Bab 55-Locked room

1014 Kata
Mawar hitam yang disebutkan Chernobyl menjadi acuan penelitian Gatot. Dan sama seperti AKP Hendro yang menemui jalan buntu, dia kini mengalaminya.   Seolah-olah kasus ini dipotong secara presisi di tempat yang tak mampu dijangkau polisi berpangkat rendah sepertinya, dan jika dia naik pangkat lebih tinggi, akan ada masalah lain yang menghadang.   Lawan Gatot terlalu licik memanfaatkan posisinya.   Gatot mengalihkan pemikiran pada wanita dan buku catatan kecil di tangannya. Eilan Darmono yang terguncang, duduk di kursi memeluk puteranya, Tiana, erat di d**a. Masih mengenakan pakaian hitam-hitam sehabis menguburkan jasad sang suami.   Seperti biasa, Gatot mengumpulkan informasi sebanyak mungkin dari memecahkan beberapa kasus yang dia tangani. Kejadiannya secara kebetulan Gatot menemukan kasus pelik yang amat menarik, sehingga mengambil alih kasus pembunuhan seorang saudagar batu bara di ruang tertutup itu. AKP Farhat memberikannya secara cuma-cuma karena dianggapnya terlalu pelik untuk ditangani.   “Tolong, segera temukan pelakunya! Aku akan membayar berapapun untuk itu!”   Butuh kesabaran lebih untuk emndapat informasi penting dari sang nonya besar  yang menganggap segala hal dapat diselesaikan dengan uang. Nyatanya, memang dengan adanya lembaran bernilai itu, semua akan lebih mudah ditangani.   “Jadi, Nyonya, bisa Anda katakan, ada berapa banyak orang yang tinggal di rumah saat peristiwa itu terjadi?” Asisten Gatot, Firman mulai menginvestigasi setiap saksi yang berada di mansion pad jam-jam pembunuhan terjadi.   “Di rumah hanya ada aku dan anakku, juga kepala pelayan dan pelayan-pelayan lain yang sudah berganti shift kerja.”   Gatot mengamati sekitar ruang keluarga, tempat yang dijadikan ruang interogasi dadakan. Lukisan dinding yang tertempel di sana adalah lukisan-lukisan terkenal yang nilainya seharga rumah.   Lima dari lukisan itu bertema sama, salah satunya lukisan karya milik MC Escher, Drawing Hands tahun 1948. Lukisan dua tangan saling menggambar, berisi visual yang menunjukkan paradoks, penciptaan spiral yang tidak memiliki awal dan akhir.   Ouroboros, sebuah simbol kuno yang menggambarakan ular atau naga yang menggigit ekornya sendiri. Memiliki makna yang dalam, dan diartikan sebagai, kehidupan akan selalu kembali ke tiitik awal, repitisi, pembaharuan, kekekalan,  dan lingkaran waktu yang abadi.     “Bisa Anda jelaskan ada dimana dan apa yang Anda lakukan pada sekitar jam pembunuhan terjadi?”   “Mengapa aku harus mengatakannya?”   “Karena kami membutuhkan kesaksian Anda untuk memperjelas alibi Anda sendiri.”   “Aku mandi, lalu tertidur siang di kamarku sampai akau mendengar teriakan pelayan.”   “Anda memiliki kamar berbeda dengan suami Anda.”   “Ada yang salah? Sudah biasa jika suami istri kadang tidur di kamar yang berbeda.”   Sembari mencatat Firman meneruskan. “Baik. Apa ada yang bisa digunakan untuk membuktikan alibi Anda?”   “Hei, aku tidak berbohong.”   “Kami mempercayai Anda, Nyonya, tetapi kami membutuhkan bukti konkret.”   “Terserahlah. Kau bisa melihat kamera cctv yang terpasang di koridor kamar dan di luar jendela kamarku.”   Penyidik segera menjalankan prosedur dan memeriksa kesaksian Eilan.   Gatot sengaja tidak menginterupsi untuk memastikan gerak-gerik wanita itu. Dia berbohong.   *     “Ipda Firman,” panggil Gatot.   “Siap, Pak.”   “Apa petugas forensik sudah menentukan penyebab kematian korban?”   “Sebentar lagi akan saya berikan pada Anda, Pak.”   “Dan… tolong awasi Nyonya itu. Kesaksiannya tidak sepenuhnya dapat dipercaya.”   Walaupun masih meragukan, Firman menyanggupi permintaan Gatot.   Gatot kembali ke TKP yang masih didominasi petugas yang berlalu lalang. Ruangan itu biasa digunakan korban sebagai ruang kerja sekaligus tempat pertemuan dengan para partner bisnisnya. Jendela dan pintu hanya dapat dibuka dan dikunci dari dalam. Tidak ada celah yang memungkinkan seseorang keluar dari ruangan itu.   Korban berada di lantai memegang d**a, mulut berbusa, dadanya ditusuk dengan pisau, namun hanya terdapat sedikit darah kering yang keluar.   Ruang TKP terlihat berantakan akibat usaha terakhir yang dilakukan korban sehingga barang-barang di atas mejanya berhamburan ke lantai. Gatot telah memeriksa dengan saksama, jika saja korban meninggalkan pesan kematian sebelumnya. Dia juga tidak menemukan adanya tanda-tanda perkelahian.     “Pak, hasilnya sudah keluar. Korban meninggal akibat gagal jantung.”   “Lalu, bagaimana dengan sajamnya?”   “Tidak mengenai organ vital, Pak. Ada kemungkinan korban sendiri yang menusuk dirinya.” Gatot tidak bisa membayangkan seorang yang tengah kesakitan dan sekarat, justru menusuk dirinya. “Apa ada gelagat bunuh diri pada korban dari keterangan para saksi?”   “Tidak, Pak, hanya saja, Nyonya berkata bahwa suaminya pernah mengeluh tidak tahan dengan rasa sakit dan berniat mengakhiri hidupnya saja.”   “Tidakkah kamu merasa wanita itu mencoba menggiring polisi seperti domba tersesat?” Firman sedikit terkejut atas ucapan sinis Gatot yang tampak tidak menyukai Nyonya Elian. Gatot mungkin merasakan keengganan Firman yang merasa telah mendapatkan sesuatu, namun dengan mudahnya Gatot jatuhkan. Dia masih belum mempercayai adanya opsi bunuh diri sampai dia yakin dan menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di kepalanya, “Apa pemeriksaan CCTV sudah mendapatkan hasil?”   “Sudah, Pak dan hampir sepenuhnya benar. Nyonya Elian memasuki kamarnya satu jam sebelum perkiraan kematian korban.”   “Apa kalian sudah memeriksa keseluruhan rekaman siapa dan apa yang mereka lakukan dalam satu hari ini?”   “Apa itu diperlukan, Pak?”   “Semua diperlukan selama itu berguna dalam penyelidikan.”   “Akan segera saya laksanakan, Pak.”   “Oh ya, Firman. Bisa kamu bawakan saya beberapa benda.”   “Tentu, Pak.”   Gatot amat lega karena masih ada petugas yang cekatan seperti Firman, dia jadi bisa tenang menyelidiki dengan teliti. Jika saja dia tak mengajak anak itu, mungkin penyakit tak sesuai ekpektasinya akan kambuh dan mengakibatkan amarah yang tak terbendung. Gatot ingin mengurangi intensitas marah, meski dia memiliki tubuh sehat, di usianya saat ini ada kalanya mungkin dia akan mengalami penyakit-penyakit yang disebabkan naiknya tensi darahnya,   Dari pintu “jebakan” di TKP yang memiliki kenop di dalam, Gatot memulai. Bagaimana pun dia mendobrak, pintu itu tetap kokoh dan tidak akan terbuka. Sangat sesuai bagi siapa saja yang menginginkan tempat berlindung.   Gatot sedikit terbelalak dengan pemikirannya sekilas lalu, senyum kecil mulai terbentuk di bibirnya.   Sedangkan, untuk jendela, bisakah mereka membukanya dari luar? Gatot memeriksa  jenis kaca dan kusen jendela yang kokoh, pemasangannya pun rapih, tak ada tanda-tanda pernah diganti. Hanya saja mekanisme jendela yang bisa menutup secara otomatis saat tertiup angin dari luar mengungkapkan ketidaksempurnaannya.   Sejauh ini dia telah menemukan metode penting yang sering digunakan dalam kasus-kasu pembunuhan di ruang tertutup.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN