Chapter 55c-Menguliti Kacang

1066 Kata
Sudah seminggu yang lalu sejak terakhir kali dia melihat Alfred, tidak termasuk kejadian di pabrik. Pandangan Gatot terhadapnya jelas berubah total sejak  saat itu. Dia jadi lebih banyak memperhatikan sekelilingnya. Alfred teramat lihai menyembunyikan ekspresi bengis di wajahnya.   Gatot sangat mengenalnya secara personal di kesatuan, karena sebelum pindah, dia tinggal di rumah dinas dan mereka bertetangga. Namun, kali ini dia sama sekali tak mengenali wajah menyeramkan yang ditemukannya malam itu. Seharusnya ada alasan kuat untuk mengkonfirmasi inisiasi keberadaannya di tempat itu, tetapi Gatot begitu kesal sampai mengagetkan dirinya sendiri, dia tidak juga menemukan motif yang tepat selain kecurigaan Alfred adalah bagian dari mereka. Kontradiksi dengan keuletannya menyusut kasus Puppet Killer beberapa waktu lalu. Jika memang benar, tidak tepat menggunakan kalimat “ulet” pada kalimat yang lebih bermakna “mengawasi” jalannya penyelidikan agar terus menemui jalan buntu.   Daripada itu…  tabu bagi orang di profesinya sepertinya untuk menyusun teori-teori prematur berdasarkan pada data yang tidak mencukupi. Akan terlalu banyak error yang didapat nantinya.      Peristiwa menyayat hati Chernobyl, tak menyurutkan langkah Gatot untuk mengejar si sinting manipulator yang membunuh banyak anak-anak remaja. Salah satu alasan dia mau menangani kasus orang-orang tajir--yang biasa dia hindari--, tidak lain karena Indra Gunman termasuk ke dalam daftar donatur yang ditunjukkan Chernobyl malam itu. Tanpa dinaya bahwa kasus ini akan jadi begitu tidak terencana.   Gatot menandaskan kopi ketiganya. Berteman dengan keheningan dan suara jangkrik di tanah. Dia sedang beristirahat di luar sembari merinci kasus yang menurutnya luar biasa, aneh, menggelikan, dan licik.   Pada keterangan medis korban, Indra memiliki riwayat hipertensi yang cukup tinggi resiko terserang gagal jantung. Yang lebih mencengangkan di dalam tubuh korban juga terdapat dua zat yang kontra sehingga menyebabkan terjadinya komplikasi.   Furosemide   Gatot mengenalinya sebagai obat antihipertensi yang ditemukan di TKP.  Sesuai prediksinya, jantung Gatot memompa lebih cepat karena entah rangsangan tiap kali dia hampir memecahkan misteri. Dia menemukan catatan zat yang berfungsi sebagai Vasopressor--berfungsi untuk menaikkan darah/antideuretik di dalam darahnya.   Gatot menghubungi Firman perihal dua orang yang dimintanya esok pagi.   Rasanya Gatot berniat mengubur matahari saat ini juga. Tidak boleh. Ketidaksabaran adalah kelemahan dalam penyelidikan, takutnya satu dua hal penting akan terlewatkan.   Tidak menunggu lama sampai seorang gadis muda berpakaian seragam pelayan hitam dengan apron putih menggantung dari lehernya. Gatot menaksir usianya tidak lebih dari 27 tahun, sudah memiliki  satu-dua anak, tampak pucat dan terganggu. Dia menatap ketiga polisi di hadapannya dengan gugup dan tangan gemetar.   “Tolong tenang saja, Ibu Ananda.  Silakan duduk, saya hanya ingin menanyakan satu dua pertanyaan ringan.”   Wanita itu mengangguk takut-takut, meminta izin dengan isyarat kepada dua orang lainnya, dan segera duduk di kursi lipat merah di hadapannya. Matanya yang melihat sudut meja sesekali ke arah dua orang lainnya.  Entah Gatot yang terlihat menakutkan atau Firman dan kepala keamanan yang terlihat muda dan segar lebih menarik perhatiannya. Yang Gatot tahu itu adalah kebiasaan seseorang yang tertekan.   “Apa ada orang yang mengancam Anda?”   “Tidak-tidak ada, Pak.”   “Anda terlihat gelisah.”   “Sa-saya hanya takut berhadapan dengan polisi.”   “Anda tidak perlu takut jika Anda tidak bersalah maupun menyembunyikan sesuatu.”   “I-iya, Pak. Maafkan saya.”   “Anda tidak perlu minta maaf. Kalau begitu tanpa paksaan dan Anda boleh menolak menjawab, kesaksian yang akan Anda katakan ini adalah yang sebenar-benarnya, betul?”   Alis Firman tertekuk, menebak metode apalagi yang hendak digunakannya.   “Iya, Pak.”   “Baik. Pak Darno tolong putarkan tayangan yang kemarin.”   Semua mata teralih pada layar monitor yang menampilkan sosok Ibu Ananda memegang keranjang cucian bersih.   “Ini adalah Anda?”   “Benar, Pak.”   “Tolong jalankan pada menit dia melewati ruangan. Nah, benar yang itu. Terima kasih. Jadi, Ibu Ananda, pada saat Anda melewati tempat ini, kami menemukan tanda-tanda keterkejutan yang kentara. Apa yang Anda dengar pada saat itu.”   Dan pertanyaan lugas Gatot membuat hembusan napas Ananda lebih berat dari sebelumnya.   “Ma-maafkan saya, Pak. Tetapi ini menyangkut pekerjaan. Saya dilarang menyebarkan ataupun memperluas kejadian yang terjadi di dalam rumah majikan saya. Kalau sampai saya dipecat, mau makan apa anak saya nanti.” Ibu Ananda terlihat semakin tertekan membayangkan kedua anaknya meraung kelaparan.   Bukannya dia tidak bersimpati terhadap kekurangan orang lain. Jiwa melankolisnya selalu kambuh tiap mendengar cerita sedih. Namun, hanya saat berkerjalah dia terlahir sebagai robot andal yang minim emosi.   “Anda berhak menolak untuk menjawab pertanyaan.” ujara Gatot tak puas.  “Tetapi saya ingatkan bahwa kesaksian Anda mungkin saja akan berperan penting mengungkapkan identitas pelaku,” bujuknya lalu.   “Apakah sebesar itu pengaruhnya?”    “Tentu. Kesaksian sekecil apapun akan sangat membantu kami. Anda tenang saja, karena kami akan menjaga identitas Anda tetap rahasia.”   Ibu Ananda terlihat berpikir dalam sebelum memutuskan keputusan besarnya. * Informan kedua yang akan didatangkan adalah seorang penjaga keamanan berusia lanjut yang hampir pensiun tahun depan. Bapak Setoaji berjaga bersama pria paruh baya berbadan gempal, otot-ototnya tercetak jelas dari seragam satpam kekecilan yang dia kenakan, bernama Anggara.   Dua orang berbeda dimensi, status, dan umur. Perbedaannya juga terletak dari lamanya perkerjaan keduanya. Dari yang Gatot temukan, pria gempal itu baru seminggu yang lalu berkerja di mansion Indra, bersama dengan tiga orang lain yang memiliki karakteristik binaragawan yang besar dan kuat.   “Jadi, bisa katakan apa yang kalian lakukan pada hari dan jam saat peristiwa itu terjadi?”   “Saya berada di sini mengawasi monitor seharian sampai pada jam lima sore, jadwal makan dan istirahat rutinnya, tuan tidak membalas perkataan pelayan mau pun istrinya sehingga orang-orang khawatir. Anggara kemudian mengecek lewat jendela kaca, dan melihat tuan telah tergeletak tak bernyawa. Kami membobol dengan memecahkan salah satu kaca lalu membuka pintu dari dalam.”   “Pernyataan itu adalah kesaksian yang Anda katakan pada investigasi kemarin. Yang ingin saya tahu adalah aktivitas Anda setelah kejadian.”   “Setelahnya Anggara diminta berkeliling mencari pelaku, sedangkan saya mencoba memeriksa kamera keamanan bersama kepala pelayan.”   Anggara hanya terus membenarkan pernyataan pria tua di sampingnya, tanpa sepatah kata pun.   “Baiklah, akan saya catat. Untuk lebih jelasnya, ketika Anda memeriksa kamera pengawas, apakah Anda sempat meninggalkan ruangan?” Pertanyaan satu itu cukup menyentak Setoaji yang membenahi kaca mata tuanya. Dari kilapnya, Gatot mengukur bahwa kacamata itu baru dikenakan beberapa waktu yang lalu.   “Saya sempat terjatuh dan menjatuhkan kacamata dan mengambil cadangan yang saya letakkan di bagasi motor.”   Gatot tersenyum sekilas. Terlalu singkat ditangkap mata.   Jadi begitu kejadiannya. Gatot menyandarkan bahunya dengan lega seolah sehabis menggotong karung beras berkilo-kilo jauhnya. Kini gudang beras itu telah terlihat rimbanya.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN