Siang ini masih berkecimpung dengan puluhan buku tentang informatika. Hari di mana seharusnya Kanya menikmati waktu dengan Cesa justru gagal total karena tugas kuliah di hari pertama. Kemarin harus sibuk ini itu terkait KRS dan lain sebagainya, sekarang sudah masuk saja. Satu bulan libur tidak terasa.
Ponsel di tangan kanan Kanya terus bergetar, sudah pasti itu Cesa. Sayang, Kanya sedang di perpustakaan, membolak-balikkan buku dan tidak mungkin meninggalkan tumpukan buku itu, keluar perpustakaan. Bisa lenyap seketika buku yang telah dia pilih.
“Ponsel lo getar mulu kayanya, pasti Cesa deh, Nyung,” bisik Anna yang memang dipaksa membantu sahabatnya mencari buku, lebih tepatnya sebagai pembawa buku.
Kanya mengangguk cemas.
“Buruan deh, yakinin mana buku yang lo pilih. Sebelum lo benar-benar kehilangan waktu sama dia," bisik Anna lagi. Hanya bisikan saja sudah menerima banyak pandangan sinis dari mahasiswa lain apalagi jika mengobrol sejak tadi. Bisa diusir.
“Ayo!” Kanya menarik Anna untuk segera menuju bagian peminjaman buku.
Kanya dan Anna berlarian menuju tempat parkir setelahnya di depan perpustakaan, namun langkah mereka terhenti saat mendapati Cesa berdiri tegak dengan baju biru dan celana panjang berwarna hitam. Menatap dua sahabatnya sedikit jengkel tetapi ada kelegaan di sana.
“Maaf," ujar Kanya lirih tepat di hadapan Cesa.
“Susah ya kalau sudah punya kesibukan masing-masing,” balas Cesa tersenyum getir.
“Ya udah sih, namanya juga tugas kampus enggak bisa nanti-nanti. Sebelum malas menyerang harus disegerakan.” Anna nimbrung.
“Iya, Anna, iya. Kita makan di warung ayam geprek belakang kampus yuk,” ajak Cesa.
Anna menunjuk dirinya sendiri. “Yakin mau ngajak gue? Enggak ganggu?” Dia butuh kepastian.
Cesa tersenyum. “Tanpa lo tidak lengkap rasanya, An. Kaya enggak ada penyiar radio rusaknya.” Pujian yang penuh dengan ejekan. Tersirat pula.
“Makasih loh, Cesa. Kuy lah kalau begitu,” ajak Anna bahkan mendahului langkah dua sahabatnya. Dia sepertinya sudah sangat lapar, hingga daya pikir dan konsentrasinya menurun derastis. Jarak antara perpustakaan dan tempat ayam geprek cukup jauh tapi dia melangkahkan kaki begitu saja, bukti konsentrasinya menurun.
“Woy!” pekik Cesa yang sejujurnya tak sopan. “Lo yakin mau jalan kaki?” Setelah jarak Anna lebih dari lima meter.
Anna langsung berbalik, menepuk dahinya keras. “Ampun, gue lupa kalau gue bawa motor. Maklumin ya, lama hidup di Korea soalnya. Biasa lah, di sana kan umumnya jalan kaki." Menyombongkan hal yang tak pernah terjadi.
“Bilang aja daya ingatnya sudah menurun karena faktor U, An. Enggak usah gengsi kalau sama kita." Cesa menghancurkan kesombongan Anna membuat Kanya tertawa tanpa suara, sementara Anna memanyunkan bibirnya. “Nah, calon, emmm, gitu kan cantiknya kelihatan,” puji Cesa pada Kanya karena senyum yang memang selalu dia puji manis.
“Makasih loh, Sersan," balasnya semakin tersenyum lebar.
“Uluh!” Cesa sedikit tersipu. Sepertinya memang ada hal besar yang ia sembunyikan.
“Sudah romantismenya? Sebelum gue muntah-muntah dan enggak jadi makan,” seru Anna, antara kesal atau iri.
Cesa tersenyum. “Sudah kok, An. Santailah. Eh, Kanya sama aku ya?”
Kanya dan Anna berboncengan hari ini, itu karena mereka ada jam yang sama. Bukankah lumayan menghemat bahan bakar. Sekaligus melepas rindu mereka yang beberapa hari tidak saling bersua.
“Iyalah, gue kasih waktu buat pasangan yang sama-sama jatuh cinta tapi tidak mau mengakui," celetuk Anna membuat Kanya melempar tatapan mematikan padanya.
Cesa menoleh ke arah Kanya. “Aku sudah punya calon istri kali, An. Jangan sok tahu soal hati kami,” jelasnya membuat jantung Kanya kecewa. Dia dengan mudahnya mengatakan itu sementara Kanya tidak sanggup mendengar. Hatinya memang bukan untuk Kanya, sudah pasti karena Cesa dengan tegas menyatakan kalimat itu. Sungguh menyakitkan ketika kamu menyadari bahwa hatimu jatuh terlalu dalam tanpa balasan.
Sekarang, mata Kanya terasa panas ingin menangis tapi tak bisa di depan Cesa. Ingin berteriak kesal dan pergi tapi tak mau membuang waktu yang tersisa bersama Cesa. Negara sedang memberi belas kasih untuk menikmati sedikit waktu bersama. Dia tidak boleh menyia-nyiakan karena nikmat ini mungkin tak datang dua kali. Esok Cesa pasti sudah sibuk dengan tugas negara dan juga calon istrinya.
Anna menatap sahabat perempuannya diam sejak tadi. Dia pasti tahu apa yang Kanya rasakan. “Kaya lo besok sudah bisa nikah aja!” Itu untuk Cesa, tetapi pandangannya tetap pada Kanya.
“Ya, meskipun harus nunggu sampai Sertu. Tapi aku yakin dia-lah yang akan aku jaga dan mau menungguku, An. Sudahlah, bisa-bisa enggak jadi makan kita." Naik ke atas motornya.
“Jadi Sertu itu kalau kenaikan pangkat reguler masih empat tahunan lagi, Cesa! Bisa mati berdiri tuh perempuan kalau harus nunggu lo selama itu!”
“Memangnya selama itu?” Akhirnya Kanya ikut bersuara. Empat tahun itu waktu yang lama. Bahkan terasa sangat lama bagi Kanya. Empat tahun kemungkinan dia sudah bisa menyelesaikan kuliahnya.
Cesa mengangguk. “Tapi kan kalau dihitung-hitung pas waktunya, Anna. Pas dia bisa menyelesaikan kuliahnya juga.” Sembari memakaikan helm pada Kanya yang masih mematung.
“Ya, kalau calon istri lo lancar, Cesa. Kalau dia molor sampai lima atau enam tahun bagaimana?” Anna kembali bersuara.
“Ya tak apalah, toh aku masih Sertu juga. Lagi pula aku yakin dia tidak akan molor, tak seperti kamu!." Mulai menyalakan mesin motornya.
“Serah lo!” Anna lebih dulu tancap gas.
Sepeda motor mereka sama-sama melaju menuju gerbang belakang kampus. Dari sana, mereka tinggal memilih resto atau warung makan mana yang menyediakan ayam geprek. Kata orang sih, ayam geprek di belakang kampus mereka ebih enak dibandingkan dengan yang lain. Padahal di sana ada puluhan warung makan yang menyediakan ayam geprek.
“Diem amat, Kan," tegur Cesa di tengah perjalanan, menyeberang. “Ada yang salah dari aku atau ucapanku?” terdengar sedikit ragu.
“Tidak." Padahal Kanya sendiri sudah hancur oleh ucapan Cesa. Apalah daya, dia tidak bisa berbuat banyak selain diam dan berbohong.
“Kirain kamu cemburu karena aku bilang sudah punya calon istri," tebalnya.
Dahi Kanya mengernyit. “Tidak, kok. Kenapa pula harus cemburu?” Dunia penuh dengan kepalsuan dan tipu daya memang.
“Ya kirain, Kan. Alhamdulillah kalau kamu tidak cemburu," serunya tanpa merasa berdosa dan bahkan tidak bisa memahami kebohongan sahabatnya. Laki-laki memang begitu, tak mudah mengerti apa yang telah perempuan sampaikan. Kebohongan yang nyata dan bahkan jelas terdengar bohong pun tak bisa dia mengerti.
Kanya tersenyum getir di belakang. Diam seribu bahasa, menikmati lantunan lagu patah hati dalam otaknya. Bergantian dengan lagu cinta yang tersembunyi.
“Aku kepikiran kata-katanya Anna deh, Kan.” Cesa memecah keheningan, bukan keheningan dalam arti nyata. Karena kenyataannya, sangat bising di telinga.
“Kenapa?”
Diam sesaat. “Aku takut perempuan yang aku cintai tidak sanggup menungguku selama itu. Aku takut dia berpaling kelain hati."
“Ya sudah, kaya perempuan cuma dia aja!” celetuk Kanya benar-benar tak terkontrol.
“Kanya?” Sepertinya Cesa sedikit terkejut dengan kalimat itu. “Tapi aku sangat mencintainya, sangat, Kan," tekannya.
“Ya, berilah dia kepastian dari sekarang. Menunggu dengan kepastian lebih baik daripada menunggu tanpa kepastian, Cesa,” saran Kanya geram sendiri di belakang. Sudah hancur begini masih harus memberi saran untuk orang yang dia cintai. Berasa patah dua kali.
Cesa menghela napas. “Tapi kepastian itu bagiku adalah pernikahan, Kanya,” sanggahnya.
“Bukan kepastian soal itu, setidaknya kamu katakan kalau kamu mencintainya dan meminta dia menunggu sampai kamu jadi Sertu. Kepalamu terbentur batu ya waktu pendidikan?" Pertanyaan yang tidak perlu dijawab.
“Aku tidak bisa mengatakannya sekarang, Kanya. Aku takut dia justru menjauhiku,” ungkap Cesa dengan kegelisahannya yang tidak terkontrol.
“Terserah kamu!” ketus Kanya kesal. Melonjak dari motor, mengikuti Anna yang sudah lebih dulu masuk ke dalam warung makan ayam geprek. Meletakkan tubuhnya pada punggung kursi, menghela napas panjang berulang kali.
“Gue bingung sama Cesa, kadang dia nunjukin kalau suka sama lo tapi kadang dia dengan tegas menyangkal itu. Cesa pasti punya kepribadian ganda, Nyung. Eh, tapi kok dia lolos test psikologi ya?” bisik Anna.
“Sudah berulang kali aku bilang, dia tidak suka padaku, An. Kamu saja yang terlalu percaya diri," balas Kanya tepat saat Cesa duduk di samping kanannya.
Cesa menatap dua sahabatnya bergantian. Terkesan aneh karena Anna dan Kanya langsung terdiam saat dia datang. “Ngomongin aku ya?”
“Percaya diri amat!” bantah Kanya pergi memesan makanan.
Selebihnya mereka bertiga lebih banyak diam. Tak ada yang mau berbicara atau memulai pembicaraan. Bahkan hingga makanan di hadapan mereka ludes tak tersisa. Mereka juga sibuk dengan ponsel masing-masing meski hanya membuka tutup menu. Tidak, sepertinya Kanya mencari kesibukan dengan memainkan gim Farm Heroes Saga. Jika terus begini dan tidak ada yang memulai pembicaraan, bisa-bisa mereka tidak pulang. Sekadar membayar pun tidak ada yang angkat kaki ataupun angkat bicara. Semua menjadi dingin dan dikuasai ponsel.
"Jadi, ditugaskan di mana, Cesa?” Pada akhirnya Kanya membuka suara lebih dulu.
Anna dan Cesa saling memandang, meletakkan ponsel mereka di samping kanan masing-masing. Kemudian mereka tertawa bersama-sama. Macam mentertawakan Kanya yang melakukan kesalahan, tapi entah di mana letak salahnya.
“Lo tuh awam banget ya soal militer, Nyung?” Anna lebih dulu menanggapi.
“Aku masih harus menjalani pendidikan kecabangan, Kanya," jelas Cesa.
Sekarang Kanya tahu di mana letak kesalahannya dan kenapa mereka mentertawakannya. Maklum sajalah, Kanya bukan orang militer dan bahkan bukan dari keluarga militer. Yang Kanya tahu soal militer hanyalah seragamnya, tugas mereka mengamankan negara, dan beberapa masalah pembelian alutsista. Selebihnya, dia tak paham. Soal pangkat, kalau bukan Cesa yang bercerita dia tidak akan paham. Bahkan dia masih bingung ketentuan pangkat Tamtama, Bintara, dan Perwira.
“Masuk kecabangan mana lo?” tanya Anna yang memang jauh lebih paham soal militer. Mantan pacarnya yang terakhir adalah seorang prajurit dari Angkatan Udara. Sayang hubungan mereka kandas karena prajurit itu berselingkuh dengan seorang Wara. Apalah daya Anna yang hanya seorang mahasiswi FKIP.
“Infanteri,” jawab Cesa. Kata yang sangat-sangat asing bagi Kanya. Bukannya tentara itu hanya ada Angkatan Darat, Angkatan Udara dan Angkatan Laut. Lalu Infanteri itu bagaimana?
“Berarti habis ini pendidikan di Dodiklatpur Klaten?” Anna bertanya.
Cesa hanya menjawab dengan anggukan.
“Deket lah, kalau IB atau pesiar bisa pulang ke Karanganyar,” lanjut Anna. Klaten memang dekat, masih satu Karesidenan. Satu setengah jam perjalanan.
“Infanteri apaan? IB?” tanya Kanya.
“Infateri itu kecabangan yang masuk dalam satuan tempur Angkatan Darat, Kanya. Intinya begitu dan IB itu Izin Bermalam hampir sama dengan pesiar. Paham?” jelas Cesa dengan sabarnya yang terpaksa.
Manggut-manggut. “Sedikit paham.” Anna masih mentertawakan sahabatnya.
“Sepertinya aku harus memberimu les privat mulai dari sekarang, Kan. Jangan sampai kelak ditanya soal militer tak tahu apa-apa,” sahut Cesa.
“Memangnya siapa yang mau bertanya soal militer pada Kanya? Kecuali komandan tempatmu bertugas yang banyak nanya kalau kalian pengajuan nikah,” celetuk Anna.
Kanya mengangkat dahi sementara Cesa tertawa.
“Kalau pengajuan itu aku dan calon istriku, bukan dengan sahabatku, Anna!” kalimat Cesa menyentak hati Kanya sekali lagi. “Siapa tahu ada yang tanya soal militer sama Kanya atau bisa jadi nantinya suami Kanya itu prajurit juga."
Cesa memang tak berperikemanusiaan, menyakiti hati sahabatnya dengan begitu mudahnya. Dia tak pernah sadar siapa yang paling terluka atas ucapannya. Lagipula, kenapa masih terus mencintai Cesa meski tahu betul keadaannya? Ah, cinta memang tidak bisa dijalankan dan dihentikan sesukanya. Ada proses yang tidak bisa diatur, bukan?
“Tidak akan ada yang bertanya soal militer padaku, lagi pula aku tidak mau memiliki suami seorang tentara. Mereka hanya bisa menyakiti, meminta menunggu dan pada akhirnya tanpa pernah sadar mereka sedang membunuh perasaanku," ujar Kanya.
“Prajurit itu menjaga kehormatan wanita. Mana mungkin membunuh perasaanmu?” Cesa nampaknya sedikit tidak terima.
“Omong kosong, Cesa!” Anna sepertinya satu pendapat dengan Kanya. “Jika memang prajurit itu menjaga kehormatan wanita, adik kelas kita tidak akan hamil di luar nikah dengan seorang prajurit, aku tidak akan diduakan seorang prajurit dan tentunya, Kanya tidak akan disakiti oleh seorang prajurit!”
“Yang sama adik kelas kita itu katakan saja dia oknum yang lagi khil...”
“Kalau semua prajurit menghamili anak orang kemudian bilang bahwa mereka khilaf dan urusan selesai, sama saja, di mana letak kalian bisa menjaga kehormatan kami?” Anna bahkan sudah mengeluarkan otot-otot lehernya.
“Kami juga punya hukum di militer, Anna, Dia pasti sudah terkena hukum militer. Orang tua adik kelas kita itu juga tidak terima karena dia enggan bertanggungjawab dan melaporkan masalah itu ke polisi. Itu setahuku. Menjaga kehormatan wanita itu sumpah kami yang tidak bisa kami langgar." Cesa juga ikut emosional dalam penjelasannya.
Anna tersenyum jahat.
“Jika ada salah satu dari kami yang melanggar, katakan saja dia telah melanggar sumpahnya sebagai prajurit!” lanjut Cesa dengan tegas melindungi nama baik instansinya.
“Hah, bisa aku katakan hampir semuanya melanggar sumpah prajurit.” Anna masih tetap tidak terima. Dia memang terkadang suka emosi sendiri ketika membahas soal prajurit dan perempuan. Membahas Cesa yang seorang prajurit pun terkadang dia sedikit emosional, masih bisa sedikit lebih baik karena Cesa adalah sahabatnya. Hal ini terjadi sejak dia diduakan oleh prajurit Angkatan Udara dari Lanud Adi Soemarmo.
“Tidak semua, Anna. Kenyataannya aku tidak begitu.” Perdebatan ini akan sangat panjang jika tidak ada yang mengalah atau menghentikan mereka.
“Kamu saja yang tidak sadar sedang menyakiti perempuan, Cesa.” Anna semakin ngawur saja dalam menyampaikan kalimatnya. Bisa-bisa dia membocorkan rahasia Kanya pada Cesa.
“Sudahlah, Anna. Bisa-bisa kamu dipenjara atas tuduhan pencemaran nama baik. Lagi musim tuh. Dan kamu Cesa, jangan menutup mata bahwa prajuritmu juga tidak semuanya menaati sumpah mereka. Lebih baik kita pulang." Mengangkat tas lebih dulu, melangkah ke meja kasir dan tak lagi mengatakan apapun.
Kanya tak lagi peduli Cesa dan Anna masih berdebat atau sudah menyelesaikan perdebatan mereka. Sudah bukan waktunya mempermasalahkan hal semacam itu.
“Prajurit mana yang menyakiti kamu, Kan? Kamu tidak pernah cerita soal itu.” Cesa angkat bicara di tengah perjalanan pulang ke Karanganyar.
Diam sejenak. “Tidak ada." Untuk kesekian kalinya dunia mengajarkan kebohongan.
“Tapi tadi Anna...”
“Jangan dengarkan Anna, Cesa. Dia hanya berbicara omong kosong saja.” Sebelum Cesa semakin ingin tahu. Kebohongan yang satu akan menutupi kebohongan yang lain, pepatah sederhana itu tidak pernah berubah.
“Aku tidak tahu kalau kamu dekat juga dengan seorang prajurit. Jika sampai dia menyakitimu lebih jauh, aku pastikan sangkurku nanti melayang bebas ke arahnya.” Terdengar kejam.
Tertawa kecil sambil berpikir Cesa akan membunuh dirinya sendiri. “Aku tidak sedang dekat dengan seorang prajurit, Cesa. Hanya ada tiga prajurit yang aku kenal, Kamu, mantannya Anna dan Sertu Prapto," jelasnya. Sertu Prapto adalah pelatih Paskibra Kabupaten yang sudah sangat terkenal dikalangan para penggiat ekstrakulikuler PASKI, salah satu prajurit di Kodim 0727/Karanganyar.
“Kamu tidak berbohong kan?”
Menggeleng, padahal Cesa juga tidak bisa melihat gelengan kepala. “Tidak."
“Lega rasanya,” gumamnya yang terdengar samar di telinga, samar karena angin berhembus terlalu kencang. “Kita berhenti dimana gitu ya, Kan? Ada yang harus aku bicarakan sama kamu” tawar Cesa.
“Iya.”
Motor yang mereka kendarai berbelok ke arah kanan. Tepat di mana alun-alun kota berada, jantung kota Karaganyar. Di tengah-tengah Taman Air Mancur dan Monumen Kasih Sayang Ibu. Diam sejenak setelah mesin motor mati sempurna.
“Aku masih pendidikan tiga bulan lagi, kamu tidak apa-apa kan?” Sebagai pembuka pembicaraan tanpa Anna. Dia sudah melaju kencang meninggalkan dua sahabatnya. Anna memang sahabat paling pengertian.
“Tidak masalah. Yang menjalani pendidikan kan kamu, Cesa. Seharusnya aku yang tanya kamu tidak apa-apa."
“Ya, nanti bakalan tidak ada kabar lagi. Memang sih tidak selama Diktuk, ada beberapa saat kami bisa pegang ponsel atau bahkan IB. Tapi aku takut kamu sudah tidak sanggup lama menunggu kabar dariku,” jelasnya.
“Santai lah. Tidak kamu kabari selama tujuh bulan saja sanggup, masa tiga bulan doang enggak sanggup," kata Kanya angkuh. Padahal selama tujuh bulan itu dia hampir gila karena menyesuaikan diri dengan kata menunggu. Sekarang harus tiga bulan lagi? Mungkin otaknya akan semakin mendidih dan perlu penanganan psikolog ternama. Tetapi optimis akan kuat dan baik-baik saja itu mempengaruhi kondisinya selanjutnya. Kata orang-orang kan begitu, penyakit itu mulanya dari pikiran yang selalu berpikir yang tidak-tidak.
“Aku tahu kamu kuat menungguku." Tersenyum tipis.
“Enak ya kamu, banyak perempuan yang menunggu,” seloroh Kanya.
“Hanya kamu dan calon istriku,” balasnya menyentak hati untuk ketiga kalinya. Hancur sudah, macam kaca yang dilempar ke jalanan kemudian terinjak oleh truk besar, menjadi sebuah debu dan tertiup angin entah kemana.
Senyum pilu mengembang. Memangnya apa yang bisa dilakukan selain berbohong? Jujur? Bisa, tapi tak akan baik sama seperti sekarang ini.
“Oh iya, selama aku jauh dari kamu. Akan ada seseorang yang mencarimu,” katanya. “Sementara menggantikanku."
Cesa ini bodoh atau bagaimana? Memangnya siapa yang bisa menggantikan Cesa, bahkan hanya sementara-pun tidak ada yang bisa. Arti Cesa bagi Kanya tidak akan terganti. Bahkan Valdo yang terang-terangan menyatakan perasannya pun tidak membuat Kanya goyah sedikitpun. Entah sebagai sahabat atau sebagai laki-laki yang dicintai, tak ada yang bisa menggantikan Cesa.
“Dia sahabat masa kecilku di Semarang, satu tahun lebih tua dariku. Dia calon Perwira," jelasnya bahkan tidak ada yang meminta. “Taruna Akmil, jika sedang pesiar dia pasti berusaha untuk menemuimu. Aku yang meminta dia, untuk memastikan kamu baik-baik saja selama aku tidak ada. Entah waktu pendidikan Infateri atau nanti waktu aku ditugaskan jauh dari sini," lanjutnya begitu serius.
“Ada Anna yang siap menjagaku dan jangan lupa, ada Bang Raka juga yang selalu melindungiku."
“Bukan aku tidak percaya dengan mereka, tetapi aku akan lebih tenang mendengar kabarmu dari sahabatku," jelas Cesa.
“Aku ini hanya sahabatmu, Cesa. Tak perlu juga mengirim seorang Taruna untuk menemuiku, menjagaku atau yang lain sebagainya. Bukannya Akmil itu di Magelang, ya? Kamu enggak kasian sama dia, setiap bisa pesiar harus bolak-balik Magelang-Karanganyar. Biarkan dia menikmati waktu bebasnya, aku bisa jaga diri sendiri kok. Percayalah!”
“Tapi dia sudah menyetujui itu. Memang bukan sebuah janji yang harus dia tepati setiap pesiar, semaunya saja. Yang pasti sesekali dia pasti mengunjungi kamu, aku bilang sekarang biar kamu enggak kaget tiba-tiba ada Taruna yang menemuimu,” jelasnya lagi.
“Kamu tidak pernah bercerita soal sahabatmu itu?”
“Maaf, ada kisah yang tidak aku sukai dari persahabatan itu. Tapi semuanya sudah berlalu, aku baru berani mengatakannya sekarang. Namanya Sada, dia baik, perhatian, meskipun terkadang sedikit usil” Seperti perempuan yang sedang memuji seorang laki-laki. Tetapi itu seolah tanda bahwa persahabatan mereka benar-benar sudah jauh dan dalam.
“Sada.” Kanya mengulangi namanya pelan.
“Iya, ingat-ingat namanya. Jangan galak-galak sama dia," selorohnya menahan tawa.
Kanya manggut-manggut saja.
“Dia juga yang akan menjaga calon istriku, Kanya. Dia yang akan memastikan apakah perempuan yang aku cintai sanggup menungguku selama empat tahun lebih," ungkapnya. “Ada kekhawatiran perempuan yang aku cintai justru berpaling padanya, tetapi ini ujianku untuk perempuan itu. Apa dia tetap mencintaiku meski ada orang lain atau memang dia sanggup bertahan hingga aku melamarnya?"
Ini semacam reality show tentang ujian cinta. Cesa memang ada benarnya menguji cinta perempuan yang dia agungkan itu. Sekarang ini bahkan Kanya berharap ujian cinta itu gagal, berharap agar perempuan itu berpaling dan dia yang bisa menggantikan posisinya. Pikiran jahatnya timbul begitu saja. Terkadang cinta memang membuat kita terkesan jahat meski tak melakukan apapun.
“Ah, lupakan soal Sada dan perempuan yang aku cintai. Waktu kita semakin singkat. Aku mau pamit sekalian karena besok sudah harus berangkat ke Dodiklatpur Klaten. Aku usahakan untuk selalu datang kemari ketika ada kesempatan, jadi tunggu aku kembali."
“Selamat menempuh pendidikan kecabangan, Sersan. Semoga tak lupa arah jalan untuk pulang." Menahan sesak.
“Aku tidak akan pernah lupa ke mana aku harus pulang, Karanganyar dan Ungaran adalah rumah terbaik untukku." Menggenggam tangan Kanya dan memberinya sentuhan lembut.
Baru juga berapa hari bertemu, menikmati indahnya Karanganyar dan ramainya Surakarta. Sekarang sudah harus berpisah lagi dan lagi. Kerinduan bahkan belum menemui titik temu untuk menyembuhkan dirinya. Serumit itu mengenal seorang tentara, datang sebentar dan pergi untuk waktu yang lama. Seolah hanya pelabuhan kapal pesiar yang disinggahi untuk satu dua hari sementara berbulan-bulan ditinggal berlayar di tengah lautan. Semacam pelangi juga yang datang hanya untuk beberapa menit, selebihnya harus menanti gerimis agar dia mau datang kembali. Butuh waktu yang lama pula. Semacam senja yang datang hanya di sore hari. Untuk menikmatinya harus menunggu kembali.