Sergeant

2510 Kata
Kanya masih nampak tidak percaya dengan kehadiran Cesa mengenakan seragam doreng yang sekarang sudah pasti dia banggakan. Tanda centang berwarna hitam di bahunya menjadi bukti bahwa dia sudah benar-benar menjadi seorang Sersan dari Angkatan Darat. Mimpinya menjadi seorang tentara terwujud. Kanya terus menatap Cesa yang duduk di samping kanannya di balik kemudi. Sesekali Cesa melirik Kanya, tersenyum kaku kemudian terpaku pada jalanan kota. Seperti mimpi indah di siang bolong bersamaan dengan rindunya yang mencair. “Jangan menatapku seperti itu, Kanya. Aku tahu kamu merindukanku tapi jika kamu terus menatapku seperti itu, membuatku ingin memelukmu sekarang juga dan itu berbahaya,” tegurnya melirik Kanya membuatnya sedikit tersipu.  “Semoga kita tidak terlambat untuk menikmati senja.”  Entah ke mana Cesa akan membawa perempuan itu pergi. Dia bahkan tak mengatakan tujuannya sejak dari SMK. Apa karena tentara itu lekat dengan sikap dingin atau memang Cesa yang enggan berbicara banyak hal? Bahkan diamnya saja sudah membuat Kanya nampak bahagia.  Kurang lebih 45 menit perjalanan ke arah timur Kabupaten Karanganyar, akhirnya mobil berhenti di tepian jalan yang tidak terlalu lebar, di tengah hamparan sawah di ketinggian. Tepatnya di Desa Gentan, Kerjo, Karanganyar. Cantik sekali pemandangan yang Tuhan suguhkan. Bagian kecil dari surganya nusantara. Cesa menggenggam tangan sahabatnya. Tersenyum tipis kemudian membawanya ke tengah-tengah persawahan. Melewati jalan setapak yang hanya dua jengkal saja. Ada satu bangku panjang yang tersedia di sana. Memang destinasi wisata yang sederhana tetapi menampakkan keindahan Indonesia dari sisi yang berbeda. Memang hanya sekadar hamparan sawah yang menghijau, setidaknya dari situlah mereka dapat melihat betapa kayanya alam Indonesia. Yang katanya tongkat batu saja menjadi tanaman. Kanya duduk lebih dulu, sementara Cesa menjauh. Cukup jauh. Dia hanya meminta sahabat perempuannya itu diam di tempat dan meghadap ke arah barat. Benar, Cesa mengambil potret Kanya dari arah belakang. Nampaknya dia ingin memiliki kenangan baru di ponselnya sebelum dia benar-benar jauh dari Kanya untuk waktu yang lama. Entah berapa jepretan yang sudah dia ambil, mungkin sudah ratusan jumlahnya.  Puas mengisi penyimpanan ponselnya, Cesa menyusul Kanya, duduk di samping kanan dengan jarak yang sangat dekat. Hanya satu jengkal ruang tersisa di antara mereka. “Ketemu senja lagi kita, Kan. Setelah tujuh bulan berlalu. Tidak ada senja seindah ini di tempat pendidikanku,” ungkapnya diikuti tangan nakal yang menggenggam jari-jari lentik Kanya.  “Senja masih sama indahnya kok, Cesa. Masih sama jingganya dan yang pasti masih sama menariknya. Seperti kamu yang aku rindukan,” balasnya seolah tak lagi peduli soal gengsi dan lain sebagainya. Kemungkinan Cesa hanya menganggap rindu yang Kanya miliki sebatas kerinduan seorang sahabat, bukan perempuan yang merindukan laki-laki yang dicintainya. Senyum Cesa mengembang. “Aku pelantikan kemarin, maaf tidak memberitahu kamu,” kantanya bernada merasa salah. Giliran Kanya menarik ujung bibirnya, ia tak kecewa. Dibandingkan berita pelantikan sepertinya Kanya lebih suka kehadiran nyata sosok Cesa di sampingnya. “Tidak apa, lagi pula pasti calon istrimu datang. Tidak baik juga kalau aku tahu soal pelantikanmu, datang ke sana dan bertemu dengan calon istrimu.” Sedikit sesak nampaknya.  Cesa menahan tawa. Bibirnya terkatup rapat. “Dia tidak datang Kanya, dia sedang sibuk dengan kuliahnya. Maklumlah anak pinter itu kalau kuliah pasti serius. Memangnya kamu!” ejeknya menjulurkan lidah. “Ya setidaknya kamu jangan bertemu dulu dengannya, Kanya. Meskipun dia selalu diam, tapi aku tahu dia selalu menahan kecemburuan. Kasian dianya,” lanjut Cesa dengan tawa yang aneh. Apakah semua laki-laki selalu sejahat itu? Bercerita dengan ringan tentang perempuan yang dia cintai di depan perempuan yang mencintainya. Akan tetapi, senyum Cesa nampak lain, seolah banyak hal menyenangkan yang dia permainkan saat ini. “Terserah kamu deh!” ketus Kanya. “Aku telah berjanji untuk menjaga negeri ini, Kanya. Sama seperti seseorang yang aku idolakan. Aku sedikit terlambat menyadari keinginanku, seharusnya aku bisa masuk Akmil. Tapi jika aku menyadarinya lebih awal, kemungkinan besar aku tidak mengenalmu. Karena aku sudah pasti memilih sekolah di SMA Taruna Nusantara, itupun kalau diterima. Aku pikir jalanku lebih lurus dari sana,” ungkap Cesa. “Jangan bertanya maksud dari perkataanku, Kanya. Cukup dengarkan saja, aku belum bisa meluruskan luka, jadi aku belum bisa pula mengatakan semuanya secara gamblang sama kamu.” Cesa seakan sudah tahu bahwa Kanya tidak paham dengan perkataannya. Masih sama seperti biasa, keindahan senja berlalu begitu cepat. Azan Magrib juga sudah berkumandang. Waktunya pulang atau Mama akan mencoret nama Kanya Bhakti Mayanetra dari daftar keluarga. Ponselnya juga mati karena kehabisan daya.  Kembali menyusuri jalanan kabupaten Karanganyar, dari jalan raya yang super lebar hingga jalanan desa yang sempit. “Kanya,” panggil Cesa di tengah-tengah perjalanan. “Hemmm,” jawab Kanya yang sedari tadi tak pernah mengalihkan pandangannya pada Cesa. Dia terlalu menikmati kebersamaan, bisa jadi Cesa curiga akan tatapan Kanya itu, dia terlalu mencolok sekarang ini.  “Aku kangen banget sama perempuan yang aku cintai, Kanya. Aku ingin memeluknya tapi tidak bisa. Jadi aku harus bagaimana?” Pertanyaan yang membuat Kanya tak mau menatap lagi laki-laki di sampingnya. “Tinggal datengin rumahnya peluk dia, gitu aja repot!” jawaban dengan nada ketus. “Tetap tidak bisa meski dia ada di hadapanku, Kanya,” keluhnya semakin mengguncang. “Ya sudah tahan saja rasa kangenmu itu!”  Ekspresi Cesa berubah, dia kembali menahan tawanya. Entahlah dia itu sengaja ingin menyiksa Kanya kemudian mentertawakannya atau bagaimana. Dia memang laki-laki yang sulit sekali memahami kode dari perempuan. Matanya tertutup kata persahabatan. “Yang tadi sama Anna siapa, Kan? Pacar barunya? Speertinya sih bukan.” Cesa memecah keheningan yang sempat menerpa beberapa menit. “Bukan, itu Presiden BEM di kampus,” jawab Kanya. “Oh, sepertinya dia suka sama kamu.”  “Jangan sok tahu!” “Hey, aku ini laki-laki sama seperti dia. Tahu mana tatapan yang cemburu dan tatapan yang bingung. Dia menatapmu sangat dalam dan dia menatapku marah saat kamu memelukku tadi,” jelasnya. Dahi Kanya mengernyit. “Tidak semua tatapan laki-laki itu sama, Cesa,” bantah Kanya. “Ah, kamu tidak akan paham, Kanya. Yang paham itu cuma laki-laki.” Cesa juga tidak mau kalah. Cesa bisa memahami tatapan Dava, kenapa dia tidak bisa memahami tatapan Kanya yang sangat dalam, intens, dan penuh cinta? Wah, menyebalkannya dia. “Lebih baik kamu jaga jarak aman dari dia, Kanya!” Cesa sedikit menekan.  Membuat Kanya sedikit bingung. “Memangnya kenapa, Cesa? Hak-ku kan mau deket sama siapapun? Kenapa kamu melarang?”  “Aku tidak melarang, hanya menyarankan lebih baik jaga jarak!” kesal. Lagi-lagi Cesa seolah melambungkan kemudian menjatuhkannya, dia terdengar mengekang tapi kenyataan bahwa mereka hanya sahabat akan menjatuhkan sayap-sayap yang mekar. “Terserahlah, aku juga tidak terlalu suka dekat-dekat dengan Kak Dava!” Menatap keluar, jalanan yang ramai.  “Alhamdulillah,” gumam Cesa jelas sekali. Bahkan Kanya langsung menoleh cepat. “Emm, setidaknya aku tidak terlalu khawatir denganmu nanti, Kanya. Aku hanya mau kamu mendapatkan jodoh yang sesuai nantinya. Aku lihat, emmm, siapa namanya tadi?” “Dava." “Rasanya dia bukan laki-laki yang baik untuk kamu,” lanjutnya sedikit pelan. Sikapnya cukup mencurigakan.  “Lalu yang baik untukku yang seperti apa, Cesa? Bahkan kamu baru bertemu Kak Dava tapi sudah berani menilainya.”  Cesa mengerlingkan kedua bola matanya. “Emmm, ya, yang... Yang baik lah pokoknya. Cuma aku yang tahu,” ungkapnya sedikit gugup. “Aku yang menjalani kenapa jadi cuma kamu yang tahu?”  Bukankah membingungkan? Jika sayang mengapa tak mengatakan saja, jika hanya teman mengapa harus mengekang? “Emmm.” Cesa justru seperti tentara lembek yang tidak bisa apa-apa. Hanya seragamnya saja yang terlihat garang. “Ya, ya sudahlah jangan dibahas. Intinya aku cuma enggak mau kamu terlalu dekat dengan Dava-Dava siapalah itu." Andaikan itu larangan kecemburuan, sayangnya menurut Kanya itu bukanlah kecemburuan. Antara Cesa yang tidak peka terhadap hatinya atau Kanya yang terlanjur kecewa. Mereka tak ubahnya pasangan bodoh yang tidak saling memahami hati masing-masing.  Tak terasa, sudah sampai di depan rumah. Mama dan Bang Raka sudah menunggu, Papa? Jangan tanya, beliau terlalu sibuk ke luar kota. Mama sudah dengan tampang marahnya. Mungkin karena dua sejoli itu pulang terlalu malam. Masih menjelang isya tapi pulang jam segini tanpa pamit itu malapetaka. Kanya menunduk keluar dari mobil Cesa, telinganya belum siap menerima ceramah. “Dari mana saja, Dik? Ditelepon tidak aktif, tidak pamit sebelumnya!” nada Mama meninggi. “Maaf, Tante.” Cesa keluar dari mobilnya lalu mendekat. “Tadi Kanya saya ajak jalan-jalan dulu. Maaf tidak izin dulu sama Tante.” Menunduk merasa bersalah. “Ya Allah, Cesa.” Mama justru berseru terkejut, seolah tak percaya. Langsung mendekati Cesa, menatapnya dari ujung kaki hingga kepala. “Sudah selesai pendidikanmu? Tambah ganteng ya kamu.” Mama merubah mimik wajahnya, berbanding terbalik dengan kemarahannya.  “Keren juga kamu, Bro.” Bang Raka ikut mendekat. Wajah bangga karena teman bermain PES-nya sudah berseragam sekarang. “Masuk yuk!” ajak Mama menggandeng Cesa masuk ke dalam rumah. Meninggalkan putrinya yang merasa dianaktirikan. “Aduh, Tante pangling loh, Cesa.” “Makin ganteng saja loh, Dik.” Bang Raka menggoda adik semata wayangnya di belakang Mama dan Cesa. “Makin sakit hatilah kamu, Dik. Cinta tak terbalas untuk Bapak Tentara,” lanjutnya berbisik-bisik penuh kebahagiaan membuat bibir Kanya manyun sempurna. “Jadi, bagaimana pendidikannya, Cesa? Cerita lah sama Tante.” Mengajak Cesa duduk di sofa. Mama tak lagi peduli dengan kedua anaknya. Cesa tertawa tanpa suara. “Ya, begitulah, Tante. Awalnya berat sih, tapi alhamdulillah lama-lama terbiasa,” jawabnya. “Tidak ada pengalaman seru begitu?” tanya Mama yang sepertinya diselimuti rasa penasaran yang menggunung. “Dulu tuh mantan pacar Tante seorang prajurit, suka dengar dia cerita soal pendidikan atau tugasnya. Yah, dua puluh lima tahun yang lalu terakhir mendengar cerita soal militer. Sekarang boleh lah Tante dengar soal militer dari kamu,” lanjut Mama. “Ingat, Ma. Mantan!” tekan Bang Raka. “Iya, tahu.” Mama tak acuh. “Ayolah ceritakan apa gitu, Cesa!” Laiknya anak kecil yang merajuk. Cesa tersenyum. “Yah, kalau pengalaman menyenangkan sih banyak, Tante. Tapi yang paling berkesan itu waktu kita di suruh survival di hutan bakau. Kita tidur di atas pohon yang tingginya mungkin tiga meter sampai lima meter lah. Waktu tidur masih surut jadi jarak dengan rawa di bawah lumayan. Eh, pas bangunnya tinggal satu jengkal aja, air sudah naik,” ceritanya sembari sesekali tersenyum. Dari bola matanya menceritakan itu kenangan yang paling menyenangkan di antara semua kenangan berat yang dia alami selama di tempat pendidikan. Tiga orang  mendengarkan dengan seksama. Karena yang bercerita juga sedang semangat-semangatnya. Dia bahkan tak sesemangat ini ketika berbicara pada Kanya tadi. “Pagi pagi gitu dibanguninnya enggak diteriakin atau ditimpuk gitu, Tante. Tapi pakai suara hewan, pernah pagi itu pakai suara kambing, suara katak, banyak lah. Dan biasa, Tante, yang namanya orang bangun tidur pasti perenggangan dulu, kan? Eh, ada yang perenggangan belum sepenuhnya sadar dan dia jatuh ke dalam air. Cukup dalam loh itu.” Ditutup dengan tawa.  Mama juga ikut tertawa. “Tapi kasian. Subuh-subuh sudah dapat malapetaka.” “Hanya hal-hal garing seperti itu yang menjadi hiburan kami, Tante. Ponsel juga tidak boleh dibawa. Ya, apalah daya.” Seolah menyimpan banyak hal yang berat. “Tak apalah, demi pengabdian.” Bang Raka nimbrung. Cesa mengangguk. “Tapi pacar bagaimana, Cesa?” Kembali bertanya pada Cesa tetapi yang Bang Raka lirik tak lain adalah adik perempuannya. Menyindir mungkin. Yang ditanya mengangkat kedua alis dan memandang Kanya. “Emmm, just friendship on fire kok, Bang,” jawabnya. “Haha. Tapi calon istri, kan?” Bang Raka semakin menjadi. Mengangguk, tersenyum. “Iya, Bang.” Lantang sekali, semacam rudal menghantam d**a Kanya saat itu juga.  “Yang penting calon istrimu itu sanggup menemani kamu, Cesa. Jangan seperti Tante, tidak betah jika tidak dihubungi. Tahulah, di masa itu tidak ada alat komunikasi secanggih saat ini. Hanya lewat surat, itupun kadang terhambat. Jadi, bertahun-tahun terkadang tidak dihubungi.” Mama kembali curhat tentang masa lalunya. “Dia kuat kan seringkali kamu tinggal atau tidak kamu hubungi, Cesa?” Cesa menatap Kanya singkat. “Entahlah, Tante. Tapi tujuh bulan ini saya rasa semuanya baik-baik saja.” Terdengar antara yakin dan tidak yakin. Pandangannya juga terus bergerak ke arah Kanya sedetik lalu membuangnya ke arah yang lain. “Yah, kalau dia sampai meninggalkan kamu. Ikhlaskan saja, dia bukan wanita yang kuat. Macam Tante ini.”  Tersenyum getir. “Tapi rasanya saya yang tidak kuat tanpa dia, Tante,” balas Cesa. Terdengar begitu berlebihan, tapi perkataan itu seolah menunjukkan bahwa Cesa benar-benar mencintai perempuan yang masih misterius. Apa hebatnya perempuan itu sampai Cesa bisa dikatakan segila ini? Bahkan Kanya yang 3 tahun bersamanya pun tak bisa membuat Cesa jatuh cinta. Bisa dipastikan perempuan itu bukan perempuan biasa. Mungkin cantik sekali bak Raisa Andriana atau sholeha sekali hingga Cesa juga tak mau mengajaknya pacaran. Pada intinya, Kanya kalah saing dari perempuan itu.  “Sepertinya kamu cinta gila sama perempuan itu, Bro.” Bang Raka kembali nimbrung. Sejujurnya itu memperburuk suasana hati Kanya. Senyum Cesa kembali mengembang. “Bisa dikatakan seperti itu, Bang. Entahlah, aku jatuh cinta pada perempuan itu sejak pertama kali mengetahui namanya. Terlalu lebay sih, tapi Tuhan selalu memberi porsi cinta yang berbeda bagi hamba-Nya.” “Aduh, namanya orang jatuh cinta ya begitu, Bang.” Mama menoel Cesa. “Eh, kamu enggak tahu siapa perempuan yang Cesa cintai, Dik?” Sepertinya Bang Raka memang sengaja melakukan ini pada Kanya.  Menggeleng tapi tatapan matanya ingin membunuh sang kakak.  Cesa kembali tersenyum. Senyum yang ini menunjukkan gestur yang tidak biasa. “Yang tahu hanya Papa dan Mama, Bang. Selain itu lebih baik jangan tahu dulu, malu jika nanti tidak berjodoh. Berasa sudah sebar undangan tapi gagal nikah,” jelas Cesa yang sudah menjawab langsung pertanyaan Bang Raka secara tersirat. “Lebih baik begitu, Cesa. Tidak usah pacar-pacaran, diumbar-umbar atau pamer kemesraan di mana-mana. Langsung nikah saja,” nasihat Mama. Mungkin nasihat Mama ini terinspirasi dari pengalaman adalah guru terbaik. Sehingga Mama mampu menasihati orang lain setelah pengalamannya dengan seorang prajurit. “Iya, Tante. Semoga dia enggak ninggalin saya karena merasa digantungkan,” celetuk Cesa. Kehadiran Cesa di tengah-tengah kisah keluarga Kanya memang memberi warna baru yang lebih segar. Bahkan sejak kehadiran pertamanya di rumah sudah langsung memberi dampak pada Mama. Yang tadinya suka cuek pada teman laki-laki Kanya, sekarang jauh lebih ramah. Begitupun Papa yang langsung mempercayai Cesa sebagai teman baik putrinya. Entahlah, Cesa ini memakai jimat macam apa untuk memikat mereka. Setelah banyak sekali pembicaraan yang mereka angkat, juga beberapa hal tentang tentara yang terkuak, malam pun semakin larut tanpa disadari. Cesa harus segera pulang, lebih tepatnya pulang ke rumah neneknya. Tidak mungkin dia pulang ke Semarang larut malam begini. Mereka segera melepas Cesa dengan senyum bahagia, Kanya yang terpaksa bahagia, Bang Raka dan Mama yang benar-benar bahagia. Mereka nampak bangga karena Cesa berhasil menjadi prajurit negara sekarang, tetapi rasa bangga Kanya tekadang diselimuti luka. “Sersanmu itu, Dik,” seloroh Bang Raka menyenggol bahu adiknya. “Dia sudah punya calon istri, Bang. Dia bukan punyaku, jadi berhenti membahas perasaanku sama Cesa!” tekan Kanya kesal. “Tidak apa-apa, Dik. Sekalipun Cesa mencintai perempuan lain saat ini, jika Tuhan mengatakan dia tidak berjodoh dengan perempuan itu, Cesa bisa apa?” Mama ikut nimbrung. Menghela napas panjang. “Jangan membuat Kanya berharap lebih jauh, Ma. Ah, tapi ya sudahlah. Nikmati saja waktu yang tersisa ini bersama Cesa. Besok-besok bakalan susah. Soal perasaan Kanya sama Cesa sudah ada yang mengatur kan, Ma? Biarkan Tuhan  yang mengaturnya, aku hanyalah tokoh yang menjalankan skenario-Nya." Tersenyum getir. “Kamu itu macam tingkat suku bunga, tahu enggak, Dik? Suka naik-turun, naik-turun. Labil!” Mentertawakan adiknya dengan puas.  “Jangan begitu sama Adikmu, Bang,” tegur Mama memukul punggung Bang Raka. Mama merangkul putrinya. “Dia Sersanmu ketika bersamamu, Dik. Biarkan saja hatimu berjalan, toh tidak akan ada yang tahu kemana Tuhan membawa hatimu.”  Mama memang bukan orang tua yang kolot. Bagi Kanya, bahkan beliau adalah teman yang seumuran. Gaul, mengerti sekali soal putra-putrinya, mengikuti perkembangan zaman agar bisa mengimbangi kedua buah hatinya. Beliau memang benar, tidak ada yang tahu ke mana Tuhan membawa hati manusia berlabuh. Kita memang yang merasakan perasaan itu, tetapi Tuhan selalu punya kejutan yang tak mudah dimengerti, yang jelas kejutan itu adalah yang kita butuhkan, bukan apa yang kita mau. Lebih baik fokus saja pada waktu, kesempatan, dan jarak yang masih berbelas kasih pada Kanya dan Cesa. Menikmati belas kasih itu dengan hal yang bisa membuat hari mereka lebih indah, terutama bagi Kanya. Esok, jika negeri ini benar-benar telah memanggil Cesa. Rengekan manja pun tak akan membuatnya pulang. "Sersanku, mari nikmati hari yang indah bersamaku. Menikmati jingga dan hangatnya senja," batin Kanya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN