Keberangkatan Cua, Dani dan Hartono ke Jogja....
Sudah hampir beberapa bulan Cua meniti kariernya sebagai team promosi di perusahaan Hartono.
Kedekatan Cua dan Dani makin intens, walau lebih sering ribut. Kehadiran Cua dalam kehidupan Dani, merubah sudut pandang Dani menjadi wanita sangat sederhana, terus berkerja, menyelesaikan kuliah sesuai jadwal.
Target yang diberikan Hartono juga mendekati 2,5 milyar.
Sesuai keinginan Hartono, jujur Hartono salut pada Cua dan Dani, mampu memberi yang terbaik untuk perusahaannya, tapi tidak dengan kecemburuan Dani terhadap Cua karena kedekatannya pada Randy.
Randy memberi warna yang berbeda bagi Cua.
Sebenarnya Dani tidak marah pada Cua untuk dekat dengan Randy, tapi ada perasaan tidak nyaman jika Cua dekat dengan siapapun.
Bukan Randy saja. Ntah perasaan apa itu. Hanya Dani yang tau.
"Om... Kita ketemu om Tio dimana?" tanya Cua saat turun dari pesawat.
"Kamu hubungi Randy, katakan kita sudah di Jogja." perintah Hartono.
"Jangan, biar gue aja yang hubungi Randy." tolak Dani, merogoh hp dari kantong jacketnya.
Panggilan tersambung.
"Ran... Gue udah di Jogja." tegas Dani.
"Lo bareng Cua?" kekeh Randy.
"Hmmm...." sinis Dani merangkul tubuh Cua yang imut.
"Gue di kantor, langsung ke kantor aja. Oke darling, see you."
Randy menutup sambungan telfonnya.
"Hmmmm..." Dani menghela nafas panjang.
"Kamu kenapa?" tanya Cua penasaran.
"Nggak apa-apa, kita langsung ke kantor om Tio aja pi." jelas Dani mengikuti langkah Hartono sambil terus merangkul tubuh Cua.
Dalam perjalanan Cua menghubungi temannya Hery melalui pesan singkat wa.
Hery anak pulau memilih kuliah di Jogja.
Cua : "aku di Jogja."
Hery : "ketemu dimana? Kamu nginap dimana?"
Cua : "nanti aku kabarin aku dimana, kalau sudah selesai urusanku kita jumpa, oke."
Hery : "oke."
"Lo hubungi siapa?" tanya Dani sedikit kepo ala-ala abege.
"Temen aku waktu SMA." senyum Cua.
"Cowok?" tanya Dani lagi.
"Iya." Cua terkekeh.
"Jangan buat gue marah yah." sinis Dani.
"Heeeeeh..." wajah Cua berubah seketika, rasa tidak suka dengan sikap Dani yang sangat terlalu menurutnya.
'Gue normal kali... Iiiiigh.' batin Cua geram.
Saat tiba di kantor Tio, Randy menyambut Hartono, Dani dan Cua sangat hangat, apalagi saat bersalaman dengan Cua, sangat lama, sengaja membuat Dani geram.
"Udah deh... lepasin, jangan lama-lama." sinis Dani.
"Dari dulu kalian kayak tom and jery yah." kekeh Tio menatap Hartono.
"Apa kita nikahkan saja anak-anak kita Tio." kekeh Hartono
merangkul bahu Tio.
"Lebih baik begitu." kedua sahabat lama ini saling terbahak menatap tingkah anak-anak mereka.
"Papi..." rengek Dani memukul geram lengan Hartono.
Mata Cua menatap Dani dan Randy.
'Biar lebih aman, bagus di nikahkan.' Cua membatin.
Hartono dan Tio makin suka menggoda putrinya.
"Umur ku masih 19 yah Pi, masih panjang dan aku masih sangat muda." geram Dani meremas lengan Hartono seraya berbisik menegaskan dia tidak mau menikah muda.
"Hmmm...."
Hartono mencium puncak kepala putrinya.
Memasuki ruangan Tio.
Randy terkekeh melihat salah tingkahnya Dani.
Bagi Randy, Dani adalah penggemar beratnya dari dulu, dari masa SMA.
Masa yang tidak pernah dia lupakan.
Saat dia mencium pipi Dani di awal sekolah, karena ciuman itu Dani memilih pindah ke London, saat mengetahui status hubungan Randy memacari Luna.
Dani merasa Randy mempermainkan perasaannya.
'Jika memang tidak suka, kenapa memperlakukan dia seperti menyukainya.' kata-kata itu yang terus terngiang di telinga Randy.
Apalagi masa itu, masa transisi Dani pulih dari kekecewaan pada kedua orang tuanya.
Sangat membingungkan masa itu. Masa-masa cinta SMA.
**Nanti kita akan flashback hubungan Randy dan Dani.**
Diruangan Tio, mereka membicarakan metode kerja sama bisnis mereka.
Cua dan Dani membuat Hartono kagum, untuk persentasi mereka.
"Bagaimana Tio? kita lanjutkan?" tanya Hartono sambil membuka kancing kemejanya.
"Lanjutkan saja, saya setuju perencanaan kalian, masa transisi saya selaku partner hanya cukup 6 bulan, selanjutnya saya serahkan kepada management kamu."
Tio mengulurkan tangan pada Hartono, semoga kerja sama mereka berjalan lancar.
"Kita makan siang di restorant yang sudah saya reservasi. Kebetulan Nyonya, membuka makanan khas Jogja di Sleman."
Tio menghubungi istrinya, agar mempersiapkan tempat untuk Hartono dan anak-anak mereka.
Cua menatap Randy yang terus menggodanya.
Memainkan rambut, merebut pulpen yang ada di tangannya.
"Sana aaaagh... jangan gangguin aku, duduk sana deket Papa kamu." bisik Cua pada Randy dengan wajah jutek.
Dani hanya melirik gerak gerik godaan Randy pada Cua.
"Galak amat, anak perawan galak-galak ntar masuk got lhoo." goda Randy sambil berbisik.
"Heeeeemm... biarin." ejek Cua.
"Kalian nggak akan terlibat cinta segitiga lagi kan?" sindir Tio menatap Dani dan Cua, kerena melihat anaknya sangat intens saling menggoda kesal.
"Haaaaah... nggak om, mas Randy emang suka banget isengin saya." kesel Cua melapor pada Tio.
"Jangan terlalu kesal, nanti cinta lhoo." kekeh Tio menatap Hartono.
"Ehmm... hmmm... no coment om." Cua berpindah ke sofa dihadapan Dani dan Randy.
Berdekatan dengan Hartono.
Tio tersenyum melihat tingkah Cua yang salah tingkah.
"Ran... bawa keruangan kamu. Papi mau ngobrol serius sama om Hartono." tegas Tio.
"Oke pi, yoook... kita ke ruangan gue aja." Randy menarik kedua tangan anak perawan yang sangat menarik perhatiannya akhir-akhir ini.
Saat tiba diruangan, Cua mendengus kesal.
"Kamu tu emang begitu sama Papa kamu?" kesal Cua.
"Ya iyalah, emang kenapa?" kaget Randy akan sikap Cua.
Dani tersenyum melihat Cua yang tiba-tiba serba salah diperlakukan mesra oleh pria di depan orang tua.
"Kita tuh yah, nggak begitu terlalu jaim sama orang tua, yang penting kita menghormati mereka, emang salah?" jelas Randy pada Cua.
"Yaaaah... hmmm, terserah deh, nggak ngerti aku." cemberut Cua duduk di sofa bepangku tangan.
"Heiii... kamu makin cantik ngambek begini." goda Randy.
Mata Dani membulat seketika.
Melihat Randy tengah bersimpuh dihadapan Cua.
"Ehem... gue keluar yah, nggak enak mata gue." sindir Dani.
"Naaaah... lo kenapa lagi?"
Randy menghampiri Dani, menahan tangannya agar tidak keluar dari ruangan.
Jujur Randy juga bingung pada perasaannya saat ini.
Dia ingin menganggap Dani sebagai sahabat, tapi tidak bisa dilakukan karena pemikiran Dani sangat berbeda.
Randy tidak ingin Dani kecewa kedua kalinya.***