Part 17. Berat.

804 Kata
Pulang.... Isak tangis keluarga seketika pecah menyambut jenazah Tanser tiba di rumah duka. Kota itu, kota kecil itu, Bagan Siapi-Api tanah kelahiran Anjani Cua Kim. Papa dan mama saling memeluk erat kakek dan nenek Cua. Papa hanya menatap peti jenazah putra kesayangannya. Randy, Dani dan Hartono ikut bersama, mengantarkan Cua kekeluarganya. Hery tidak bisa menemani Cua, Cua memahaminya, berkali-kali Hery berkirim pesan padanya, Cua tidak menghiraukan apapun. Randy mengusap punggung Cua, saat peti dimasukkan ke oven. Cua memeluk erat Randy. "Tenang yah." Randy mengecup puncak kepala Cua. Dani dan Hartono berada di antara mama dan papa Cua. "Terimakasih yah Dan, sudah ikut mengantarkan abang Cua." isak mama. "Sama-sama tante." Hormat Dani pada mama. Hartono kagum pada putrinya yang berubah sopan pada siapapun, sudah mau berbaur. Mama Cua sangat terpukul, sesekali papa mendekati Hartono dan Dani. "Terimakasih banyak pak, atas kepeduliannya pada putri saya." tunduk Kim pada Hartono "Sama-sama, Cua sahabat putri saya." jawab Hartono tulus mengusap punggung putrinya. "Saya akan kembali ke Jakarta. Kabari saya, jika Cua mau kembali." Hartono memberi kartu namanya pada Kim. Papa dan mama Cua keturunan Cina, mereka dari keluarga biasa. Papa Cua berkerja disalah satu perusahaan swasta, sementara mama meneruskan usaha keluarganya. Kakek dan nenek Cua terlihat masih kuat. Masih mampu mengingat semua kerabat yang hadir. Hartono memberi karangan bunga, dan juga uang duka pada keluarga Cua, seperti yang di janjikannya pada Kim. Drrrt... drrrt... 'Hery.' bisik Dani, menjauh dari Hartono. "Heii," "aku nelfon Cua nggak di angkat, aku khawatir Dan." "Cua sibuk, ngapain lo peduli banget sih." bisik Dani kesal. "Bukan sok peduli, tapi aku kawatir Dani sayang, kali aja aku bisa bicara sama Cua." kekehnya. "Nggak usah, aku berangkat malam ini ke Jakarta, kamu jemput yah." goda Dani. "Iya, tadi kan udah kamu wa." "Randy mana?" "Hmmm, lagi sama Cua tuh curhat." tawa Dani. "Ya udah salam buat tante dan om yah. Assalamualaikum Dani cantik." kekeh Hery menutup telfonnya. "Waalaikumsalam Hery tampan." bisik Dani tersenyum sumringah, 'kok hati gue berbunga-bunga digoda Hery.' gemasnya, bahagia. Cua mendekati Dani yang masih senyum sendiri. Menggunakan baju putih, sama seperti keluarga inti yang lain. "Dan." Cua langsung memeluk Dani. Dani tersontak kaget, menerima pelukan sahabat baiknya, membelai rambut Cua, mengusap punggung. "Makasih yah." isaknya. "Makasih buat apa?" "Buat semua, buat kehadiran kamu dan papa mu." "Papi." tegas Dani. "Iya, papi." Cua menyeka wajah sembabnya. "Itu tanggung jawab papi, lo kan karyawannya." Dani menangkup wajah Cua tersenyum. Cua mengangguk, sesungguhnya bukan karena karyawan, melainkan rasa kasih sayang, yang sudah timbul dihati keluarga Dani. Cua mendekat pada Hartono. Hartono memeluk Cua, "tenang yah," Senyum Hartono sangat teduh menatap gadis lugu itu. "Makasih om, untuk semua." Cua berusaha tidak menangis dipelukan Hartono, apa daya, hatinya masih rapuh. "Life goes on, be strong." Cua menatap wajah manis Hartono. "Yes om, give me 2 days here, i will return to Jakarta." senyum Cua. "Yes, tell Liberty, she will send your ticket." jelas Hartono, "thank you om." Cua tersenyum, sangat lega, Hartono ternyata seorang pengusaha yang peduli pada siapapun. Pantas anaknya baik banget. 'Salut.' batin Cua. Cua berpisah dari Dani, Hartono dan Randy. Bagaimanapun acara sudah selesai, Hartono memberikan waktu duka pada Cua selama dua hari, sesuai permintaan Cua. 'Tunggu aku di Jakarta.' batin Cua melambaikan tangan pada mereka. Cua sedang berduka. Dani dan Randy... Mereka tiba tengah malam di Jakarta, karena perjalanan menuju bandara membutuhkan waktu sangat lama. Penerbangan terakhir. Dani dan Randy tampak kelelahan saat dimobil. Dani memilih menginap di hotel Hartono. "Aku tidur sama papi yah." manja Dani memeluk Hartono di perjalanan. "Ya, tapi jangan lasak." kekeh Hartono. "Iiiigh, papi." gemes Dani. Hery sesekali mencuri pandang dari kaca spion mobil. Melirik putri Hartono yang sangat manja menurutnya. "Kalian kapan balik ke Jogja Ry?" tanya Hartono. "Kami nunggu Cua om, besok kami ke kantor minta Dani menyelesaikan kontrak kita." sambung Randy. "Kuliah kamu bagaimana Ry?" "Baik om, sama seperti Cua." Hery menjawab sopan. "Selesaikan kuliah kalian dengan baik, jangan kecewakan orang tua kalian, jangan sia-siakan waktu selagi muda." nasehat Hartono terdengar menjewer putrinya. "Iya om, saya akan fokus terus hingga masuk militer." jawab Hery mantab. Tanpa disadarinya, ada yang mendengar pembicaraan kedua pria itu, menarik nafas dalam, menghembuskan perlahan. "Kenapa militer?" "Keluarga saya militer om." jawab Hery sopan. "Ooogh." Hartono membulatkan bibirnya. "Abang saya Dokter di AU." jelas Hery, "mereka stay di Pekabaru." Hartono mengangguk. "Bagus, semoga kalian sukses dalam karier, ingat laki-laki itu harus sukses, karena akan membiayai anak dan istri." terdengar ringan, tapi nanceb di d**a kedua pria yang berada dihadapan Hartono. Randy mendengar nasehat Hartono, dan planing Hery. Dani dan Randy tidak tidur, hanya memejamkan mata, dapat mendengar. 'Kenapa gue jatuh hati pada pria yang tegas yah.' bisik Dani. "hmmm." Dani mendengus kesal, 'bakal berat perjuangan gue.' batinnya. "Kalian nginap di hotel saja, saya sudah menyiapkan kamar untuk kalian." jelas Hartono. "Baik om." jawab Hery sopan. 'Pengusaha sukses, tidak sombong.' batin Hery.***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN