Randy atau Hery...
Dani menatap lekat pada Cua saat mereka berada diruangan.
"Cua, Hery tuh setia nggak yah?"
tanya Dani penasaran.
Cua menaikkan satu alisnya, menatap sahabat anehnya.
"Setia seeh, setiap tikungan ada."
kekehnya.
"Ck, serius gue!"
geram Dani.
"Aku nggak tau Dani, karena aku nggak pernah pacaran sama dia."
Cua terus menggoda Dani.
Perlahan,
Dani mulai membuka hatinya, menuruti saran Randy, saat mereka ngobrol berdua beberapa bulan lalu.
Bagi Randy, sebagai sahabat harus menasehati, menjaga, dan menyayangi sahabat.
Randy menuruti permintaan Dani untuk memperkerjakan Hery, membantunya mengurus semua keperluan mereka.
Bagaimanapun putra daerah masih polos, dibanding putra ibu kota.
Drrrt, drrrt..
'Lingga!' batin Cua.
"Ya Lingga."
"Kau ada waktu? aku kebetulan lewat kampus kau, kita ngobrol yuk! bisa?"
tanya Lingga berharap.
"Hmmm, aku lagi dikantor, bagaimana kita makan di resto kantor aja? kau kesini pake taxi online, nanti aku bayarin. Aku traktir sahabat ku."
pujuk Cua.
"Kantor kau dimana?"
tanya Lingga.
"Aku sharelok, nanti aku tunggu di resto lantai dua. Minta antar security aja."
Lingga setuju, Cua tersenyum lega menutup telfonnya.
Menghela nafas panjang.
"Siapa?"
tanya Dani polos.
"Lingga, sahabat aku."
jawab Cua tersenyum.
"Pacarnya Angga bukan?"
Pertanyaan Dani membuat Cua penasaran.
"Emang mereka pacara?"
Cua makin penasaran.
Dani menyandarkan tubuhnya disandaran kursi.
"Seingat gue, cewek itu dibawa Angga ke club, seminggu sebelum gue ketemu lo. Seingat gue yah."
senyum Dani menjelaskan.
"Hmmm."
Cua mengangguk berusaha flashback,
"kita makan diresto?"
ajak Cua.
"Boleh, catring gue cansel yah?"
ucap Dani menerima tangan Cua sudah ada dihadapannya.
"Iya, Lingga itu sahabat aku, nggak mau dia terlalu lama menunggu."
senyum Cua.
Saat menuju lift, Dani dan Cua dikejutkan dengan kehadiran Randy dan Hery.
"Bukannya kalian udah balik ke Jogja?" kejut Dani.
"Sore ini, mau ngasih sesuatu dulu buat pujaan hati."
goda Randy dihadapan Dani dan Hery.
Cua menggaruk tengkuk yang tidak gatal.
"Ry, makan apa Mas Randy pagi tadi?" tanya Cua bingung.
"Setahu aku makan ketoprak, tapi togenya basi sepertinya."
Hery dan Cua terkekeh.
Dani geleng-geleng kepala, memasuki lift yang sudah terbuka lama.
"Mau kemana?"
tanya Randy mengekori gadisnya.
"Lantai 2, makan, ikut?"
jawab Dani masih menahan pintu lift.
"Ikuuut," kekehnya memasuki lift.
"Gue pikir mau ketemu papi. Papi sedang keluar."
jelas Dani.
"Oooh, kemana?" tanya Randy.
"Ketemu mami mungkin, nggak gue tanya."
jawab Dani.
Randy, Hery dan Cua hanya mengangguk.
Pintu lift terbuka,
Cua belum melihat keberadaan Lingga.
Mereka menuju resto kantor, yang baru beberapa minggu aktif beroperasi.
"Lumayan rame, yah."
ucap Cua.
"Iya, karena masih baru." jawab Dani.
Cua mengangguk paham.
"Ry, aku nanti ngobrol sebentar sama Lingga yah, kita di meja terpisah. Oke."
Senyum Cua.
"Iya, aku mau kangen-kangenan sama Dani."
bisiknya terkekeh.
Cua memandang aneh pada Hery, ada perasaan kesal atau cemburu sulit dibedakan, yang pasti kesal ajalah dulu.hahaha...
Randy menggenggam jemari Cua.
"Uuupz, kaget aku!"
Senyum Cua.
"Jadi gimana kemaren?"
goda Randy.
"Apanya?"
"Nikahnya."
bisik Randy dengan mata berbinar bahagia.
Cua melototkan kedua bola matanya, kearah Randy.
Meremas kencang genggamannya.
"Jangan sekarang!!!!" geramnya.
"Maunya kapan?"
wajah Randy berubah serius dan ingin tahu jawabannya.
"Hmmm, kasih waktu tiga tahun lagi, aku masih berduka mas, dan aku juga belum siap, masih kecil, jalan kita masih panjang, kuliah belum beres."
jelasnya menggeram.
Randy tak bisa menahan tawanya melihat mimik wajah Cua yang benar-benar memerah.
Sangat lucu menurutnya.
"Iya, mas paham, makasih yah."
Randi mencium puncak kepala Cua.
"Maaas." geramnya.
Randy berlari ke arah Hery dan Dani meninggalkan Cua yang masih geregetan.
"Iiiiigh." geramnya.
Lingga menyaksikann kelakuan Cua, yang salah tingkah akan perlakuan pria terhadapnya.
'Lucu.' batin Lingga.
"Baaaagh."
kejut Lingga dibahu Cua.
"Aaaaagh."
pekik Cua, membuat sahabatnya yang sudah didepan berbalik memandang.
Tanpa menghiraukan Cua lagi, karena melihat kehadiran Lingga.
"Lingga, aku kaget."
Cua memeluk Lingga.
"Maaf."
kekeh Lingga, membalas pelukan Cua.
"Duduk disitu aja yuuukz," ajak Cua.
"Ada Hery juga?"
tanya Lingga penasaran.
"Iya, dia teamnya Mas Randy." jelas Cua.
"Mas yang cium kepala kau tadi?" kekeh Lingga.
"Hmmm." godain aku.
"Merajuk ni aku."
sungut Cua.
"Merajuklah, nanti aku minta mas tu pujuk kau."
kekeh Lingga.
Cua menggeram kesal pada sahabatnya,
kemudian tersenyum.
Mereka memesan makanan tradisional, karena lidah mereka lidah ndeeso.
Harus pedes, kurangin manis-manis, menurut mereka, mereka sudah manis.
Untung restonya menyediakan masakan khas tradisional, dengan harga 'woooow, fantastik.'
Ingat kata Dani, nggak boleh itung-itungan, jika mampu beli, jika tidak, sabar hingga mampu.
"Hmmm, kenapa kau menemui ku? mau cerita apa?"
Cua menatap mata Lingga menyiratkan kesedihan.
"Aku hamil sama Angga, Cua."
Lingga menunduk.
Cua menelan salivanya.
"What? Angga?"
kejut Cua.
"Iya,"
Lingga mengangguk masih menunduk.
"Angganya mana? kalian sudah nikah?"
tanya Cua tegas.
"Angga kabur, aku nyariin dia di kampusnya, tapi dia nggak ada."
curhat Lingga.
Cua memijat pelipisnya, menarik nafas panjang.
"Aku bingung, mesti bagaimana membantu kau!
kenapa kau lakukan sama dia Lingga? bodoh kali kau, kita masih kecil, baru dua tahun tamat SMA, sudah itu kerja kau. hadeeeeh."
Lingga menunduk mendengar omelan Cua.
Cua memang kasar jika sudah mengomel.
Ngalahin emak emak komplek.hahaha.
"Apa rencana kau?"
tanya Cua sarkas.
"Aku mau pulang, nggak mau disini lagi."
isak Lingga dalam tangisannya.
"Hmmm, pulang! pulang lebih baik, cari keluarganya, selesaikan secara jantan.
Jangan biarkan kau malu sendiri.
Buat berdua, harus siap malu berdua."
tegas Cua.
"Kau nggak marah sama akukan Cua, masih mau kau berteman dengan ku?"
Lingga menggenggam tangan Cua.
"Kau sahabat ku, jika Angga tidak mau tanggung jawab, kau kembali ke Jakarta."
Senyum Cua.
Lingga mengangguk, menangis mendengar ucapan Cua.
"Jangan kau takut, adeknya kan ada perempuan, kita lihat saja karma keluarganya kalau tidak mau tanggung jawab."
kekeh Cua.
Lingga tersenyum, sedikit lega.***