Part 18. Back

931 Kata
Cua kembali... Cua memberitahu Dani. Dani sangat senang, mengajak kedua pria yang menemani harinya menjemput Cua. Bandara, Cua berdiri sendiri di kedatangan, menunggu jemputan. Matanya terarah pada sahabatnya Lingga. "Lingga." teriak Cua. Lingga mencari suara yang sangat dikenalnya. "Cua." Lingga menghampiri Cua berlari kecil, karena tidak mampu berlari kencang seperti dulu. Mata Cua tertuju pada perubahan tubuh Lingga. "Kau!!" Lingga menatap sedih pada sahabatnya Cua, yang sudah lama dia rindukan. "Kau cantik sekali." isaknya tertahan dengan mata berkaca-kaca. "Kau hamil? kau udah nikah? kenapa nggak kasih tau aku." berang Cua. Memukul lembut lengan Lingga. Lingga hanya menggeleng, ingin bercerita, tapi belum saatnya. "Mana suami kau?" Cua celingak celinguk mencari suami sahabatnya. "Heeei, nantilah kita juma yah, nanti aku cerita sama kau." jelas Lingga. Cua tersenyum, "yang penting kau harus sehat." Cua merogoh tasnya, mengambil beberapa lembar uang, memberi pada sahabatnya. "Terima ini, untuk anak mu." senyum Cua lagi. Lingga terharu, tak kuasa untuk menolak atau menerima. Dia menghargai niat baik Cua, "makasih yah." Lingga memeluk erat Cua. Batin mereka saling bicara, walau tidak bercerita tapi dari tatapan keduanya, dapat menjelaskan. "Sukses kau yah, aku turut berduka atas meninggalnya bang Tanser." Lingga menangkup pipi Cua yang makin cabi menurutnya. "Iya, makasih." Cua mencubit tangan Lingga, yang berada di pipinya. "Sakit." "Kau masih sahabat ku yang lucu." kekeh Lingga. "Pastilah, terbaik buat kau, karena cuma kau yang mau berteman dengan ku." Tawa mereka pecah. "Haaii..." sapa Hery pada Lingga. "Hery, ngapain disini?" kaget Lingga. "Jemput bu bos." kekehnya. "Apaan seeh." cubit Cua di lengan Hery. Randy melihat keakraban putra daerah itu, berbisik pada Dani posisinya dibelakang menunggu di mobil. "Mereka sederhana, tapi bahagia yah Dan, nggak kayak kita." kekeh Randy. "Kita, lo aja kali." ejek Dani. Randy geram, mengulurkan tangannya menggapai Dani. "Gimana gue mau naksir ama lo, kepekaan lo kurang." balas Randy. "Biarin, Hery ada, weeeek." ejek Dani membela diri. "Gitu yah, habis manis sepah lo buang-buang." tambah Randy. "Ngarepin lo, nggak berwarna, abu-abu! Hery langsung ada warna, setidaknya mencoba apa salahnya." kekeh Dani. "Oooh ya, Hery nggak ada cerita sama gue." wajah Randy berubah serius. "Ngapain cerita sama lo, ntar lo nikung dia, ngrebutin gue." kekeh Dani, pedenya ngalahin gula, bakal dikerubutin semut, haha.. "Bagus dong, jadi gue bebas ngedekatin Cua tanpa mikirin lo." jawabnya asal. "Serius? tapi bukannya lo udah jadian?" Dani mulai kepo. "Hmmm, belumlah, bawelnya ngalahin emak emak komplek." kekeh Randy. "Cua baik lo Ran." tegas Dani. "Iya, dia family girl, sopan pada orang tuanya." kenang Randy. "Oh ya, abangnya meninggal kenapa Dan?" tanya Randy. "Gue nggak ngerti, Almarhum lagi dikampus, tiba-tiba tumbang dan kejang, koma deh. Belum jelas juga, nanti kita dengar dari Cua." jelas Dani. Randy mengangguk. Hery dan Cua menghampiri mobil sahabatnya. "Haaaii," teriaknya saat melihat Dani pertama kali. Membuka pintu mobil, masuk, langsung memeluk Dani. "Kamu kok jelek? potong rambut, udah gondrong, nggak ganteng lagi." kekeh Cua. "Hmmm, kamu anterin yah." goda Dani. "Nggak, sama Hery aja, kalian kan sudah melupakan aku." sungutnya bercanda. "Tenang Cua, ada mas Ran." sambung Randy. "Heeeiii, mas apa kabar?" kekeh Cua. "Baik, setelah bertemu kamu." godanya. "Ooogh, gue jadi pengen muntah." ejek Dani. Mereka tertawa bersama, setidaknya Cua telah menempatkan semuanya ke posisi semula. Hati dan pikirannya telah tertata kembali. Tanser sudah tenang dialamnya, ini terbaik untuknya, kita yang tinggal hanya melanjutkan sisa-sisa kehidupan. "Gue laper." bisik Dani pada Hery. "Me too." tambah Cua. "Kita makan ditempat biasa aja." ajak Randy. Hery menambah kecepatannya, menuju restoran. Saat diresto, "Kamu makan apa?" tanya Randy sangat perhatian pada Cua. "Yang ini aja, karedok sama gurami goreng." jawab Cua yang duduk disamping Randy. Dani tak kalah mesranya pada Hery, saling bercanda. Cua memperhatikan gerak gerik kedua sahabatnya. "Mereka udah jadian mas?" bisik Cua. "Baguslah jadian, biar kita langsung nikah." ucap Randy asal. Cua membelalakkan bola matanya mencubit kecil kepinggang Randy. "Aaaaugh, huuush... sakit tau." ringis Randy mengusap cubitan Cua. "Siapa suruh bicara nikah, aku masih kecil, jangan mikir nikah, emang kamu mau kasih aku dan anak kita makan apa?" geram Cua masih berbisik. "Yaaah nasilah, masak kuaci." kekeh Randy benar-benar menggoda Cua. "Cubit lagi nih." Cua masih melototkan matanya. "Tenang, Allah sudah atur rejeki kita semua kok." tambah Randy. "Aku tau, apa kamu nggak mikir pendidikan, kelayakan, semua, masa depan istri dan anak kamu lah." jelas Cua. "Tenang, harta papi banyak." kekeh Randy. "Nggak mau, aku mau kamu mapan, baru kita bicara nikah." geram Cua. "Emang kamu mau nikah sama aku?" goda Randy dengan suara yang lumayan mengagetkan kedua sahabatnya. Cua tersedak, melepaskan sedotannya sedang menyeruput orange juice, "uuhugh... uhuuugh..." meremas geram lengan Randy, mengambil tisyu, mengusap lembut bibirnya. "Kalian mau nikah?" kejut Dani. "Nggaklah." sangkal Cua. Hery geleng-geleng kepala mendengar godaan Randy pada Cua. "Masak anak aku mau dikasih kuaci dan warisan." sindir Cua kesal. Dani dan Hery tertawa ngakak mendengar omelan Cua. "Hey, warisan Randy ngalahin Sultan lhoo." bisik Dani. "Nggak peduli, dia harus bawa hartanya sendiri pada aku, baru aku terima." Cua menutup bibir, wajahnya memerah, terasa panas. Memukul bibir mungilnya berkali-kali. Randy makin menggoda Cua. "This is my car key, this is my ATM, this is a house key in Jogja, a house, not an apartment, this is my own sweat. At least you are safe to be my wife." godanya ketelinga Cua. Dani dan Hery bengong menunggu reaksi Cua yang benar-benar salah tingkah. "Jangan sekarang." ucap Cua tertunduk malu. Dia lupa dia berhadapan pada siapa. Randy menggenggam tangan Cua yang terasa dingin. "Sampaikan pada ku jika kamu siap, setahun, dua tahun, bahkan lima tahun aku menunggu." Senyum Randy sangat menyejukkan hati setiap wanita di muka bumi. Kali ini Cua benar-benar luluh lantah, "sweetnya, seorang, RANDY PRAMANA."***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN