Suasana lunch...
Ternyata diresto sudah ada team promosi, dan tante Widya, mamaknya Dani.
"Tante."
Cua menyalami Widya, mencium punggung tangan mami Dani sangat sopan.
Hartono hanya menatap Cua, Cua membungkukkan tubuh sebagai rasa hormatnya pada atasan.
"Om."
Hartono hanya mengangguk.
Widya memilih berpisah dari meja karyawan Hartono.
Memilih di ruangan lebih private.
'Ck, orang kaya memang nggak suka gabung sama orang kayak kita' batin Cua.
"Sombong." bisiknya, tapi terdengar oleh Dani.
"Siapa yang sombong?" tanya Dani berbisik pada Cua,
"hmmm, anu itu anu, hmmm, Hery, Hery maksud aku."
Cua menelan salivanya, mengurut dadanya.
"Aneh."
Dani mendekati Randy dan Hery.
Cua masih bersama Shinta dan Lusi, team promosi luar kota.
Membahas pekerjaan mereka,
"makasih banyak mba Shinta, nanti semua email yang masuk aku cek, dan forward ke mba."
Senyum Cua.
"Iya sama-sama, kamu jangan lupa kirim juga ke Dani, ntar ngomel lagi dia ke aku." bisik Shinta terkekeh.
"Iya mba."
Cua memohon izin, gabung bersama Dani.
Sesekali matanya melirik kearah Hartono.
'Semoga mereka bisa kembali demi anak mereka. Amiin.' batin Cua.
Sambil mengusapkan kedua tangannya ke wajah.
"Napa lo,"
"hmmm,"
Cua terlihat bingung, saat matanya dan Randy saling tatap.
"nggak apa-apa."
Senyum Cua aneh.
"Kok kamu nggak kaget lihat aku." sindir Hery.
"Huufh, sory aku ampe lupa kamu ada dihadapan aku."
Cua mengambil tangan Hery meletakkan dikepalanya.
"Heeey, lo mau minta izin, emang Hery bokap lo!" kekeh Dani.
Randy tertawa.
"Aku nggak Cua." goda Randy.
"Aaagh, kalian ngeledekin aku, aku masih setengah sadar ni, laper." rundungnya.
Dani mengambilkan beberapa makanan meletakkan dihadapan Cua.
"Makan dulu, biar nggak begok." kekeh Dani.
"Kamu tu yah, suka banget ngatain aku b**o, b**o beneran nih." rengeknya.
Randy mengusap kepala Cua, terasa hari ini Cua memang rada-rada aneh.
Disela-sela suapannya, Cua mengungkapkan niatnya akan ke Bandung sore ini.
"Sendiri?"
Dani kaget mendengar permohonan Cua.
"Iya." tunduknya.
"Sama aku aja." pinta Randy.
"Nggak bisa, sebab abang aku kritis."
Cua menangis dibahu Dani.
"Serius?"
"lo kenapa nggak bilang dari tadi Anjani Cua Kim!!" teriak Dani kesal.
"Masih jam kerja." tangisnya makin menjadi.
"Ya Allah, Tanser kenapa Cua?"
"Dia koma Ry, mama dan papa menuju Bandung pagi tadi."
Cua menyeka air matanya.
Cua menunjukkan pesan yang dia terima saat perjalanannya menuju resto.
Mama : "Cua, mama sudah di Bandung, doakan abang yah nak."
Cua : "aku masih kerja ma, sore aku langsung ke Bandung."
Mama : "iya, kamu hati-hati yah nak."
Cua : "iya."
Mata Dani, Randy dan Hery saling tatap.
"Kita ikut, kita berangkat sekarang." tegas Dani.
Dani berlari menemui Hartono. Sedikit berbisik, Hartono keluar menemui Cua.
Cua masih menangis menggenggam hpnya.
"Kenapa kamu nggak kasih tau saya?"
Hartono sedikit membukuk, mengusap punggung Cua.
"Kan kerja om." isak Cua.
"Ya udah, kita berangkat sekarang."
Mata mereka saling tatap.
"Woooow."
Hery berdecak kagum pada Hartono dan Dani.
'Ternyata mereka sangat peduli sama sahabat aku.'
Hery membawa Cua, berusaha menenangkannya.
Randy hanya mengikuti Hartono.
"Ran, kunci mobil kamu kasih ke Widya, biar sopir yang urus."
Tanpa banyak bicara Randy memberikan kunci pada mami Dani dan berlari menyusul mereka ke mobil.
Cua hanya tertunduk selama perjalanan, ada sedikit kecemasan dihatinya.
'Bang, bertahan, tunggu aku.' batinnya dalam tangis.
Drrrt...drrrt...
'Mama.'
"Ya ma."
"Kamu dimana? Mama dan papa sudah sama Tanser."
"Sudah dijalan ma."
"Kamu hati-hati."
Ada tangis yang tertahan disebrang sana.
"Iya."
Cua menutup telfon, menunduk merasakan hati yang semakin menyeruak sakit.
"Cua, apa kata mama mu?" panik Dani.
"Nggak apa-apa."
Senyumnya.
Tapi....
Setiba dirumah sakit, mama Cua langsung memeluk erat Cua.
"Abang udah nggak ada Cua."
Cua termenung, hanya membalas pelukan mama.
Air mata berderai mendengar kepergian abang satu-satunya.
Cua beralih ke pelukan papa.
Ntah apa yang dia rasakan saat ini, tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata kehilangan Tanser Kim.
Cua mendekati jenazah yang tertutup, terbaring kaku.
Membuka penutup melihat wajah Tanser telah menutup matanya.
"Abaaaaaaang, abaaaaang." tangis Cua pecah merasakan Tanser sudah tidak hangat lagi, tidak seperti terakhir mereka berjumpa.
Hery berusaha menenangkan Cua,
Randy mengusap lembut punggung Cua.
Dani tertegun, ada rasa penyesalan dalam hatinya.
Hartono memeluk Dani.
Cua masih menangisi tubuh kaku Tanser.
"Apakah jenazah akan dibawa ke Riau?" tanya Hartono pada papa Cua.
"Ya, kami sedang mengurusnya."
Papa Cua mengusap wajahnya, menutupi kepiluannya, kehilangan putra tercintanya.
"Saya akan membiayai semua, hingga pemakaman." jelas Hartono.
"Keremasi pak." tunduk papa Cua.
"Baik, saya akan ikut kalian, membiayai semua." tegas Hartono.
"Terimakasih."
Papa Cua memeluk Hartono.
Walau mereka tidak saling kenal, setidaknya ada kepedulian disana.
Dani merasa senang, papinya sangat peduli pada sahabatnya sekaligus karyawannya.
"Dan, Cua Kristen?" tanya Randy penasaran.
"Bukan, Budha." bisik Dani.
"Ooogh."
Randy mengangguk.
"Hery??"
"Hery Muslim, makanya mereka nggak bisa pacaran."
Dani dan Randy saling berbisik, menyelidiki kedua sahabat baru mereka.
"Hmmm."
Randy hanya tertegun mendengar celotehan sahabatnya Dani.
"Lo?"
"Gue Ateis." geram Dani.
Randy terkekeh.
Dani memandang Cua masih menangis dipelukan Hery.
"Kita akan ke Riau, lo ikut?" tanya Dani.
"Ikutlah, cewek gue,"
"hmmm, wait." geramnya mencubit perut Randy.
"Aaaugh... sakit." ringis Randy geram.
Randy meninggalkan Dani, mendekati Hery dan Cua.***