CHAPTER EMPAT BELAS

1838 Kata
Nadine menuruni tangga rumahnya saat melihat ibunya masih sibuk melayani pembeli. Ia melirik jam saat sampai di anak tangga terakhir. Sudah jam lima kurang lima belas menit. Biasanya jam segini ibunya sudah beres-beres dan menutup toko karena harus sampai di rumah majikannya jam lima sore. “Ibu belum berangkat?” Nadine bertanya dengan nada pelan saat berdiri di samping ibunya yang sedang mengambilkan beberapa kue dari etalase dan memasukkannya ke dalam boks. “Masih banyak pembeli.” jawab Mila. Ia tidak tahu kenapa tiba-tiba tokonya ramai menjelang tutup. Ia yang tidak mungkin menolak pembeli terpaksa melayani para pembeli itu meski ia juga diburu waktu karena harus pergi ke tempat kerjanya. “Sini biar Nadine yang layanin.” kata gadis itu. Ia mengatakan itu saat ibunya baru saja menerima pembayaran. Ia mengambil boks dan berdiri di depan pembeli dan bertanya apa yang ingin ia beli. “Beneran nggak apa-apa?” Mila bertanya dan melihat anak semata wayangnya mengangguk sambil tersenyum. Nadine mengulurkan tangan ke dalam etalase dan mengambil beberapa donat laku memasukkan ke dalam boks. Ia menghitung jumlah yang harus dibayarkan dan menerima uangnya. Ia sudah sampai pada pelanggan kedua saat ibunya berpamitan padanya. Nadine kembali pada pelanggannya. Sebelah tangannya memegang boks, sebelah tangannya lagi bergerak lincah mengambil kue-kue pilihan pembeli. Setelah itu ia menghitung total yang harus dibayar lalu membungkus boks itu dengan plastik. Nadine baru saja selesai melayani pembeli terakhir dan melihat bahwa etalase itu masih menyisakan beberapa kue yang berlum terjual. Ia memutuskan untuk tetap membuka toko dan berharap akan ada pembeli yang menghabiskan kue-kue itu. Nadine berlari ke lantai atas untuk mengambil laptop dan buku-bukunya. Ia masih bisa belajar sambil menjaga toko. Ia duduk di belakang etalase dan berkutat dengan tugasnya hingga matahari tenggelam sepenuhnya. Cahaya matahari digantikan dengan sinar bulan. Lampu-lampu jalan dan sekitarnya mulai berpendar. Resto dan kedai-kedai kopi di sekitarnya menarik pembeli lebih banyak saat malam. Nadine menghentikan jari-jarinya di atas papan ketik dan menengadah saat menyadari seseorang berdiri di depan etalase. Ia baru saja hendak menyapa dengan ramah saat melihat laki-laki yang berdiri di depan etalasenya adalah Joseph. Laki-laki itu memakai hoodie berwarna putih dengan ransel yang menggantung di bahunya. Rambut pirangnya ditutupi topi berwarna hitam. Selama beberapa saat mereka berdua saling bertatapan. Joseph yang pertama kali memutus kontak lalu menatap etalase di depannya. “Risoles dan donatnya saya ambil semua.” Joseph berdehem sebelum mengatakan itu. Ia tidak tahu kenapa rasanya begitu canggung. Ia sadar ia tidak begitu dekat dengan Nadine. Namun nada bicaranya benar-benar kaku seperti mereka sama sekali tidak saling kenal. Nadine tidak mengucapakan sepatah katapun. Sebelah tangannya mengambil boks dan mengambil kue dalam etalase hingga etalase itu kosong. Joseph menatap Nadine yang sedang membungkus kue. Gadis itu terus menunduk dan fokus pada boks kuenya. Ia tidak tahu apa yang gadis itu pikirkan. Apakah gadis itu merasa malu karena ia melihatnya. Seharusnya ia memang langsung pergi saat melihat Nadine ada di sana. Tapi, ia telah menjadi langgangan toko itu selama minggu-minggu terakhir. Ia jelas tidak menyangka akan melihat gadis itu di sana. Apakah itu berarti Nadine adalah anak pemilik toko dan tinggal di sana. Joseph merogoh saku celananya untuk mengambil dompet dan mengulurkan sejumlah uang saat Nadine memberitahukan nominal yang harus ia bayar. Ia menerima plastik bungkusan itu dari tangan Nadine dan menunggu gadis itu memberikan kembalian. “Terima kasih.” Nadine mengucapkan itu sambil mengulurkan kembalian. Ia melihat Joseph mengangguk lalu membalik badan, berjalan hingga akhirnya menghilang saat masuk ke dalam mobil mewahnya yang terparkir di depan toko. Tatapan gadis itu masih mengikuti mobil itu hingga masuk ke dalam komplek mewah yang ada di seberang tokonya. Nadine menghela napas. Ia menjatuhkan bobotnya di kursi. Selama ini ia selalu menyembunyikan kehidupannya, meski semua orang sudah tahu bahwa kini ia telah jatuh miskin. Joseph adalah orang pertama yang melihatnya diluar sekolah. Joseph kini tahu bagaimana kehidupannya. Laki-laki itu kini tahu bahwa ia tinggal di ruko dan berjualan kue. Nadine tidak tahu apa yang sebenarnya ia rasakan. Namun jelas, ada sedikit rasa malu dalam hatinya. Tapi ia buru-buru menggeleng. Ia tidak boleh malu dengan kehidupannya. Ibunya telah berjuang begitu keras demi hidup mereka dan ia tidak sepantasnya merasa malu. Dan kini ia menyesal. Ia seharusnya bisa menegakkan wajahnya saat berhadapan dengan laki-laki itu tadi. Ia seharusnya bisa percaya diri. Orang-orang boleh menghinanya karena ia miskin, namun ia tidak boleh menghina dirinya sendiri dengan merasa malu. *** Joseph turun dari mobil mewahnya dan langsung masuk ke dalam rumahnya dengan plastik berisi kue yang baru saja ia beli di sebelah tangannya. Ibunya ada di ruang tamu dengan adiknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Sebuah film kartun berputar di layar televisi di depannya. Joseph menghampiri keduanya dan menjatuhkan diri di sofa single yang ada di sana setelah sebelumnya menaruh plastik yang ia bawa di atas meja. “Donat.” Kedua mata adik perempuannya langsung berbinar saat melihat apa yang dibawanya. Gadis itu mendekati meja dan membuka bungkusan untuk mengambil satu buah donat dengan toping cokelat kacang kesukaannya. “Apa Mami sudah memberitahu bawah pemilik toko kue ini bekerja di sini.” Stefi mengatakan itu dan membuat anak sulungnya langsung menatapnya. “Bekerja di sini? Pemilik toko kue ini?” Joseph melihat ke arah boks kue dan ke arah ibunya secara bergatian. Stefi mengangguk lalu mengambil risoles dalam boks. “iya, yang menggantikan selama bibi pulang kampung.” jawab wanita itu lalu menggigit risoles di tangannya. “Mami yakin? Kenapa aku nggak pernah lihat?” “Dia hanya bekerja dari sore sampai malam, setelah menutup tokonya.” Mulut Joseph membulat. Itu adalah alasan kenapa ia bertemu Nadine di toko kue itu tadi. Ibunya pasti sudah berangkat ke sini sehingga gadis itu yang menjaga toko. Joseph baru saja berdiri saat melihat seorang wanita keluar dari dapur dengan nampan di tangannya. Di atas nampan itu ada dua buah gelas berisi jus tomat. “Joseph… minum dulu jusnya.” Stefi mengatakan itu dan meminta anak sulungnya untuk kembali duduk. Joseph menurut. Ia melihat wanita itu menghampirinya dan memindahkan gelas dari nampan ke atas meja. Mata Joseph tidak sedikitpun teralihkan dari sosok wanita itu. Wanita yang beberapa kali dilihatnya setiap kali ia membeli kue di tokonya. Sosok yang tidak pernah ia sangka adalah ibu dari Nadine, teman sebangkunya. *** Sepeninggal Joseph, Nadine membersihkan toko lalu menutupnya. Ia juga membereskan buku-bukunya lalu menyiapkan jadwal untuk besok. Setelah itu ia pergi ke luar rumah. Ia masih berdiri di depan rumahnya dan memindai sekeliling. Jalan di depannya ramai lancar. Beberapa orang terlihat berjalan melewatinya. Ia menoleh ke samping dan melihat ruko-ruko di sebelahnya tampak ramai. Ia memutuskan untuk berjalan ke arah kiri dan pergi ke kedai es krim yang berada tak jauh dari rukonya. Ia membeli es krim cokelat vanilla ukuran sedang lalu menikmatinya di kursi yang disediakan di depan kedai. Dari tempatnya, Nadine masih bisa melihat gerbang komplek mewah yang akan ibunya lewati saat pulang. Ia akan menunggu ibunya di sana. Ia menyendokkan es krim dengan sendok kayu dan memasukkan ke dalam mulut. Dingin memenuhi mulutnya. Matanya menatap hiruk pikuk sekeliling. Jalanan itu sepertinya tidak pernah benar-benar sepi. Saat pertama kali pindah ke ruko di samping jalan ini, Nadine tidak pernah bisa benar-benar tidur dengan pulas. Baginya, jalanan itu selalu ramai bahkan sampai dini hari. Belum lagi suara motor yang kerap melengking tajam karena gas ditarik begitu dalam. Namun lama kelamaan ia mulai terbiasa. Karena tubuhnya sudah terlampau lelah, kebisingan itu mulai tidak terasa begitu mengganggu. Ia masih di sana saat kedai es krim itu menarik beberapa pembeli lagi dan beberapa orang keluar dengan cup es krim di tangan. Mereka rata-rata bergerombol atau hanya berdua namun terlihat begitu dekat. Nadine baru menyadari bahwa yang tidak berubah dari kehidupannya yang dulu adalah, ia selalu sendiri. Sejak dulu, ia tidak pernah benar-benar memiliki teman. Ia baru ingat bahwa ia selalu ke mana-mana seorang diri. Namun kenapa dulu rasanya tetap menyenangkan. Ia tetap bisa menikmati hidupnya meski sama sekali tidak memiliki sahabat di sampingnya. Sepertinya saat itu keberadaan uang lebih penting dari sahabat. Tapi kini Nadine tidak memiliki keduanya. Ia tidak lagi memiliki uang apalagi seorang sahabat. Kini ia benar-benar seorang diri. Nadine tersenyum miris mengingat bagaimana menyedihkan kehidupannya. Ia masih ada di sana saat isi cup dalam tangannya habis. Ia melirik jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Matanya lalu menatap komplek perumahan mewah yang ada di seberang rukonya. Tak berapa lama, orang yang ia tunggu terlihat. Ia tersenyum lalu berjalan mendekati rukonya agar lebih dekat dengan posisi ibunya. Ia melambaikan kedua tangannya tinggi-tinggi saat melihat ibunya hendak menyebrang dan tengah menengok kanan kiri. Mila melihatnya. Ia tersenyum pada anaknya yang kini berdiri di seberangnya dengan senyum merekah. Senyum yang seketika membuat semua rasa lelahnya terurai. Baginya tidak ada yang lebih membahagiakan selain bisa melihat senyum anaknya. Nadine menunggu ibunya yang sedang menyebrangi jalanan. Sebelah tangan wanita itu membawa kantong plastik entah apa isinya. “Kamu belum tidur?” Mila bertanya saat sampai di depan Nadine. “Nadine tadi abis beli es krim di sana.” Nadine menunjuk kedai es krim tak jauh dari rukonya lalu menggandeng tangan ibunya untuk mendekati tempat tinggal mereka. “Nah gitu dong, Mama senang kalau jajan gitu. Mama cari uang cuma buat kamu, jadi kalau Mama kasih uang, jangan dihemat-hemat.” Ujar Mila sambil membuka gembok rukonya lalu mendorongnya sedikit hingga terbuka dan mereka berdua bisa masuk. Nadine hanya tersenyum mendengar itu. Ia memang selama ini selalu berusaha berhemat meski ibunya selalu memberinya uang jajan setiap hari. Ia selalu merasa sayang jika harus membelanjakan uang itu untuk hal-hal yang hanya memuaskan lidahnya dan hilang dengan cepat. Ia selalu berpikir bahwa uang itu didapat ibunya dengan susah payah dan tidak seharusnya ia membuang-buang uang hanya untuk memenuhi keinginannya. Ia selalu berpikir bahwa lebih baik uangnya ia tabung untuk keperluan lain. “Mama bawa apa?” Nadine bertanya saat mereka berdua masuk ke dalam rumah. Ibunya baru saja menaruh plastik yang ia bawa di atas meja. “Pizza. Dikasih sama majikan Mama.” Wanita itu duduk di depan Nadine dan membuka bungkusan yang ia bawa. Nadine menatap kotak pizza yang dikeluarkan dari plastik, lalu ke arah ibunya yang tampak tersenyum senang. Ibunya tahu bagaimana ia menyukai makanan itu, dan semenjak hidup mereka berubah, mereka sama sekali tidak pernah memakannya lagi karena makanan itu terasa sangat mewah. Ibunya pasti senang karena akhirnya ia bisa mencicipi makanan itu lagi. Nadine melihat ibunya membuka kotak itu dan slice pizza dengan topping daging yang menggugah selera langsung terlihat. Ibunya mendorong kotak itu lebih dekat dengan Nadine dan memintanya mengambil dengan lirikan matanya. Nadine melihat kotak itu penuh. Dengan slice yang utuh membentuk lingkaran. Itu artinya pizza ini bukan sisa. Ia seketika tersenyum dan berpikir bahwa majikan ibunya mungkin memang benar-benar baik. Ia mengambil satu slice dan langsung menggigitnya. Mila tersenyum dan melakukan hal serupa. Keduanya menikmati pizza itu sambil membicarakan banyak hal. Malam yang semakin larut tidak menghentikan kegiatan mereka. Nadine tahu bahwa ibunya lebih sibuk karena harus bekerja sampai malam. Itu artinya waktu mereka berdua untuk saling bertukar cerita. Saat Nadine punya kesempatan untuk mengobrol dengan ibunya, ia tidak ingin menyia-nyiakan waktu itu. TBC LalunaKia
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN