Kejutan....
Setelah diruangan,
"bokap gue ngomong apa sama lo?"
Dani hanya melihat laptop dihadapannya,
"hmmmm, mau tau aja atau mau tau banget," kekeh Cua.
"Ck,"
wajah malas Dani terlihat jelas.
"Serius gue."
"Cuma bahas target, dan perjodohan lo sama mas Randy." jawab Cua asal.
"What!!!"
Bola mata Dani membesar, wajah bercampur emosi.
Cua terkekeh, melirik kearahnya.
"Kenapa?? nggak suka jika dijodohkan?" ledek Cua,
"hmmm... nggak yakin gue."
Dani membuang wajah malas dari Cua.
"Eeeeh, kalau kamu dijodohin bagus dong, bisa jadi ibu diusia muda." tambah Cua.
Dani makin menggeram,
"heeeii, gue nggak suka yah dijodohin,"
tampak ada rasa penasaran pada raut wajahnya.
Dani berdiri, keluar dari ruangannya, menutup pintu lumayan keras.
"Kenapa lagi tu bocah," geram Cua.
'Terkadang wanita jadi-jadian itu baik minta ampun, tapi hari ini beeeegh, nyebelin.' batin Cua.
Cua hanya menyelesaikan beberapa perkerjaannya.
Drrrt...drrrt...
'Mama.' batin Cua.
"Ya ma."
"Kamu bisa ke Bandung? Tanser kumat lagi." suara mama sedikit berbisik.
"Hmmm, aku usahakan yah ma, aku nggak janji.
Dia sudah besar, sudah tau yang terbaik untuknya." jawab Cua enteng.
"Dia tidak sepertimu Cua."
Mama memberi pengertian.
"Hmmm..."
"See."
Mama Cua menghela nafasnya, kemudian menutup.
Cua menarik nafas dalam, ada perasaan kesal dalam hatinya,
'ini bocah kenapa nyebelin seeh!! kayak anak kecil.' kesal Cua membatin.
Cua memijat lembut pelipisnya, sedikit pusing dan mual,
'hmmm.'
BRAAAK...
"Lo, gue telponin kemana seeeh?" sarkas Dani tiba-tiba masuk.
Cua terperangah menatap sorotan tajam Dani.
"Bisa pelan nggak seeh! aku malas debat."
Cua menatap malas wajah Dani.
"Hayuuuk cepetan, kita makan siang, ditungguin mami dan papi.
"Haaaah??"
Dani menarik tangan Cua.
Cua kehilangan keseimbangan, dan....
BHUUUK...
Cua terjatuh.
"Aduuuuh," ringis Cua melepas tangan Dani kasar,
"kamu bisa pelan-pelan nggak! kasar banget jadi cewek, gimana mas Randy mau naksir ama kamu!" kesal Cua mengusap pinggulnya terhentak dilantai.
"Sory, sory, sory banget."
Dani memapah Cua ke sofa.
"Mana yang sakit? gue ambilin minyak angin yah."
Dani tampak panik.
Cua mengusap-usap pinggulnya, sangat nyeri.
"Hmmm, nggak usah, nyeri doang, ntar lagi juga hilang, bentar yah."
Cua masih meringis.
"Maafin gue yah."
Dani menatap wajah Cua, memohon agar memaafkannya.
Cua masih menatap kesal Dani.
"Udah aaagh, aku mau sendiri."
Cua beralih kekursinya, menjauh dari Dani.
"Lo kenapa?"
"Nggak apa-apa, lagi nggak enak badan aja." senyumnya.
"Lo marah ama gue? maafin gue."
Dani duduk dihadapan Cua.
"Aku lagi malas aja, abang aku kumat lagi," tunduk Cua.
"Oooh."
Dani membulatkan bibirnya.
"Yuuukz, kita pergi makan siang sama mami dan papi." pinta Dani melunak.
"Malas aaagh, sayang nasi catring sebentar lagi diantar." tolak Cua halus.
"Udah gue bilang nggak diantar ke kita." kekeh Dani.
"Kamu tu yah, emang aneh, ya udah bantuin aku, bawain tas dan ambilin sepatuku." perintah Cua.
Dani melakukan permintaan Cua, memasangkan sepatu, kemudian menenteng tas Cua.
Cua terkekeh dalam hati, ternyata Dani bisa dia perintah juga, batinnya.
"Ngapa lo senyam senyum, seneng bisa perintah gue." geramnya.
Cua tertawa, merasakan pinggulnya tidak sesakit tadi.
"Lucu aja, kamu bisa aku suruh-suruh." tawanya lepas.
Dani hanya diam, masih memapah Cua, menuju lift dan mobil mereka.
"Kita pakai sopir aja deh, kasihan aku lihat kamu nyetir sendiri."
Senyum Cua.
"Nggak usah banyak cerita, diresto ada Randy dan Hery." jawab Dani berlalu menuju kemudi.
"Haaah!!!"
Bola mata Cua membesar merasa kaget.
'Kenapa Hery? kenapa Randy? bukannya mereka di Jogja, Hery kok nggak hubungi aku?' kesalnya dalam hati bersungut-sungut.
"Kaget lo ya." ledek Dani.
"Tadi malam mereka sampe sini. Hery udah gabung sama Randy atas permintaan gue."
Senyum Dani sedikit berubah, ada binar kebahagian.
"Jangan bilang kamu naksir Hery, Dani." jutek Cua.
"Kalau gue naksir kenapa?
Hery tu pria baik, setidaknya dia menenangkan gue saat lo jalan keliling Jogja bareng Randy.
Gue menghabiskan waktu sama dia dikamar." jujur Dani polos, tanpa ada yang ditutupi.
"What? kamu berdua Hery dikamar? ngapain? jangan bilang Hery ngerusak kamu, Dani Sukoco." teriak Cua memukul bahu Dani.
"Enak aja lo, otak lo selain miskin, jorok yah.
Emang kalau berdua dikamar mesti m***m yah, kami ngobrol Cua, dia anak yang pintar, kenapa tidak gue gunakan otaknya mengatur strategi kita agar target kita tercapai." jelas Dani.
"Kamu pikir aku bodoh." tegas Cua.
"Nggak bodoh, cuma lo kurang update kalau nggak diminta.
Shinta berkali-kali bilang ke gue, lo terlalu banyak menunggu, tidak bisa flow-up klien.
Kalau persentasi lo hebat, tapi tidak sampai tuntas.
Itu yang harus lo pelajari dari Hery Cua sayang."
Senyum Dani meneringai bak permaisuri.
Cua baru tersadar, flasback lagi mengenai beberapa klien yang Dani maksud.
"Pantes om tadi nanya masalahnya, aku baru ngerti sekarang." rundung Cua merasa kerjanya kurang maksimal.
"Denger yah, lo sangat bagus persentasi, tapi lo lupa cara menangani klien, kapan harus di flow-up, kapan harus di selesaikan, om Tio juga mengungkapkan kelemahan lo sama papi.
Lo harus update Cua, disini lo harus smart, ini Jakarta bung, bukan kota lo." kekeh Dani sedikit menyindir Cua.
Cua tertunduk mendengar Dani,
'untung berita ini Dani yang menyampaikan, kalau om Hartono!! bisa nangis bombay barbie.' batinya.***