CHAPTER LIMA BELAS

1978 Kata
“Joseph…” nama itu keluar sebagai anak dengan nilai ujian ekonomi paling tinggi di kelas itu. Semua pasang mata yang ada di sana langsung menghujam ke arah Joseph yang hanya mengulas senyum tipis. Nadine dan Ilana merasakan hal yang sama. Campuran antara rasa marah, kesal dan bingung. “Selanjutnya… ada Nadine dan Ilana.” Guru ekonomi berkacamata menyebutkan nama dengan posisi kedua dan ketiga. Ilana memejamkan matanya. Perlahan ia menarik napas dan menghelanya. Ia tidak menyangka bahwa hal ini akan terjadi lagi. Saat guru di depannya sudah mulai menjelaskan materi, Ilana masih sibuk dengan pemikirannya, juga perasaannya yang terasa tidak keruan. Ilana merasa bahwa hidupnya benar-benar hancur. Ia gagal lagi dan ia yakin ini tidak akan menjadi yang terakhir. Mungkin benar kata Keenan, ia mungkin memang sudah ditakdirkan untuk ada di bawah Nadine. Sebenarnya, Ilana tidak pernah benar-benar terobsesi oleh peringkat satu. Baginya peringkat dua atau tiga pun tidak buruk. Namun obsesi yang ada dalam dirinya adalah milik ibunya. Ibunya yang begitu terobsesi dengan peringkat pertama. Ibunya melimpahkan semua obsesi padanya dan Ilana mau tak mau harus mengikutinya. Ilana tidak pernah punya power untuk membela diri dan melakukan hal-hal yang ia suka. Sejak lama, hidup Ilana telah menjadi milik ibunya. Sejak lama, ia telah menjadi boneka ibunya. Hidup dan kebebasan Ilana telah mati sejak lama. Nadine melirik Joseph yang sedang memerhatikan guru yang sedang menjelaskan materi di depan kelas. Gadis itu menyadari bahwa kini ia tidak bisa menganggap remeh laki-laki itu. Nadine berpikir, ia seharusnya lebih mengenal musuhnya jika ingin melawannya. Paling tidak ia seharusnya mengetahui latar belakang pendidikan laki-laki itu atau mengulik informasi berguna lainnya. Ia menyadari bahwa ia terlalu menggampangkan sosok itu. Ya… Ia akan melakukan itu. Ia akan berusaha mencari tahu informasi sebanyak yang bisa ia dapatkan mengenai laki-laki itu. *** Ilana sedang berada di salah satu lorong perpustakaan saat melihat Nadine masuk ke dalam perpustakaan dengan terburu-buru. Sebelah tangannya membawa laptop. Mata Ilana masih mengikuti pergerakan Nadine yang kini duduk di salah satu meja yang ada di sana. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat gadis itu membuka laptopnya. Ilana masih berdiri di tempatnya dengan rasa penasaran yang entah kenapa tiba-tiba menyelimutinya. Ia mengembalikan buku yang sedang ia pegang kembali ke dalam rak lalu berjalan mendekati Nadine. Ia berdiri di belakang Nadine dan melihat gadis itu sedang menuliskan sesuatu di mesin pencarian. Ilana menjulurkan kepalanya agar bisa melihat lebih jelas layar di depan Nadine Joseph Elijah Anderson. Ilana membaca nama itu dalam hati. Lalu saat Nadine menekan enter, mesin pencarian itu memunculkan semua berita tentang teman sebangku gadis itu. Tak hanya Nadine yang membulatkan mata saat melihat berita yang tersaji, tapi juga Ilana yang diam-diam berdiri di belakang gadis itu. Joseph Anderson, peraih mendali emas dalam mathematics contest di Singapur tahun 2015. Nadine dan Ilana melihat lebih banyak prestasi laki-laki itu yang luar biasa. Ilana bahkan tanpa sadar maju selangkah hingga berdiri tepat di samping Nadine yang langsung menoleh ke arahnya. Tapi Nadine tahu bahwa mereka berdua memiliki misi yang sama untuk mengalahkan Joseph. Nadine akhirnya membiarkan Ilana ikut membaca berita di layar laptopnya. Nadine dan Ilana akhirnya tahu bahwa mereka menghadapi orang yang benar-benar tidak bisa disepelekan. Joseph punya segudang prestasi gemilang di beberapa kejuaraan dan olimpiade. Laki-laki itu juga selalu membawa medali dalam setiap pertandingan yang ia ikuti. Joseph tidak kelihatan seperti kutu buku ataupun anak yang gila belajar. Laki-laki itu terlihat biasa saja dan tampak seperti anak lainnya. Itulah kenapa sejak awal, mereka berdua tidak pernah melihat laki-laki itu sebagai saingan. Kini mereka tahu bahwa Joseph adalah lawan yang tidak bisa disepelekan. Nadine menutup tab pencarian. Tatapan keduanya bersirobok saat Nadine menengadah. Keduanya saling menatap dengan tatapan tidak terbaca. Ilana yang pertama kali memutus kontak. Gadis itu membalik badan lalu pergi keluar dari perpustakaan. *** Haikal berjalan dengan langkah tergesa-gesa. Sebuah plastik ada di sebelah tangannya. Langkah kaki laki-laki itu menaiki tangga dengan cepat. Jari telunjuknya menaikkan bridge kacamatanya yang turun. Langkah kakinya semakin cepat saat ia menyusuri koridor lantai tiga. Ia memelankan langkah saat hendak sampai di kelasnya. Ia menelan ludah saat mulai memasuki kelas. Tatapan tajam Keenan langsung menghujamnya. Haikal melihat laki-laki itu sedang duduk di kursinya dengan posisi kedua kaki ditaruh di atas meja. “Kenapa lama sekali?” Keenan menghardik saat Haikal sampai di depannya. Ia menurunkan kedua kakinya tepat saat Haikal menaruh plastik di atas mejanya. Haikal langsung menunduk, tak berani menatap laki-laki itu. Sebelah tangan Keenan terulur untuk membuka plastik itu. Ia mengeluarkan tiga buah roti, dua buah soft drink dan satu buah s**u full cream. Keenan menatap mejanya lalu ke arah Haikal yang masih menunduk di depannya. Ia menghela napas. “Kamu tuli atau bagaimana?” Keenan mengambil s**u kotak full cream dari atas meja. “aku bilang s**u cokelat.” “s**u cokelatnya habis.” Haikal menjawab dengan lirih. Ia tahu bahwa ia akan selalu salah jika ia tidak mendapatkan yang laki-laki itu minta. Untuk itulah ia mengganti s**u cokelat yang laki-laki itu inginkan dengan s**u full cream. “Lalu kamu mau memaksaku minum s**u ini. Aku benci s**u putih.” Keenan sudah berdiri dan membuat Haikal mulai ketakutan. Keenan menghampiri Haikal dan berdiri di depannya. “Buka jasmu.” perintah laki-laki itu dengan suara baritonnya. Semua pasang mata sudah menatap ke arah Haikal. Tidak ada yang bisa mereka lakukan selain menunjukkan raut wajah kasihan. Hal yang sama sekali tidak dibutuhkan Haikal. Haikal masih bertahan pada posisinya. Ia sama sekali tidak menuruti perintah laki-laki itu. “Cepat bukan jasmu.” Keenan mengatakan itu lagi, kini dengan tambahan tendangan ke lulut Haikal yang langsung meringis. Dengan berat, laki-laki itu membuka jasnya dan meninggalkan kemeja putih yang melapisi tubuhnya. Laki-laki itu sudah menunduk dan menatap sepasang sepatu hitamnya. Keenan tersenyum sinis. Ia melubangi kotak s**u itu dengan sedotan lalu menatap Haikal yang sudah menunjukkan raut wajah pasrah. Raut wajah seperti itu sama sekali tidak mengetuk pintu hati Keenan. Meski laki-laki itu bersujud di bawah kakinya pun, Keenan tidak akan tersentuh. Laki-laki itu tahu bagaimana cara untuk menyenangkan dirinya sendiri. “Kamu bisa memakai kembali jasmu kalau aku sudah selesai.” Keenan mengatakan itu sambil memutar-mutar kotak susunya. Semua pasang mata yang ada di sana menatap cemas ke arah Haikal yang sudah tampak pasrah. Keenan menyiramkan s**u itu ke arah Haikal tepat saat tubuh Haikal tertarik ke belakang sehingga s**u itu tak sampai mengenai segaramnya. Haikal kaget saat seragam bagian belakangnya tiba-tiba di tarik dengan keras. Ia menoleh dan melihat laki-laki dengan rambut pirang yang baru saja menyelamatkannya. Laki-laki yang sudah ia dengar saat pertama kali anak itu pindah ke sekolah ini beberapa waktu yang lalu. Tatapannya lalu beralih pada Keenan yang menyeringai. Tumpahan s**u bercecer dan mengotori lantai keramik kelas itu. “Kita kedatangan tamu di kelas kita.” kata Keenan. “atau pahlawan?” laki-laki itu mendekat dan menatap Joseph dengan tatapan kebencian yang tak bisa lagi disembunyikan. Joseph tak sengaja melewati kelas itu saat melihat kejadian itu. Entah dorongan darimana, Joseph memutuskan untuk masuk dan menyelamatkan Haikal. Jika ia tidak menarik seragam bagian belakang laki-laki itu, seragam Haikal pasti sudah basah oleh s**u yang ditumpahkan oleh Keenan. Keenan mendekat dan berdiri tepat di depan Haikal. Laki-laki itu masih saja ketakutan karena tahu bahwa kini posisinya semakin sulit. “Berterima kasihlah karena dia sudah menyelamatkanmu.” Keenan mengatakan itu pada Haikal. Perlahan Haikal menengadah lalu menatap Joseph yang berdiri di sebelahnya. “Terima kasih…” laki-laki itu berkata lirih. Keenan tersenyum lalu mengulurkan kotak s**u yang isinya tinggal setengah di tangannya, “sekarang, beri sambutan.” tambahnya. Haikal terdiam. Ia menatap Keenan, lalu Joseph bergantian. Haikal tidak ingin melakukan itu, sungguh. Tapi Keenan mulai menatapnya dengan dingin sambil melirik kotak s**u yang ia ulurkan. Dengan lirikan matanya, ia mengisyaratkan Haikal untuk menuruti perintahnya. Joseph tahu bahwa ia ada dalam situasi yang tidak tepat. Dan saat melihat Haikal mengambil kotak s**u itu dari tangan Keenan, ia sepertinya akan menyesal telah menyelamatkan laki-laki itu. Namun sedikit hatinya berpikir bahwa Haikal tidak akan tega melakukan itu padanya. Tapi semua terjadi begitu cepat. Joseph belum sempat menghindar saat Haikal menuangkan isi s**u yang tinggal setengah itu hingga membasahi kemeja putihnya. “Holy shit.” Makian itu keluar dari mulut Joseph. Ia melihat bagian kemejanya yang basah, lalu ke arah Haikal yang baginya tidak tahu berterima kasih. Kekehan mengejek terdengar dari mulut Keenan dan teman-temannya. Haikal menggigit bibir bawahnya dan menatap Joseph dengan raut wajah penuh maaf. Joseph melirik Keenan yang tampak puas lalu membalik badan dan keluar dari kelas itu. Sebelah tangannya mengusap bekas s**u yang membasahi kemeja sebelah kanannya. Mulutnya tidak berhenti meruntuk. Ia memang sejak awal seharusnya tidak mencampuri urusan orang. Tapi siapa yang menyangka bahwa orang yang tolong malah akan melakukan ini padanya. Ia pergi ke toilet. Ia perlu membasuh bekas s**u itu. Meski tidak terlihat kotor, namun baunya cukup menyengat. Setelah membasuhnya dengan air, ia mengelapnya dengan tisu. Basah kemejanya semakin melebar ke mana-mana. Setidaknya lebih baik daripada lengket dan bau yang akan ditimbulkan s**u itu jika tidak langsung dibasuh air. Joseph kembali berjalan menuju kelasnya dan melihat Emma sedang mengobrol bersama dengan kedua temannya di koridor. “Kemejamu kenapa?” gadis itu bertanya saat Joseph hampir melewatinya. Joseph belum sempat menjawab dan melihat gadis itu berpamitan pada temannya lalu mendekatinya. “Aku benar-benar sial.” Joseph mengatakan itu saat ia sudah kembali berjalan dengan Emma di sebelahnya. Ia menceritakan apa yang terjadi padanya dan membuat gadis di sebelahnya berdecak. “Bukankah aku sudah bilang untuk tidak mencampuri urusan orang lain. Apalagi menyangkut Keenan.” papar Emma. “Aku tidak menyangka kalau Haikal akan melakukan ini padaku.” saat Joseph mengatakan itu mereka sudah memasuki kelas. Emma memutuskan untuk mengekori laki-laki itu ke mejanya dan duduk di kursi di depan laki-laki itu. “Haikal tahu kalau ia akan mendapat masalah lebih banyak kalau tidak mengikuti perintah Keenan.” Emma melihat laki-laki itu mengambil sapu tangan dari saku ranselnya untuk kembali mengusap kemejanya agar bisa lebih kering. “Mereka semua gila.” Joseph mengatakan itu dan membuat Emma terkekeh ringan. “dari sekian banyak orang di kelas itu, sama sekali tidak ada yang membantu. Padahal kalau mereka semua bekerja sama menolong Haikal, Keenan yang hanya bertiga dengan temannya akan kalah.” papar Joseph. Sebelah tangannya masih mengusap bagian kemejanya yang basah. “Masalahnya tidak sesederhana itu.” ujar Emma. “meski Keenan hanya sendiri sekalipun, dia tidak akan kalah. Dia malah akan membalas berkali-kali lipat.” tambah Keenan, “orang yang mencoba menolong mungkin akan berakhir sepertimu.” Joseph menatap gadis yang duduk di kursi di depannya. Gadis itu hari ini menguncir rambut panjangnya dengan pita berwarna peach yang menjuntai. “Benar katamu, aku seharusnya tidak ikut campur urusan orang lain.” kata Joseph akhirnya. Joseph ingin melakukan itu. Sangat ingin. Ia ingin menjadi apatis seperti yang lainnya sehingga ia tidak terlibat dengan drama apapun di sekolah ini dan hidupnya bisa tenang. Namun ia tidak bisa. Ia pernah ada di posisi Haikal meski tak separah laki-laki itu. Saat itu, ia kerap sakit hati, tak hanya dengan orang yang merisaknya, namun juga orang-orang yang hanya melihatnya dan tidak menolongnya. Saat itu ia pernah berjanji bahwa ia tidak akan menjadi orang yang lebih peduli pada sesama. Namun saat kembali ke sekolah, ia hanya punya satu keinginan, ia ingin menikmati satu tahun dalam sekolah formal dengan tenang. Dan saat ia tahu bahwa sekolah ini lebih buruk dari sekolahnya sebelumnya, ia tahu bahwa keinginannya tidak akan mudah ia wujudkan. Ia telah menahan perasaan itu. Ia telah menekan rasa peduli demi keinginannya untuk hidup dengan tenang di sekolah itu. Namun ia tahu bahwa ia tidak bisa mengabaikan semua kejadian di sekitarnya begitu saja. Hatinya kerap berteriak dan mengingatkannya pada janjinya. Hati kecilnya mendorongnya untuk menjadi berani dan tidak menjadi seperti sosok ia benci. Dan kata hatinya menang saat itu, saat ia tahu bahwa Haikal akan kembali menjadi korban Keenan. Ia masuk ke kelas itu tanpa pikir panjang dan menarik seragam laki-laki itu. Semua terjadi begitu cepat. TBC LalunaKia
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN