Suasana...
Diketahui oleh teman kampusnya, Dani adalah gadis biasa, yang broken.
Sesungguhnya teman-teman Dani tidak tahu, bahwa Dani adalah gadisnya Hartono salah satu donatur terbesar kampusnya.
"Kamu disini aja?" tanya Cua kaget melihat Dani bermain game.
"Emang mau dimana lagi? ada tempat lain kah?" kekeh Dani.
"Lapeeer..." isak Cua.
Kepulangan Cua dan Dani dari Bandung membuat hubungan Cua dan Dani makin membaik.
Cua mulai terlihat nyaman atas perhatian dan kebaikan Dani.
Tanser juga memperlakukan Dani dengan sangat baik.
Dani sangat pandai membawa diri kekeluarga Cua.
Pengenalan pertama Dani dan keluarga Cua, diawali dengan kesombongan Dani memperkenalkan diri sebagai donatur terbesar kampus, dan Tanser mengetahui Hartono Wijaya Sukoco.
Tanser mengikuti perkembangan hotel milik Hartono.
Melalui tabloit kampus Tanser mengetahui semua tentang Hartono pengusaha sukses dibidang perhotelan.
Tanser malah ingin magang di salah satu Hotel berbintang milik Hartono.
Dani tersenyum, hingga Mama Cua yakin, bahwa Dani adalah gadis yang baik.
Tanser bertanya pada Dani, apakah Dani anak Hartono?
Dani memberi jawaban tidak masuk akal, yaitu dengan kata-kata keponakan Hartono.
Mata Cua membulat, karena Dani dari awal sudah mengerti maksud Tanser.
Dani tidak ingin membantu siapapun untuk masuk kekeluarganya dengan mudah, berbeda dengan Cua.
Faktor keberuntungan.
Cua memang tidak pintar dalam study, tapi beruntung dalam mengubah hidupnya.
Cua terlalu polos, pada siapapun, tidak mau tau bagaimana orang akan berniat baik atau jahat padanya.
Dalam berteman Cua hanya menjalani saja.
Dani bergegas membawa Cua kesalah satu restoran.
Randy telah menunggu direstoran tersebut.
"Heiiii... lo dari tadi disini?" sapa Dani pada Randy saling memeluk.
"Nggak, baru sampai gue lima menit lalu."
Randy meminta agar Cua dan Dani duduk didekatnya.
"Ciiiieee... udah jadian kalian?" goda Randy sambil melirik Cua dan Dani.
Dani menimpuk Randy dengan buku menu.
"Enak aja, Cua memang udah tinggal diapartmen gue, tapi gue tinggal sama mami yah." jelas Dani geram.
"Sory... gue kemaren nggak jadi nemanin kalian ke Bandung karena urgent, Papa dateng dari Jogja mau ketemu Papi kamu padahal kita udah janjian, tapi gue nggak datang, maaf banget." Randy memohon pada Dani dan Cua.
"Lain kali telfon tu diangkat mas Randy, jadi kita nggak nunggu dan kepikiran." tegas Cua.
"Ciiiieeee... kalian mikirin gue?" kekeh Randy senang.
"Hmmmm.... geer banget seeeh lo." geram Dani.
"Nginep dimana di Bandung Dan?" Randy kepo.
"Dago, rencana mau ke Lembang, tapi mama Cua buru-buru, nggak bisa lama, hanya memastikan Tanser brother Cua baik-baik saja, dia baru keluar dari rumah sakit." jelas Dani.
"Abang lo sakit Cua? Sakit apa?" tanya Randy penasaran.
"Hmmmm... nggak tau, males juga nanya-nanya."
Cua memalingkan wajahnya, ada sedikit kekecewaan pada Tanser, tapi sudahlah batinnya.
"Kalau dibandung tuh lebih hati-hati, apalagi kampus. Banyak gigolo." bisik Randy.
"Apaan siih lo." pukul Dani pada lengan Randy.
"Serius gue sayang." Randy menatap Cua dan Dani secara bergantian.
"Sayang... sayang... gue baper nih..." kekeh Dani.
"Ck... udah aaagh... jangan bahas itu." tunduk Cua memalingkan wajah dari Dani dan Randy.
"Tenang, gue akan bantu lo." senyum Dani menenangkan Cua.
Semenjak pertemuan Dani dengan Tanser, Dani telah mengirim orang suruhannya, agar memberi informasi apa saja kegiatan Tanser selama di Bandung, dan apa penyebab Tanser di rawat di Baromeos Bandung.
Tatapan Tanser sangat berbeda, wajah juga tidak segar, usia hanya beda 3 tahun, tapi wajah tua.hehehe...
"Hmmm... Cua... lo diapartmen Dani? malam ini gue nginap disana yah?" wajah Randy serius seketika tanpa ada perasaan berdosa.
"Haaaah... kamu nginep ama aku? nggak aaaagh... ntar apa kata tetangga, lagian aku nggak kenal kamu, keluarga kamu, tiba-tiba nginap, ogah." tegas Cua.
Mata Dani dan Randy saling tatap.
"Mana ada tetangga yang peduli disana?" kesal Randy meyakinkan Cua.
"Gue sahabat Dani, kamar ada dua kan? lagian gue dulu sering nginap disana." tambah Randy membela diri.
"OGAH."
Cua menegaskan lagi.
Dani tersenyum memandang kedua insan ini.
"Lo tu yah Ran... dia ini anak abege yang baik, nggak neko-neko, masih polos banget, dia hanya mau nginepin Angga doang." kekeh Dani menyindir.
"Iiiiigh... kamu yah, Angga tuh cuma sekali nginap di tempat ku, itu pun karena Laras pengen bertemu, mereka ngobrol serius banget, aku nggak ngerti. Laras pake nangis-nangis segala." bisik Cua menjelaskan.
"Hmmmm... temen lo udah nggak suci lagi kan?" kekeh Dani.
"Maksud kamu?" tanya Cua penasaran.
"Yaaaah... nanti lo tau sendiri." tambah Dani.
Cua makin bingung akan ucapan Dani.
Randy hanya menatap Dani penuh penasaran.
'Kenapa Dani tiba-tiba over protektif pada Cua? Why...???' batin Randy.
"Whatever..." bisik Cua jutek.
Dani, Randy hanya terkekeh saling tatap.***