Part 14. Hartono story

891 Kata
Sepulang dari Jogja.... Hartono memanggil Cua keruangannya, kepulangan mereka dari Jogja, banyak yang harus Hartono tanyakan pada Cua. "Aku keruangan om, kamu sarapan deluan aja." Cua berlalu, meninggalkan Dani menikmati sarapannya. Dani bengong, melihat Cua berlalu tanpa berani bersuara. Tok...tok...tok... "Ya." Hartono sengaja memberi celah pada pintu ruangannya. "Masuklah, jangan lupa tutup pintunya." pinta Hartono. Cua melakukan, sesuai permintaan Hartono. "Om, manggil saya?" tanya Cua sedikit membungkukkan tubuhnya. "Ya, silahkan duduk, ada yang mau saya bahas mengenai Dani." Cua menelan salivanya, duduk disofa ruangan Hartono. "Bagaimana hubungan kamu dengan anak Tio, Randy? apa kalian saling suka?" Hartono membuka kaca matanya, berusaha santai membahas semua permasalahan anaknya. 'Pertanyaan seperti apa ini?' batin Cua. Cua menghela nafas dalam. "Ehmmm... saya dan mas Randy tidak memiliki hubungan special om. Saya tau, Dani sangat menyukai Randy." tegas Cua. "Syukurlah, saya takut akan terjadi seperti dulu." senyum Hartono menatap Cua tenang. Cua tersenyum, sesekali menatap wajah Hartono. "Hmmmm, hanya itu yang mau om tanyakan pada saya?" Cua, memalingkan wajahnya, kearah lukisan artistik ruangan Hartono. "Kamu sudah hampir 3 bulan bergabung diperusahaan saya, target kamu kurang dari 2,5milyar setiap bulannya. Apakah kamu ada masalah?" Wajah Hartono yang kaku, mencerminkan beliau pemimpin yang membutuhkan hasil akhir, bukan dari cara kerja, atau laporan setiap hari. "Hmmm... ya om, saya tau," Cua tertunduk, kembali menelan salivanya. "Dani, saya lihat juga tidak ada perubahan, masih sama penampilannya tidak berubah." Hartono tersenyum, mengisyaratkan waktu hanya tinggal 9 bulan lagi. "Kamu masih sanggup?" Hartono meyakinkan perjanjiannya. "Hmmmm.... saya bingung om, jika target yang om tanya, saya menyadari memang sedikit lagi bisa mencapainya." Cua tertunduk. "Kalau Dani, saya bingung om, jujur sangat bingung, saya tidak pernah tau masa lalunya, apakah om bersedia cerita sama saya tentang, hmmmm...." Cua berfikir, takut perkataannya menyinggung Hartono. Hartono tersenyum, menyandarkan tubuhnya, menghelas nafas lebih dalam, agar tetap tenang. "Maaf om, terkadang rasa benci seseorang dapat merubah semuanya." Cua mengeratkan genggaman jemarinya. Hartono tertegun, 'gadis ini ternyata pintar meneliti.' batinnya. "Ya, Dani berubah setelah dia saya kirim ke London, atas permintaannya, tapi saya tidak tau dia akan menjadi gadis kaku. Dani menginginkan saya kembali pada Widya." rundung Hartono. "Saya tidak suka jika sudah mengingat Widya, walaupun dia adalah ibu dari anak saya." tundukknya. "Ehmmm... jujur Dani tidak pernah menceritakan tentang keluarganya om, dia terlalu tertutup, dia hanya bisa terbuka pada Randy, om." Cua memberanikan menatap Hartono yang duduk dihadapannya. "Kamu tinggal diapartemen Dani kan?" Hartono dan Cua saling tatap. "I i i iya om." Cua kembali menunduk. "Apakah Dani tidak tinggal disana?" Hartono bertanya seakan penasaran. "Bisa dikatakan Dani hanya sekali masuk kesana om, saat mengantar saya pertama kali untuk tinggal disana." jujur Cua. "Kami lebih sering duduk dicafe sekitar apartemen, habis itu Dani pulang keapertemen tante Widya." jelas Cua. "Ooooh... kamu pernah menemui Widya?" Hartono seakan muak mendengar nama Widya. "Sekali om." senyum Cua. "Cua, besar harapan saya agar Dani merubah kodratnya lewat kamu, karena saya lihat dia patuh sama kamu, walau kalian selalu ribut, saya rasa Dani nyaman sama kamu. Saya sempat berfikir akan menjodohkannya sama Randy, tapi saya takut Randy kecewa. Kakek dan nenek Dani, tidak ingin bertemu Dani, jika dia masih seperti ini." Hartono mencurahkan isi kepalanya, mengenai putri semata wayangnya. "Saya menyesal telah mengirim Dani ke London, saya ribut sama Widya mengenai Dani mencintai sesama jenis. Saya murka, dia terlalu membuat saya muak." Curhat Hartono. Cua hanya bengong menatap Hartono, hanya mendengar, tidak berani bersuara jika tidak diminta. "Widya terlalu memanjakan Dani, mengikuti trend, yang sebenarnya sangat mengubah Dani." kesal Hartono. "Dani pernah meminta saya agar kembali pada Widya, hanya itu syaratnya, tapi saya tidak yakin karena pengkhianatan Widya pada saya. Maaf, sebenarnya saya tidak harus menceritakan ini pada kamu, karena belum saatnya mengetahui permasalahan rumah tangga, tapi saya harus menceritakan, mungkin kamu bisa memberikan solusi yang ringan kepada saya." Hartono kali ini tertunduk, ada perasaan malu pada dirinya, menceritakan masalah pribadi pada teman anaknya. "Hmmm... nggak apa-apa om, mungkin akan membuat om sedikit lega, daripada dipendam buat penyakit." kekeh Cua. 'Huuuufh... kalau cerita ama anak kecil yang belum dewasa yaaah begini.' kesal Hartono dalam hati. "Maaf om, udah buat om kesal. Saya juga bukan dari keluarga yang sempurna." senyum Cua. "Maksud kamu?" Hartono menatap Cua, mencari kejujuran dimata Cua. "Yaaah... mama dan papa saya juga sering ribut, masalah abang saya, yang terjerumus n*****a selama kuliah, karena mama saya terlalu memanjakannya. Jujur dulu orang tua saya hampir berpisah, tapi saya memberi pilihan, saya tidak memilih mereka berdua, makanya saya memilih kuliah disini." senyum Cua dengan mata berkaca-kaca yang tertahan. Hartono tertegun, mendengar cerita Cua. "Saya sangat mencintai Dani, tapi tidak dengan Widya." rundungnya. "Om, saya rasa tante begitu, punya alasan, coba om renungkan, temuin tante Widya, demi masa depan Dani, menjodohkan Dani bukan solusi om, melainkan menambah beban anak orang. Yah... kalau mereka cocok syukur, kalau tidak? orang tua yang akan disesali om." Cua tersenyum. Hartono makin tertegun, menatap wajah Cua merasakan jika gadis dihadapannya lebih dewasa dibanding putrinya. "Yah... mungkin saya akan mempertimbangkan ucapan kamu, tapi jika saya bertemu Widya, apakah kamu mau menemani saya?" Hartono menatap, menunggu kepastian dari Cua. "Hmmm....maaf om, saya tidak mau ikut campur urusan orang tua, sekali lagi saya mohon maaf om." Cua membungkukkan kepalanya, berharap Hartono memahami dia. "Yaaah... saya akan memikirkannya ucapan kamu." Ada sedikit kelagaan pada hati Hartono, setidaknya dengan bercerita walau sedikit, dapat menenangkan. 'Kedewasaan seseorang dilihat bukan dari usia, melainkan dari menyikapi permasalahannya.'***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN