bc

Gairah Liar Sang Jejaka

book_age18+
2
IKUTI
1K
BACA
forbidden
escape while being pregnant
age gap
fated
opposites attract
friends to lovers
pregnant
arranged marriage
playboy
arrogant
kickass heroine
heir/heiress
blue collar
sweet
bxg
kicking
bold
campus
city
office/work place
childhood crush
disappearance
enimies to lovers
secrets
cruel
affair
friends with benefits
assistant
like
intro-logo
Uraian

Cerita ini mengandung unsur dewasa dan wajib memilih bacaan yang baik sesuai usia.

--------

Clara Adeline ( 19 tahun ) hanya ingin hidup tenang.

Baginya, kebahagiaan sesederhana aroma biji kopi yang ia giling setiap pagi di kafe tempatnya bekerja.

Ia sadar diri, kalau ia hanya gadis miskin yang harus berjuang untuk menutup biaya hidupnya, termasuk membayar sewa kost yang menunggak.

Namun, dunianya yang sunyi mendadak bising oleh kehadiran dua pria kaya yang dikenalnya sebagai pelanggan kopi.

Ada Jack William ( 25 tahun ) putra mahkota keturunan mafia yang membuat orang menunduk saat ia lewat.

Jack tidak pandai berkata-kata, tapi tindakannya bicara lebih keras: ia melunasi sewa kost Clara, memaksa gadis itu pindah ke apartemen yang lebih layak, dan selalu ada di sudut kafe hanya untuk memastikan Clara aman.

Lalu ada Steve Emanuel ( 25 tahun ), anak tunggal kaya raya yang memiliki segalanya, kecuali teman bicara.

Di balik senyum ramahnya, Steve menyimpan kesepian mendalam yang hanya bisa dimengerti oleh ketulusan Clara.

Saat Jack mulai menunjukkan perasaan lebih dari sekadar pelindung—bahkan hampir mencuri sebuah kecupan—Clara justru menarik diri.

Baginya, perhatian mereka hanyalah fatamorgana.

Bagaimana mungkin seorang pewaris organisasi gelap dan pemuda terkaya di kota bisa benar-benar jatuh hati pada gadis yang hanya punya celemek lusuh?

Di antara aroma espresso dan rahasia besar keluarga kaya, Clara harus memilih, melangkah melewati garis kasta yang memisahkan mereka, atau tetap bersembunyi di balik meja kafe sebelum hatinya hancur oleh realita.

"Karena terkadang, pelindung yang paling berbahaya adalah dia yang mencintaimu dalam diam.”

chap-preview
Pratinjau gratis
Bayar Cepat!
Dentang lonceng di atas pintu The Toss Cafe menjadi nada yang menyenangkan bagi kehidupan Clara. Setiap detak jarum jam membawa aroma fajar yang perlahan digantikan oleh wangi kuat biji kopi yang baru digiling. Bagi Clara, kafe kecil di sudut jalan ini bukan sekadar tempat kerja, melainkan tempat berlindung dari tumpukan tagihan yang menanti di kamar kostnya yang sempit. Pagi ini, seperti biasa, Clara sibuk. Jemarinya yang lincah menata biskuit di etalase kaca, memastikan semuanya terlihat menggugah selera sebelum serbuan pelanggan jam berangkat kerja dimulai. Ia baru saja selesai mengelap meja terakhir ketika pintu kafe terbuka. Refleks, Clara menoleh dengan senyum ramah yang sudah menjadi ciri khasnya. "Selamat pagi, sela—" Kalimatnya menggantung di udara. Dua orang pria melangkah masuk. Mereka jelas bukan pelanggan biasa yang mampir dengan kemeja kusut karena dikejar deadline. Keduanya mengenakan pakaian yang, meskipun terlihat santai, memancarkan aura mahal dan berkelas. Pria yang berjalan di depan memiliki perawakan tegap dengan garis rahang yang tegas. Ekspresinya datar, cenderung dingin. Matanya yang gelap memindai sekeliling kafe dengan tatapan yang membuat Clara merasa sedikit terintimidasi, seolah pria itu sedang menilai kelayakan tempat ini. Di belakangnya, seorang pria lain mengekor. Yang ini memiliki tatapan yang lebih hangat. Rambutnya sedikit acak-acakan gaya anak muda kaya yang baru bangun tidur, dan senyum tipis menghiasi wajahnya saat pandangan mereka bertemu dengan Clara. "Dua Americano panas," ujar pria bermata dingin itu, langsung menuju kasir tanpa basa-basi. Suaranya berat dan bernada memerintah, bukan meminta. Clara sedikit tersentak, lalu dengan cepat menguasai diri. Jemarinya menari di atas layar mesin kasir. "Baik. Ada tambahan lain? Pastry kami baru saja matang." Pria itu, yang Clara belum tahu namanya itu hanya menggeleng sekali. Tatapannya beralih dari Clara ke menu di papan tulis, lalu ke sudut kafe yang paling sepi. "Aku mau croissant cokelatnya satu, please," sela teman di belakangnya, pria satunya yang tampak humoris, dengan nada yang jauh lebih bersahabat. Ia mengedipkan sebelah mata pada Clara. "Kelihatannya enak banget." Clara tersenyum tulus kali ini. "Tentu. Croissant cokelat satu. Totalnya empat puluh lima ribu rupiah." Pria dingin itu mengeluarkan dompet kulit yang tampak mahal dan meletakkan selembar uang seratus ribu di atas meja. Tanpa menunggu kembalian atau struk, ia langsung berbalik dan berjalan menuju meja di sudut, tempat yang paling gelap dan jauh dari jendela utama. "Eh, kembaliannya, Tuan?" seru Clara sedikit bingung. Pria humoris tertawa kecil, mengambil baki berisi dua kopi dan croissant yang baru saja disiapkan Clara. "Simpan saja tip-nya. Temanku itu memang sedikit ... terburu-buru dengan waktunya. Terima kasih, ya." Pria itu mengangguk sopan lalu menyusul temannya yang kaku dan dingin tadi ke meja sudut. Clara menatap punggung mereka yang menjauh. Dua pria kaya yang berbeda raut wajahnya ketika bertemu orang, keduanya memiliki sifat yang berbeda menurut pandangannya. ‘Memang orang kaya kadang aneh,’ batinnya. Di meja itu, pria dingin duduk memunggungi ruangan, sementara pria yang tampak humoris duduk menghadap ke luar, tampak asyik mengobrol sendiri sementara satunya hanya mendengarkan sambil menatap kopinya. Ada aura misterius yang kental mengelilingi pria dingin nan tampan itu, sesuatu yang aneh yang tidak bisa Clara jelaskan namun bisa ia rasakan. Sedangkan Steve terasa seperti angin segar yang mencoba mencairkan kebekuan temannya. Clara menggelengkan kepala, mencoba mengusir rasa penasarannya. ‘Mereka cuma pelanggan,’ batinnya. Pelanggan kaya yang memberi tip besar. Ia tersenyum mengingat sisa kembalian yang ada. Ia kembali ke kesibukannya, tapi sesekali, matanya tak urung melirik ke meja sudut itu, tempat dua dunia yang sangat berbeda dari dunianya sedang duduk menikmati kopi pagi mereka. ** Lampu jalanan mulai berkedip saat Clara menyeret langkahnya pulang. Aroma kopi yang menempel di seragamnya kini terasa berat, bercampur dengan rasa lelah yang menjalar hingga ke tulang. Di dalam tasnya, ada amplop berisi tip dari pria kaya tadi—sebuah keberuntungan kecil yang sedikit menghiburnya. Namun, perasaan lega itu menguap seketika saat ia berbelok ke gang sempit menuju rumah kostnya. Di depan pintu kamarnya yang catnya sudah mengelupas, sosok Bu Risma, pemilik kost, sudah berdiri dengan tangan bersedekap. Wajahnya yang ketus adalah pemandangan yang paling ditakuti Clara setiap akhir bulan. Rasanya ingin segera menghindar tapi tidak mungkin. Bu Risma sudah melihatnya pulang dan melihat wajahnya yang mungkin dianggapnya malas untuk dilihatnya. Ah ... ia kesal. Wanita itu tahu saja kalau jam ini adalah jam kepulangan kerjanya.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
236.1K
bc

TERNODA

read
201.4K
bc

Kali kedua

read
221.5K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
2.1K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.4K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.4K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook