Bab 55b-Melipat Waktu

1027 Kata
Ada yang aneh dengan penghuni mansion ini. Tidak Nyony besar maupun pelayan, semua tampak mencurigakan. Walaupun kesaksian mereka sesuai dan bahkan punya alibi yang kuat, Gatot masih mencium ketidakwajaran.   Hal yang mengganggunya, karena adanya kemungkinan bahwa mereka sengaja bersekongkol mengelabuhi polisi untuk menutupi sesuatu.   Ruang kontrol CCTV masih tampak sibuk dengan Gatot yang ikut mondar-mandir memeriksa. Hasil mengungkapkan, sejauh ini, ada lima orang tamu yang sempat datang ke rumah korban.   Orang pertama adalah seorang pria berseragam biru, pengantar s**u langganan rumah korban. Gelagatnya tidak mencurigakan, datang dari gerbang depan dan hanya meletakkan keranjang botol s**u di teras rumah, setelahnya pria itu menghilang dari jangkauan CCTV 1 beralih ke CCTV gerbang.   Orang kedua datang pada pukul delapan pagi, kepala keamanan mengenalinya sebagai sekretaris korban. Selalu datang tepat antara pukul 07.30-08.00 pagi, lalu keluar sekitar pukul sepuluh pagi. Kebiasaan itu diminta sendiri oleh sang korban, dikarenakan kesehatannya yang memburuk selama minggu-minggu terakhir.   Bukti ini menguatkan hipotesisnya bahwa benar korban telah sekarat.   Layar di hadapan ketiga orang yang duduk di kursi berkaki tiga di ruang kontrol, menunjukkan Daniela, nama sang sekretaris, memasuki rumah, tanpa menunggu Elian dan hanya disambut kepala pelayan langsung menuju ke ruang kerja korban.  Di depan ruangan yang kini menjadi TKP, korban tampak keluar saat wanita itu mengetuk beberapa kali.   “Apa itu engsel magnet yang digunakan untuk membuka pintu dari luar?” Firman berujar ingin tahu.   “Setahu saya hanya ada satu dan khusus dipegang tuan sendiri.”   Gatot memeriksa singkat laporan penyidik tentang benda-benda yang mungkin terlewatkan olehnya. Benda itu ada, di dekat pot tanaman bonsai.   Korban membawanya masuk ke dalam. Sekitar sejam kemudian Daniela keluar ruangan tidak didampingin korban. Tampak gelagatnya yang gelisah,  membenahi pakaian dan rambutnya. sembari melihat sekitar, meskipun tidak terlalu kentara, namun jelas untuk memastikan aman dari orang terrdekat.   “Mencurigakan,” komentar Firman.  Yang diangguki kepala keamanan.   Video pun dilanjutkan hingga Daniela keluar dari rumah menuju mobilnya yang terparkir   Slide video dipercepat hingga tamu ketiga tiba sekitar pukul dua belas siang. Dan selama itgu tidak ada orang lain yang memasuki TKP, selain beberapa pelayan yang mondar-mandir membersihkan koridor.   Pria necis, mengenakan masker. pakaiannya amat rapi Gatot sempat mencandai Firman bahwa orang itu terlihat seperti sales obat karena membawa-bawa koper di tangannya. Dari cara berdiri dan berjalan, Gatot tahu seperti apa perangai orang-orang kelas atas yang sombong. Pria itu memilih memegang kopernya sendiri karena pasti berisi sesuatu yang berharga.   “Siapa orang ini?”   “Sepengetahuan saya, orang itu teman lama sekaligus kolega bisnis tuan.”   “Apalagi yang Anda ketahui tentang orang ini?”   “Tidak banyak, Pak. Saya cuam dengar-dengar kalau orang itu sangat berjasa buat tuan dalam membangun perusahaan, bisa dibilang orang penting begitu. Nyonya juga mengenal baik beliau ini.”     Tidak salah menjadikan kepala keamananan sebagai informannya. Gatot terpetik rasa penasaran saat nama Elian tercetus begitu saja.   Kamera mengikuti laju langkah kaki Darius melewati pintu rumah yang dibuka. Elian menyambutnya gembira.   Korban belum terlihat, masih di dalam ruangan semenjak terakhir. Gator ketar-ketir karena menyangka hipotesisnya memiliki kesalahan fatal.   Dari sini dia mengira semua akan menjadi buruk, namun kelegaan seketika membasuhnya. Korban membuka pintu ruangan, tangan melambai, sempat memberi pelukan singkat, wajahnya tertangkap kamera, benar-benar si korban.   Elian mengikuti Darius dan korban yang masuk lebih dulu. Pintu ditutup.  Yang perlu dipertanyakan adalah apa yang dibicarakan keduanya di dalam sana.   Sekitar setengah jam, terlihat seorang pelayan yang lewat sambil membawa keranjang pakaian. Pelayan tampak terkejut akan sesuatu, hingga beberapa lembar pakaian berjatuhan. Seusai memungutnya, dia bertingkah biasa seolah tiada hal yang mengganggunya.   Gelagat itu tak begitu disadari oleh dua orang lainnya, namun mata jeli Gatot menangkap keanehan.   “Firman, tolong panggilkan pelayan yang baru saja lewat itu untuk interogasi lebih lanjut.”   “Sepertinya hanya pelayan ceroboh biasa,” Kepala keamanan, Pak Darno ikut buka suara.   “Eee, kebetulan semua pelayan sudah dipulangkan karena dianggap tidak terlalu dibutuhkan dalam penyelidikan, Pak.”   “Siapa yang menyuruh mereka pulang?!” Gatot seketika naik pitam. Kemarahannya mungkin salah sasaran, karena orang yang bertanggung jawab setengah jalan sebelum dia tiba-tiba muncul bukanlah Firman.   “I-itu perintah--”   “Ya sudah. Karena sudah begini, esok pagi selambatnya kita sudah bisa menginterogasinya.”   “Ba-baik, Pak.” Satu jam kemudian barulah terdapat tanda-tanda tamunya akan beranjak pulang.   Elian tampak berjalan menuju kamar, sedangkan tamunya diantar oleh kepala pelayan. Korban kembali mengurung diri di ruangannya.   Melihat riwayat psikologi korban yang rentan stress, dapat dikatakan bahwa ruang kerja telah menjadi zona aman korban karena merasa berkuasa dan terlindungi dari segala ancaman.    Tamu keempat adalah Elanour, ipar korban, yakni saudara dari Elian. Gemilang sebagai sosok ibu-ibu sosialita yang gemar menghabiskan uang. Elanour hanya datang untuk mengunjungi saudara perempuannya. Tampak Elian yang tidak mengharapkan kehadirannya, dan lebih memilih berdiam di kamarnya.   Elanour mmebuang dua puluh menit waktu berharganya untuk menghabiskan secangkir kopi dan kue.   Tamu kelima adalah orang yang sangat mencurigakan di mata Firman. Pria berambut panjang dengan pakaian casual mencangklong tas biola dengan santai menjejaki rumah presdir perusahaan besar. Tampak seperti musisi atau orang-orang yang memiliki keahlian dalam bidang seni.   Tidak ada yang salah pada awalnya, sampai kemudian orang itu membuat keributan. Walaupun terhalang pintu yang dibuka, korban terlihat sekilas mengacungkan telunjuknya. Setibanya di teras rumah, pria itu memeriksa sekitar dan tampak memasukkan sebuah botol ke kantongnya.   Entah botol itu berisi apa, Firman sangat yakin bahwa pria itulah pelakunya.   Waktu bergulir  sejam setelah kejadian terakhir menuju waktu-waktu perkiraan kematian korban.   Gatot merasakan kejanggalan. Dia akan merasa begini apabila ada sesuatu yang salah, ada sesuatu yang terlewat dari pantauannya. Dia pada akhirnya menemukan bug itu sebagai kecurangan.     “Hei, apa ini? Sepertinya ada yang terlewat.”   “Bagaimana, Pak?”   “Siapa yang pernah memasuki tempat ini selain para petugas keamanan.”   “Itu… kepala pelayan juga pernah, bermaksud memastikan beberapa hal remeh. Namun, hari kemarin bisa dipastikan tidak ada selain kami.”   “Siapa saja penjaga yang bertugas sejak pukul 12 siang?”   “Akan segera saya informasikan profilnya, Pak.”   “Sambil lalu saya ingin mengeceknya lagi.”   “Silakan, Pak.”   Gatot menggebrak meja, setelah sungguh yakin video CCTV itu dipotong sekitar lima menit yang panjang memanfaatkan sudut-sudut yang menjadi titik buta kamera.   Rupanya, ada penguasa yang tengah mencoba melipat waktu untuk memuluskan rencananya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN