Flashback on perasaan Randy...
Randy juga tidak bisa menahan rasa sukanya perlahan berubah menjadi sayang pada Cua.
Dilema, Randy menyukai Cua, tapi tidak mau Dani kecewa.
Situasi sulit, karena keduanya memiliki sifat yang sangat berbeda.
Cua gadis polos apa adanya.
Dani gadis jadi-jadian yang menyukai Cua dalam diam.
'Gue mesti gimana...??' batin Randy.
"Sini duduk bareng, lo mau minum apa?" pujuk Randy pada Dani.
"Hmmm... nggak usah, ntar lagi kan makan bareng kita." jawab Dani sedikit ketus.
"Udah dong... jangan ngambek, gue kan disini buat lo dan Cua, buat kerjaan kita, please jangan ngambek lagi." mohon Randy pada Dani.
Randy mengusap kepala Dani dan Cua yang duduk bersebelahan.
Perlakuan Randy membuat kedua gadis ini merasakan perasaan yang berbeda.
Cua makin berbunga-bunga.
Dani juga makin gamon alias gagal move on.
Randy mengalihkan pembicaraannya agar Dani mengubah style-nya menjadi wanita tulen.
"What... kamu minta aku jadi wanita kalem kayak Cua gini?" mata Dani menunjukkan ketidaksukaannya.
"Sory... gue nanya agak sedikit privasi, sejak kapan lo jadi berubah seperti ini? jujur."
Randi menatap lekat mata Dani, Dani terlihat gugup.
Cua memandang kearah Randy memberi tatapan yang berbicara melalui mata mereka.
"Aku keluar aja mas, biar aku nggak denger."
Senyum Cua memilih berlalu.
Takut jika Dani tidak nyaman dengan adanya Cua, atas pertanyaan Randy pada Dani.
Randy membiarkan Cua meninggalkan mereka.
Randy meminta Cua agar menunggu di kursi tamu yang sudah di persiapkan kantor om Tio.
Saat kepergian Cua, Randy melanjutkan pertanyaannya.
"Dan... kawab gue jujur." mohon Randy pada Dani.
"Hmmm... apaaan seeeh, apa mesti gue jawab pertanyaan bodoh lo itu?" sinis Dani.
"Setidaknya lo berubah semenjak di London Dan, gue nggak mau, lo kecewa karena siapapun, bisa kita bicara jujur?" tanya Randy.
"Udah deh...gue nggak bisa jawab sekarang, jangan paksa gue." rungut Dani menghindari tatapan mata Dani.
"Apa ini karena Papi dan Mami?" tanya Randy tanpa memperdulikan wajah Dani yang mulai berubah.
"Apa seeeh." Dani makin kesal.
"Rahmadhani Widya Sukoco. Lo anak Pak Hartono Wijaya Sukoco. Jangan merubah kodrat lo, apa ini karena kekecewaan lo? gimana kalau papi kita benar-benar menjodohkan kita? apa lo siap?"
Randy menatap serius mata Dani.
"Ck..." ada perasaan marah Dani pada semua pertanyaan Randy.
"Jawab gue, lo tuh sahabat gue Dan."
Randy menggenggam jemari Dani sangat lembut.
"Hmmm... kalau kita di jodohkan lo mau nerima gue?" tanya Dani malas memandang Randy.
"Heeeeiii... gue bertanya sama lo, bukan pertanyaan dijawab pertanyaan lagi dong Dan, come on, gue nanya lo, kasih gue jawaban, agar gue bisa ngambil sikap." tegas Randy.
"Sikap apa? sikap lo untuk Cua? kenapa seeeh lo nggak pernah menganggap gue? kenapa lo lebih suka sama Cua? kenapa lo nggak pernah mau tau perasaan gue Ran."
Dani menatap wajah Randy yang mulai memanas.
"Jadi... lo beneran cemburu ama Cua?"
Randy memeluk Dani.
"Aaaagh... jangan peluk-peluk, dari dulu lo nggak pernah nunjukin gimana lo ke gue. Gue begini karena banyak hal. Gue nyaman begini." ketus Dani.
"Lo nyaman, tapi lo berubah.... merubah semuanya." tegas Randy menangkup pipi Dani.
"Kenapa...??? karena gue lebih ganteng dari lo kan?" senyum Dani dengan sinis.
"Halloo... heii... lo masih tetap cewek tulen buat gue, nggak akan pernah bisa berubah jadi apapun, kamu ngerti."
Randy mencium kening Dani.
Membuat tubuh Dani menjadi dingin atas perlakuan Randy.
"Sebenarnya perasaan lo gimana seeeh ama gue Ran? gue nggak pernah dapat jawabannya sampai saat ini." ketus Dani melepas tangan Randy dari wajahnya.
"Hmmm... seketika gue laper, yuuuk... kita makan dulu, nanti kita lanjut lagi." senyum Randy merangkul Dani.
'Gue sendiri bingung Dan, maafin gue.' batin Randy.
Randy membukakan pintu untuk Dani menghampiri Cua, ternyata, Tio dan Hartono sudah menunggu Randy dan Dani.
"Time to lunch..."
Tiiiing toong...
Cua bergegas kearah pintu.
Sangat mengetahui siapa yang ada di balik pintu.
"Lo... eeeeh sory." kekeh Dani melirik Hery.
Dani dan Randy menerobos masuk.
"Siapa ni Cua?" tanya Dani.
"Temen aku dari Riau. Hery, kenalin ini putri om Hartono, dan ini Randy anak om Tio yang di Jogja." senyum Cua menatap Hery.
"Haiii... Hery." sapa Hery pada Dani.
"Hery." Randy menepis tangan Hery.
'Buuuseet sombong banget.' batin Hery.
"Kita jalan-jalan yuuuukz..." seru Dani.
Merasa jika hubungannya dan Randy tidak akan terancam.
Picik banget.hehehe....
"Gue mau jalan sama lo yah Cua." Bisik Randy pada Cua.
Bola mata Cua membesar, tak ingin menjadi bala petaka untuk persahabatannya dengan Dani.
"Gue cemburu Cua." teriak Randy tapi berbisik.
"Sooo... what your problem bro Ran??" geram Cua.
Hery memperhatikan cara Randy pada Cua.
'Yaaaaah... ditikung lagi nih aku.' batin Hery.
"Yuuuk aaagh... kita jalan."
Cua mengambil tasnya, merangkul lengan Hery.
"Jangan geer kamu yah, aku menghindari Dani, dia cinta mati sama mas Randy." bisik Cua pada Hery.
"Tenang... aku juga suka situasi seperti ini." kekeh Hery berbisik pada Cua.
"Dasar..." Cua dan Hery sangat mesra, membuat Randy geram dan sangat jutek malam itu.
"Kamu makin cantik pakai dress."
Hery memuji Cua, membuat Cua tersipu-sipu.
Secara dari dulu mereka memang saling suka, tapi tidak pernah mengungkapkan, hanya saling mengerti antara satu dan yang lainnya.
"Yaaaah... iyalah makin cantik. Secara perusahaan bokap gue memberi gaji yang layak pada sahabat lo." sarkas Dani.
"Hmmmm... begitukah??" senyum Hery.
"Bisa dong aku bekerja juga pada perusahaan Papa lo." senyum Hery garing.
"Nggak semudah itu honey." bisik Dani pada Hery.
"Tenang bro, ntar lo datang aja ke kantor gue, kita bisa sama-sama kok." jawab Randy memutus perdebatan dua wanita ini.
Cua menatap kearah Randy.
"You serius?" mata Cua saling tatap dengan Randy.
Begitu mudahnya Cua mengerti dengan mimik wajah milik Randy, berbeda dengan Dani.
Dani membutuhkan kata-kata. Cua, cukup dengan sikap, itu yang membuat Randy jatuh hati pada Cua.
"Kita kemana bro Hery?" tanya Dani sambil merangkul Cua saat keluar dari lift.
"Hmmm... kemana saja boleh, lebih asyik kita duduk di seputaran Malioboro, kan deket."
Hery menyeringai senyuman garingnya.
Cua hanya terkekeh.
"Kita jalan kaki aja, kalau malam lebih romantis jalan kaki di seputaran malioboro."
Randy menggenggam erat tangan Cua.
Menarik Cua lebih dulu.
"Raaaan..." teriak Dani kesal.
"Sini lo sama aku aja." senyum Hery,
'biar aman.' tambah Hery sambil berbisik menggenggam jemari Dani.
"Huuuufh... gue nggak suka dengan situasi ini." tegas Dani pada Hery.
"Setidaknya lo nggak seperti kambing congek, sayang... wanita secantik lo di cuekin."
Hery tersenyum menganggap genggamannya dapat menahan emosinya.
Sama seperti perasaan Hery saat ini melihat Cua digandeng pria lain seperti Randy.
"Jangan baper kalau genggam gue." bisik Dani.
"Siapa yang baper, aku santai kok." kekeh Hery.
"Heeeeem...."
Dani hanya menikmati malam. Menyaksikan kemesraan Cua dan Randy yang berada dihadapannya.
Pengen marah tapi nggak bisa. Pengen nangis... lebih nggak bisa.
Setidaknya Randy sudah menjelaskan perasaannya pada Dani.
Berharap Dani bisa menahan egonya... huuuufh....****