. Setidaknya Eddie puas melihat Hendro terkena sial. Kejahilannya memang sulit dihilangkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN