Chapter 54-Cinta Pertama

1012 Kata
Sebangun dari keadaan tidak sadar, aroma disinfektan dan pembersih lantai mendominasi penciumannya.  Kepalanya baik-baik saja, hidungnya tersumbat pipa oksigen, dan dia tidak bisa mengingat apapun yang terjadi setelah dia melihat Ulva yang tersenyum. Eddie bergilir mengamati sekitar. Tembok putih, pipa oksigen, selang infus, eternit di atap, lampu yang dimatikan, ranjang, pintu di depan ranjang menuju toilet dia kira, jendela besar yang dibuka sebelah, dengan gorden putih berkibar ditiup angin. Penglihatannya sudah kembali normal. Butuh beberapa saat bagi Eddie merasakan aliran tubuhnya kembali asal, dan seketika tersentak. Eddie benar-benar terjaga. Bergerak-gerak, kelabakan melepas peralatan yang menyelubunginya. Bagaimana bisa wanita itu berada di sana. Lalu, siapa yang telah menyelamatkannya. Eddie adalah orang normal yang mampu memisahkan mimpi dan kenyataan. Dia benar-benar melihatnya, bukan halusinasi karena sedang merindukan seseorang. Figur itu, senyumnya benar-benar nyata, dia tak salah mengenalinya sebagai Ulva, dan jika semua itu benar, dia harus bergegas.     Eddie melupakan bahwa dia masih terikat dengan benda-benda di sekitarnya, sehingga membuat alarm ruangan berbunyi. Ulva hampir memberinya serangan jantung dan hiperventilasi seolah habis berolahraga berat dengan kehadirannya secara tiba-tiba. Eddie sudah mengira terjadi hal yang tidak beres, sewaktu melihat Ulva di kafe hari itu.   Dan kenyataan itu menjelma nyata sesuai dengan firasatnya. Satu-satunya yang harus dia lakukan terlebih dulu adalah menghubungi Gatot yang paling dekat dengannya, atau dia sendiri yang akan kembali ke sana.   Pertama-tama, Eddie hanya harus mengetahui titik keberadaannya saat ini.   Tak lama suster dan dokter berdatangan mencegahnya pergi, dan mencoba membuatnya tenang. ”Suster, di mana saya sekarang?”   “Di rumah sakit Rizan, Pak, tolong tetap di tempat tidur Anda, Pak.”   “Yang saya tanya, daerah mana ini?!” Eddie sedikit terkejut karena suaranya meninggi lebih dari yang diinginkannya.   “Di kabupaten Wonolanang, Pak. Tolong kembali ke tempat tidur Anda.”   Wonolanang, itu artinya dia tak terlalu jauh dari tempat tadi, atau bisa dibilang dia akan dapat tiba di sana setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam dengan menaiki transportasi umum.   Hal kedua yang harus dia lakukan adalah mencari dompetnya untuk menaiki kendaraan. Tetapi di mana, pakaian lamanya.  Dan satu pertanyaan krusial sempat terlupakan olehnya. Sudah berapa lama dia terbaring di rumah sakit.   Eddie tidak menyadari telah dibelit oleh beberapa perawat pria yang menyuruhnya tenang.   “Aku harus segera pergi! Lepaskan aku!”   Tidak berniat untuk berhenti, Eddie akhirnya dibius agar lebih tenang, setelah menghantam lebih dari tiga orang perawat pria yang menghalangi gerakannya, lebih enam orang dikerahkan hanya untuk membius seorang Eddie yang bermaksud menemui satu-satunya keluarga miliknya.   Bagaimana bisa dia akan tenang sementara Ulva berada dalam bahaya! Rasa kantuk akibat bius membuatnya tak mampu membuka mata. Ada alasan mengapa Eddie begitu marah, mengapa dia bergitu terobsesi dengan Ulva meski Gatot tak pernah menganggapnya saingan cinta, karena begitu pun Eddie juga tahu bahwa dia tak akan pernah menang melawannya, Selama yang dia tahu, bagaimanapun kenyataannya Ulva telah berkata jujur mengenai Eddie. Dia adalah orang pertama yang dia berikan keperawanannya saat fase patah hati luar biasa yang dia terima dari Gatot juga. Barulah setelah mereka lulus memasuki jenjang perkuliahan, Gatot mulai melihat dirinya sebagai seseorang yang berharga. Berbeda dari Eddie yang cassanova dan selalu mengunggulkan penampilan dan kepopulerannya, Gatot pria kaku yang tak pernah mengenal wanita manapun dalam hidupnya. Eddie mengenalnya di SMP, hanya beberapa kali dia bertemu dengan Ulva yang seketika jatuh cinta pada pandangan pertama. Persahabatan Eddie dan Gatot berlanjut di jenjang sekolah yang lebih tinggi, dan sekali lagi Ulva mencoba peruntungannya, dia benar-benar dimabuk oleh kawannya itu. Mereka keluarga, itu benar. Terlepas dari dia adalah orang yang pertama menyentuh Ulva tidak menutupi kenyataan bahwa yang dicintai Ulva hanyalah Gatot saja. Sudah semenjak SMP Ulva memendam perasaan yang dalam kepada Gatot , saat hari  itu akhirnya tiba, Ulva amat terguncang dan tak siap menghadapi penolakan Gatot yang pertama setelah menyatakan cintanya. Eddie berada pada titik nadhir dalam hidupnya, dia dikhianati pacarnya dan orangtuanya telah dibunuh dengan keji. Saat itu Eddie nyaris tak mampu berdiri. Tiang gantung lebih menarik hatinya, dibandingkan menjalani hidup sia-sia, dalam kesendirian, lalu Ulva, dewi itu menyelamatkannya. Senantiasa berada di sisinya dan tak henti-hentinya menyemangati Eddie untuk bertahan.   Walaupun Gatot adalah segalanya bagi Ulva, tidak mengubah kenyataan bahwa Eddie juga tulus mencintainya. Sebagai seorangan wanita rapuh yang membutuhkan pundak dan perlindungannya. Dia hanya ingin mengobati luka, kenyataan hatinya yang berdarah-darah. Eddie tahu diri, tak lebih dari sebuah pelampiasan, kendati dia tak pernah menganggap Ulva sama. Itu bukan hanya afeksi secara seksual, mereka saling menarik bak kedua kubu magnet yang bersentuhan.  Jika dilihat dari sudut pandang ketidaksengajaan, kejadian itu lebih seperti pelepasan rasa frustasi yang tercermin dalam  aksi menyimpang. Eddie tidak bisa melupakan setiap sentuhan tubuh jeli Ulva dalam genggamannya, tetapi dia tak berani untuk membayangkan kejadian yang sama. Terlalu terkutuk hasratnya untuk memiliki, di atas air mata yang mengaliri pipi Ulva, hari itu dia menyadari kalau pria itu bukan dirinya. Dia, tidak lebih hanya seorang kakak yang memberinya wadah berkabung dalam kacamata seorang Ulva.    Hubungan mereka tidak menjadi canggung setelah kejadian itu. Dia menyadari kesalahnnya. Waktu itu mereka masih sangat muda  dan tidak stabil tetapi itu juga telah mengikat keduanya dengan ikatan yang lebih kuat dibandingkan sebelumnya. dan tanpa mereka sadari untuk saling menjaga dan mengamati dari kejauhan  bagaimana satu dan yang lainnya untuk tetap berjalan dan saling berpegangan tatkala masa depan terburuk itu tiba.  Begitu menyedihkan kisah unrequited love-nya, tetapi dia tidak melihatnya sebagai kesialan. Dia bahagia pernah mengenal Ulva dengan intim, apalagi menyerahkannya kepada sahabat baiknya.  Dua orang yang berharga baginya. Eddie kadang tak habis pikir dengan keunikan sepupunya itu. Siapa juga wanita yang cukup bodoh memberitahu kekasihnya, orang yang sangat dia cinta, mengenai pengalaman pertamanya. Karena bisa saja, pria berbalik memusushi atau mebencinya, tetapi Ulva bahkan dengan berani mengatakan hal memalukan itu, mengungkapkan betapa dia mempercayai Gatot, sebuah bentuk penyerahan diri seutuhnya. Ulva datang bak dewi  kebahagiaan yang memberkahi Gatot. Melalui ketulusan Eddie yang hanya menginginkan orang yang dicintainya bahagia, karena itulah mereka bisa bersama . Dia telah kalah jauh sebelum kejadian itu terjadi.   Semua kejadian itu hanya akan menjadi masa lalu kelam yang terkubur selamanya. Hiperventilasi- tindakan bernapas yang berlebihan menarik dan menghebuskan napas secara cepat dan dangkal karena seranngan kecemasan atau panik  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN