Clara menggigit bibirnya. Ia paling benci jika hari ini tiba, sambutan ketus dari pemilik kos, ia menunggak lagi.
Tentu saja wajah sengit nan sinis akan menghiasi raut wajah wanita itu. Ia bergumam, kesal.
“Huft,”
"Baru pulang, Clara?" Suara Bu Risma melengking, memecah kesunyian lorong.
Clara memaksakan senyum tipis, meski jantungnya berdegup kencang.
"Iya, Bu. Tadi ada lembur sedikit di kafe."
Wajah wanita itu tampak tak senang, meski sudah berkata jujur, tidak ada bedanya, belum bisa membayar hutang dan ini akan terjadi lagi.
Ia menunggak.
"Lembur terus, tapi uang sewa belum juga mampir ke tanganku," potong Bu Risma tanpa basa-basi.
Ia menyodorkan selembar kertas catatan yang sudah kumal. "Sudah masuk bulan kedua, Clara. Aku sepertinya tidak bisa kasih toleransi lagi. Kalau sampai akhir minggu ini kamu tidak melunasi semuanya, maaf saja, kunci kamar ini terpaksa harus aku ganti."
Clara menelan ludah. "Bu, aku mohon... bulan ini kafe agak sepi, tapi aku pasti usahakan—"
"Semua orang juga bilang begitu," ketus Bu Risma.
Matanya menunjukkan sikapnya yang memang kesal padanya, dan ia cukup tahu diri dengan keadaannya, harus menerima perlakuan sinis itu.
"Pokoknya aku tidak mau tahu. Kamu itu anak rajin, tapi rajin saja tidak bisa bayar pajak bangunan tempat ini. Ingat ya, akhir minggu!"
Dengan langkah kaki yang dihentak-hentakkan, Bu Risma pergi meninggalkan tempat ini.
Yang dia lakukan hanya terpaku di depan pintunya. Clara menyandarkan dahinya ke daun pintu kayu yang dingin.
Ia merogoh saku, mengeluarkan amplop tip tadi. Jika digabungkan dengan sisa gajinya, jumlahnya bahkan belum cukup untuk menutupi satu bulan sewa, apalagi dua bulan.
Ia masuk ke dalam kamar yang hanya berisi satu tempat tidur single, sebuah lemari kecil, dan meja kayu tempat ia biasa menghitung sisa uang makan.
Ia duduk di pinggiran kasur, menatap langit-langit kamar yang mulai berjamur.
Pikirannya mendadak melayang pada dua pria di kafe tadi pagi.
Mereka memesan kopi seolah uang bukan masalah, sementara dirinya harus memeras keringat hanya untuk sekadar punya tempat berteduh.
"Dunia ini memang tidak adil," bisiknya lirih pada kesunyian kamar.
Malam itu, ia tidur dengan perasaan cemas yang merayap.
**
Alarm di ponsel usang nan tua milik Clara berbunyi pukul lima pagi. Tanpa sempat bermalas-malasan, ia segera bangkit.
Tubuhnya terasa ringan, namun bukan jenis ringan yang bertenaga, melainkan rasa melayang karena perut yang terlalu sering dibiarkan kosong.
Ia terlalu prihatin, sangat prihatin. Teman-temannya banyak yang memilih untuk terjun ke dunia hitam. Tapi … dirinya tidak, ia bukannya tak mau, tapi tak bisa dan pastinya tak laku.
Setelah bersiap dengan seragam yang disetrika rapi, Clara berjalan kaki menuju kafe untuk menghemat ongkos.
Begitu tiba, ia melakukan rutinitas pembukaan, menyalakan mesin espresso, membalik tanda ‘Closed’ menjadi ‘Open’, dan menata kursi-kursi.
Semua dilakukannya secara cepat namun penuh kehati-hatian. Ini barang milik orang kaya.
Jika ada kesalahan sedikit saja, ia diminta mengganti atau bahkan dipecat.
Saat suasana masih sepi, Clara mengambil jatah waktu sarapannya. Hanya selembar roti tawar sisa kemarin yang ia bawa dari kost dan segelas besar air putih dingin.
Ia mengunyahnya pelan-pelan, mencoba menikmati setiap gigitan kecil agar rasa kenyangnya bertahan lebih lama.
Clara bercermin di pantulan mesin kopi yang mengilat. Kulitnya pucat, dan seragam berukuran small itu pun tampak sedikit longgar di tubuhnya yang ramping—terlalu ramping.
Tulang selangkanya terlihat jelas di balik kerah kemeja. Diet paksa karena keadaan ini memang membuat tubuhnya mungil, namun ia sering merasa cepat lelah jika harus berdiri terlalu lama.
"Setidaknya air putih ini gratis," gumamnya menyemangati diri sendiri sambil meneguk sisa air di gelasnya.
Pukul sembilan pagi, denting pintu kembali berbunyi. Clara segera memasang wajah segar, menyembunyikan rasa pusing yang sempat lewat di kepalanya.
Namun, senyumnya sedikit membeku saat melihat siapa yang datang.
Laki-laki itu lagi. Kata orang namanya Jack.
Hari ini Jack datang sendiri. Tanpa Steve yang biasanya berisik dan ramah. Jack mengenakan kemeja hitam dengan lengan yang digulung hingga siku, memperlihatkan jam tangan yang harganya mungkin cukup untuk membayar sewa kost Clara selama sepuluh tahun.
Dia pria tampan tapi tidak sombong, selalu tersenyum tipis tapi ramah saat memesan minuman.
Jack tidak langsung memesan. Ia berdiri di depan kasir, matanya yang tajam menatap Clara dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Ada kilat ketidaksenangan di matanya saat menyadari betapa pucatnya wajah gadis di depannya itu.
"Satu kopi hitam," ucap Jack. Suaranya rendah, bergema di ruangan yang masih tenang.
"Baik, Tuan. Ada tambahan?" tanya Clara profesional.
Jack tidak menjawab. Ia justru meletakkan sebuah bungkusan kecil di atas meja kasir—sebuah kotak dari restoran cepat saji terkenal di dekat sana.
"Makan itu. Kamu terlihat seperti akan pingsan jika tertiup angin."
Clara tertegun, tangannya yang hendak mengambil uang membeku. "Eh? Tapi aku sudah sarapan, Tuan..."
"Roti kering dan air putih bukan sarapan," sahut Jack dingin, seolah ia bisa membaca apa yang ada di perut Clara.
"Habiskan setelah kamu membuatkan kopiku. Aku mau kamu sehat dan tampak fresh, tidak seperti ini, pucat."
Clara terpaku. Ia tidak tahu harus merasa tersinggung karena dikasihani, atau merasa takut pada aura dominan pria ini.
Namun, saat mata mereka bertemu, Clara melihat sesuatu yang lain di balik tatapan laki-laki itu—sebuah perhatian yang kasar, namun sangat nyata.